Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Posts Tagged ‘Qur’an

Bagaimana Mengunyah Perkataan yang “Tidak Enak”?

leave a comment »

Hal yang juga paling menantang dalam kehidupan seseorang adalah ketika ia harus berhadapan dengan perkataan yang “Tidak Enak”, yakni yang menyakitkan hati, memilukan, dan menyebalkan.

Secara definisi, perkataan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mengindikasikan (menyatakan) suatu isyarat, baik melalui suara, tulisan, simbol, sandi (kode), dll. Dengan kata lain, perkataan merupakan segala bentuk komunikasi, baik yang formal (umum) ataupun non-formal (tidak umum).

Perkataan menganut aturan-aturan yang jelas melalui unsur-unsur tata bahasa. Dan klarifikasi (pembagian) bahasa tersebut terbagi dalam dua jenis, yakni bahasa yang baik dan bahasa yang buruk. Dari sinilah nilai suatu perkataan ditentukan. Dan pengertian “Bahasa” di sini bukan hanya bahasa manusia, tapi segala macam bahasa.

Selain itu, perkataan tidak hanya dikenal dalam kehidupan manusia, dunia hewan juga mengenal perkataan. Dan antara manusia dan hewan juga ada transmisi (komunikasi) perkataan. Lihatlah ketika seekor harimau melompati sebuah “lingkaran api” dalam sebuah atraksi sirkus setelah pelatihnya memberikan perkataan (yakni, aba-aba) kepadanya. Kemudian, selain itu, dunia komputer pun juga mengenal perkataan. Istilah perkataan dalam dunia komputer lebih dikenal dengan istilah programming (pemrograman). Dan alur-alur bahasa pemrograman (baca: perkataan) dalam dunia komputer sering disebut dengan script atau code. Misal, jika Anda mengetikkan script (tulisan) http://www.codenamezero.wordpress.com pada address bar browser Anda (misal Internet Explorer, Opera, FireFox, dll). Script tersebut mengindikasikan (menandakan) bahwa Anda sedang berkata kepada komputer Anda untuk mengunjungi halaman website yang sedang Anda lihat ini. Atau dengan cara lain, misalnya meng-klik linknya, maka Anda telah berkata kepada komputer Anda dengan maksud yang sama.

Jadi definisi “perkataan” sebenarnya sangat luas. Bahkan bunyi dering handphone Anda ketika ada panggilan atau SMS masuk, menandakan bahwa sebenarnya handphone Anda tersebut sedang berkata-kata kepada Anda yang artinya, “Aku ingin bicara empat mata denganmu, sekarang!” Atau tentang simbol-simbol alam di sekitar Anda, misal saat angin sepoi-sepoi berhembus menerpa tubuh Anda, bisa saja itu ditafsirkan sebagai suatu perkataan yang artinya, “oh, sayang.” atau bisa jadi, “oh, kasihan.” 😯 Atau juga tentang kicauan burung yang merupakan perkataan (baca: bait-bait puisi) yang seringkali tidak dimengerti oleh kebanyakan orang. 😕

Bagaimana dengan “angin topan” atau “kobaran api” yang memusnahkan pemukiman penduduk, apakah itu juga perkataan? 😯 Itu adalah perkataan yang sangat mengerikan yang mungkin saja artinya, “Aku muak dengan keberadaan kalian di sini!” 😯 Sebab itu, berhati-hatilah dengan angin, dan jangan suka bermain api! 😕

Sehingga, definisi “perkataan” yang sebenarnya adalah segala bentuk komunikasi, baik bisa dipahami ataupun tidak. Dan pemahaman ini menuntut suatu pengetahuan (metodologi) tersendiri. Misal, Anda tidak akan bisa memahami perkataan orang jepang kalau Anda tidak punya pengetahuan (baca: ilmu) tentang bahasa Jepang. Anda tidak akan bisa memahami perkataan orang bisu kalau Anda tidak punya pengetahuan tentang arti (baca: maksud) simbol-simbol gerakan-gerakan anggota badan (dalam aturan tata bahasa orang bisu). Anda juga tidak akan bisa memahami perkataan alam, kalau Anda tidak punya pengetahuan tentang ilmu Geofisika. Dan bahkan, Anda tidak akan bisa memahami perkataan al-Qur’an jika Anda tidak mempelajarinya (baik dengan cara mendengar ceramah, atau membaca kitab terjemahan) dan memikirkannya (merenunginya) maknanya. Karena sebenarnya Allah juga memberikan perkataan (baca: berfirman) kepada manusia, tapi kebanyakan manusia tidak tahu (yakni, karena tidak belajar atau karena tidak mau tahu).

Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada tahu. (QS. Saba’: 28)

Padahal, Allah telah mempermudah perkataan (bahasa) al-Qur’an agar manusia bisa mengambil pelajaran darinya.

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. al-Qamar: 17)

Tapi kebanyakan manusia mengabaikannya (tidak memikirkan, mempelajari atau merenungkannya).

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari ayat (tanda-tanda) kekuasaan-Ku. Jika mereka melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai (cuek) terhadapnya. (QS. Al-Maidah: 146)

Dan manusia memang lebih suka berpaling dari kebenaran.

Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur'an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari(nya). (QS. Al-Isra’: 89)

Okay,
Itulah selayang pandang tentang definisi perkataan yang sesungguhnya. Namun, artikel ini hanya akan mengulas satu macam perkataan manusia yang sangat umum dan paling merusak perasaan (hati). Yakni tentang perkataan manusia yang tidak enak, yang memiliki berbagai macam bentuk (misal: cacian, penghinaan, ejekan, sindiran bermakna negatif, dll). Karena pada dasarnya, setiap orang bisa menikmati “perkataan yang tidak enak”. kalau saja ia tahu resep-nya. 😀
Baca entri selengkapnya »

Written by Amir

29 April, 2010 at 19:54

Metodologi Kebenaran [4-habis]: Analisa Kebohongan-Kebohongan Besar dalam Hidup

leave a comment »

Telah dekat kepada manusia hari perhitungan segala amal perbuatan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). (Qur’an Surat Al-Anbiyaa’: 1)

Artikel ini merupakan penyempurna dari artikel “Metodologi Kebenaran”. Sehingga pada akhirnya nanti, kita akan menjadi SEMAKIN tahu dan SEMAKIN yakin mana yang memang benar-benar “benar”, mana yang memang benar-benar “salah”, dan mana yang ada di antara keduanya, yakni yang seolah-olah benar tapi sebenarnya salah (baca: meragukan/rancu/konslet/error/invalid).

Dalam membahas kebohongan-kebohongan besar ini, saya mengutip sebagian isi al-Qur’an, karena ia merupakan literatur (baca: referensi) kebenaran yang “stabil” sepanjang masa (karena Qur’an hanya punya satu versi dan tak pernah berubah selama 14 abad). Kemudian, saya juga akan mengutip dari beberapa hadits, dan literatur sejarah untuk topik bahasan tertentu. Dan tak luput juga, akan saya sertakan beberapa analogi sederhana untuk mempermudah dalam pemahaman artikel ini.

Al-Qur’an memiliki kapabilitas (kemampuan) yang besar dalam menganalisa suatu kebenaran dan kebohongan. Mengapa? Karena ia tak hanya mampu menganalisa kebohongan-kebohongan yang berada di luar Islam, seperti yahudi, nasrani, dan penyembah berhala. Bahkan ia juga bisa menganalisa kebohongan yang dilakukan oleh orang-orang Islam itu sendiri. Karena meskipun Islam adalah agama yang benar, tapi al-Qur’an tidak pernah menyatakan bahwa semua orang Islam itu benar. Dan sebab itulah, kebohongan-kebohongan orang Islam juga perlu dianalisa.

Apakah sebagai orang Islam, saya kurang adil dalam menganalisa kebohongan-kebohongan besar? ❓
Baca entri selengkapnya »

Metodologi Kebenaran [3]: Analisa Kebenaran-Kebenaran Besar dalam Hidup

leave a comment »

Artikel ini merupakan INTI dari artikel Metodologi Kebenaran. Sebab itu, jika Anda tidak memahami kedua artikel sebelumnya (Metodologi Kebenaran [1] dan Metodologi Kebenaran [2]), maka –sepertinya– tak akan banyak gunanya Anda membaca artikel ini.

Ada beberapa kebenaran yang besar dalam hidup ini yang seringkali diragukan oleh kebanyakan manusia, yakni:

  1. Apakah Islam itu memang agama yang benar? Apakah landasan kebenarannya?
  2. Apakah Qur’an itu memang benar-benar Wahyu?
  3. Bagaimana tentang peristiwa Isra’ Mi’raj? Apa bisa dijelaskan lebih jauh?
  4. Apakah Kiamat itu benar-benar akan terjadi?
  5. Apakah Surga dan Neraka itu ada?

Bagaimanakah analisa kebenarannya?
Baca entri selengkapnya »

KATA PENGANTAR

Ketahuilah, bahwa manusia tidak diciptakan secara main-main atau sembarangan. Ia diciptakan dengan sebaik-baiknya dan demi suatu tujuan agung. Meskipun bukan merupakan bagian Yang Kekal, ia hidup selamanya; meski jasadnya rapuh dan membumi, ruhnya mulia dan bersifat ketuhanan. Ketika, dalam tempaan hidup zuhud, ia tersucikan dari nafsu jasmaniah, ia mencapai tingkat tertinggi; dan sebaliknya, dari menjadi budak nafsu angkara, ia memiliki sifat-sifat malaikat. Dengan mencapai tingkat ini, ia temukan surganya di dalam perenungan tentang Keindahan Abadi, dan tak lagi pada kenikmatan-kenikmatan badani. Kimia ruhaniah yang menghasilkan perubahan ini dalam dirinya, seperti kimia yang mengubah logam rendah menjadi emas, tak bisa dengan mudah ditemukan. Untuk menjelaskan kimia dan metode operasinya itulah maka pengarang menyusun karya yang diberi judul Kimia Kebahagiaan ini.
Baca entri selengkapnya »

BAB 1: PENGETAHUAN TENTANG DIRI

Pengetahuan tentang diri adalah kunci pengetahuan tentang Tuhan, sesuai dengan Hadits: “Dia yang mengetahui dirinya sendiri, akan mengetahui Tuhan,” dan sebagaimana yang tertulis di dalam al-Qur’an: “Akan Kami tunjukkan ayat-ayat Kami di dunia ini dan di dalam diri mereka, agar kebenaran tampak bagi mereka.” Nah, tidak ada yang lebih dekat kepada anda kecuali diri anda sendiri. Jika anda tidak mengetahui diri anda sendiri, bagaimana anda bisa mengetahui segala sesuatu yang lain. Jika anda berkata” “Saya mengetahui diri saya”- yang berarti bentuk luar anda; badan, muka dan anggota-anggota badan lainnya – pengetahuan seperti itu tidak akan pernah bisa menjadi kunci pengetahuan tentang Tuhan. Demikian pula halnya jika pengetahuan anda hanyalah sekedar bahwa kalau lapar anda makan, dan kalau marah anda menyerang seseorang; akankah anda dapatkan kemajuan-kemajuan lebih lanjut di dalam lintasan ini, mengingat bahwa dalam hal ini hewanlah kawan anda?
Baca entri selengkapnya »

BAB 2: PENGETAHUAN TENTANG TUHAN

Sebuah hadits Nabi (SAW) yang terkenal berbunyi “Dia yang mengenal dirinya, mengenal Allah.” Artinya, dengan merenungkan wujud dan sifat-sifatnya, manusia sampai pada sebagian pengetahuan tentang Tuhan. Tetapi karena banyak orang yang merenungkan dirinya tidak juga menemui Tuhan, berarti bahwa tentulah ada cara-cara tersendiri untuk melakukan hal tersebut. Kenyataannya, ada dua metode untuk bisa sampai pada pengetahuan ini. Salah satu di antaranya sedemikian musykil sehingga tidak bisa dicerna dengan kecerdasan biasa dan karenanya lebih baik tidak dijelaskan.
Baca entri selengkapnya »

BAB 3: PENGETAHUAN TENTANG DUNIA

Dunia ini adalah sebuah panggung atau pasar yang disinggahi oleh para musafir di tengah perjalannya ke tempat lain. Di sinilah mereka membekali diri dengan berbagai perbekalan untuk perjalanan itu. Jelasnya, di sini manusia dengan menggunakan indera-indera jasmaniahnya, memperoleh sejumlah pengetahuan tentang karya-karya Allah serta, melalui karya-karya tersebut, tentang Allah sendiri. Suatu pandangan tentang-Nya akan menentukan kebahagiaan masa-depannya. Untuk memperoleh pengetahuan inilah ruh manusia diturunkan ke alam air dan lempung (tanah) ini. Baca entri selengkapnya »

BAB 4: PENGETAHUAN TENTANG AKHIRAT

Berkenaan dengan nikmat surgawi dan siksaan-siksaan neraka yang akan mengikuti kehidupan ini, semua orang yang percaya pada al-Qur’an dan Sunnah sudah cukup mengetahuinya. Tapi ada suatu hal yang sering terlewatkan oleh mereka, yaitu bahwa ada juga suatu surga ruhaniah dan neraka ruhaniah. Mengenai surga ruhaniah, Allah berfirman kepada NabiNya, “Mata tidak melihat, tidak pula telinga mendengarnya, tak pernah pula terlintas dalam hati manusia apa-apa yang disiapkan bagi orang-orang yang takwa.” Baca entri selengkapnya »

BAB 5: TENTANG MUSIK DAN TARIAN SEBAGAI PEMBANTU KEHIDUPAN KEAGAMAAN

Hati manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa bagai sebuah batu api. Ia mengandung api tersembunyi yang terpijar oleh musik dan harmoni serta menawarkan kegairahan bagi orang lain, di samping dirinya. Harmoni-harmoni ini adalah gema dunia keindahan yang lebih tinggi, yang kita sebut dunia ruh. Ia mengingatkan manusia akan hubungannya dengan dunia tersebut, dan membangkitkan emosi yang sedemikian dalam dan asing dalam dirinya, sehingga ia sendiri tak berdaya untuk menerangkannya. Pengaruh musik dan tarian amat dalam, menyalakan cinta yang telah tidur di dalam hati – cinta yang bersifat keduniaan dan inderawi, ataupun yang bersifat ketuhanan dan ruhaniah.
Baca entri selengkapnya »

BAB 6: PEMERIKSAAN DIRI DAN ZIKIR KEPADA ALLAH

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa di dalam al-Qur’an Tuhan telah berfirman, “Akan Kami pasang satu timbangan yang adil di Hari Perhitungan dan tak akan ada jiwa yang dianiaya dalam segala hal. Siapa pun yang telah menempa satu butir kebaikan atau maksiat, kelak pada hari itu akan melihatnya.” Di dalam al-Qur’an juga tertulis, “Setiap jiwa akan melihat apa yang diperbuat sebelumnya pada Hari Perhitungan.” Baca entri selengkapnya »