Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Teknik Mengetahui Kebenaran Suatu Agama

with one comment


Manusia dalam memahami suatu kebenaran selalu menganut sistem “ilmiah” alias bukti nyata yang bisa dinalar dengan logika. Begitu pun juga dengan Agama. Agama merupakan suatu kebenaran yang besar dan “sangat” ilmiah.

Namun demikian, keberadaan Agama dalam kehidupan ini tidak jauh berbeda dengan keberadaan hal-hal yang lainnya. Yakni, setiap hal pasti ada tiruannya. Seperti suku cadang sepeda motor, ada yang asli (genuine) dan ada juga yang palsu. Dan konsumen harus bisa membedakannya, karena kedua barang tersebut bukanlah hal yang sama -meski serupa (dalam hal bentuk, fungsi, dll).

Begitu juga dengan hal Agama, ada banyak sekali Agama dalam hidup ini, dan -Anda setuju atau tidak- yang ASLI hanya satu.

Banyaknya macam Agama dalam hidup ini, membuat kebanyakan orang harus berpikir keras untuk menentukan mana yang asli dan mana yang tidak. Tapi sebenarnya, semua itu mudah bagi mereka yang sudah mengetahui tekniknya. Seperti halnya seseorang yang mampu membedakan mana suku cadang yang asli dan mana yang tidak dengan cara melihat banyak faktor, seperti kualitas, harga, dll.

 

Okay,

Artikel ini hanya mengulas masalah teknik untuk mengetahui kebenaran suatu agama tanpa memihak kepada Agama mana pun. Artikel ini bersifat opini (dari pribadi penulis blog ini), dan masih ada kemungkinan untuk salah. Sebab itu, masih bisa disangkal (dengan mununjukkan alasan, tentunya).

Ada tiga teknik dalam menentukan kebenaran suatu agama:

Pertama, Sumber Agama Tersebut Harus Jelas

Maksudnya adalah pembawa Agama tersebut, yakni dari siapa Agama tersebut disampaikan, adalah jelas orangnya dan dibuktikan dengan catatan-catatan sejarah yang signifikan, bahwa orang tersebut adalah orang yang “benar-benar” berwibawa. Ini dimaksudkan agar pengikutnya tidak memiliki keraguan dalam menganut Agama tersebut. Dan juga, tidak mungkin Agama yang mulia, yang mengajarkan prinsip-prinsip dan etika-etika yang tinggi malah dibawa oleh orang yang sembarangan (semisal, provokator perang dunia II). Si pembawa Agama tersebut haruslah benar-benar merupakan orang yang jujur dan dapat dipercaya, karena dialah yang merupakan sumber utama “contoh” dalam pengamalan Agama tersebut.

Kedua, Memiliki Pedoman Standar yang Stabil

Artinya adalah, pedoman (misal, Kitab Suci) yang merupakan ciri khas dari Agama tersebut tidaklah berubah sepanjang masa. Karena jika terjadi perubahan, maka perubahan tersebut bisa “menghilangkan” ciri khas atau karakteristik dari Agama tersebut, dan Agama tersebut menjadi tidak murni. Agama bukanlah seperti seni yang bisa mengalami perubahan dengan penambahan atau pengurangan unsur-unsur tertentu. Agama adalah sesuatu yang sakral (suci, murni dari Tuhan) yang jika diamalkan secara konsisten bisa membawa pengikutnya ke tahapan pengalaman spiritual yang lebih tinggi. Namun, jika pedoman dalam Agama tersebut sudah berubah (karena dirubah), maka peningkatan pengalaman spiritual yang diharapkan tak akan pernah terjadi. Mengapa demikian? Alasannya karena sesuatu yang sakral/suci (yakni pedoman Agama yang murni) telah bercampur dengan kebohongan yang diciptakan melalui perubahan -baik penambahan maupun pengurangan- dalam konteks pedoman Agama yang standar (semisal, Kitab Suci).

Ketiga, Memiliki Aturan yang Jelas dan Terperinci

Kehidupan ini merupakan tempat berbagai macam permasalahan. Di sinilah Agama memerankan peranan yang sangat penting karena berisi berbagai macam aturan dan prosedur yang harus dilakukan oleh manusia untuk mencapai atau memperoleh kebaikan. Aturan-aturan tersebut ada dalam pedoman standar Agama tersebut (Kitab Suci). Sehingga, aturan yang jelas dan terperinci merupakan suatu syarat mutlak kebenaran suatu Agama. Agama yang benar harus memiliki jawaban yang tegas, terlebih untuk hal-hal yang besar (semisal, berapa jumlah Tuhan? Atau, Apakah Tuhan tidur?, dll). Sehingga, sangatlah tidak pantas disebut sebagai Agama, jika tak mampu menjawab permasalahan yang besar tersebut. Mengapa? Jika untuk hal-hal yang besar saja tidak bisa menjawab, apatah lagi untuk hal-hal yang sepele (seperti, tangan manakah yang digunakan untuk makan? Etika menjenguk orang sakit, dll). Jelasnya adalah, Agama yang sebenarnya adalah Agama yang di dalamnya berisi jawaban atas segala kegelisahan-kegelisahan yang ada dalam “hati nurani” kita, dan bukan sebaliknya -yakni, kita malah dibuat tambah gelisah olehnya.

Iklan

Written by Amir

5 November, 2012 pada 09:13

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Kebenaran yang hakiki datangnya dari Allah erlalui nabi/rasulNya yang dituangkan dalam Alquranul karim yang dijelaskan oleh hadis dan bisa digali dengan tafsir dan ilmu pengetahuan, selain itu tidak ada.

    Alfata Yakub

    25 Juni, 2014 at 15:47


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: