Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Posts Tagged ‘kisah

Rahasia Patah Hati

with 8 comments

Artikel ringan khusus untuk menghibur mereka yang sedang mengalami patah hati.

Polemik internasional yang sering melanda dunia percintaan anak muda saat ini adalah masalah patah hati. Sebab itu, agar kita benar-benar paham tentang apa itu sebenarnya patah hati, maka kita perlu menganalisanya secara detil.

Patah hati berasal kata patah dan hati. Kata “patah” adalah kata sifat (adjective) yang berarti rusak (kacau) atau keadaan yang tidak sebagaimana mestinya (tidak normal). Contoh, Ranting pohon itu telah patah. Yang berarti, ranting pohon itu telah rusak. Sedangkan kata “hati” adalah kata benda (noun) yang berarti perasaan. Contoh, Orang itu suka makan Hati. Yang berarti, orang itu suka makan perasaan orang lain (baca: suka membuat sedih perasaan orang).

Sehingga patah hati merupakan frase (gabungan kata) tidak setara karena disusun oleh dua kata yang berlainan, yakni kata sifat dan kata benda. Dan patah hati bisa diartikan dengan suatu keadaan perasaan yang rusak (kacau) atau tidak sebagaimana mestinya.

😕 Yach…, semua orang sudah tau itu! please deh, ini ‘kan bukan pelajaran Bhs. Indonesia!

Intermezzo (basa-basi) sedikit kan gak apa-apa. ➡
Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by Amir

23 April, 2010 at 14:13

Kadar Cinta yang Ideal

with 4 comments

Cinta adalah komponen penting dalam perasaan (baca: hati) manusia. Ia bisa diibaratkan seperti katalis (pemercepat reaksi) dalam suatu reaksi kimia. Dan manusia juga tak mungkin hidup tanpa cinta. Paling tidak, ada satu tipe cinta yang pasti akan selalu ada dalam hati setiap orang, yakni cinta terhadap diri sendiri (egoisme: baik yang positif atau negatif).

Apakah masih ada tipe-tipe cinta lain dalam diri seseorang?

Tentu saja ada, semisal cinta terhadap kekasih pujaan hati (suami/isteri), cinta terhadap keluarga, cinta terhadap pangkat/jabatan, cinta terhadap pekerjaan, cinta terhadap harta kekayaan, dll. Sebab itu, diperlukan pengaturan (manajemen) terhadap perasaan-perasaan cinta tersebut. Mengapa demikian? Hal ini untuk menghindari bentrokan (conflict) antar cinta yang satu dengan cinta yang lain. sehingga, jika kadar (baca: prioritas) dari cinta-cinta tersebut tidak seimbang (ideal), maka ia hanya akan menimbulkan kekacauan dalam kehidupan orang yang bersangkutan. Bukankah Anda sering mendengar tentang seseorang yang mati konyol karena cinta? Atau tentang seseorang yang gila (sakit jiwa) karena cinta? Atau mungkin juga orang yang bangkrut karena cinta?? Cinta terkadang memang mematikan…, atau mungkin menyebalkan. :mrgreen:
Baca entri selengkapnya »

Written by Amir

21 April, 2010 at 14:27

Bagaimana Cara Menjadi Orang yang Baik?

with 25 comments

Hidup adalah suatu anugerah (pemberian/nikmat) yang harus dihargai. Kita hidup di dunia ini HANYA satu kali. Lantas kenapa harus buang-buang waktu hanya untuk memperburuk keadaan kita di masa depan (akhirat)?

Sistematika kehidupan yang kompleks, juga auditingnya yang pasti sangatlah rumit, telah menuntut kita untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita.
Kepada siapa?
Tentu saja, kepada Pencipta Kehidupan ini, yang telah memberikan kita kehidupan, yang telah memberikan kita segala keperluan hidup (panca indra, nikmat kesehatan, pengetahuan, dll).
Tidak pantaskah kita membalas segala kebaikan-Nya? Dengan cara berusaha memaksimalkan kinerja akal dan pikiran kita untuk mentaati segala perintah-Nya?
Dunia ini adalah tempat ujian, dan bukan tempat bertamasya seperti yang disangka oleh kebanyakan orang. Mereka sangat disibukkan oleh keperluan yang tidak ada kaitannya dengan wujud rasa terima kasih atas kebaikan-Nya. Baca entri selengkapnya »

Written by Amir

18 Februari, 2010 at 06:59

Efek Samping Dosa

with 6 comments

Pagi ini, agak repot mau tulis artikel apaan. Tapi, setelah aku pikir mending tulis suatu yang bisa nambah wawasan orang lain, biar wawasanku juga bertambah. Artikel topik kali ini adalah efek samping dosa. Mengingat telah berkali-kali aku terjatuh, terjatuh, dan terjatuh, ….dan akhirnya aku bangkit, bangkit berkali-kali –walau masih diselingi dengan tersandung dan terjatuh – berusaha memasuki lembaran baru melalui pintu taubat yang masih pantas untuk aku masuki. Dan aku telah memiliki keinginan untuk tidak keluar dari padanya. Aku tak punya alasan untuk menghancurkan diriku. Baca entri selengkapnya »

ORANG-ORANG YANG SAMPAI

with 3 comments

Imam Al-Ghazali mengisahkan suatu cerita dalam kehidupan Isa bin Maryam.

Pada suatu hari Isa melihat orang-orang duduk bersedih di sebuah tembok, dipinggir jalan.

Tanyanya, “Apa gerangan yang merundungmu semua?”

Jawab mereka, “Kami menjadi seperti ini lantaran ketakutan kami menghadapi neraka.”

Isapun meneruskan perjalanannya, dan melihat sejumlah orang berkelompok berduka dalam berbagai gaya dipinggir jalan. Katanya, “Apa gerangan yang merundung kalian?” Mereka menjawab, “Keinginan akan sorga telah membuat kami semua begini.”

Isa pun melanjutkan perjalanannya, sampai ia bertemu dengan kelompok ketiga. Tampaknya orang-orang itu telah menderita amat sangat, tetapi wajah mereka bersinar bahagia.

Isa bertanya, “Apa gerangan yang telah membuatmu begitu?”

Mereka menjawab, “Semangat Kebenaran. Kami telah melihat Kenyataan, dan hal itu telah menyebabkan kami melupakan tujuan-tujuan lain yang sepele.”

Isa berkata, “Orang-orang itu telah sampai. Pada Hari Perhitungan nanti, merekalah yang akan berada di Sisi Tuhan.”

Catatan

Kisah Sufi tentang Yesus ini sering mengejutkan mereka yang percaya bahwa kemajuan rohaniah hanya tergantung pada pengolahan masalah ganjaran dan siksa.

Para Sufi mengatakan bahwa hanya orang-orang tertentu bisa mengambil keuntungan dari pelibatan diri pada masalah untung atau rugi; dan bahwa hal ini mungkin hanya merupakan sebagian saja dari pengalaman orang-seorang. Mereka yang telah mempelajari pelbagai cara dan akibat keadaan dan pencekokan (conditioning and indoctrination) mungkin merasa sepakat dengan pandangan tersebut.

Tentu saja, kaum agamawan formal, dalam pelbagai keyakinannya tidak mengakui bahwa pilihan sederhana atas baik-buruk, ketegangan-kelonggaran, ganjaran-siksa hanyalah sekedar bagian-bagian suatu sistem lebih besar dari kesadaran diri.

SUMPAH

leave a comment »

Pada suatu hari, seorang yang kalut pikirannya bersumpah, jika semua kesulitannya terpecahkan ia akan menjual rumahnya dan semua hasil penjualan itu akan diberikannya kepada kaum miskin.

Akhirnya sampai juga saatnya, ia harus menunaikan sumpahnya. Tetapi ia tidak ingin memberikan uang yang didapatnya. Iapun mencari akal.

Ia menjual rumahnya seharga seperak saja. Namun penjualan itu harus sekalian dengan kucingnya. Harga kucing itu sepuluh ribu uang perak.

Rumah itu pun terjual. Dan bekas pemilik rumah itupun memberikan uangnya yang seperak kepada kaum miskin, yang sepuluh ribu dimasukkan ke kantong sendiri.

Banyak orang berpikiran demikian itu. Mereka berketetapan menuruti pelajaran; namun, mereka menafsirkan sedemikian rupa agar menguntungkan dirinya Sampai mereka mampu mengalahkan kecenderungan itu dengan latihan khusus, mereka sebenarnya tidak bisa menarik pelajaran apa-apa.

Catatan

Akal-akalan yang digambarkan dalam kisah ini, menurut pengisahnya (Syeh Nasir Al-Din Syah) mungkin memang disengaja –atau mungkin menggambarkan pikiran tertutup yang secara tak sadar menampilkan akal-akalan semacam itu.

Sang Syeh, yang juga dikenal sebagai “Pelita Delhi,” meninggal tahun 1846. Makamnya di Delhi, India. Versi ini, yang dianggap ciptaannya, berasal dari tradisi lisan kaum Chishti. Kisah ini dipergunakan untuk memperkenalkan teknik kejiwaan yang dimaksudkan untuk menenangkan jiwa, agar tidak bisa melaksanakan tindak akal-akalan yang menipu diri sendiri.

PENYUSUNAN SEJARAH

with 2 comments

Konon, ada sebuah kota yang terdiri dari dua jalan yang sejajar. Seorang darwis berjalan lewat salah satu jalan itu, dan ketika ia mencapai jalan yang satu lagi, orang-orang melihat matanya berlinang air mata. “Ada yang meninggal di jalan sebelah itu!” teriak seseorang. Anak-anak yang di sekitar itupun segera mendengar teriakan tersebut.

Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa darwis itu telah mengupas bawang.

Dalam sekejap teriakan itu telah mencapai jalan pertama; dan orang-orang dewasa di kedua jalan itu begitu sedih dan khawatir (sebab masyarakat di kedua jalan itu masih saling berebut) sehingga mereka takut mengusut sebab-musabah kehebohan itu sampai tuntas.

Seorang bijaksana berusaha bernalar dengan orang-orang di kedua jalan tersebut, menanyakan mengapa mereka tidak mengusut sebab-musababnya. Dalam keadaan begitu bingung untuk memahami yang dikatakannya sendiri, beberapa orang berucap, “Yang kami tahu, ada wabah di jalan sana.”

Kabar burung ini pun menyebar bagai kobaran api sehingga orang-orang di jalan ini beranggapan orang-orang di jalan yang lain tertimpa bencana; demikian pula sebaliknya.

Ketika ketenangan kembali terasa, masing-masing masyarakat memutuskan untuk pindah saja demi keselamatan. Demikianlah, akhirnya kedua jalan di kota itu sama sekali ditinggalkan penghuninya.

Kini, beberapa abad kemudian, kota itu masih ditinggalkan; tidak berapa jauh darinya terdapat dua buah desa. Masing-masing desa mempunyai kisahnya sendiri tentang bagaimana mula-mula rakyatnya mengadakan perpindahan dari sebuah kota yang tertimpa bencana, beruntung bisa melarikan diri dari malapetaka tak dikenal, pada masa yang jauh lampau.

Catatan

Dalam ajaran kejiwaannya, para Sufi menyatakan bahwa penyampaian pengetahuan secara biasa mudah menyebabkan kekeliruan karena adanya penambahan atau pengurangan dan ingatan yang salah; karenanya pengetahuan semacam itu tidak bisa dipergunakan sebagai pengganti persepsi langsung atas kenyataan.

Kisah yang menggambarkan subyektivitas otak manusia ini dikutip dari buku pelajaran Asrar-i-Khilwatia ‘Rahasia Para Pertapa,’ karangan Syeh Qalandar Syah, anggota Kaum Suhrawardi, yang meninggal tahun 1832. Makamnya di Lahore, Pakistan.

SIFAT MURID

with one comment

Diceritakan bahwa Ibrahim Khawas, ketika ia masih muda, ingin mengikuti seorang guru. Iapun mencari seorang bijak, dan mohon agar diperbolehkan menjadi pengikutnya.

Sang Bijak berkata. “Kau belum lagi siap.”

Karena anak muda itu bersikeras juga, guru itu berkata, “Baiklah, aku akan mengajarimu sesuatu. Aku akan berziarah ke Mekkah. Kau ikut.”

Murid itu teramat gembira.

“Karena kita mengadakan perjalanan berdua, salah seorang harus menjadi pemimpin,” kata Sang Guru “Kau pilih jadi apa?”

“Saya ikut saja, Bapak yang memimpin,” kata Ibrahim.

“Tentu aku akan memimpin, asal kau tahu bagaimana menjadi pengikut,” kata Sang Guru.

Perjalananpun dimulai. Sementara mereka beristirahat pada suatu malam di padang pasir Hejaz, hujan pun turun. Sang guru bangkit dan memegangi kain penutup, melindungi muridnya dari kebasahan.

“Tetapi seharusnya sayalah yang melakukan itu bagi Bapak,” kata Ibrahim.

“Aku perintahkan agar kau memperbolehkan aku melindungimu,” kata Sang Bijak.

Siang harinya, anak muda itu berkata, “Nah ini hari baru. Sekarang perkenankan saya menjadi pemimpin, dan Bapak mengikut saya.” Sang gurupun setuju.

“Saya akan mengumpulkan kayu, untuk membuat api,” kata pemuda itu.

“Kau tak boleh melakukan itu; aku yang akan melakukannya,” kata Sang Bijak.

“Saya memerintahkan agar Bapak duduk Saja sementara saya mengumpulkan kayu!” kata pemuda itu.

“Kau tak boleh melakukan hal itu,” kata orang bijaksana itu; “sebab hal itu tidak sesuai dengan syarat menjadi murid; pengikut tidak boleh membiarkan dirinya dilayani oleh pemimpinnya.”

Demikianlah, setiap kali Sang Guru menunjukkan kepada murid apa yang sebenarnya makna menjadi murid dengan contoh-contoh.

Mereka berpisah di gerbang Kota Suci. Waktu kemudian bertemu dengan orang bijaksana itu, Si pemuda tidak berani menatap matanya.

“Yang kaupelajari itu,” kata Sang Bijak, “adalah sesuatu yang berkaitan dengan sedikit menjadi murid.”

Catatan

Ibrahim Khawas (‘Si Penganyam Palem’) memberi batasan jalan Sufi sebagai, “Biarkan saja apa yang dilakukan untukmu dikerjakan orang untukmu. Kerjakan sendiri apa yang harus kau kerjakan bagi dirimu sendiri.”

Kisah ini menggaris-bawahi dengan cara dramatik, perbedaan antara apa yang dipikirkan calon pengikut tentang bagaimana seharusnya hubunganya dengan gurunya, dan bagaimana hubungan tersebut dalam kenyataannya.

Khawas adalah salah seorang di antara guru-guru agung zaman awal, dan perjalanan ini dikutip oleh Hujwiri dalam Pengungkapan Yang Terselubung, ikhtisar tertua yang masih ada tentang Sufisme dalam Bahasa Persia.

SI TOLOL, SI BIJAK, DAN KENDI

leave a comment »

Seorang tolol merupakan panggilan bagi orang biasa, yang senantiasa salah menafsirkan apa yang terjadi atasnya, apa yang dikerjakannya, atau apa yang dilakukan orang lain.Ia melakukan semuanya itu begitu meyakinkan sehingga bagi dirinya dan orang-orang semacamnya segi kehidupan dan pemikiran yang luas tampak masuk akal dan benar.

Seorang tolol semacam itu pada suatu hari disuruh membawa kendi menemui seorang bijaksana untuk meminta anggur. Di tengah jalan, karena kecerobohannya Si Tolol itu membenturkan kendinya ke batu, dan pecah.

Ketika ia sampai dirumah orang bijaksana itu, ia memberikan pegangan kendinya, katanya, “Tuan Anu menyuruh saya memberikan kendi ini kepada Tuan, tetapi di tengah jalan ia dicuri batu.”

Karena terhibur dan ingin mendengar seluruh ceritanya, orang bijaksana itu bertanya.

“Karena kendi itu telah di curi, kenapa kau berikan kepadaku pegangannya?”

“Saya tidak setolol yang disangka orang,” kata Si Tolol itu, “oleh karena saya membawa pegangan kendi ini untuk membuktikan kebenaran ceritaku.”

Catatan

Suatu pokok pembicaraan yang banyak beredar di kalangan guru darwis adalah bahwa kemanusiaan umumnya tidak bisa membedakan suatu kecenderungan tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa, yang mestinya memungkinkannya memanfaatkannya sepenuh-penuhnya. Mereka yang mampu melihat kecenderungan itu disebut Sang Bijaksana, sementara orang kebanyakan disebut “tidur,” atau di panggil Si Tolol.

Kisah ini, yang dalam Bahasa Inggris dikutip oleh Kolonel Wilberforce Clarke (Diwan-i-Hafiz) merupakan salah satu contoh khas. Dengan menyerap ajaran itu lewat tokoh dan kisah yang dilebih-lebihkan, orang-orang tertentu mampu benar-benar “memekakan” diri untuk menangkap kecenderungan tersembunyi itu.

Kutipan ini berasal dari kumpulan kisah Sufi yang dikerjakan oleh Pir-i-do-Sara, “Yang mengenakan Jubah Bertambal” yang meninggal tahun 1790 dan dimakamkan di Mazar-i-Sharif, Turkestan.

DI JALAN TEMPAT PEDAGANG WANGI-WANGIAN

leave a comment »

Seorang pengais sampah, yang sedang berjalan-jalan di tempat orang berjualan wangi-wangian, tiba-tiba terjatuh seakan-akan mati. Baca entri selengkapnya »