Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Posts Tagged ‘jiwa

Rahasia Patah Hati

with 8 comments

Artikel ringan khusus untuk menghibur mereka yang sedang mengalami patah hati.

Polemik internasional yang sering melanda dunia percintaan anak muda saat ini adalah masalah patah hati. Sebab itu, agar kita benar-benar paham tentang apa itu sebenarnya patah hati, maka kita perlu menganalisanya secara detil.

Patah hati berasal kata patah dan hati. Kata “patah” adalah kata sifat (adjective) yang berarti rusak (kacau) atau keadaan yang tidak sebagaimana mestinya (tidak normal). Contoh, Ranting pohon itu telah patah. Yang berarti, ranting pohon itu telah rusak. Sedangkan kata “hati” adalah kata benda (noun) yang berarti perasaan. Contoh, Orang itu suka makan Hati. Yang berarti, orang itu suka makan perasaan orang lain (baca: suka membuat sedih perasaan orang).

Sehingga patah hati merupakan frase (gabungan kata) tidak setara karena disusun oleh dua kata yang berlainan, yakni kata sifat dan kata benda. Dan patah hati bisa diartikan dengan suatu keadaan perasaan yang rusak (kacau) atau tidak sebagaimana mestinya.

😕 Yach…, semua orang sudah tau itu! please deh, ini ‘kan bukan pelajaran Bhs. Indonesia!

Intermezzo (basa-basi) sedikit kan gak apa-apa. ➡
Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by Amir

23 April, 2010 at 14:13

Hati yang Berkarat

leave a comment »

Sumber rangkuman: Zikir Cahaya Kehidupan (Ibnul Qayyim al-Jauziyah), Gema Insani [hal. 41]


Tidak diragukan lagi bahwa hati itu berkarat sebagaimana tembaga, perak, dan lainnya. Untuk menghindarinya adalah dengan berdzikir. Karena dzikir dapat membersihkan karat tersebut hingga seperti cermin yang bersih dan putih (cemerlang). Jika dibiarkan begitu saja, hati akan berkarat. Namun, jika diajak berdzikir, ia akan selamat dari keadaan tersebut.

Berkaratnya hati karena dua sebab, yakni karena lalai dan dosa. Selamatnya hati karena dua perkara juga, yakni dengan istighfar dan dzikir.
Baca entri selengkapnya »

Written by Amir

22 April, 2010 at 11:07

Ditulis dalam Ibadah

Tagged with , , , , , , ,

Rahasia Di Balik Cahaya Wajah

leave a comment »

Sumber rangkuman: Zikir Cahaya Kehidupan (Ibnul Qayyim al-Jauziyah), Gema Insani [hal. 67]


Zikir adalah cahaya di dunia dan di alam kubur bagi yang melakukannya. Juga cahaya di hari kiamat bagi yang melakukannya. Ia akan berjalan bersamanya ketika menyebrang ash-Shirat (Jembatan di atas Neraka). Tiada yang menyinari hati dan alam kubur seterang cahaya zikir.

Allah berfirman:

Apakah orang-orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ia dapat berjalan di tengah-tengah kumpulan manusia, adalah serupa dengan orang-orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? (QS. Al-An’am: 122)

Profil pertama (dalam ayat di atas) adalah seorang mukmin yang hatinya disinari cahaya iman kepada Allah, mahabbah (kecintaan), ma’rifat (pengetahuan), dan dzikir. Sedang yang lain adalah orang yang lalai dari mengingat Allah dan berpaling dari-Nya dan cinta-Nya. Kebahagiaan di atas kebahagiaan adalah jika seseorang meraih an-Nuur (cahaya Allah) dan sungguh sangat rugi bagi yang tidak dapat meraihnya. Oleh karena itu, Rasulullah saw. sangat berharap sekali kepada Allah ketika beliau memohon agar Allah berkenan menjadikan di dagingnya, tulangnya, otot-otot tubuhnya, rambutnya, kulitnya, pendengarannya, penglihatannya, di sebelah atasnya, di sebelah bawahnya, di sebelah kanannya, di sebelah kirinya, di depannya, dan di belakangnya sebongkah cahaya yang terus menyinarinya. Sampai beliau mengatakan,

Dan jadikanlah diriku ini cahaya (Nuur).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Baca entri selengkapnya »

Written by Amir

22 April, 2010 at 11:06

Ditulis dalam Ibadah

Tagged with , , ,

Syarat Orang Bahagia

with 4 comments

Kebahagiaan adalah dambaan setiap orang. Namun demikian, tak setiap orang bisa memperoleh kebahagiaan karena mereka tidak mengikuti prosedurnya. Kebahagiaan memiliki prosedur (aturan) yang jelas yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap orang yang menginginkannya, baik ia adalah orang kaya atau orang miskin, anak muda atau orang tua, orang sehat atau sakit, atau apakah ia keturunan ningrat (bangsawan) atau umum (rakyat biasa), dll.

Kebahagiaan tak dipengaruhi oleh status kekayaan, usia, keadaan fisik, atau silsilah keturunan, dll. Semua itu hanyalah sebagai faktor penunjang (pembantu), dan bukan sebagai faktor utama yang menentukan hakikat kebahagiaan itu sendiri! Contohnya, betapa banyaknya orang kaya yang masih mengalami penderitaan seperti over dosis, bunuh diri, depresi, stress, dll?! Kemudian, betapa banyak pula anak-anak muda yang sehat juga dilanda penderitaan (gejolak perasaan yang labil/kacau) seperti dalam kasus-kasus pergaulan bebas mereka?!
Baca entri selengkapnya »

Written by Amir

18 April, 2010 at 23:38

Metodologi Kebenaran [4-habis]: Analisa Kebohongan-Kebohongan Besar dalam Hidup

leave a comment »

Telah dekat kepada manusia hari perhitungan segala amal perbuatan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). (Qur’an Surat Al-Anbiyaa’: 1)

Artikel ini merupakan penyempurna dari artikel “Metodologi Kebenaran”. Sehingga pada akhirnya nanti, kita akan menjadi SEMAKIN tahu dan SEMAKIN yakin mana yang memang benar-benar “benar”, mana yang memang benar-benar “salah”, dan mana yang ada di antara keduanya, yakni yang seolah-olah benar tapi sebenarnya salah (baca: meragukan/rancu/konslet/error/invalid).

Dalam membahas kebohongan-kebohongan besar ini, saya mengutip sebagian isi al-Qur’an, karena ia merupakan literatur (baca: referensi) kebenaran yang “stabil” sepanjang masa (karena Qur’an hanya punya satu versi dan tak pernah berubah selama 14 abad). Kemudian, saya juga akan mengutip dari beberapa hadits, dan literatur sejarah untuk topik bahasan tertentu. Dan tak luput juga, akan saya sertakan beberapa analogi sederhana untuk mempermudah dalam pemahaman artikel ini.

Al-Qur’an memiliki kapabilitas (kemampuan) yang besar dalam menganalisa suatu kebenaran dan kebohongan. Mengapa? Karena ia tak hanya mampu menganalisa kebohongan-kebohongan yang berada di luar Islam, seperti yahudi, nasrani, dan penyembah berhala. Bahkan ia juga bisa menganalisa kebohongan yang dilakukan oleh orang-orang Islam itu sendiri. Karena meskipun Islam adalah agama yang benar, tapi al-Qur’an tidak pernah menyatakan bahwa semua orang Islam itu benar. Dan sebab itulah, kebohongan-kebohongan orang Islam juga perlu dianalisa.

Apakah sebagai orang Islam, saya kurang adil dalam menganalisa kebohongan-kebohongan besar? ❓
Baca entri selengkapnya »

Bagaimana Cara Menjadi Orang yang Baik?

with 25 comments

Hidup adalah suatu anugerah (pemberian/nikmat) yang harus dihargai. Kita hidup di dunia ini HANYA satu kali. Lantas kenapa harus buang-buang waktu hanya untuk memperburuk keadaan kita di masa depan (akhirat)?

Sistematika kehidupan yang kompleks, juga auditingnya yang pasti sangatlah rumit, telah menuntut kita untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita.
Kepada siapa?
Tentu saja, kepada Pencipta Kehidupan ini, yang telah memberikan kita kehidupan, yang telah memberikan kita segala keperluan hidup (panca indra, nikmat kesehatan, pengetahuan, dll).
Tidak pantaskah kita membalas segala kebaikan-Nya? Dengan cara berusaha memaksimalkan kinerja akal dan pikiran kita untuk mentaati segala perintah-Nya?
Dunia ini adalah tempat ujian, dan bukan tempat bertamasya seperti yang disangka oleh kebanyakan orang. Mereka sangat disibukkan oleh keperluan yang tidak ada kaitannya dengan wujud rasa terima kasih atas kebaikan-Nya. Baca entri selengkapnya »

Written by Amir

18 Februari, 2010 at 06:59

Efek Samping Dosa

with 6 comments

Pagi ini, agak repot mau tulis artikel apaan. Tapi, setelah aku pikir mending tulis suatu yang bisa nambah wawasan orang lain, biar wawasanku juga bertambah. Artikel topik kali ini adalah efek samping dosa. Mengingat telah berkali-kali aku terjatuh, terjatuh, dan terjatuh, ….dan akhirnya aku bangkit, bangkit berkali-kali –walau masih diselingi dengan tersandung dan terjatuh – berusaha memasuki lembaran baru melalui pintu taubat yang masih pantas untuk aku masuki. Dan aku telah memiliki keinginan untuk tidak keluar dari padanya. Aku tak punya alasan untuk menghancurkan diriku. Baca entri selengkapnya »

ORANG-ORANG YANG SAMPAI

with 3 comments

Imam Al-Ghazali mengisahkan suatu cerita dalam kehidupan Isa bin Maryam.

Pada suatu hari Isa melihat orang-orang duduk bersedih di sebuah tembok, dipinggir jalan.

Tanyanya, “Apa gerangan yang merundungmu semua?”

Jawab mereka, “Kami menjadi seperti ini lantaran ketakutan kami menghadapi neraka.”

Isapun meneruskan perjalanannya, dan melihat sejumlah orang berkelompok berduka dalam berbagai gaya dipinggir jalan. Katanya, “Apa gerangan yang merundung kalian?” Mereka menjawab, “Keinginan akan sorga telah membuat kami semua begini.”

Isa pun melanjutkan perjalanannya, sampai ia bertemu dengan kelompok ketiga. Tampaknya orang-orang itu telah menderita amat sangat, tetapi wajah mereka bersinar bahagia.

Isa bertanya, “Apa gerangan yang telah membuatmu begitu?”

Mereka menjawab, “Semangat Kebenaran. Kami telah melihat Kenyataan, dan hal itu telah menyebabkan kami melupakan tujuan-tujuan lain yang sepele.”

Isa berkata, “Orang-orang itu telah sampai. Pada Hari Perhitungan nanti, merekalah yang akan berada di Sisi Tuhan.”

Catatan

Kisah Sufi tentang Yesus ini sering mengejutkan mereka yang percaya bahwa kemajuan rohaniah hanya tergantung pada pengolahan masalah ganjaran dan siksa.

Para Sufi mengatakan bahwa hanya orang-orang tertentu bisa mengambil keuntungan dari pelibatan diri pada masalah untung atau rugi; dan bahwa hal ini mungkin hanya merupakan sebagian saja dari pengalaman orang-seorang. Mereka yang telah mempelajari pelbagai cara dan akibat keadaan dan pencekokan (conditioning and indoctrination) mungkin merasa sepakat dengan pandangan tersebut.

Tentu saja, kaum agamawan formal, dalam pelbagai keyakinannya tidak mengakui bahwa pilihan sederhana atas baik-buruk, ketegangan-kelonggaran, ganjaran-siksa hanyalah sekedar bagian-bagian suatu sistem lebih besar dari kesadaran diri.

SUMPAH

leave a comment »

Pada suatu hari, seorang yang kalut pikirannya bersumpah, jika semua kesulitannya terpecahkan ia akan menjual rumahnya dan semua hasil penjualan itu akan diberikannya kepada kaum miskin.

Akhirnya sampai juga saatnya, ia harus menunaikan sumpahnya. Tetapi ia tidak ingin memberikan uang yang didapatnya. Iapun mencari akal.

Ia menjual rumahnya seharga seperak saja. Namun penjualan itu harus sekalian dengan kucingnya. Harga kucing itu sepuluh ribu uang perak.

Rumah itu pun terjual. Dan bekas pemilik rumah itupun memberikan uangnya yang seperak kepada kaum miskin, yang sepuluh ribu dimasukkan ke kantong sendiri.

Banyak orang berpikiran demikian itu. Mereka berketetapan menuruti pelajaran; namun, mereka menafsirkan sedemikian rupa agar menguntungkan dirinya Sampai mereka mampu mengalahkan kecenderungan itu dengan latihan khusus, mereka sebenarnya tidak bisa menarik pelajaran apa-apa.

Catatan

Akal-akalan yang digambarkan dalam kisah ini, menurut pengisahnya (Syeh Nasir Al-Din Syah) mungkin memang disengaja –atau mungkin menggambarkan pikiran tertutup yang secara tak sadar menampilkan akal-akalan semacam itu.

Sang Syeh, yang juga dikenal sebagai “Pelita Delhi,” meninggal tahun 1846. Makamnya di Delhi, India. Versi ini, yang dianggap ciptaannya, berasal dari tradisi lisan kaum Chishti. Kisah ini dipergunakan untuk memperkenalkan teknik kejiwaan yang dimaksudkan untuk menenangkan jiwa, agar tidak bisa melaksanakan tindak akal-akalan yang menipu diri sendiri.

PENYUSUNAN SEJARAH

with 2 comments

Konon, ada sebuah kota yang terdiri dari dua jalan yang sejajar. Seorang darwis berjalan lewat salah satu jalan itu, dan ketika ia mencapai jalan yang satu lagi, orang-orang melihat matanya berlinang air mata. “Ada yang meninggal di jalan sebelah itu!” teriak seseorang. Anak-anak yang di sekitar itupun segera mendengar teriakan tersebut.

Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa darwis itu telah mengupas bawang.

Dalam sekejap teriakan itu telah mencapai jalan pertama; dan orang-orang dewasa di kedua jalan itu begitu sedih dan khawatir (sebab masyarakat di kedua jalan itu masih saling berebut) sehingga mereka takut mengusut sebab-musabah kehebohan itu sampai tuntas.

Seorang bijaksana berusaha bernalar dengan orang-orang di kedua jalan tersebut, menanyakan mengapa mereka tidak mengusut sebab-musababnya. Dalam keadaan begitu bingung untuk memahami yang dikatakannya sendiri, beberapa orang berucap, “Yang kami tahu, ada wabah di jalan sana.”

Kabar burung ini pun menyebar bagai kobaran api sehingga orang-orang di jalan ini beranggapan orang-orang di jalan yang lain tertimpa bencana; demikian pula sebaliknya.

Ketika ketenangan kembali terasa, masing-masing masyarakat memutuskan untuk pindah saja demi keselamatan. Demikianlah, akhirnya kedua jalan di kota itu sama sekali ditinggalkan penghuninya.

Kini, beberapa abad kemudian, kota itu masih ditinggalkan; tidak berapa jauh darinya terdapat dua buah desa. Masing-masing desa mempunyai kisahnya sendiri tentang bagaimana mula-mula rakyatnya mengadakan perpindahan dari sebuah kota yang tertimpa bencana, beruntung bisa melarikan diri dari malapetaka tak dikenal, pada masa yang jauh lampau.

Catatan

Dalam ajaran kejiwaannya, para Sufi menyatakan bahwa penyampaian pengetahuan secara biasa mudah menyebabkan kekeliruan karena adanya penambahan atau pengurangan dan ingatan yang salah; karenanya pengetahuan semacam itu tidak bisa dipergunakan sebagai pengganti persepsi langsung atas kenyataan.

Kisah yang menggambarkan subyektivitas otak manusia ini dikutip dari buku pelajaran Asrar-i-Khilwatia ‘Rahasia Para Pertapa,’ karangan Syeh Qalandar Syah, anggota Kaum Suhrawardi, yang meninggal tahun 1832. Makamnya di Lahore, Pakistan.