Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Konsep Ketuhanan

leave a comment »


Tuhan adalah Eternal (pusat segalanya). Dia adalah pencipta segala sesuatu, termasuk juga waktu, rasa, dan segala hukum (ketetapan/keadaan) yang ada di alam semesta ini. Setiap hal berlaku atas kehendak-Nya. Sebab itulah Dia disebut sebagai Maha Pencipta, dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

Masalahnya sekarang adalah, apakah eksistensi (keberadaan) Tuhan itu bisa dinalar dengan logika? Dengan kata lain, apakah Tuhan itu benar-benar ada? Jika ada, apakah jumlahnya lebih dari 1?

APAKAH TUHAN ITU BENAR-BENAR ADA?

Mari kita bermain logika untuk menjawab pertanyaan pertama ini.

Bukankah setiap orang sepakat bahwa setiap hal selalu ada yang mengawalinya? Misalnya, perhatikanlah monitor/layar yang ada di hadapan Anda ini. Bukankah monitor tersebut ada pembuatnya? Tentu saja ada! Monitor tersebut BUKAN ada dengan sendirinya, melainkan “dibuat” terlebih dahulu, kemudian menjadi “ada”. Namun, kadang kita tidak tahu “tangan” siapa yang membuatnya.

Nah, sekarang kaitannya dengan konsep ketuhanan, yakni untuk membuktikan apakah Tuhan itu benar-benar ada atau tidak, maka perhatikanlah langit (antariksa) yang membentang luas menyelubungi planet kita ini. Dan tanyakanlah kepada diri Anda sendiri, “Apa mungkin langit yang membentang luas itu ada dengan sendirinya?” Dan jawabannya tentu saja “Tidak mungkin”. Tidak mungkin langit yang membentang luas dan bertaburan planet, bintang, dan aneka hiasan galaksi lainnya itu ada dengan sendirinya, tidak mungkin! Kita lihat langit begitu indah, rapi, menakjubkan, dan penuh dengan keajaiban lainnya. Dan tak diragukan lagi bahwa, Arsiteknya adalah Pribadi yang Sangat Menakjubkan. Dialah yang disebut dengan Tuhan.

Jadi kesimpulannya adalah, Tuhan itu ada! Jika Tuhan itu tidak ada, mana mungkin ciptaan (seperti langit, bumi, makhluk hidup, dll) itu ada?!! Dan ini mirip dengan logika, jika “pembuat” monitor tidak pernah ada, mana mungkin Anda bisa menggunakan monitor yang ada di hadapan Anda ini?!!

Masalah lainnya adalah tentang orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan karena belum pernah melihatnya. Ketahuilah, bahwa tak setiap hal yang nyata itu bisa dilihat! Contohnya? Contohnya adalah, apakah Anda percaya bahwa angin itu ada? Tentu saja Anda akan mengatakan “percaya”.

Nah, mengapa Anda percaya bahwa angin itu ada, padahal Anda sama sekali belum pernah melihatnya?

Jawabannya adalah karena kita melihat angin bukan dengan “mata kepala” melainkan dengan mata akal (pikiran). Pergantian cuaca merupakan bukti adanya angin, juga tentang perahu yang berlayar di laut merupakan bukti adanya angin, dll. Dengan kata lain, Anda percaya bahwa angin itu ada karena Anda “merasakan” keberadaannya melalui tanda-tanda keberadaannya (perubahan cuaca, gemuruh badai, dll).

Begitulah dengan konsep Ketuhanan. Kita percaya bahwa Tuhan itu ada karena kita merasakan keberadaan-Nya melalui Ayat (“Tanda-Tanda”) Kebesaran-Nya yang meliputi: adanya alam semesta, makhluk hidup, keteraturan sistem tata surya, dll.

Jadi, kesimpulannya adalah hanya orang bodoh yang tidak mau percaya bahwa Tuhan itu benar-benar ada hanya karena belum pernah melihatnya. Sama halnya dengan orang yang tidak percaya bahwa angin itu ada hanya karena dia belum pernah melihatnya.

APAKAH TUHAN ITU LEBIH DARI 1?

Untuk menjawab pertanyaan ini maka kita menggunakan logika yang berkaitan dengan “Sistem Kerajaan”.

Sesungguhnya langit dan bumi adalah suatu kerajaan, yakni Kerajaan Allah. Dia-lah yang menciptakan, memelihara dan mengatur.

Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk). (QS. An-Nur: 42)

Tidak mungkin ada lebih dari 1 Raja dalam suatu Kerajaan. Jika jumlah tuhan itu lebih dari 1 maka, kekuasaan Tuhan tidak bersifat mutlak karena kekuasaannya tersebut masih terbagi-bagi sesuai dengan jumlah dan “jabatan” Tuhan yang ada. Dan hal ini sama sekali tidak mungkin, karena jika kekuasaan Tuhan itu seperti ini (yakni, tidak mutlak) maka, alam semesta ini “tidak akan teratur” sebagaimana yang kita lihat sekarang. Mengapa? Hmm…, yaa… bisa jadi selera “antar” tuhan kan berbeda-beda. Misalnya, Matahari kan berbentuk bola… Nah, kalau jumlah Tuhan itu lebih dari satu, mungkin di antara tuhan-tuhan tersebut ada yang punya pendapat beda, misal tuhan yang satu ingin agar Matahari berbentuk kubus, sementara tuhan yang lain ingin agar Matahari berbentuk prisma, dll…. Sehingga bisa jadi antar tuhan akan bentrok (karena tidak menemukan kesepakatan dalam perundingan penciptaan), yang ujung-ujungnya akan mengakibatkan alam semesta ini tidak akan se-tenang dan teratur seperti yang kita lihat sekarang ini.

Dengan kata lain, yang ingin saya tegaskan adalah:
Keteraturan alam semesta yang kita saksikan sekarang ini merupakan salah satu bukti bahwa Tuhan itu Satu. Kekuasaan-Nya sangat Mutlak (baca: tak bisa diganggu gugat)!

Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya. (QS. Al-Isra’: 111)

Itulah yang dikatakan dalam al-Qur’an. Allah adalah Dzat yang Maha Independen (Maha Berdiri Sendiri). Dia adalah Maha Esa. Dia tak butuh persekongkolan dengan siapapun. Dia Maha Memerintah. Dia-lah yang menciptakan segala hukum, termasuk aturan-aturan kehidupan dan kematian.

Jadi memang tidak mungkin sekali jika tuhan itu bergerombol (lebih dari satu). Mengapa? Karena kekuasaan tuhan akan terbagi-bagi, dan akhirnya tuhan tidak memiliki kekuasaan yang mutlak (karena kekuasaan tuhan yang satu dipengaruhi oleh kekuasaan tuhan yang lain).

Konsekuensinya, jumlah Tuhan itu adalah Satu, tidak lebih dan tidak kurang. Dan tak ada sesuatupun yang bisa menandinginya!

Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah tempat bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia". (QS. Al-Ikhlas: 1-4)
 

PENYEBAB KEBUNTUAN SESEORANG DALAM MEMAHAMI KONSEP KETUHANAN


Sekarang kita beralih kepada penyebab kebuntuan akal seseorang dalam memahami konsep ketuhanan.

To the point,

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tak henti-hentinya manusia bertanya-tanya, sampai-sampai dikatakan: Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Barang siapa yang merasakan keraguan dalam hatinya, maka hendaklah ia berkata: Aku beriman kepada Allah.
(Shahih Muslim No.190)

Jadi, penyebab seseorang mengalami kebuntuan dalam memahami konsep ketuhanan adalah karena ia memikirkan Pribadi/Dzat Allah. Padahal, itu adalah suatu perbuatan yang “sangat” lancang. Manusia tidak mengetahui “sedikitpun” mengenai Eksistensi Allah kecuali apa-apa yang telah dijelaskan sendiri oleh-Nya. Manusia juga masih belum bisa menganalisa komponen alam semesta ini dengan baik, dan mereka malah berusaha menganalisa Si Pencipta Alam Semesta itu sendiri?!!! Itulah sebabnya orang-orang seperti itu mengalami kebuntuan dalam memahami konsep ketuhanan. Apakah kita paham struktur Matahari secara keseluruhan? Apakah kita mengetahui dengan pasti volume air laut yang tertampung? Hmmm.., jika terhadap sesuatu yang kecil saja kita tidak bisa paham (yakni, tidak tahu pasti) maka, bagaimana mungkin kita bisa “bersikap lancang” dengan cara memikirkan sesuatu Yang Maha Besar (yakni, tentang Allah sebagai Pencipta Alam Semesta)?!!

Jika Anda benar-benar ingin mengenal Sifat-Sifat Allah maka, lihatlah Al-Qur’an dan al-Hadits, karena kedua manuskrip tersebut berisi penjelasan dari Allah sendiri. Dia-lah Yang Mengetahui tentang Diri-Nya Sendiri, dan manusia tak mengetahui tentang Diri-Nya kecuali sedikit. Sesungguhnya Allah adalah Pribadi yang sangat berbeda dan tidak bisa dibandingkan dengan apapun! Jadi berhentilah memperbandingkan Allah dengan sesuatu apapun jika Anda tidak ingin keimanan yang ada dalam hati Anda itu rusak! Allah adalah Dzat yang Maha Berdiri Sendiri dan segala sesuatu tunduk terhadap ketentuannya. Ilmu-Nya meliputi segala hal. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi (kerajaan) Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al-Baqarah: 255)
 

Anda Ingin Melihat Tuhan?

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat? Rasulullah saw. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat bulan di malam purnama? Para sahabat menjawab: Tidak, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat matahari yang tidak tertutup awan? Mereka menjawab: Tidak, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Seperti itulah kalian akan melihat Allah. Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka ia mengikuti sembahannya itu. Orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang menyembah berhala mengikuti berhala. Tinggallah umat ini, termasuk di antaranya yang munafik. Kemudian Allah datang kepada mereka dalam bentuk selain bentuk-Nya yang mereka kenal, seraya berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka (umat ini) berkata: Kami berlindung kepada Allah darimu. Ini adalah tempat kami, sampai Tuhan kami datang kepada kami. Apabila Tuhan datang, kami tentu mengenal-Nya. Lalu Allah Taala datang kepada mereka dalam bentuk-Nya yang telah mereka kenal. Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka pun berkata: Engkau Tuhan kami. Mereka mengikuti-Nya. Dan Allah membentangkan jembatan di atas neraka Jahanam. Aku (Rasulullah saw.) dan umatkulah yang pertama kali melintas. Pada saat itu, yang berbicara hanyalah para rasul. Doa para rasul saat itu adalah: Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah. Di dalam neraka Jahanam terdapat besi berkait seperti duri Sakdan (nama tumbuhan yang berduri besar di setiap sisinya). Pernahkah kalian melihat Sakdan? Para sahabat menjawab: Ya, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. melanjutkan: Besi berkait itu seperti duri Sakdan, tetapi hanya Allah yang tahu seberapa besarnya. Besi berkait itu merenggut manusia dengan amal-amal mereka. Di antara mereka ada orang yang beriman, maka tetaplah amalnya. Dan di antara mereka ada yang dapat melintas, hingga selamat. Setelah Allah selesai memberikan keputusan untuk para hamba dan dengan rahmat-Nya Dia ingin mengeluarkan orang-orang di antara ahli neraka yang Dia kehendaki, maka Dia memerintah para malaikat untuk mengeluarkan orang-orang yang tidak pernah menyekutukan Allah. Itulah orang-orang yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan rahmat-Nya, yang mengucap: "Laa ilaaha illallah". Para malaikat mengenali mereka di neraka dengan adanya bekas sujud. Api neraka memakan tubuh anak keturunan Adam, kecuali bekas sujud. Allah melarang neraka memakan bekas sujud. Mereka dikeluarkan dari neraka, dalam keadaan hangus. Lalu mereka disiram dengan air kehidupan, sehingga mereka menjadi tumbuh seperti biji-bijian tumbuh dalam kandungan banjir (lumpur). Kemudian selesailah Allah Taala memberi keputusan di antara para hamba. Tinggal seorang lelaki yang menghadapkan wajahnya ke neraka. Dia adalah ahli surga yang terakhir masuk. Dia berkata: Ya Tuhanku, palingkanlah wajahku dari neraka, anginnya benar-benar menamparku dan nyala apinya membakarku. Dia terus memohon apa yang dibolehkan kepada Allah. Kemudian Allah Taala berfirman: Mungkin, jika Aku mengabulkan permintaanmu, engkau akan meminta yang lain. Orang itu menjawab: Aku tidak akan minta yang lain kepada-Mu. Maka ia pun berjanji kepada Allah. Lalu Allah memalingkan wajahnya dari neraka. Ketika ia telah menghadap dan melihat surga, ia pun diam tertegun, kemudian berkata: Ya Tuhanku, majukanlah aku ke pintu surga. Allah berkata: Bukankah engkau telah berjanji untuk tidak meminta kepada-Ku selain apa yang sudah Kuberikan, celaka engkau, hai anak-cucu Adam, ternyata engkau tidak menepati janji. Orang itu berkata: Ya Tuhanku! Dia memohon terus kepada Allah, hingga Allah berfirman kepadanya: Mungkin jika Aku memberimu apa yang engkau pinta, engkau akan meminta yang lain lagi. Orang itu berkata: Tidak, demi Keagungan-Mu. Dan ia berjanji lagi kepada Tuhannya. Lalu Allah mendekatkannya ke pintu surga. Setelah ia berdiri di ambang pintu surga, ternyata pintu surga terbuka lebar baginya, sehingga ia dapat melihat dengan jelas keindahan dan kesenangan yang ada di dalamnya. Dia pun diam tertegun. Kemudian berkata: Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga. Allah Taala berfirman kepadanya: Bukankah engkau telah berjanji tidak akan meminta selain apa yang telah Aku berikan? Celaka engkau, hai anak cucu Adam, betapa engkau tidak dapat menepati janji! Orang itu berkata: Ya Tuhanku, aku tidak ingin menjadi makhluk-Mu yang paling malang. Dia terus memohon kepada Allah, sehingga membuat Allah Taala tertawa (rida). Ketika Allah Taala tertawa Dia berfirman: Masuklah engkau ke surga. Setelah orang itu masuk surga, Allah berfirman kepadanya: Inginkanlah sesuatu! Orang itu meminta kepada Tuhannya, sampai Allah mengingatkannya tentang ini dan itu. Ketika telah habis keinginan-keinginannya, Allah Taala berfirman: Itu semua untukmu, begitu pula yang semisalnya.
(Shahih Muslim No.267)

Kita akan melihat Allah pada hari Kiamat. Anda percaya atau tidak itu sama sekali bukan masalah.

Akhirnya,
Semoga Allah menganugerahkan kepahaman yang mendalam dalam diri kita untuk bisa lebih mengenal-Nya. Amin

Written by Amir

6 Agustus, 2010 pada 12:58

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: