Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Klarifikasi Musibah Berdasarkan Asal-Usulnya

leave a comment »


Kehidupan dunia adalah kehidupan yang rawan dari penderitaan. Manusia tak akan pernah bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan yang sesungguhnya dalam kehidupan yang sempit ini. Mengapa demikian? Tentu saja, karena selalu ada saja hal-hal yang tidak menyenangkan yang menghampiri keadaan/suasana kehidupan seseorang. Keadaan yang tidak menyenangkan tersebut, layaknya disebut dengan Musibah (ujian: cobaan hidup).

Dan musibah tidak harus selalu besar (berarti). Ada banyak musibah yang kecil, seperti terpeleset, tertusuk diri, tidak lulus ujian, dll. bahkan digigit nyamuk adalah suatu musibah. Nah, bagaimana kalau digigit anjing? Hmmm., sepertinya itu adalah musibah yang besar, karena yang bersangkutan bisa menderita penyakit “rabies” atau bahkan kematian.

Jelasnya adalah, musibah adalah segala hal yang menuntut kesabaran hati. Itulah pengertian musibah. Musibah juga memiliki makna tersendiri, tapi kebanyakan manusia tidak memahaminya. Kepandaian dalam menafsirkan “makna” suatu musibah adalah mutlak diperlukan bagi setiap orang yang ingin memperbaiki “sistematika” kehidupannya.

Ada dua macam musibah berdasarkan latar belakang penyebabnya, yakni musibah yang merupakan azab (hukuman) dan musibah yang merupakan ujian hidup.

Musibah yang merupakan azab (Hukuman)

Musibah dengan tipe seperti ini biasanya melanda seseorang karena dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Dan musibah seperti inilah yang paling banyak menimpa kehidupan seseorang. Misalnya, seperti yang disebutkan dalam kisah-kisah terkenal; yakni umat Nabi Nuh as. yang ditenggelamkan oleh banjir besar, atau juga tentang tenggelamnya Fir’aun yang mendustakan kenabian Musa as., atau juga tentang kisah Si Malin Kundang yang akhirnya menjadi batu karena durhaka terhadap orang tuanya. Mereka semua ditimpa musibah (azab) karena dosa-dosa (kesalahan fatal) yang telah mereka perbuat.

Dan dalam kehidupan kita sehari-hari juga ada banyak contoh musibah yang menimpa seseorang karena dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Misal, tentang seseorang yang mengalami peristiwa Tsunami di aceh, atau juga tentang gempa di Padang, dan kasus lumpur Lapindo, dan bahkan kecelakaan-kecelakaan lalu lintas di jalan raya. Begitu juga tentang kasus-kasus orang yang masuk rumah sakit karena penyakit yang dideritanya, tersengat listrik, digigit ular, dll. Itu semua rata-rata disebabkan oleh dosa yang telah diperbuat oleh orang yang bersangkutan.

Mengapa demikian?

Karena hukum kehidupan (yakni, takdir) itu selalu adil. Sebagaimana telah disebutkan dalam al-Qur’an.

Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS. asy-Syura: 30)

Menurut Hasan Bashri, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim, ketika ayat ini turun, Rasulullah saw. bersabda:

Demi Zat Yang Diri Muhammad berada dalam kekuasaan-Nya, tak ada kayu yang merobekkan (kain), tak ada akar pohon yang mematikan, tak ada batu yang menimbulkan bencana, dan tak ada kaki yang terpeleset melainkan karena suatu kesalahan. Dan Allah memaafkan sebagian besar kesalahan itu.

Kemudian diperkuat lagi oleh hadits lain,

Dan nabi saw. bersabda, "Seorang hamba tidak akan tertimpa bencana besar atau kecil, kecuali karena suatu kesalahan. Dan Allah memaafkan sebagian besar kesalahan itu." Nabi saw. kemudian membaca ayat, "Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu)."
(HR. Tirmidzi)

Kesimpulannya adalah, dosa adalah penyebab utama atas suatu musibah yang menimpa seseorang. Sebab itu, agar seseorang bisa aman dari musibah maka ia harus menghapus dosa-dosanya, yakni dengan cara bertaubat.

Sesungguhnya Allah menyukai seorang hamba mukmin yang terjerumus dosa tetapi bertaubat. (HR. Ahmad)

Taubat adalah penghapus dosa, dan kalau dosa telah terhapus, maka tak ada musibah (azab) yang harus diterima.

Musibah yang merupakan ujian

Musibah seperti ini adalah musibah yang antik (baca: spesial). Musibah dalam kategori ini lebih dikenal dengan nama “cobaan” atau “ujian”. Allah memberikan ujian kepada para hamba-Nya untuk mengetahui seberapa tinggi keimanannya. Artinya, seberapa besar “kesetiaan” hamba tersebut terhadap-Nya.

Sa'ad bin Abi Waqqash berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?" Nabi Saw menjawab, "Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh maka dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)

Begitulah para Nabi, merekalah orang-orang yang memperoleh ujian paling besar. Ada Nabi yang dibunuh, ada juga yang dicaci, dan sebagian besar diantara mereka diusir atau diperangi. Dan Nabi Muhammad saw. adalah Nabi yang diperangi, dicaci, dan diusir dari tanah kelahirannya. sebelum akhirnya mereguk kemenangan pada akhirnya. Atau dalam kisah nabi Ayub as.. Beliau diuji oleh Allah dengan kemiskinan (yakni, hartanya habis dilalap api), kematian anak-anaknya, perangai isterinya yang buruk, menderita penyakit ganas, dan dikucilkan oleh kaumnya (karena mereka takut tertular penyakit nabi Ayub as.).

Kemudian, ada juga ujian (cobaan) yang baik. Namun maksudnya sama, yakni Allah ingin mengetahui “seberapa besar” tingkat kesetiaan (loyalitas) seorang hamba terhadap-Nya (yakni, bersyukur atau ingkar). Misalnya, seperti yang terdapat dalam kisah Nabi Sulaiman as.. Beliau diuji oleh Allah dengan kerajaan yang besar dan makmur, yang memiliki pasukan dari bangsa jin dan manusia.

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk menguji diriku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha
Mulia".

Begitulah ujian untuk para nabi. Sedangkan, untuk ujian bagi orang-orang yang lebih rendah tingkat keimanannya, mereka diberi ujian yang lebih kecil. Dan ujian yang kecil tersebut misalnya, dalam masalah harta (kemiskinan), tentang harga sembako yang semakin tinggi, harga BBM naik, biaya pendidikan mahal, pajak yang semakin tinggi, dan pemerintah seringkali tidak serius dalam mengusahakan kesejahteraan rakyat. Orang-orang mukmin dituntut untuk bersabar. Inilah yang disebut dengan ujian hidup. Semua menuntut kesabaran. Dan seseorang yang “mengaku” beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka, ia harus tetap mengamalkan ajaran agamanya dengan baik (yakni, bertaqwa) dalam keadaan dan kondisi apapun.

Dan sebenarnya, ujian yang paling mengerikan dalam kehidupan kita sehari-hari adalah dalam hal pergaulan dengan lawan jenis.

Tiap menjelang pagi hari dua malaikat berseru: "Celaka laki-laki dari godaan wanita dan celaka wanita dari godaan laki-laki." (HR. Ibnu Majah dan Al Hakim)

Tiada aku meninggalkan suatu fitnah (cobaan) sesudahku lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada godaan wanita. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, bagi Anda yang laki-laki berhati-hatilah terhadap godaan wanita. Dan bagi Anda yang wanita, berhati-hatilah terhadap godaan laki-laki.

Kesimpulannya adalah, jika Anda mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Anda akan ditimpa ujian baik itu menyenangkan atau tidak. Dan besarnya ujian tersebut tergantung seberapa besar tingkat keimanan Anda sendiri. Semakin besar tingkat kepatuhan (ketaqwaan) Anda dalam menjalankan perintah agama, maka semakin besar pula ujian yang akan Anda peroleh. Dan begitu juga sebaliknya.

Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani)

Dan jika Allah memberikan ujian (cobaan) kepada Anda, padahal Anda telah taat dalam menjalankan perintah-perintahnya, maka itu berarti bahwa Allah menyukai Anda.

Apabila Allah menyenangi seorang hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi)

Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari)

Bagaimana memaknai suatu musibah?

Jika Anda memperoleh suatu musibah, maka Anda harus berpikir tentang perbuatan apa saja yang telah Anda lakukan pada waktu-waktu sebelumnya. Yakni, apakah Anda sudah melaksanakan perintah agama dengan baik? Atau mungkin, ada kesalahan yang telah Anda perbuat dan Anda belum bertaubat atasnya?

Investigasi (penyelidikan) semacam ini, akan menyebabkan Anda bisa mengambil “sikap” terbaik dalam menghadapi musibah tersebut. Di samping itu, agar Anda juga bisa bersikap tegar dan tidak berputus asa (baca: optimis).

Jika musibah tersebut berupa azab (hukuman) karena dosa yang telah dilakukan, maka Anda bisa bertaubat dan berhenti (baca: tidak mengulangi) perbuatan dosa tersebut di kemudian hari nanti. Atau, jika musibah tersebut merupakan ujian atas keimanan, maka Anda bisa lebih waspada dalam menjaga ketaatan Anda dalam beribadah kepada-Nya. Karena sesungguhnya Allah hendak menuntut kesabaran dalam diri Anda.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS. Ali-‘Imran: 142)

Anda harus bersabar atas musibah yang menimpa Anda tersebut agar Allah mengampuni dosa-dosa Anda.

Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari)

Iklan

Written by Amir

12 Mei, 2010 pada 21:42

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: