Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Kadar Cinta yang Ideal

with 4 comments


Cinta adalah komponen penting dalam perasaan (baca: hati) manusia. Ia bisa diibaratkan seperti katalis (pemercepat reaksi) dalam suatu reaksi kimia. Dan manusia juga tak mungkin hidup tanpa cinta. Paling tidak, ada satu tipe cinta yang pasti akan selalu ada dalam hati setiap orang, yakni cinta terhadap diri sendiri (egoisme: baik yang positif atau negatif).

Apakah masih ada tipe-tipe cinta lain dalam diri seseorang?

Tentu saja ada, semisal cinta terhadap kekasih pujaan hati (suami/isteri), cinta terhadap keluarga, cinta terhadap pangkat/jabatan, cinta terhadap pekerjaan, cinta terhadap harta kekayaan, dll. Sebab itu, diperlukan pengaturan (manajemen) terhadap perasaan-perasaan cinta tersebut. Mengapa demikian? Hal ini untuk menghindari bentrokan (conflict) antar cinta yang satu dengan cinta yang lain. sehingga, jika kadar (baca: prioritas) dari cinta-cinta tersebut tidak seimbang (ideal), maka ia hanya akan menimbulkan kekacauan dalam kehidupan orang yang bersangkutan. Bukankah Anda sering mendengar tentang seseorang yang mati konyol karena cinta? Atau tentang seseorang yang gila (sakit jiwa) karena cinta? Atau mungkin juga orang yang bangkrut karena cinta?? Cinta terkadang memang mematikan…, atau mungkin menyebalkan. :mrgreen:

Semua itu bisa terjadi karena yang bersangkutan tidak bisa memanajemen perasaan-perasaan cinta mereka sesuai dengan kadar (baca: prioritas) yang semestinya.

Cinta memiliki aturan-aturan prioritas tersendiri, dimana satu cinta harus ditempatkan pada posisi paling atas (utama/sentral), sementara cinta yang lainnya harus ditempatkan pada posisi di bawahnya dan harus berasas (bersandar) pada aturan cinta yang paling atas. Jika aturan-aturan prioritas ini dilanggar, maka ketahuilah, bahwa orang itu sebenarnya telah menempatkan aturan-aturan kejiwaan yang tidak seimbang dalam perasaannya, yang berpotensi menghancurkan kehidupannya setiap saat. Mirip bom waktu? Begitulah, cinta memang mematikan (baca: menyedihkan), atau. bisa juga menghidupkan (baca: membahagiakan), tergantung bagaimana model konfigurasinya (pengaturan/manajemennya).

Sebelumnya, kita perlu tahu tentang definisi cinta yang sesungguhnya:

Cinta adalah suatu kecenderungan perasaan terhadap suatu hal dengan mengharap keuntungan besar yang jelas dan pasti melalui pengorbanan yang jauh lebih kecil jika dibanding dengan keuntungan yang bisa diperoleh.

Jadi, dasar cinta adalah keuntungan (imbalan/manfaat: yakni kebahagiaan). Kemudian, ada juga resiko (pengorbanan) yang harus ditanggung, namun hal itu sangat kecil sekali jika dibanding dengan keuntungan sebenarnya yang bisa diperoleh. Intinya, total resiko dari cinta tersebut jauh lebih kecil dari total keuntungan yang sesungguhnya.

Itulah cinta! Sehingga, jika ada seseorang pemuda berhasil menodai kehormatan anak gadisnya orang dengan modal rayuan gombal, maka sebenarnya itu bukan cinta, tapi penipuan, pelecehan kehormatan., atau bisa juga disebut dengan cinta palsu, meskipun mereka berdua bilang suka sama suka. Mengapa demikian? Karena mereka berdua pada akhirnya nanti hanya akan menanggung resiko akibat (dosa) dari perbuatannya itu. Takdir itu selalu adil! Perbuatan buruk pasti akan berakibat buruk. Jadi, sebenarnya bukan keuntungan besar yang diperoleh oleh kedua orang tersebut, tapi kerugian yang sangat besar (yakni, takdir buruk yang akan segera menimpa), kecuali yang bersangkutan bertaubat untuk menghilangkan dosa dari kesalahannya tersebut. Tak pernah ada kata “terlambat” bagi mereka yang memang belum terlambat (baca: mati).

Kemudian,
Bagaimanakah permasalahan prioritas-prioritas (baca: kadar) cinta ini akan dianalisa?

Yakni melalui proses perkenalan (baca: analisa) terhadap masing-masing target cinta itu sendiri. Sehingga pada akhirnya kita tahu, manakah yang paling pantas untuk kita cintai dengan perasaan cinta yang paling besar (dominan: utama/sentral), dan juga mana yang sepantasnya harus kita cintai dengan ala kadarnya (biasa-biasa saja).

Dan dalam artikel ini, kita hanya akan menganalisa satu macam cinta yang seharusnya menjadi cinta yang paling dominan (utama) dalam hati seseorang. Sementara cinta-cinta yang lainnya tidak akan dianalisa secara mendalam dan hanya akan disinggung sebagian kecil saja, karena hal itu tidak begitu penting.

Tipe cinta apakah yang satu macam itu?

Yakni CINTA KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA.

Mengapa hanya tipe cinta ini yang perlu dianalisa begitu mendalam?

Karena hanya tipe cinta inilah yang memiliki sifat abadi dan paling menguntungkan. Ini adalah satu-satunya tipe cinta yang paling mengagumkan dalam hati seorang manusia. Sementara itu, tipe-tipe cinta yang lainnya tidaklah demikian, ia hanya bersifat temporal (sementara), yakni hanya berlaku di dunia saja dan keuntungannya juga tidak begitu besar (baca: tidak abadi). Misalnya, jika Anda mencintai seseorang, maka pasti suatu saat nanti Anda akan berpisah dengannya melalui kematian, dan semenjak itulah cinta Anda terhadap kekasih Anda tersebut telah berakhir (expired), karena kekasih Anda tak akan memberikan manfaat sedikitpun kepada diri Anda, dan mungkin kekasih Anda akan jadi milik orang lain. Begitu juga tentang cinta seorang pengusaha terhadap perusahaannya, jika ajal telah menjemput maka cinta terhadap perusahaannya telah berakhir (dan perusahaannya diambil alih orang lain). Begitu juga tentang orang kaya yang sangat mencintai hartanya, maka pasti suatu saat nanti (saat kematian), hartanya tersebut tak akan memberikan manfaat kepadanya, cintanya terhadap kekayaannya sudah menjadi tak berguna. Dia telah memasuki alam kehidupan lain, dimana kebahagiaan dan kesedihan tidak dipengaruhi oleh kurs dollar dan harga emas.

Ingatlah, bahwa kehidupan dunia memiliki prosedur tersendiri, dan kehidupan akhirat juga memiliki prosedur (baca: aturan) tersendiri.

Dan sehubungan dengan “cinta kepada Allah dan Rasul-Nya“,

Ketahuilah, bahwa setiap manusia pasti mati juga pada akhirnya nanti. Dan Anda tak akan pernah menemukan tipe cinta lain yang bisa Anda andalkan setelah kematian Anda, selain cinta yang satu ini. Dia adalah cinta yang melatar-belakangi kebahagiaan atau penderitaan seseorang di kehidupan yang akan datang (yakni, akhirat). Sehingga, jika dalam hati Anda tak ada perasaan cinta terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka cinta siapakah yang akan Anda harapkan setelah Anda keluar dari kehidupan dunia ini???

Sebab itu, jika tipe cinta yang satu ini rusak dalam diri seseorang, maka sebenarnya orang tersebut telah mengalami kehancuran atau sedang menunggu kehancuran, kecuali ia segera sadar, bertaubat dan memperbaiki kesalahannya.

Berikut adalah beberapa alasan kenapa kita harus mengutamakan Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya.

  1. Allah adalah Pencipta dan Maha Berkuasa Atas Segala Sesuatu
    Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia. (QS. Al-Baqarah: 117)
  2. Allah adalah Pemberi Nikmat
    Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu. (QS. An-Nisa’: 126)

    Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman: 25)

  3. Kematian itu pasti, dan setiap perbuatan harus
    dipertanggung-jawabkan

    Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan. (QS. Al-Anbiya’: 35)

    Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (QS. Ar-Rahman: 60)

    Dan orang-orang yang kafir berkata: "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami". Katakanlah: "Pasti datang, demi Tuhanku Yang mengetahui yang gaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya seberat zarrah (atom) pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lohmahfuz)", supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia. Dan orang-orang yang berusaha untuk (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan mereka dapat melemahkan (menggagalkan azab Kami), mereka itu memperoleh azab, yaitu (jenis) azab yang pedih. (QS. Saba’: 3-5)

  4. Taat (baca: cinta ) kepada Allah dan Rasul-Nya adalah perintah
    Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul (Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. Al-Maidah: 92)
  5. Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah semata
    Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)
  6. Hanya orang-orang yang mengikuti Allah dan Rasul-Nya yang beruntung
    . Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan (keberuntungan) yang besar. (QS. Al-Ahzab: 71)
  7. Kehidupan dunia hanyalah ujian untuk mengetahui seberapa baik perbuatan seseorang
    Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik perbuatannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk: 1-2)
  8. Kehidupan dunia hanyalah permainan yang sementara
    Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS. Al-An’am: 32)

    . Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun." (QS. An-Nisa’: 77)

  9. Surga adalah satu-satunya kebahagiaan yang abadi
    Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal (abadi) di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 82)

    Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. At-Taubah: 21-22)

  10. Janji Allah itu selalu benar
    Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu meresahkan (hati) mu. (QS. Ar-Rum: 60)

Itulah beberapa alasan utama (diantara alasan-alasan utama lainnya yang sangat banyak!) tentang kenapa seseorang harus memprioritaskan (mengutamakan) CINTA KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA di atas segalanya., di dalam hatinya, di dalam perbuatannya, dan di dalam pikirannya. Allah Maha Benar, Dia pasti akan memenuhi janji-Nya. Hanya tipe cinta seperti ini yang paling menjanjikan dan paling menguntungkan.

Bagaimana tentang cinta kepada harta kekayaan? Boleh saja kita mencintai harta kekayaan dengan perasaan cinta yang sangat besar, tapi jangan jadikan hal itu sebagai prioritas utama, atau jangan jadikan cinta Anda kepada harta kekayaan Anda lebih besar daripada cinta Anda kepada Allah dan Rasul-Nya! Karena Anda pasti akan berpisah dengan harta kekayaan Anda pada suatu saat nanti.

Bagaimana tentang perasaan cinta terhadap kekasih pujaan hati? Itu pun juga boleh. Anda boleh mencintai kekasih pujaan hati Anda dengan perasaan cinta yang sangat besar, tapi jangan jadikan cinta tersebut lebih besar daripada “cinta Anda kepada Allah dan Rasul-Nya”. Setiap manusia memiliki masa berlaku yang terbatas. Dan setiap manusia selalu dihantui oleh masa-masa tua (keriput, pikun) dan kematian yang tak tentu waktunya?!! Dan Anda pun pasti akan berpisah dengan kekasih Anda pada suatu saat nanti.

Dengan demikian, besarnya setiap cinta yang temporal (sementara) harus selalu berada di bawah posisi cinta yang utama (yakni, Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya).

Sebab itu, kalkulasi (perhitungkan) lah semua perasaan cinta Anda yang ada dalam hati Anda sejak sekarang. Carilah alasan yang benar dalam mencintai sesuatu yang temporal dengan berlandaskan pada aturan cinta yang utama (yakni, Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, melalui al-Qur’an dan Hadits).

Sebagai contoh,
Jika ada seseorang yang sangat mencintai kekasihnya, hingga ia lupa mengerjakan shalat wajib (yang lima waktu) karena sibuk kencan dan jalan-jalan, maka sebenarnya ia telah menempatkan cinta kepada Tuhan-nya pada posisi yang sampingan (temporal). Atau jika seseorang berbisnis dengan cara yang membabi-buta (tanpa mempedulikan aturan agama -halal dan haram), maka sebenarnya ia juga telah mencintai harta benda di atas segalanya (utama/sentral). Atau tentang orang yang mencintai hartanya hingga ia enggan untuk melaksanakan zakat (sedekah wajib) atas hartanya yang telah mencapai nisab (ketentuan wajib mengeluarkan zakat). Ia pun termasuk golongan orang yang mencintai dan mengagungkan harta benda di atas segalanya, seperti Qarun, sepupu Musa as., yang akhirnya ditelan bumi.

Hal inilah yang seringkali menyebabkan kehidupan seseorang menjadi hancur berkeping-keping. Ketika cintanya yang seharusnya berada di posisi sampingan (temporal) itu dijadikan sebagai cinta yang utama (sentral/dominan/no.1) maka, jika cinta tersebut rusak, habislah hidupnya!

Contoh yang umum yakni, ketika ada seorang pengusaha yang mencintai perusahaannya dengan teramat sangat., namun beberapa waktu kemudian ternyata perusahaannya mengalami kehancuran (bangkrut, karena harga sahamnya turun!), maka bisa dipastikan bahwa kehidupan si pengusaha tersebut telah hancur atau sedang menunggu kehancuran. Mengapa demikian? Karena cintanya yang sentral (utama) -yakni cinta kepada perusahaannya- telah hancur. Saat itulah mereka seringkali merasa bosan hidup. Lihatlah latar belakang pengusaha-pengusaha kaya yang akhirnya bunuh diri.

Contoh lainnya yang lebih umum, tentang seorang lelaki yang mencintai seorang gadis dengan teramat sangat di atas segalanya. Semua hartanya, pikirannya dan tenaganya hanya tercurahkan untuk si gadis tersebut. Siang-malam yang dipikirkan hanya tentang si gadis itu; buku hariannya juga hanya berisi tentang si gadis itu; wallpaper HPnya hanya berisi tentang foto si gadis itu, begitu juga ringtone HPnya yang hanya berisi suara si gadis itu. Namun, pada suatu saat, si gadis tersebut justru meninggalkannya (karena sudah bosan dengan rayuan gombalnya!). Apa yang terjadi pada kedua orang tersebut? Pada si gadis mungkin tidak terjadi apa-apa, karena bukan dia yang sakit hati. Namun, pada si laki-laki yang sedang patah hati itu, tentu saja, ia mengalami shock (perasaan kacau yang teramat sangat). Dan dapat dipastikan kehidupannya akan hancur (misal, bunuh diri atau gila, dan paling tidak, stress!). Mengapa demikian? Tentu saja, karena cintanya yang utama (sentral/dominan) yakni “cinta terhadap si gadis” tersebut sudah hancur. Dia merasa sudah tak punya sesuatu yang berharga lagi dalam kehidupannya, karena pujaan hatinya telah menghianatinya. Di saat seperti itulah dia mengalami kebosanan (kejenuhan) dalam menjalani hidup. Dan saat itulah ia mabuk (teler), minum-minuman keras, dll hingga masa depannya hancur, atau bunuh diri.

Berhati-hatilah dalam mencintai sesuatu. Cinta dengan kadar (prioritas) yang tak seimbang telah mengacaukan banyak kehidupan manusia. Bukankah belanda menjajah Indonesia karena kecintaannya yang berlebihan terhadap kekayaan alam Indonesia? Cinta seperti itu adalah dalam hal “keserakahan”. Apakah Anda juga pernah mendengar tentang latar belakang kehancuran kekuasaan Fir’aun musuh Musa as.? Penyebab kehancurannya adalah karena ia terlalu mencintai dirinya sendiri (baca: sangat egois/sombong) hingga ia mengatakan “Akulah tuhanmu yang tertinggi”. Atau tentang kisah kehancuran kerajaan-kerajaan inggris, sebagian besar tentang kecintaan kepada wanita secara berlebihan.

Disamping itu, kita tidak boleh berlebihan dalam mengungkapkan perasaan-perasaan cinta kita terhadap sesuatu yang temporal. Misalnya, janganlah Anda mengatakan kepada kekasih Anda seperti berikut ini, karena ini merupakan ungkapan-ungkapan syirik:

“kau adalah segalanya untukku”

Apanya yang segalanya? Apakah dia yang menciptakan kehidupan ini? Apakah kebahagiaan dan kesengsaraan hidup Anda dipengaruhi oleh nya? Atau apakah kehidupan dan kematian Anda ditentukan oleh dia?

Atau jangan pula mengatakan:

“Aku tercipta untukmu”

Ini pun juga bukan perkataan yang bisa dianggap benar. Jika Anda berkata seperti itu, maka ketahuilah bahwa sebenarnya Anda adalah budaknya. Dengan kata lain, Anda adalah seorang tawanan, dan bukan orang merdeka (bebas)! Masalahnya sekarang, bagaimana jika kekasih Anda itu mati? Siapakah yang bisa memberi manfaat kepada Anda, mengingat majikan Anda sudah tiada??? ❓

Dan jangan pula mengatakan:

“Aku tak bisa hidup tanpamu”

Ini pun juga perkataan yang sangat aneh dan tak bisa dibenarkan. Anda masih bisa hidup tanpa “kekasih Anda” itu. Anda hanya perlu oksigen untuk bernapas, dan beberapa serat (nutrisi) makanan untuk mensuplai kebutuhan energi tubuh Anda agar tetap bisa hidup. Dan bukan kekasih Anda yang menciptakan oksigen, ataupun nutrisi dan zat-zat organik (serat makanan). Anda masih bisa hidup tanpa dia. Percayalah!

Namun, ucapkanlah kata-kata sanjungan yang baik dan benar yang mengandung makna yang dalam, misalnya:

Kau adalah bagian dari diriku. (wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki)

Atau dengan berkata:

Cemberut di wajahmu jauh lebih mahal dari lukisan “senyum Mona Lisa” (ini untuk menghindari pecahnya perang dunia III)

Dan bisa juga dengan perkataan yang mulia:

Semoga kita bisa bersama dalam kebahagiaan yang abadi (surga) (ini adalah harapan setiap orang, dan tentu saja harus dengan cara “beriman dan beramal shaleh”)

INTINYA ADALAH: JANGAN SAMPAI ANDA BERLEBIHAN DALAM MENCINTAI SESUATU YANG TEMPORAL (SEMENTARA). DAN JANGAN PULA ANDA MENEMPATKAN KECINTAAN DIRI ANDA TERHADAP SESUATU YANG TEMPORAL PADA POSISI CINTA YANG UTAMA (DI ATAS SEGALANYA), KARENA JIKA CINTA YANG TEMPORAL ITU HANCUR, MAKA HANCURLAH KEHIDUPAN ANDA. DAN SESUNGGUHNYA ALLAH DAN RASUL-NYA YANG LEBIH BERHAK MENGAMBIL TEMPAT DI HATI ANDA.

Akhirnya, saya hanya dapat berkata:

CINTAILAH ALLAH DAN RASUL-NYA DI ATAS SEGALANYA!

Dan buktikanlah bawah Anda mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan cara mengamalkan rukun Islam, mengerjakan perkara-perkara yang halal, dan menjauhi perkara-perkara yang haram. Sehingga pada akhirnya nanti, Anda akan memperoleh keuntungan yang besar.

Dari Jabir bin Abdillah ra., ia bertanya kepada Rasulullah saw.: "Bagaimana pendapat Paduka bila saya melakukan Shalat wajib (yang lima waktu), berpuasa Ramadhan, melakukan perkara-perkara yang halal dan menjauhi yang haram, dan tidak menambah selain daripada itu, apakah saya bisa masuk Surga?" Rasulullah saw. menjawab: "Ya." (HR. Muslim)

Itulah syaratnya, jika Anda mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya kunci surga itu adalah “Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah” (Tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad adalah Utusan Allah).

Kemudian,
Setiap cinta yang temporal (yakni, cinta selain kepada Allah dan Rasul-Nya) harus selalu bersandar pada aturan-aturan cinta yang utama itu (yakni, melalui al-Qur’an dan Hadits). Sehingga misalnya, jika Anda ingin mencintai seseorang, carilah alasan yang bisa dibenarkan., bukan hanya karena kecantikannya atau ketampanannya, hartanya atau pangkat jabatannya, atau status keturunannya. Carilah alasan yang benar, misal karena kejujurannya, kebaikannya, dan akhlaknya yang baik, dll.

Atau tentang seseorang yang mencintai harta kekayaan. Maka carilah alasan yang benar dalam mencintai harta kekayaan tersebut. Misal untuk keperluan beribadah, menyantuni fakir miskin atau untuk memberikan nafkah kepada keluarga. Dan jangan beralasan untuk pamer, dan bangga diri (sombong).

Kemudian,
Lantas, bagaimana jika ada seseorang yang berbuat dosa, karena sebenarnya perbuatan dosa merupakan wujud pengkhianatan atas konsekuensi “cinta kepada Allah dan Rasul-Nya“? Tentu saja ia harus bertaubat agar ia tidak terkena dampak dari dosa-dosanya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun. Dan setiap dosa pasti akan diampuni selagi ajal masih belum tiba. Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk senantiasa bertaubat sebelum terlambat (kematian). Karena Allah itu adalah Maha Adil. Dia itu mengampuni orang bertaubat, sedangkan orang yang tidak bertaubat, belum tentu bisa diampuni!

Dan barang siapa yang mengerjakan keburukan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa’: 110)

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS. At-Tahrim: 8).

Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Al-Hadid: 21)

Akhirnya,
Itulah sedikit penjelasan tentang “Kadar Cinta yang Ideal”. Hal yang paling berharga dalam diri seseorang adalah “perasaannya”. Setiap orang harus selalu belajar tentang bagaimana memperbaiki perasaannya. Hidup ini sangat rawan, karena banyak orang yang suka makan hati (baca: menyakiti perasaan orang). Kita tidak boleh mencintai suatu hal secara sembarangan!

Artikel ini dibuat berdasarkan pengalaman saya pribadi ketika mengalami kehancuran perasaan pada tahun 2007, yakni tragedi 6/30, patah hati. Tak ada yang boleh menghancurkan perasaan saya. Dan saya sudah belajar banyak dari pengalaman yang paling pahit. Rasanya memang pahit, dan sampai sekarang masih terasa pahit, dan akan selalu pahit seumur hidup saya. Apakah saya merasa sedih dengan itu semua? Tidak terlalu sih, karena saya sudah mengkonfigurasi perasaan saya untuk menempatkan posisi “Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya” pada posisi yang teratas (utama/sentral). Sedangkan yang rusak itu hanyalah cinta temporal saya, bukan cinta saya yang utama. Jadi, saya masih bisa menikmati hidup, karena saya masih punya sesuatu yang sangat berharga dalam hidup ini, yakni “Allah dan Rasul-Nya”. Allah tidak pernah menyebalkan ataupun mengecewakan hamba-Nya, justru sesuatu yang selain daripada Allah lah yang seringkali mengecewakan dan menyebalkan.

Sebab itu, konfigurasi sistem perasaan Anda sejak sekarang. Orang yang paling dekat dengan Anda adalah diri Anda sendiri, bukan saya. Orang yang paling tahu tentang diri Anda adalah diri Anda sendiri, bukan saya. Dan orang yang paling mengerti tentang diri Anda adalah diri Anda sendiri, bukan saya.

Jika Anda tidak mau mendekati diri Anda…
Jika Anda tidak mau tahu tentang diri Anda…
Dan jika Anda tidak mau mengerti perasaan Anda sendiri…

Maka, bagaimana mungkin Anda bisa disebut sebagai orang yang menghargai diri sendiri?!! ❗

[end ]

Iklan

Written by Amir

21 April, 2010 pada 14:27

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. wah boleh juga apakah penulis sdh mempraktek kannya…itu dulu broor….

    sanyo

    8 Mei, 2010 at 23:54


    • Itu dulu?

      Ketahuilah, bahwa artikel ini tidak dibuat untuk main-main. Artikel ini adalah hikmah yang saya ambil dari pengalaman hidup saya pribadi, dan tentu saja itu sudah dipraktekkan. (100% tested)

      Dan sepertinya, Anda adalah orang yang terlalu meremehkan masa lalu. Apakah Anda tidak sadar, tidak tahu, atau tidak mengerti… bahwa sebenarnya masa depan selalu dipengaruhi oleh masa-masa sebelumnya (yakni, masa lalu itu sendiri)?

      Atau, apakah Anda juga ingin tahu tentang “motif” kehancuran jiwa seseorang yang akhirnya menyebabkan dia bunuh diri?

      » Klik di sini

      Anda juga perlu mencari tahu penyebab Cleopatra bunuh diri, dia bukan orang miskin. Dan dia juga masih keluarga kerajaan. Mengapa dia bunuh diri di usia muda, padahal dia kaya, dan suaminya (baca: kekasihnya) lebih dari satu orang? Tentu saja, karena cintanya yang temporal itu tak bisa memberikan ketegaran (baca: kepuasan batin) dalam jiwanya.

      Setiap langkah dalam permainan catur, selalu menentukan hasil akhirnya. Dan setiap langkah (baca: tindakan) dalam kehidupan seseorang selalu menentukan bagaimana akhir kehidupannya (mengenaskan, atau terhormat). Meskipun setiap langkah tak akan pernah bisa dihapus, tapi masih bisa diperbaiki (bila masih belum terlambat).

      Salam.

      Amir

      9 Mei, 2010 at 21:07

  2. salam kenal…blognya keren .. artikelnya jugga..

    di tunggu kunjungan baliknya…

    thanks…

  3. Ma kasih sdh mw brbgi pnglman. Smoga kt smw sadr bhwa cinta yg sesungguhnya hnyalah kepada ALLAH DAN RASULNYA.

    Rahmayanti

    23 Maret, 2012 at 09:22


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: