Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Metodologi Kebenaran [4-habis]: Analisa Kebohongan-Kebohongan Besar dalam Hidup

leave a comment »


Telah dekat kepada manusia hari perhitungan segala amal perbuatan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). (Qur’an Surat Al-Anbiyaa’: 1)

Artikel ini merupakan penyempurna dari artikel “Metodologi Kebenaran”. Sehingga pada akhirnya nanti, kita akan menjadi SEMAKIN tahu dan SEMAKIN yakin mana yang memang benar-benar “benar”, mana yang memang benar-benar “salah”, dan mana yang ada di antara keduanya, yakni yang seolah-olah benar tapi sebenarnya salah (baca: meragukan/rancu/konslet/error/invalid).

Dalam membahas kebohongan-kebohongan besar ini, saya mengutip sebagian isi al-Qur’an, karena ia merupakan literatur (baca: referensi) kebenaran yang “stabil” sepanjang masa (karena Qur’an hanya punya satu versi dan tak pernah berubah selama 14 abad). Kemudian, saya juga akan mengutip dari beberapa hadits, dan literatur sejarah untuk topik bahasan tertentu. Dan tak luput juga, akan saya sertakan beberapa analogi sederhana untuk mempermudah dalam pemahaman artikel ini.

Al-Qur’an memiliki kapabilitas (kemampuan) yang besar dalam menganalisa suatu kebenaran dan kebohongan. Mengapa? Karena ia tak hanya mampu menganalisa kebohongan-kebohongan yang berada di luar Islam, seperti yahudi, nasrani, dan penyembah berhala. Bahkan ia juga bisa menganalisa kebohongan yang dilakukan oleh orang-orang Islam itu sendiri. Karena meskipun Islam adalah agama yang benar, tapi al-Qur’an tidak pernah menyatakan bahwa semua orang Islam itu benar. Dan sebab itulah, kebohongan-kebohongan orang Islam juga perlu dianalisa.

Apakah sebagai orang Islam, saya kurang adil dalam menganalisa kebohongan-kebohongan besar?❓

Sebelumnya,

    Seperti biasa, sebelum membaca artikel ini ada beberapa protokol standar yang harus Anda jalani, yakni:

  1. Buanglah sifat “egoisme” Anda yang bisa membuat Anda malas untuk memperbandingkan literatur kebenaran.
  2. Jangan biarkan sikap “fanatisme” Anda (apapun itu) membuat Anda cuek dalam memahami artikel ini.
  3. Bacalah dengan bijak dari awal hingga akhir sambil berfikir, merenung, sehingga Anda menjadi benar-benar paham tentang model-model kebenaran dan model-model kebohongan yang sesungguhnya.

Jika Anda tidak dapat melakukan ketiga hal tersebut maka ketahuilah, membaca dongeng ataupun cerita hoax (kebohongan) lainnya adalah jauh lebih berguna bagi Anda daripada membaca artikel ini.


DAFTAR ISI

  1. Ateisme
  2. Penyembahan Berhala
  3. Ibrahim as., Bani Israel dan Yahudi
  4. Kebohongan Orang-Orang Yahudi
  5. Kebohongan Orang-Orang Nasrani
  6. Kaitan antara Yahudi, Nasrani, dan Islam
  7. Kebohongan Orang-Orang Islam
  8. Manakah Agama yang Benar?
  9. Dajjal: Pembohong Paling Besar
  10. Kebohongan-Kebohongan Besar Lainnya
  11. Kesimpulan
  12. Apakah Anda Sudah Islam?
  13. Penutup

 
 

 

« 1 » Ateisme

Orang-orang ateisme menggunakan “insting” panca indranya semata dalam mempercayai suatu hal. Mereka cenderung tak percaya terhadap hal yang tidak terlihat. Dengan kata lain, mereka tak percaya terhadap suatu hal yang tersembunyi (ghaib). Keyakinan mereka adalah kebohongan. Yakni, karena mereka malas, atau tak mampu menalar suatu hal yang tersembunyi, maka akhirnya mereka mengambil kesimpulan yang “instan”, yakni “tak ada”, “mustahil” atau “mana mungkin”.

Kelakuan mereka mirip seperti orang yang melihat kue “dodol” di pasar. Namun, karena orang tersebut tak mampu menyelidiki “SIAPA” pembuat dodol itu –yang mungkin disebabkan karena dodol tersebut adalah dodol “Impor” atau dodol “ilegal” (tanpa bea cukai)– maka, akhirnya orang tersebut mengatakan bahwa dodol-dodol tersebut “TAK ADA YANG MEMBUATNYA”. Dia menyatakan bahwa dodol-dodol yang ada di pasar itu ada dengan sendirinya.

Apakah pernyataan konyol itu bisa diterima oleh akal sehat, terutama oleh “Si Pembuat Dodol”? Tentu saja sama sekali tidak bisa diterima.

Dalam konteks yang nyata, mereka para penganut paham ateisme melihat konstruksi Alam Semesta ini sebagai sesuatu yang ada dengan sendirinya, tanpa ada yang menciptakannya. Mereka juga tak percaya tentang kebenaran hari kiamat. Mereka juga tak percaya terhadap kehidupan surga dan neraka. Mengapa? Karena mereka belum bertemu dengan Pencipta-Nya, karena mereka belum mengalami sendiri tentang peristiwa kiamat itu, atau karena mereka belum pernah memasuki surga atau neraka. Orang-orang ateis biasanya menjadi “benar-benar” percaya tentang hari kiamat apabila kiamat telah terjadi.

Apabila peristiwa (Kiamat) telah terjadi, maka tiada seorangpun yang mendustakan kejadiannya. (Ketika itu) ada orang yang rendah (hina, kafir) dan ada pula orang yang tinggi (mulia, beriman). (QS. Al-Waaqi’ah: 1-3)

Dan mereka juga akan benar-benar percaya terhadap kebenaran neraka ketika mereka telah memasukinya.

Dan mereka (penghuni neraka) berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang bergejolak”. (QS. Al-Mulk: 10)

Jadi, komposisi kebenaran dalam paham “Ateisme” adalah 0%. Mereka benar-benar membuat kesalahan yang besar.
 
 

 

« 2 » Penyembah berhala

Kebohongan dalam hal penyembahan berhala merupakan kebohongan yang paling “kuno”. Ini sudah ada semenjak zaman dahulu, semenjak zaman nabi Adam as.. Meskipun latar belakangnya berbeda-beda tapi tetap satu jua, yakni menyembah batu, kayu pahat, atau media lain yang diberi bentuk. Ada beberapa agama besar dalam kehidupan ini yang menganut sistem penyembahan terhadap berhala. Di antaranya hindu, budha, dan kepercayaan-kepercayaan lainnya.

Mengapa mereka melakukan penyembahan terhadap berhala?

Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim.
Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?”
Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”.
Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengarmu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?,
atau (dapatkah) mereka memberi manfaat (keuntungan) kepadamu atau memberi mudarat (kecelakaan)?”
Mereka menjawab: “(Bukan karena itu), sebenarnya kami melihat nenek moyang kami berbuat demikian”.
Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan (merenungkan) apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?
(QS. asy-Syu’araa: 69-76)

Jadi, alasan para penyembah berhala dalam melakukan rutinitas penyembahan berhala adalah karena mereka tidak “SADAR” akan apa yang mereka lakukan. Alasan mereka sangat klasik, yakni karena mereka mencontoh kelakuan nenek moyang mereka. Dengan kata lain, mereka cuman “ikut-ikutan” saja.

Kelakuan “mencontoh” perbuatan orang lain tanpa pemikiran yang mendalam adalah sangat berbahaya. Sama halnya, seperti seorang anak yang mencuri hanya karena ia melihat orang tuanya merampok. Mereka berdua sama-sama salah.

Definisi yang sebenarnya tentang berhala❗

Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka (QS. an-Nisaa’: 117)

Jadi, berhala merupakan simbol-simbol penjelmaan setan (iblis). Iblis tak memiliki wujud yang formal (nampak/terlihat) seperti manusia. Iblis merupakan makhluk ghaib. Definisi “ghaib” bukan berarti “transparan” seperti hologram atau apapun, melainkan suatu keadaan yang tak bisa dianalisa oleh panca-indra biasa. Itulah alasannya mengapa iblis tidak terdeteksi di sekitar kita. Ia bergerak dengan frekuensi gelombang yang berbeda. Ia adalah bangsa jin.

Sebab itulah, agar iblis bisa disembah, maka ia perlu menciptakan simbol “yang terlihat” oleh pandangan mata manusia, yakni “berhala”. Jadi, definisi “berhala” yang sesungguhnya adalah simbol-simbol iblis yang dapat dilihat oleh manusia agar bisa diketahui posisinya, sehingga akhirnya bisa disembah. Sehingga konsekuensinya adalah, jika tak ada “berhala”, maka iblis akan kesulitan untuk bisa disembah. Mengapa? Karena manusia tidak tahu dimana posisi iblis berada.

Sekarang Anda tahu alasannya kenapa banyak berhala yang dibuat besar-besar (ukuran raksasa)? Tentu saja, agar posisi (keberadaan) iblis menjadi lebih jelas, meski dari jarak yang sangat jauh.

Berhala adalah benda mati dan tak beradaya:!:

(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup,… (QS. an-Nahl: 21)

Berhala adalah benda mati, dan semua ilmuwan pasti akan sepakat tentang hal tersebut. Alasannya adalah sebagai berikut:

Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. (QS. al-A’raaf: 191)

Apakah ada yang meragukan tentang isi ayat tersebut. Berhala tidak bisa menciptakan apapun, karena dia adalah benda mati. Beda dengan manusia yang merupakan makhluk hidup. Manusia bisa membuat kue, namun berhala tidak bisa, meski bahannya telah disediakan di sampingnya. Bahkan, berhala itu sendiri masih dibuat oleh orang. Tak satupun berhala di dunia ini, melainkan ia dibuat terlebih dahulu.

Dan orang yang berdoa kepada berhala, maka doanya adalah sia-sia saja. Dia seperti orang yang bicara sendirian.

Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka atau pun kamu berdiam diri. (QS. al-A’raaf: 193)

Berhala tidak bisa memberi petunjuk dan tak bisa melihat

Dan jika kamu sekalian menyeru (berberhala-berhala) untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-berhala itu tidak dapat mendengarnya. Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat. (QS. al-A’raaf: 198)

Berhala tak bisa memberikan petunjuk kepada manusia. Sehingga jika ada seseorang yang tersesat di jalan, kemudian ia bertemu dengan berhala dan meminta petunjuk kepadanya, maka pasti berhala tersebut tak akan menunjukinya. Orang tersebut harus mencari orang lain yang bisa ditanyakan tentang petunjuk jalan, bukan bertanya kepada berhala itu.

Dan meskipun berhala dibentuk sedemikian rupa seperti bentuk seorang manusia yang sedang terbuka “matanya” (melihat), maka sesungguhnya berhala tersebut tetap tidak melihat. Ia hanya “seolah-olah” melihat, padahal tidak melihat. Dia adalah benda mati. Dan benda mati tidak melihat.❗

Berhala adalah sesuatu yang lumpuh

Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah (hai orang Mukmin): “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan) ku, tanpa memberi tangguh (kepada ku). Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh. Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.” (QS. al-A’raaf: 195-197)

Begitulah keadaan yang sebenarnya. Berhala adalah sesuatu yang lumpuh. Ia bahkan diangkut (digendong) oleh penyembahnya. Ia bahkan dilindungi dengan payung, atap atau apapun agar ia tidak terkikis oleh air hujan, rusak akibat angin atau cahaya matahari. Ia tak bisa berlari jika sedang terjadi gempa. Ia bahkan tak akan memberikan perlawanan ketika dihancurkan. Ia tak mendengar apapun. Kita semua tahu, saat terjadi peristiwa “Bom Bali”, apa yang dilakukan oleh para “berhala-berhala” yang besar yang ada di bali? Mereka cuman ukurannya saja yang besar, tapi buta, bisu, tuli, dan lumpuh.

Penyembahan terhadap berhala adalah sesuatu yang sia-sia

Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka. (QS. ar-Ra’d: 14)

Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya, dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. (QS. al-A’raaf: 192)

Jadi, permohonan (doa) mereka terhadap berhala adalah sesuatu yang sia-sia saja (tak ada gunanya).

Kejadian-kejadian aneh seputar berhala

Memang ada beberapa mitos (kejanggalan/keanehan) yang terjadi seputar masalah “berhala”. Yakni, –mungkin– di antara mereka (para penyembah berhala) ada yang mendengar “suara” dari berhala. Sehingga timbul pertanyaan,

“Apakah itu benar-benar suara dari berhala?”

Bukan,❗ Itu adalah suara dari iblis. Karena setiap berhala pada dasarnya dijaga oleh si Penunggu berhala itu sendiri, yakni iblis (setan). Mengapa demikian? Karena pada posisi “berhala” itulah si iblis tersebut disembah. Jadi, mustahil iblis yang menjaga berhala tersebut berada di luar posisi berhala, sementara ia (si iblis penjaga berhala tersebut) menginginkan untuk disembah oleh manusia. Jadi, posisinya harus benar-benar “tepat” seperti posisi berhala itu ditempatkan.

Kejadian-kejadian aneh seperti ini, yakni “suara” tanpa jasad (sumber) yang jelas juga ada pada fenomena-fenomena tempat angker. Misalnya, pada pohon beringin yang seram, di tempat bekas bunuh diri, di tempat-tempat bekas pembunuhan (pembantaian). Mengapa demikian? Karena tempat-tempat seperti itu mengandung “aroma” mistik yang sangat disukai oleh bangsa jin. Jika Anda tidak percaya, cobalah tengok tempat kremasi (pembakaran) mayat orang-orang hindu di bali. Anda akan segera tahu, seberapa angkernya tempat tersebut. Begitu juga tentang legenda keris “empu gandring” yang konon keris itu bersuara (berbicara) kepada Ken Arok sebelum kematiannya, seolah-olah keris tersebut minta “tumbal” (darah segar). Apakah keris itu yang bicara? Bukan, yang bicara adalah jin penunggu keris tersebut. Keris terbuat dari besi (logam), dan itu adalah benda mati. Tak ada besi yang bicara.

Kemudian, hal yang serupa juga ada dalam praktek perdukunan, semisal santet dan guna-guna. Mereka semua rata-rata menggunakan mediator bangsa jin (iblis) yang ujung-ujungnya meminta persyaratan ini dan itu, seperti permintaan sesajen, tumbal, darah ayam, kemenyan (dupa), dll. Bukankah hal-hal seperti itu juga ada pada tradisi penyembahan berhala? Jadi, tak ada yang bisa menyangkal bahwa penyembahan terhadap berhala adalah penyembahan terhadap iblis (bangsa jin) itu sendiri.

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. (QS. al-An’aam: 74)

Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar. (QS. al-A’raaf: 194)

Kesimpulannya adalah: penyembahan berhala adalah kebohongan yang mutlak (100%). Mereka hanya melakukan perkara yang diada-adakan.
 
 

 

« 3 » Ibrahim as., Bani Israel dan Yahudi

Untuk mengetahui kebenaran-kebenaran dalam suatu agama, ada baiknya kita mengetahui sejarah “pangkal” nabi bani Israel dan nabi bani Ismail.

Ada dua orang yang memiliki peranan yang sangat penting dalam sejarah agama-agama samawi (Yahudi, Nasrani, Islam). Mereka berdua adalah Ismali as. dan Ishaq as.. Keduanya terlahir dari ibu yang berbeda, namun dengan ayah yang sama, yakni Ibrahim as.

Ismail as. terlahir dari Perkawinan antara Ibrahim as. dengan budaknya yakni, Hajar. Sedangkan Ishaq as. terlahir dari perkawinan antara Ibrahim as. dengan isteri pertamanya, yakni Sarah. Ismail as. lebih tua dari Ishaq as..

Dari cikal-bakal Ismail as. inilah yang akhirnya terlahir Nabi Muhammad saw. (Kitab wahyu: al-Qur’an).

Sedangkan dari Ishaq as. juga terlahir beberapa nabi, diantaranya adalah:

  1. Nabi Yakub as.
  2. Nabi Yusuf as.
  3. Nabi Ayyub as.
  4. Nabi Ilyasa’ as.
  5. Nabi Yusya as.
  6. Nabi Hizqiyal as.
  7. Nabi Samuel as.
  8. Nabi Musa as. (Kitab Wahyu: Taurat)
  9. Nabi Daud as. (Kitab wahyu: Zabur)
  10. Nabi Sulaiman as.
  11. Nabi Sya’ya as.
  12. Nabi Zakariyya as.
  13. Nabi Yahya as.
  14. Nabi Isa as. (Kitab Wahyu: Injil)

Ibrahim as. merupakan Imam bagi seluruh umat manusia yang menganut agama samawi (asli, ber-tauhid murni), yakni agama Yahudi (Kitab: Taurat), Nasrani (Kitab: Injil), dan Islam (Kitab: al-Qur’an).

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh umat manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak termasuk (meliputi) orang-orang yang lalim (durhaka)”. (QS. Al-Baqarah: 124)

Kemudian, asal-muasal kata “Israel” berasal dari nama asli nabi Yakub as. (putra Ishaq as.).

Jadi, definisi “Bani Israel” adalah semua keturunan Nabi Yakub as.. Sedangkan definisi “Bani Ismail” adalah keturunan Ismail as..

Sedangkan asal-muasal kata “Yahudi” –berdasar dari literatur yang pernah saya baca– berasal dari nama salah seorang keturunan Yakub as. yakni, Yahuda. Ia (Yahuda) merupakan salah satu saudara nabi Yusuf as., tapi lain ibu.

Jadi, setiap yahudi adalah “Bani Israel”, namun tidak semua Bani Israel itu yahudi. Pengertian “Bani Israel” adalah meliputi setiap keturunan Yakub as. sedangkan, pengertian “yahudi” telah terbatas pada “keturunan Yahuda (putra Yakub as.)” atau setiap orang yang menganut agama “Yahudi”.

Agama nabi Ibrahim as.
Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”
Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.
(QS. Ali ‘Imran: 67-68)

Jadi memang tidak mungkin Ibrahim as. beragama Yahudi atau Nasrani, karena kedua agama tersebut terlahir setelah masa kenabian Ibrahim as..

Wasiat Ibrahim as. kepada anak cucunya:

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS. Al-Baqarah: 131-132)

Jadi keturunan Ibrahim, tak terkecuali bani Israel telah diberi wasiat untuk tetap menetapi agama tauhid (baca: Islam).

Dan akhirnya, apakah sekarang Anda punya gambaran “kenapa orang bani Israel, terutama yahudi, cenderung tidak mau mengakui Muhammad saw. sebagai Nabi dan Rasul Allah?”

Jawabannya jelas, karena Muhammad saw. bukan termasuk dalam golongan (bangsa) mereka. Mereka berasal dari bani Israel (Yakub as. bin Ishaq as. bin Ibrahim as.) sedangkan Muhammad saw. berasal dari Bani Ismail (Ismail as. bin Ibrahim as.). Mereka (bani israel/yahudi) menganggap diri mereka sebagai bangsa yang terbaik, sehingga tak perlu tunduk kepada keturunan bangsa lain, khususnya kepada Muhammad saw. yang merupakan keturunan Ismail as., paman nenek moyang mereka (Yakub as. bin Ishaq as.). Mungkin mereka berpikir, sangat tidak pantas jika mereka tunduk kepada salah seorang yang berstatus sebagai “keturunan budak” (Ismail adalah anak Hajar, budak. Dan Ishaq adalah anak Sarah, orang yang merdeka).

Dan mereka sebenarnya telah membenci Ibrahim karena tak mengindahkan wasiatnya.

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (QS. Al-Baqarah: 130)

Referensi:
sejarah Bani Israel
Aze BiZesha (Membaca Sejarah bani Israel)
 
 

 

« 4 » Kebohongan Orang-Orang Yahudi

Bangsa Yahudi (bani Israel) telah menjadi salah satu bangsa yang telah diberikan keutamaan yang sangat banyak oleh Allah swt..

Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masing berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”. Maka memancarlah daripadanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minumnya masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman); “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu” …. (QS. Al-A’raaf: 160)

Sifat orang yahudi yang dominan (rata-rata)

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. (QS. Al-An’aam: 91)

Begitulah sifat-sifat orang yahudi yang telah dijelaskan oleh al-Qur’an. Mereka tidak memberi penghormatan yang pantas kepada Allah swt.. Padahal mereka telah dikaruniai nikmat yang sangat banyak melebihi bangsa-bangsa lainnya. Setelah mereka mendengarkan Musa as. membacakan “Taurat” kepada mereka, mereka malah menuduh Allah swt. tidak menurunkan apa-apa.

Pembangkangan Yahudi (bani Israel) dalam Masa Kenabian Musa as.

Dan Kami seberangkan Bani Israel ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israel berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”.
Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.
Musa menjawab: “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat. (QS. al-A’raaf: 138-140)

Dengan menyimak ayat di atas, maka sangatlah diragukan bahwa bangsa yahudi memiliki IQ di atas rata-rata. Mereka “jatuh hati” terhadap berhala, padahal mereka telah melihat mukjizat Musa as. yang sangat menakjubkan dalam mengalahkan tukang sihir Fir’aun dan, saat ia (Musa as.) membelah lautan dan menenggelamkan Fir’aun.

Dengan model IQ mereka yang seperti itu, sepertinya sangat “mustahil” bagi mereka untuk mengambil alih Palestina, bahkan meski mereka diberi waktu seribu tahun lagi!

Mereka memang mendengar tapi tidak mau mengikuti

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami mendengarkan tetapi tidak mematuhi”.… (QS. al-Baqarah: 93)

Itulah jawaban paling “responsif” dari mayoritas bangsa yahudi atas perintah Allah swt.. Meski mereka tidak bodoh, tapi mereka telah bersikap “masa bodoh”. Itu lebih parah lagi dari “bodoh”!

Orang Yahudi Sangat Rakus, dan Sangat Membenci Kematian

Katakanlah: “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginkanlah kematian (mu), jika kamu memang benar. Dan sekali-kali mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya. Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. al-Baqarah: 94-96)

Begitulah, keadaan Yahudi di zaman sekarang ini. Siapakah pemilik Hollywood? Siapa pemilik Microsoft? Siapa pemilik (sutradara) film-film Box-Office? Mereka adalah para konglomerat terkaya di dunia. Bahkan -mungkin- dengan omzet ribuan dolar per detik, bukan per-bulan lagi!

Mereka sangat “tamak”, bahkan lebih tamak dari orang-orang musyrik (tak beriman). Mereka ingin diberi umur seribu tahun. Mengapa? Karena mereka takut akan akibat dari kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat. Mereka sadar dengan kesalahan yang mereka lakukan, tapi mereka tak mau bertaubat. Atau mungkin juga karena mereka ingin menikmati kekayaan mereka yang tak mungkin habis dalam jangka waktu 100 tahun. Dan yang lebih aneh lagi adalah, mereka menganggap bahwa surga hanya khusus bagi golongan mereka sendiri, bukan untuk yang lain.

Pembukuan Kitab Taurat dilakukan secara Asal-Asalan

Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.
(QS. al-Baqarah: 78-79)

Inilah alasannya kenapa kita tak bisa percaya sepenuhnya kepada Taurat, karena isinya telah mengalami perubahan. Mereka sesat dan sangat menyesatkan!

Mereka tak mau mempercayai al-Qur’an

Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (QS. al-Baqarah: 89)

Mereka gengsi kepada Muhammad saw. karena ia berasal dari bani Ismail. Mereka mungkin berpikir, jika mereka mengikuti Muhammad, maka harga diri mereka akan anjlok (di mata manusia).

Mereka suka membunuh para nabi

Selain mengingkari kebenaran al-Qur’an, mereka juga tak beriman kepada kitab mereka sendiri, yakni Taurat. Mereka juga hobi membunuh para nabi.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Qur’an yang diturunkan Allah”, mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada Al Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur’an itu adalah (Kitab) yang hak (benar); yang membenarkan apa yang ada pada mereka (Taurat). Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?” (QS. al-Baqarah: 91)

Dan mereka juga melecehkan kebenaran Risalah yang dibawa oleh nabi mereka (Musa as.).

Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang lalim. (QS. al-Baqarah: 92)

Apakah mereka (Yahudi) bisa berubah?

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?
Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: “Kami pun telah beriman,” tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu (bantahanmu) di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?”
Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?
(QS. al-Baqarah: 75-77)

Amat kecil kemungkinannya orang yahudi bisa berubah. Kebutaan pada mata hati mereka mungkin sudah bersifat permanen. Karena mereka sebenarnya bukan orang yang “tidak tahu”, melainkan orang yang “tidak mau tahu”.

Kesimpulan

Kesimpulannya adalah: agama Yahudi yang sekarang ini bukanlah agama Yahudi yang dibawa oleh Nabi Musa as.. Mengapa? Tentu saja, karena ajarannya (Taurat) telah banyak mengalami perubahan. Buktinya? Buktinya, adalah peradaban Yahudi yang terbesar, yakni Israel, seringkali menghalalkan segala cara demi mewujudkan impiannya untuk merebut tanah palestina, tanah yang bukan haknya. Mereka menghalalkan segala cara untuk mewujudkan ambisinya itu, termasuk membunuh para wanita dan anak-anak kecil. Apakah Musa as. pernah memerintahkan seperti itu dalam Taurat?!❗
 
 

 

« 5 » Kebohongan Orang-Orang Nasrani

Agama Nasrani merupakan agama yang dibawa oleh Isa as.. Dia adalah nabi yang diutus kepada Bani Israel. Isa as. memiliki banyak keutamaan (mukjizat) untuk membuktikan kebenaran dari status kenabian dan kerasulannya. Dia bisa menciptakan burung dari tanah. Dia juga bisa menyembuhkan orang yang buta sejak lahir (buta permanen). Bahkan, ia bisa menghidupkan kembali bangkai (manusia ataupun hewan).

Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil.
Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.”
(QS. Ali ‘Imran: 48-49)

Masa kelahiran Isa as.

Ibunda Isa as., yakni Maryam diberi tahu perihal keadaannya yang akan segera memiliki anak, padahal ia belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.

Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. (QS. Ali ‘Imran: 47)

Sehingga ketika Isa as. terlahir, maka kaumnya menuduh Maryam berbuat yang bukan-bukan. Maka Isa as. pun berbicara kepada mereka ketika beliau masih merah (bayi) dengan mengatakan bahwa beliau adalah seorang nabi yang diutus.

Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.
Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,
maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?”
Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.
(QS. Maryam: 27-30)

Isa as. bukan anak Allah

Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”.
Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara (kebohongan) yang sangat besar,
hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh,
karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.
Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.
(QS. Maryam: 88-92)

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun. (QS. al-Maidah: 72)

Itulah Gosip (kebohongan) paling besar dalam sejarah kehidupan manusia. Isa as. adalah manusia, ia adalah salah satu ciptaan-Nya. Dan tentu saja ia punya sifat-sifat makhluk. Sedangkan Allah swt. adalah Tuhan, dan Dia memiliki sifat Ketuhanan. Sifat-Sifat Tuhan sangat berbeda dengan sifat-sifat makhluk. Isa as. mengantuk, tidur, makan, minum, buang air besar dan buang air kecil dan juga mengalami sifat-sifat makhluk yang lainnya. Sedangkan Allah swt. adalah Dzat Yang Maha Tinggi, dan sangat berbeda dari itu semua.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. … (QS. Al-Baqarah: 255)

Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. (QS. Adz-Dzaariyaat: 57)

Allah swt. adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Kepada-Nya lah bergantung segala makhluk. Dan Dia tak dapat dipersamakan dengan apapun.

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Dia”.
(QS. al-Ikhlas: 1-4)

Setiap makhluk hanya memiliki status sebagai hamba, siapapun itu orangnya!

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba. (QS. Maryam: 93)

Tentang orang-orang yang berbantah-berbantahan (berdebat) perihal Isa as.

Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berdebat tentang kebenarannya (bahwa ia hanyalah seorang hamba).
Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.
Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.
Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar (Kiamat).
(QS. Maryam: 34-37)

Isa as. tidak pernah berkata bahwa dirinya adalah tuhan.

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu (pernah) mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib”. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (QS. Al Maaidah: 116-117)

Konsekuensinya adalah, Tuhan itu bukan tiga!

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. (QS. an-Nisaa’: 171)

Mereka telah berlebih-lebihan dalam agama mereka. Mereka menyanjung Isa as. secara berlebihan hingga mereka “menjulukinya” tuhan. Manusia tetap manusia. Sekalipun manusia menjadi “Batu” (seperti Malin Kundang yang terkutuk), maka ia tetap manusia. Sekalipun manusia bisa terbang ke langit, ia tetap manusia, bukan burung, malaikat, ataupun lainnya!

Disamping mengkultuskan Isa as., mereka bahkan juga mengkultuskan rahib-rahib mereka (para ahli kitab).

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)

Perkara penciptaan Isa as. adalah sama dengan perkara penciptaan nabi Adam as.

Demikianlah (kisah ‘Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al Qur’an yang penuh hikmah.
Sesungguhnya permisalan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.
(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.
(QS. Ali ‘Imran: 58-60)

Jadi, asal-muasal Nabi Adam as. juga serupa dengan Nabi Isa as., bahkan Nabi Adam as. lebih menakjubkan lagi penciptaannya. Karena Nabi Adam as. tercipta tanpa melalui perantara seorang ayah dan Ibu. Ia tercipta langsung dari tanah yang diberi bentuk, dan ditiupkan Ruh kepadanya.

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”.
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”.
Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya.
kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir.
(QS. Shaad: 71-74)

Jadi, jika umat Nasrani menganggap Isa as. sebagai tuhan karena ia tercipta tanpa perantara seorang ayah, lantas apa anggapan mereka terhadap Adam as. yang tercipta tanpa perantara seorang ayah dan ibu?!!❗

Tentang al-Kitab (Injil) yang dipalsukan

Ada beberapa ahli Kitab yang suka mencampur-adukkan antara yang benar dan yang bathil (salah).

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang hak dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui? (QS. Ali ‘Imran: 47)

Mereka (sebagian ahli kitab) suka memutar-balikkan lidah mereka agar apa-apa yang mereka baca seolah-olah berasal dari Allah, padahal sebenarnya bukan! Dan mereka adalah orang yang berdusta dalam keadaan “sadar”.

Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui (sadar). (QS. Ali ‘Imran: 78)

Dan mereka adalah orang yang memang benar-benar “sengaja” dalam melakukan keburukan tersebut. Padahal telah datang kepada mereka kitab (Quran) yang menerangkan perihal apa-apa yang mereka sembunyikan dari kitab mereka (Injil).

Dan di antara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan. Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami (Muhammad), menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab (Quran) yang menerangkan. (QS. al-Maidah: 14-15)

Inilah alasannya kenapa kita tidak bisa sepenuhnya percaya kepada Injil. Komposisi kebenaran dalam al-Kitab (Injil) bukan 100%, karena isinya telah mengalami perubahan. Meskipun perubahan tersebut tidak seluruhnya, tapi kita tidak tahu bagian mana yang telah dirubah. Apakah yang dirubah tersebut adalah masalah konsep “Ketuhanan” ataukah masalah sejarah, atau mungkin tentang kabar-kabar yang akan datang???

Pengikut Isa as. yang setia

Namun demikian, ada beberapa orang yang memang setia dalam mengikuti Isa as.. Mereka tunduk dan patuh terhadapnya, dan merekalah orang-orang Nasrani yang sesungguhnya (benar).

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel), berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kami lah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.
Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”.
(QS. Ali ‘Imran: 52-53)

Dan Isa as. akan menjadi saksi atas golongan yang benar-benar setia tersebut.

Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (QS. An-Nisaa’: 159)

Tentang Pembunuhan Isa as.

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS. an-Nisaa’: 157-158)

Jadi, peristiwa penyaliban Isa as. adalah H O A X (kebohongan/omong kosong) semata. Mereka hanya mengira-ngira saja. Mereka pelaku penyaliban itu seolah berkata dalam hati kecil mereka sendiri, “tapi sepertinya itu memang benar-benar Isa as.!” Tak seorangpun di antara mereka yang yakin bahwa yang disalib itu adalah Isa as.. Dan sesungguhnya, yang disalib itu adalah orang lain, yang wajahnya diserupakan (dirancukan/dibuat mirip) dengan Isa as.. Untuk apa Allah berbuat seperti itu? Tentu saja, untuk menyelamatkan Isa as. yang asli.

Sejarah kristen

Kristen (agama nasrani) yang sekarang memiliki sejarah yang rancu (kacau, tidak jelas). Mengapa demikian? Karena tak ada standarisasi (yang benar-benar murni) pada al-kitab mereka. Al-kitab mereka memiliki banyak versi dan tak satupun yang bisa dipercaya sepenuhnya, karena ditulis oleh banyak orang yang tidak jelas kejujurannya (ketaatannya dalam agama). Sementara Injil yang asli sebenarnya hanya punya satu versi, yakni yang telah diturunkan kepada Isa as..

Disamping itu, juga banyak doktrin (hukum/aturan/perintah) yang mereka anut dipengaruhi oleh pihak-pihak kerajaan, khususnya Roma, seperti tentang pokok-pokok (statement) masalah Trinitas. Ajaran-ajaran mereka juga banyak dipengaruhi oleh argumen (pendapat) semata, seperti masalah kayu “salib”. Padahal, Isa as. tak pernah memerintahkan umatnya memakai kayu salib. Dan sesungguhnya, murninya (kebenaran) suatu agama itu harus mutlak dipengaruhi oleh “Wahyu” yang dibawakan oleh Nabi-nya masing-masing, bukan oleh pendapat orang lain. Bahkan meskipun ia adalah seorang Raja sekalipun, maka ia harus tunduk terhadap perkataan Nabi-nya.

Jika Anda tertarik lebih mendalam tentang asal-muasal kristen yang ada “saat ini”, klik link berikut ini:

  1. Sejarah Kristen (akan ditampilkan di jendela baru)
  2. Kontradiksi al-Kitab (akan ditampilkan di jendela baru)
  3. Asal-usul salib (akan ditampilkan di jendela baru)

Kesimpulannya adalah, agama nasrani yang ada saat ini bukanlah agama nasrani yang telah dibawa oleh Isa as., karena mereka tidak berbuat hal seperti yang diperintahkan oleh Isa as., yakni, mereka malah menjadikan Isa as. sebagai tuhan dan tidak meng-Esakan Allah swt.
 
 

 

« 6 » Kaitan antara Yahudi, Nasrani, dan Islam

Yahudi dan Nasrani memiliki kaitan yang sangat “koheren” (selaras) terhadap Islam. Mereka telah mengenal perihal Islam semenjak dahulu, melalui keterangan yang tertulis dalam kitab-kitab mereka.

Muhammad dalam pandangan Yahudi dan Nasrani

Ada sebuah teka-teki penting yang harus Anda coba jawab. Yakni,

Bukankah Muhammad saw. adalah Nabi akhir zaman. Dan beliau saw. adalah keturunan bangsa Arab. Tapi, …

“Mengapa mayoritas bangsa Arab tidak tahu tentang tanda-tanda kenabian Muhammad jauh-jauh hari sebelum beliau dilahirkan? Mengapa justru orang-orang Nasrani dan Yahudi yang tahu tentang beliau hingga mereka mengincarnya?”

Apakah Anda tahu jawabannya?

Jawabannya adalah,
Karena mereka (bani Ismail) tidak punya literatur (kitab suci) yang berisi keterangan perkara-perkara yang akan datang. Para Nabi seperti Musa as., Daud as., dan juga Isa as. hanya diutus kepada bani Israel (keturunan Ya’kub). Mereka adalah nabi-nabi bani Israel, bukan bani Ismail. Para nabi-nabi tersebut hanya diutus (diharuskan menyampaikan risalah) kepada bani Israel. Mereka tidak diharuskan untuk menyampaikan risalah mereka kepada bani Ismail.

Dan sesungguhnya telah Kami berikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, agar mereka (Bani Israel) mendapat petunjuk. (QS. Al-Mukminun: 49)

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (QS. Al-Maidah: 78)

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israel. (QS. az-Zukhruf: 59)

Sehingga konsekuensinya adalah, bani Ismail (bangsa arab itu sendiri) menjadi bangsa yang “miskin” informasi. Orang-orang bani Israel (Yahudi dan Nasrani) mengetahui banyak hal tentang kenabian Muhammad ratusan tahun sebelum Muhammad dilahirkan ke dunia ini. Merekalah yang paling mengenal Muhammad melalui kitab-kitab mereka. Namun, mereka menyembunyikan kebenaran tersebut. Dan mereka sangat sadar tentang apa yang mereka perbuat itu.

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad sebagaimana mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 146)

Bahkan, Isa as. juga telah memberi tahu bani Israel tentang kenabian Muhammad jauh-jauh hari sebelumnya.

Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah tukang sihir yang nyata”.
(QS. ash-Shaff: 6)

Jelas sekali bahwa telinga bani Israel itu salah sambung. Isa as. memberikan kabar gembira dengan kedatangan seorang Rasul yang bernama Ahmad (Muhammad), tapi mereka malah berkata bahwa Muhammad adalah tukang sihir, bukan Rasul.

Mengapa mereka juga bersikeras menutup-nutupi kebenaran tersebut (yakni tentang kerasulan Muhammad saw.) padahal mereka tahu benar akibat (konsekuensi) nya?

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Baqarah: 109)

Itulah jawabannya,
Mereka dengki dan iri kepada Muhammad saw. sebagai nabi akhir zaman, karena ia bukan berasal dari kalangan mereka sendiri (bani Israel), melainkan dari kalangan bani Ismail. Itulah juga sebabnya mereka tak mau mengakui kerasulan Muhammad saw.. yang nyata (tertulis di dalam kitab-kitab mereka) dan telah terbukti (tanda-tanda kenabiannya yang mereka saksikan sendiri).

Dan dengan melihat ayat di atas (QS. al-Baqarah: 109), menunjukkan bahwa TIDAK SEMUA AHLI KITAB ITU BAIK! Sebagian BESAR dari mereka MEMANG MEMILIKI HATI YANG JAHAT.

Mereka bahkan tidak selalu sepakat dengan apa-apa yang dibawa oleh Rasul mereka sendiri

Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israel, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak disukai oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. (QS. Al-Maidah: 70)

Yahudi merupakan musuh Islam yang paling keras

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. (QS. Al-Maidah: 82)

Hanya Yahudi dan Nasrani yang bisa masuk surga?

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (QS. Al-Baqarah: 111)

Mereka tak senang kepada orang-orang Islam

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang (berdamai) kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu (mukmin) mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. Al-Baqarah: 120)

Mereka menyarankan muslim untuk menjadi seperti mereka

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”. (QS. Al-Baqarah: 135)

Mereka menuduh Allah memiliki anak

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. At-Taubah: 30)

Mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai hujah (alasan yang benar) tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS. Yunus: 68)

Dan mereka adalah orang yang tidak beruntung disebabkan gosip (kebohongan) yang mereka perbuat.

Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung”. (QS. Yunus: 69)

Mereka ingin memadamkan cahaya kebenaran (petunjuk)

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS. At-Taubah: 32)

Salah satu usaha yang mereka lakukan adalah dengan cara menerbitkan al-Qur’an palsu. Tapi, usaha mereka sia-sia belaka. Allah hendak menyempurnakan (memenangkan) agama-Nya. Orang kafir suka atau tidak, itu sama sekali bukan masalah bagi-Nya!

Mereka ingin menyesatkan orang-orang yang beriman, meski dalam kenyataannya mereka hanya menyesatkan diri mereka sendiri

Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan, kecuali dirinya sendiri, dan mereka tidak sadar. (QS. Ali ‘Imran: 69)

Sebagian besar mereka sombong dan tidak sadar akan kebodohannya

Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (QS. al-Baqarah: 13)

Golongan Yahudi dan Nasrani yang sadar

Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu (Muhammad) dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya. (QS. Ali ‘Imran: 199)

mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad saw.). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?” Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). (QS. Al-Maidah: 83-85)

Begitulah keadaan golongan bani Israel (ahli kitab) yang sadar atas kenabian Muhammad saw.. Mereka mencucurkan air mata karena mereka mengetahui dan sadar akan kebenaran itu semenjak jauh-jauh hari sebelum Muhammad saw. diutus.

Allah akan memberi keputusan kepada semua golongan di hari Kiamat

Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al Qur’an yang merupakan ayat-ayat yang nyata; dan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. (QS. Al-Hajj: 16-17)
 
 

 

« 7 » Kebohongan Orang-Orang Islam

Disamping mengungkap kebohongan orang-orang Yahudi dan Nasrani, dan agama lainnya, saya sebagai seorang muslim merasa tidak adil jika tidak mengungkap kebohongan yang dilakukan oleh orang-orang Islam itu sendiri. Islam adalah agama yang benar, tapi tidak semua orang Islam itu benar. Kebanyakan di antara mereka hanya merasa benar sendiri.

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (QS. al-Baqarah: 8 )

Mereka biasanya, disamping mengaku sebagai nabi, mereka juga melakukan modifikasi terhadap al-Qur’an, seperti yang dilakukan oleh aliran sesat “Ahmadiyah”.

Atau tentang aliran sesat Islam yang lebih cool (keren), yakni Syiah. Mereka memanipulasi hadits dan mengubah “Teks” al-Qur’an yang asli.

Islam Syiah merupakan “aliran sesat” tertua sepanjang sejarah Islam. Dia didirikan oleh seorang Yahudi yang berasal dari Yaman, bernama Abdullah bin Saba’. Ajaran tersebut muncul pada masa khalifah Utsman bin Affan. Aliran syiah semakin menjadi-jadi semenjak terbunuhnya Utsman bin Affan, dan posisi ke-khalifahan dipegang oleh Ali bin Abi Thalib. Mereka mencaci sahabat Nabi saw. yang terpercaya (seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman), padahal Nabi saw. sendiri tak pernah melakukan hal seperti itu. Dengan demikian, mereka (baca: syiah) telah melakukan “kesalahan” dalam beradab, karena mereka melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh Nabi saw. terhadap sahabat-sahabat kepercayaannya tersebut semasa beliau saw. masih hidup. Mereka bahkan tak menerima al-Qur’an yang ber-mushaf Utsmani, padahal itu adalah satu-satunya al-Qur’an yang ditulis oleh seorang sahabat Nabi saw. yang hafidz (hafal) al-Qur’an, yang juga merupakan menantu beliau saw..

Islam syiah bahkan mengkultuskan (menuhankan) sahabat Nabi saw. yang bernama “Ali ra.”, yang merupakan khalifah ke-4 sepeninggalnya Nabi saw.. Mereka bahkan menyembah kepada Ali ra. saat beliau masih hidup. Sehingga orang-orang tersebut dibakar, dan sisanya melarikan diri.

Dalam Islam, mengkultuskan seseorang tidak diperbolehkan. Bahkan, Nabi saw. melarang umatnya untuk mengkultuskan beliau saw. seraya bersabda:

Janganlah kamu mengkultuskanku sebagaimana orang-orang nasrani mengkultuskan putra Maryam (yakni, Isa as.), sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah. Maka katakanlah (kepadaku): “Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)

Dan tak sepantasnya manusia itu bersujud kepada sesama manusia.

Kalau aku diperbolehkan menyuruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku akan menyuruh seorang isteri sujud kepada suaminya. (HR. Ibnu Majah)

Mereka lebih percaya pada keturunan Nabi saw. (ahlul bait: Ali ra.) ketimbang kepada Nabi saw. itu sendiri. Buktinya, mereka menolak hadits-hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim. Bahkan, mereka membuat hadits palsu untuk menunjang ajaran sesat mereka.

Keturunan Nabi saw. bukan berarti bebas kesalahan. Tak ada dalil yang menyatakan bahwa setiap keturunan Nabi saw. terbebas dari dosa dan kesalahan. Sehingga kita tidak boleh mengikutinya secara “asal-asalan”.

Abu Hurairah meriwayatkan, "Ketika diturunkan kepada Rasulullah ayat, "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat." (QS. asy-Syura: 24). Maka beliau bersabda, "Wahai segenab kaum Quraisy, belilah diri kalian sendiri, sesungguhnya aku tidak berguna sama sekali bagi kalian di hadapan Allah. Wahai Abbas bin Abdul Muththalib! sesungguhnya aku tidak berguna sama sekali bagimu di hadapan Allah. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah! sesungguhnya aku tidak berguna sama sekali bagimu di hadapan Allah. Wahai Fathimah binti Muhammad! Mintalah kepadaku harta bendaku sesukamu, tetapi sesungguhnya aku tidak berguna sama sekali bagimu di hadapan Allah." (HR. al-Bukhari)

Sebab itu, setiap orang harus beramal dengan amalan yang benar, jika menginginkan kehidupan akhirat yang baik (yakni, Surga), tak terkecuali pada keluarga Nabi saw..

Barangsiapa amal (ibadah)nya lambat, maka nasab (silsilah keturunan)nya tidak bisa mempercepat amal (ibadah)nya. (HR. Muslim)

Dan setiap orang pasti akan dihukum sesuai dengan Hukum Allah, jika berbuat kesalahan, tak terkecuali itu dari keturunan Nabi saw. sendiri.

Rasulullah saw. bersabda:
…. Demi Allah, sekiranya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya. (HR. Muslim No.3196)

Itulah Islam sebenarnya, yang memiliki ajaran yang “Tegas”. Ketika seseorang berbuat salah, maka yang dipandang adalah jenis kesalahannya (untuk menentukan hukumannya), dan bukan silsilah keturunannya yang dilihat!

Pembahasan masalah Syiah sebenarnya hanya membuang-buang waktu saja, karena pokok akar permasalahannya adalah sangat jelas. Yakni, terletak pada “pendiri” ajaran syiah itu sendiri. Yang mendirikan ajaran syiah itu bukan sahabat Nabi saw. yang terpercaya, jadi sangat “kurang kerjaan” jika kita memberikan perhatian mendalam untuk mengkaji ajaran tersebut. Karena setiap “ajaran” yang benar itu harus bersumber pada orang yang benar (jujur) dan terpercaya. Sementara “Abdullah bin Saba’” yang merupakan tokoh pendiri ajaran syiah adalah orang yang gak “jelas” riwayat hidupnya, apakah dia orang yang benar-benar “pembohong” atau orang yang suka “berbohong”. Jadi, kenapa kita harus percaya kepada kebenaran syiah yang sudah nyata-nyata tidak benar?!!❗

Ingat, salah satu kriteria kebenaran adalah: ia harus berasal dari sumber yang benar (baca: orang terpercaya + jujur + diakui kebaikannya).

Namun demikian, jika Anda ingin lebih tahu lebih mendalam tentang syiah, Klik di sini! (akan ditampilkan di jendela baru)

Sebenarnya, ada banyak aliran sesat dalam Islam. Namun, hal itu bisa dimaklumi, karena virus itu memang ada dimana-mana, tak terkecuali di tubuh “Islam” itu sendiri.

Jika Anda ingin melihat aliran-aliran sesat dalam Islam, Klik di sini! (akan ditampilkan di jendela baru)


Mengapa dalam Islam terdapat aliran-aliran sesat?

Karena sebagian orang-orang Islam telah berpaling dari al-Qur’an dan al-Hadits.

Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (QS. an-Nur: 47)

Dan mereka suka mencari “rujukan” (aturan hukum) selain apa yang ditetapkan oleh Nabi saw.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. al-Ahzab: 36)

Padahal, syarat untuk menjadi orang mukmin yang BENAR adalah taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. an-Nur: 51)
 
 

 

« 8 » Manakah Agama yang Benar-Benar “Benar”?

Orang-orang yahudi tidak konsisten dengan ajaran agama mereka. Sedangkan orang-orang nasrani seringkali menerima doktrin yang bertentangan dengan ajaran nabi mereka. Sementara itu, tak sedikit orang Islam yang seringkali membuat kebohongan meski hal itu tidak diperintahkan di dalam al-Qur’an dan al-Hadits.

Sehingga, mungkin akan timbul beberapa pertanyaan,

Manakah agama yang BENAR di antara Yahudi, Nasrani, dan Islam?

Sebenarnya, ini adalah pertanyaan yang sangat sederhana dan jawabannya pun juga bisa dipastikan sangat sederhana. Ketiga agama tersebut adalah benar, karena dibawa oleh para nabi dan juga telah didukung dengan kitab (mukjizat) masing-masing. Al-Qur’an sendiri telah menjawabnya seperti itu.

Sesungguhnya orang-orang mukmin (Islam), orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah: 62)

Kitab mereka (Yahudi, Nasrani, Islam) adalah benar adanya.

Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat (kepada Musa) dan Injil (kepada Isa). (QS. Ali ‘Imran: 3)

Itulah orang-orang yang benar-benar beriman, yakni mereka mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya (masing-masing). Dan mereka tunduk patuh terhadap apa-apa yang diturunkan kepada mereka, yakni terhadap al-Kitab mereka masing-masing (Taurat, Zabur, Injil, al-Qur’an), serta mereka tidak “lancang” melakukan perubahan terhadap kitab-kitab tersebut. Mereka itulah orang-orang benar, yang dijanjikan pahala yang besar oleh Allah.

Apakah Anda puas dengan jawaban saya yang menyatakan bahwa “ketiga agama tersebut benar”?

Tentu saja tidak, sehingga mungkin Anda akan bertanya sekali lagi dengan pertanyaan yang lebih jelas,

Manakah agama yang PALING BENAR di antara Yahudi, Nasrani, dan Islam?

Ini adalah pertanyaan yang lebih rumit, sehingga memerlukan analisa lebih lanjut, untuk menghasilkan jawaban yang lebih kompleks (terperinci dan jelas).

Analisanya adalah sebagai berikut:

PERTAMA, Agama Yahudi dan Nasrani hanya untuk bani Israel. Sedangkan Islam untuk seluruh umat semesta alam (universal).

Agama Nasrani dibawa oleh Isa as. untuk bani Israel.

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israel. (QS. az-Zukhruf: 59)

Agama Yahudi dibawa oleh Musa as. untuk bani Israel.

Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israel (QS. al-Israa’: 2)

Sedangkan Nabi Muhammad saw. diutus untuk semesta alam (seluruh umat manusia).

Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.(QS. al-Anbiya’: 107)

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (QS. al-A’raaf: 158)

Dan karena Muhammad saw. diutus untuk seluruh umat manusia, maka tentu saja Risalahnya berlaku untuk setiap orang, tak terkecuali dari kalangan bani Israel itu sendiri (yakni, Yahudi dan Nasrani). Sehingga konsekuensinya adalah, bani Israel juga harus menerima Islam jika mereka ingin menjadi orang yang benar (baca: selamat).

Jadi, Islam adalah agama yang paling benar!

KEDUA, setiap risalah kenabian (agama) memiliki masa (priode) tersendiri. Ini mirip dengan masa pemerintahan suatu negara. Saat pemerintahan dipegang oleh presiden A, maka “Negara” harus menggunakan kebijakan yang dikeluarkan oleh presiden A. Dan ketika pemerintahan dipegang oleh presiden B, maka “Negara” harus menggunakan kebijakan yang dikeluarkan oleh presiden B, sedang kebijakan presiden A menjadi tidak berlaku lagi. Dan ketika pemerintahan dipegang oleh presiden C, maka “Negara” harus menggunakan kebijakan yang dikeluarkan oleh presiden C, sedangkan kebijakan presiden A dan Presiden B menjadi tidak berlaku lagi. Dan seterusnya…

Dan konsekuensinya adalah, masing-masing Kitab ajaran (risalah) yang dibawa oleh seorang Nabi memiliki masa berlaku (periode) yang berbeda-beda.

… Bagi tiap-tiap masa (periode) ada Kitab (tertentu). (QS. Ar-Ra’d: 38)

Sehingga masa risalah kenabian Musa as., Isa as., dan Muhammad saw. dapat dituliskan sebagai berikut:

  1. Masa kenabian Musa as. adalah sejak ia diutus (diangkat menjadi Rasul) hingga masa kenabian Isa as.. Dalam masa itulah Taurat berlaku.
  2. Masa kenabian Isa as. adalah sejak ia diutus hingga masa kenabian Muhammad saw.. Dalam masa itulah kitab Injil berlaku.
  3. Masa kenabian Muhammad saw. adalah semenjak ia diutus hingga hari kiamat. Dia adalah penutup para nabi. Dalam masa inilah kitab al-Qur’an berlaku.

Dan karena saat ini adalah masa kenabian Muhammad saw.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Utusan Allah dan penutup nabi-nabi. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. al-Ahzab: 40)

…maka, tentu saja risalah (ajaran) yang berlaku adalah risalah yang dibawa oleh Muhammad saw., yakni Islam. Sehingga sekali lagi, Islam adalah agama yang paling benar!

KETIGA, ini adalah analisa tambahan. Al-Kitab para penganut Yahudi dan Nasrani sudah tidak ada yang murni lagi. Mengapa demikian? Karena di dalamnya berisi ajaran yang berbeda dengan ajaran yang dibawa oleh Musa as. atau oleh Isa as.. Dengan keadaan al-Kitab mereka yang seperti itu, yakni tidak murni lagi maka, tentu saja tindakan-tindakan mereka dalam ber-Tauhid (beriman/ber-Tuhan) dan beramal Saleh (berbuat baik) adalah TIDAK JELAS . Salah satu ketidak-murnian kedua agama tersebut adalah anggapan mereka yang mengatakan bahwa Tuhan itu memiliki anak. Sementara Isa as. ataupun Musa as. tidak pernah berkata seperti itu. Dan yang lebih parah lagi adalah, mereka mengubah ayat-ayat dalam al-Kitab mereka yang berhubungan dengan keterangan tentang kenabian Muhammad saw. untuk memperlemah kebenaran Islam, karena kedengkian yang ada dalam diri mereka.

Sedangkan al-Qur’an adalah satu-satunya kitab yang berisi ajaran murni hingga saat ini sampai hari kiamat, karena ia terjaga dari segala macam perubahan, baik oleh pengaruh waktu ataupun karena ulah manusia. Jadi, hanya al-Qur’an yang merupakan satu-satunya kitab yang STABIL (mutlak wahyu 100%, tanpa tercampur dengan kebohongan sedikitpun). Salah satu bukti kestabilan al-Qur’an adalah, tentang pernyataannya yang menyatakan konsep ketuhanan yang sebenarnya yang telah dibawa oleh setiap Nabi dan Rasul semenjak dahulu, yakni Tiada Tuhan Yang Berhak Disembah kecuali Allah.

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al Anbiya’: 25)

Mereka (Yahudi dan Nasrani) sama sekali tak punya alibi (alasan) untuk menutupi kebohongan-kebohongan mereka tentang konsep ketuhanan yang mereka anut.

Mengapa saya berkata demikian?

Karena,
Jika menurut mereka Isa as. ataupun Musa as. membawa konsep ketuhanan yang menyatakan bahwa “Allah memiliki anak” maka, bagaimana mereka bisa menjelaskan konsep ketuhanan yang dibawa oleh setiap nabi? Misal, bagaimanakah konsep ketuhanan Ibrahim as., Ilyas as., Nuh as., Daud as., Yahya as., Zakaria as., dan nabi-nabi lain yang pernah diutus?

Tentu saja, al-Kitab mereka tak akan bisa menjawab “pertanyaan sederhana” seperti itu dengan jelas (tanpa mengandung kontradiksi), karena jawaban mereka akan dirancukan oleh konsep ketuhanan yang mereka anut, yakni “bahwa Tuhan itu memiliki anak”. Misal, pada konsep Trinitas dalam agama Nasrani. Sebenarnya, Trinitas bukan ajaran dari Isa as., melainkan ajaran yang dipelopori oleh orang yang tak “mengerti” perkataan Isa as..

Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, …. (QS. Maryam: 30)

Apakah dalam ayat tersebut Isa berkata bahwa ia adalah tuhan? Atau apakah ia adalah anak Allah? Apakah perkataan Isa as. yang seperti ayat di atas itu kurang jelas bagi bani Israel? :?:`

Sampai kapanpun umat Nasrani tak akan bisa menyelesaikan persamaan matematika:

1 = 3

Selain itu, konsep trinitas akan menjadi sangat kacau dengan “logika” yang sangat sederhana saja yakni, bagaimana jika Allah menciptakan 99 orang lagi manusia seperti nabi Isa as.?

Tentu saja, bukan trinitas lagi yang akan mereka anut, melainkan multinitas. Dan mereka akan berusaha menyelesaikan persamaan:

1 = 100

Allah sangat mampu menciptakan manusia yang setara dengan nabi Isa as. dengan jumlah puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan … dan berapapun yang dikehendaki oleh Allah. Akan saya sebutkan salah satu orang yang tercipta sangat mirip dengan Isa as. dalam hal kemampuannya, sehingga akan mengubah wawasan Anda tentang bagaimana sebenarnya sosok Isa as. bahwa ia hanyalah manusia biasa yang diutus menjadi Nabi dan Rasul kepada bani Israel. Orang yang sangat mirip dengan Isa as. adalah al-Masih ad-Dajjal. Dia adalah manusia yang memiliki kemampuan serupa dengan kemampuan nabi Isa as., namun dia kafir. Dan masalah al-Masih ad-Dajjal akan diuraikan di topik lain dalam artikel ini.

Ajaran yang dibawa oleh setiap nabi adalah murni, yakni “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.” Dan cobalah Anda berpikir, apakah mungkin Allah menurunkan Risalah (ajaran) yang berbeda-berbeda kepada masing-masing nabi? Misal, Nabi yang satu mengatakan “Tiada Tuhan selain Allah”, dan Nabi yang lain mengatakan “Tuhan itu tiga”. Tidak mungkin, karena Allah adalah Zat Yang Maha Konsisten (Maha Benar). Bani Israel lah yang sering ngelantur (ngawur). Jika ajaran yang dianut oleh masing-masing nabi adalah berbeda maka, pasti akan ada perkelahian antara Nabi ataupun Rasul, atau antar umatnya dari masa ke masa (karena saling mengejek). Sementara Allah mengutus para nabi untuk menjadi petunjuk bagi manusia, bukan untuk menurunkan bencana (kekacauan) di antara mereka.

Contohnya adalah, Nabi Harun as. adalah pendamping Nabi Musa as.. Jika ajaran yang dibawa oleh Harun as. berbeda dengan ajaran yang dibawa oleh Musa as., maka akan ada perkelahian antara Musa as. dan Harun as., atau akan ada perkelahian antara suku-suku bani Israel (antara yang pro Harun as. dan pro Musa as.). Begitu juga Nabi Ismail as. yang bersaudara dengan Nabi Ishaq as.. Jika mereka berdua membawa risalah yang berbeda, maka mungkin akan ada perkelahian di antara keduanya, atau perkelahian di antara umatnya (karena saling mengejek satu sama lain).

Sementara itu, berbeda dengan al-Kitab Yahudi dan Nasrani, al-Qur’an bisa menjawab “pertanyaan sederhana” tersebut (yakni tentang konsep ketuhanan yang dibawa oleh setiap nabi) hanya dengan satu ayat saja, yakni pada surat al-Anbiya’: 25 di atas, yang intinya “Tiada Tuhan yang berhak disembah Selain Allah”. Dan jawaban tersebut tidak kontradiksi dengan ayat-ayat lainnya! Nabi Ibrahim diutus dengan risalah seperti itu, Nabi Nuh as. juga seperti itu, dan juga pada nabi-nabi lainnya, tak terkecuali Nabi Musa as. dan juga Nabi Isa as..

Kedua kitab bani Israel tersebut tidak terjamin keasliannya dan telah mengalami perubahan berkali-kali selama berabad-abad. Kata siapa itu? Kata sejarah. Sebagai contoh, lihatlah sejarah pembukuan Injil, dari “perjanjian lama” diubah ke “perjanjian baru”, yang ditulis oleh orang yang belum jelas ketaatannya kepada Isa as.. Belum lagi ragam varian (versi)nya yang banyak (lukas, matius, dll). Ada banyak pertentangan di dalamnya. Oleh sebab itu, karena kitab-kitab bani Israel tersebut sudah rancu (karena perubahan pada bagian-bagian tertentu, terutama pada bagian “konsep ketuhanan”), maka tentu saja al-Kitab mereka tidak bisa dipakai sebagai pedoman dalam beragama. Dan hanya al-Qur’an lah yang pantas dijadikan “referensi kebenaran”. Karena al-Qur’an tidak mengalami perubahan sepanjang zaman. Pembukuan al-Qur’an telah ditulis secara terperinci dan akurat semenjak khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman dengan bantuan Zaid bin Thabit yang merupakan penulis wahyu ketika Nabi saw. masih hidup. Dan mereka semua tidak diragukan lagi kesetiaannya kepada Nabi saw.. Dan Meski selama ±1400 tahun banyak sekali orang yang ingin mengubahnya, mulai dari tokoh pendiri syiah pada masa khalifah Ali ra. hingga para tokoh nasrani yang menerbitkan al-Qur’an palsu dan mengedarkannya di Kuwait beberapa tahun yang lalu, namun hal itu sia-sia saja! al-Qur’an tetap seperti sedia kala, yakni sesuai dengan mushaf Utsmani.

Lihat di sini tentang sejarah pembukuan al-Qur’an yang ditulis oleh sejarawan non-Muslim, Sir William Muir (The Life of Muhammad).

Dan bandingkan dengan keadaan Injil yang sebenarnya:

Kontradiksi al-Kitab

Jangan pernah menerima kebenaran “mentah” (Taurat dan Injil) dengan dogma ataupun doktrin. Karena al-Qur’an sendiri tak pernah memerintahkan seperti itu, ia bahkan menantang untuk dipahami (digali) lebih mendalam:

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab (al-Qur’an) yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan (kebaikan) bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya (mendalaminya)? (QS. al-Anbiya’: 10)

Orang-orang Yahudi dan Nasrani menutupi kebohongan mereka dengan doktrin dan dogma. Mereka tak ingin para penganut agama mereka mempelajari al-Kitab secara lebih mendalam. Mengapa demikian? Tentu saja, Agar kebohongan mereka tidak terungkap. Karena jika kebohongan mereka telah terungkap di hadapan umat, maka … kredibilitas (nama baik) mereka akan hancur, dan kepercayaan masyarakat terhadap mereka akan menurun drastis. Sebab itu mereka sering berkata, “itu adalah dogma!” untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam (karena adanya kontradiksi antar bagian al-kitab). Itulah juga sebabnya, kenapa tidak ada orang yang hafal al-Kitab, karena hafalan mereka akan dikacaukan oleh ayat-ayat yang kontradiksi.

    Sebagai contoh, dalam agama Nasrani “makan daging babi” memiliki dua hukum:

  1. Haram (Ulangan 14:8, Imamat 11:7, Yesaya 66:17)
  2. Kata Paulus semua binatang adalah Halal, tidak ada yang haram (I Korintus 6: 12, I Korintus 10:25, Kolose 2:16, I Timotius 4-5, Roma 14:17)

Masalah kontradiksi “hukum makan babi” di atas adalah contoh kontradiksi al-Kitab yang kecil disamping puluhan atau mungkin bahkan ratusan kontradiksi lainnya. Sehingga agama Nasrani yang sekarang adalah jauh lebih fleksibel ketimbang di zaman Isa as. Mengapa demikian? Tentu saja, karena bagi mereka orang-orang Nasrani yang suka makan “Babi” maka, “makan babi” hukumnya halal dan dasar hukumnya jelas (I Korintus 6: 12, I Korintus 10:25, Kolose 2:16, I Timotius 4-5, Roma 14:17). Dan bagi mereka yang tidak suka makan “Babi” maka, “makan babi” hukumnya haram dan dasar hukumnya juga jelas (Ulangan 14:8, Imamat 11:7, Yesaya 66:17). Konsekuensinya adalah, hukum-hukum yang tertera dalam al-Kitab adalah jelas-jelas “kacau”, karena sifat “halal” dan “haram” bukanlah dua sifat yang “setara” melainkan dua sifat yang “saling bertentangan” antara satu sama lain.


Dan kontradiksi-kontradiksi dengan model seperti itu tidak terdapat dalam al-Qur’an. Sehingga, jika ada orang yang menganggap bahwa al-Qur’an mengandung kontradiksi (pertentangan/ketidak-sesuaian) maka, letak kontradiksinya bukan pada al-Qur’an nya, melainkan terletak dalam pikiran orang itu sendiri! Kalau al-Qur’an itu mengandung kontradiksi, tentu saja sudah sejak dulu orang arab lebih tahu tentang hal itu, karena mereka lah yang paling menguasai bahasa al-Qur’an yang tertulis dalam bahasa Arab. Dan mereka akan langsung menanyakannya kepada Nabi saw. (jika beliau saw. masih hidup) atau para sahabat yang menguasai tafsirnya (jika nabi saw. telah wafat).

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. al-Baqarah: 2)

Jadi, Islam adalah agama yang paling benar, karena kitab sucinya (yakni, al-Qur’an) tidak mengalami perubahan dan tidak mengandung keraguan sedikitpun (karena terjamin kemurniannya).

KESIMPULANNYA ADALAH
Islam adalah agama yang benar dengan alasan:

  1. Muhammad saw. diutus untuk seluruh umat manusia, tak terkecuali bani Israel.
  2. Saat ini adalah masa kenabian Muhammad saw., bukan masa kenabian Musa as. ataupun Isa as.!
  3. al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab yang tetap steril (murni, jelas, transparan) sepanjang zaman, sehingga sangat mudah dan praktis bagi mereka yang ingin mencari “kebenaran”. Tak ada kerancuan (keraguan) di dalamnya.

Kemudian,
Adapun agama yang selain Islam adalah benar-benar salah!

Mengapa?

    Alasannya adalah kebalikan dari 3 alasan kebenaran Islam di atas:

  1. Musa as. dan Isa as. hanya diutus untuk bani Israel, dan
  2. Masa kenabian Musa as. sudah berakhir semenjak Isa as. diutus. Dan masa kenabian Isa as. sudah berakhir semenjak Muhammad saw. diutus.
  3. Al-Kitab mereka (Yahudi dan Nasrani) sudah terkontaminasi (tercampur antara kebenaran dan kebohongan). Sehingga tidak praktis bagi mereka yang ingin mencari referensi (kebenaran) “yang jelas”.

Dan alasan-alasan penunjang lainnya adalah sebagai berikut.

Agama tauhid (lurus, meng-Esakan Allah) adalah agama yang benar
Sesungguhnya (agama tauhid: Islam) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (QS. al-Anbiya’: 91)

Agama yang di-ridlai (diakui) oleh Allah adalah Islam.
… Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. … (QS. al-Maidah: 3)

Tiada yang meragukan Islam sebagai Agama yang benar, kecuali orang yang dengki (jahat).
Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. Ali ‘Imran: 19)

Selain agama Islam tidak diterima.
Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali ‘Imran: 85)

Kedudukan Al-Qur’an adalah pengganti kitab-kitab yang dilecehkan (dirubah-rubah)

Ayat mana saja yang Kami ubah atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (QS. al-Baqarah: 106)

Sehingga dari itu, al-Qur’an adalah lebih baik dari Taurat, Zabur, dan Injil.

Kedudukan al-Qur’an dalam perkara-perkara bani Israel

al-Qur’an mengungkap kebaikan-kebaikan bani Israel dan kebohongan-kebohongan bani Israel.

Sesungguhnya Al Qur’an ini menjelaskan kepada Bani Israel (Yahudi dan Nasrani) sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya. (QS. an-Naml: 76)

Konsekuensinya adalah, jika pemeluk agama Yahudi ataupun Nasrani ingin menyelesaikan perselisihan mereka (misal tentang trinitas). Maka ia harus melihat kepada al-Qur’an. Jika tidak? Tentu saja, tak akan pernah selesai.

Islam akan dimenangkan

Apakah Anda berpikir bahwa Allah tidak akan menjamin kemenangan Islam, padahal ia adalah satu-satunya agama yang diridlai (disukai) oleh-Nya? Tentu saja, Dia pasti menjamin kemenangan atasnya.

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar (yakni, Islam) untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS. At-Taubah: 33)

Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang lalim. (QS. Ali ‘Imran: 151)

Jadi, suka atau tidak suka, Islam pada akhirnya pasti akan menang.

Dan mungkin akan ada yang bertanya,

“Lantas, kenapa umat Islam yang sekarang ini banyak yang tertindas alias kalah?”

Itu bukan kalah namanya, cuman waktunya saja yang belum tiba. Ingat, setiap perkara ada prosedurnya. Tidakkah kalian ingat tentang peristiwa penaklukan Makkah? Rasulullah saw. sebenarnya bisa saja menaklukkan kota Makkah 1 tahun lebih cepat dari yang sebenarnya. Tapi mengapa beliau saw. tidak melakukannya pada waktu itu, padahal kafir Quraisy sudah sangat ketakutan dengan kedatangan beliau saw. beserta 10.000 pasukan? Tentu saja, karena waktunya belum tepat. Rasulullah saw. adalah orang yang santai alias tidak ceroboh. Dengan kata lain, beliau masih memberi tangguh kepada kafir Quraisy untuk memberikan Makkah secara damai, tanpa melalui peperangan. Para kafir Quraisy tersebut tidak menginginkan peperangan (karena mereka takut), tetapi mereka berjanji untuk memberikan Makkah pada tahun berikutnya. Sehingga 1 tahun kemudian, Makkah ditaklukkan secara damai, tanpa peperangan, dan tanpa pertumpahan darah sedikitpun. Itulah yang namanya menang mutlak (100%).

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (Muhammad) kemenangan yang nyata. (QS. al-Fath: 1)

Dan jarang sekali sejarah menulis model kemenangan yang seperti ini. Misalnya, tentang kemenangan Amerika terhadap jepang, yang sebelumnya harus “melempar” 2 bom atom di Nagasaki dan Hiroshima sebelum akhirnya menang. Tindakan Amerika tersebut adalah perampokan (baca: penjajahan) semata!

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu (Muhammad) pasti akan memasuki Masjidilharam (Makkah) insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. (QS. al-Fath: 27)

Atau tentang peristiwa perang Badar, dimana jumlah pasukan Islam yang SANGAT tak sebanding dengan pasukan orang kafir. Dan Allah memberikan kemenangan kepada pasukan Islam dengan bantuan tentara malaikat.

Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah (sedikit sekali jumlahnya). Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” (QS. Ali ‘Imran: 123-124)

Namun, terkait dengan keadaan umat Islam saat ini yang seringkali tertindas (kalah), hal itu karena umat Islam itu sendiri belum pantas untuk bisa dimenangkan. Mengapa, ya? Karena banyaknya penyimpangan-penyimpangan yang mereka perbuat.❗

Contoh nyatanya (di masa Nabi saw.) adalah ketika dalam perang Uhud. Meski pasukan Islam lebih banyak dari orang-orang kafir, tapi mereka ceroboh (tidak taat) terhadap perintah Nabi saw.. Jadi, akhirnya memperoleh kekalahan.

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali ‘Imran: 165)

Di zaman sekarang ini, bukti kesalahan-kesalahan orang Islam yang menyebabkan umat Islam menjadi tertindas adalah, banyaknya para pejabat yang beragama Islam, tapi tidak menunaikan amanat rakyat. Mereka sebenarnya bukan pejabat, tapi preman yang diangkat jadi pejabat! Mereka malah enak-enakan di kursi pemerintahan membahas rancangan undang-undang ini dan itu, yang ujung-ujungnya mengarah pencairan dana bantuan untuk rakyat tapi kemudian malah dialirkan ke rekeningnya sendiri. Akhirnya adalah, rakyat menjadi kelaparan karena pajak yang tinggi, sedang para pejabat Islam (yang korup) menjadi kekenyangan karena besarnya gaji yang tak seimbang dengan “ukuran” perut mereka. Konsekuensinya, mereka sebenarnya bukan serigala yang berbulu domba, melainkan serigala yang berbulu serigala, karena saking jelasnya tindakan kejahatan mereka.

Sebenarnya, perihal kekalahan umat Islam yang sekarang ini juga telah diperingatkan oleh Nabi saw. jauh-jauh hari sebelumnya,

Kalian pasti akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai seandainya mereka masuk ke lubang biawak pun, niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya. Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka yang dimaksud itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau berkata: “Siapa lagi kalau bukan mereka?!!” (HR. Muslim):!:

Jadi itulah alasannya kenapa umat Islam saat ini kalah (tertindas). Kita sebagai orang Islam lebih suka meniru orang-orang yahudi dan nasrani dalam berfikir, bersikap dan bertindak. Maka jadilah kita seperti bunglon, yang gak jelas apa maunya! Dengan kata lain, kita menjadi orang Islam yang “ke-nasrani-nasranian” atau menjadi orang Islam yang “ke-yahudi-yahudian”. Seharusnya jika kita mengaku benar-benar “orang Islam”, maka kita harus lebih suka meniru para sahabat Nabi saw. dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Dan juga kita seharusnya meniru para ‘alim ulama’ yang tidak diragukan lagi tentang ketinggian ilmu dan akhlaknya, seperti Imam al-Ghazali, Imam Bukhari, Imam Muslim, dan tokoh ulama’ salaf (baik/benar) lainnya. Bukan meniru penyanyi Rock, pemain bola ataupun selebriti yahudi/nasrani!❗

Dan lagi, lihatlah diri kita sebagai muslim. Kita (termasuk yang menulis blog ini) lebih paham tentang daftar merek-merek ponsel buatan Yahudi/Nasrani ketimbang daftar nama-nama sahabat Nabi saw.. Mengapa? Karena sebagian besar dari kita lebih suka “membaca” artikel tentang “ponsel” ketimbang kisah para sahabat nabi saw.. Bukankah benar begitu?❗

Namun meskipun demikian, ketahuilah bahwasanya kemenangan umat Islam itu sudah sangat dekat sekali, dan akan diawali oleh “kesadaran” umat Islam itu sendiri. Saat ini, kebanyakan orang Islam masih belum tahu tentang “siapa diri mereka” yang sebenarnya. Sebab itu sadarlah, wahai saudaraku! Dan jadilah orang Islam yang sesungguhnya. Jangan berkecil hati, sesungguhnya Allah telah membesarkan “hati” orang-orang mukmin.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. al-Baqarah: 208)

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah waspada dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung (menang). (QS. Ali ‘Imran: 200)

Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (QS. ash-Shaff: 13)
 
 

 

« 9 » Dajjal: Pembohong Paling Besar

Apakah Anda pernah mendengar tentang “Dajjal”?

Ia adalah pembohong kelas I (VIP member). Saya tidak akan menjelaskan secara panjang lebar tentang dajal karena literaturnya sangat banyak, dan untuk menjaga agar artikel tidak terlalu panjang. Saya hanya akan mengulas alasan dia (Dajjal) memperoleh gelar sebagai pembohong paling besar.

Motif kebohongan Dajjal adalah sama dengan motif yang dimiliki oleh Fir’aun musuh Musa as., Zeus atau siapapun yang pernah mengaku sebagai “tuhan”.

Lantas, kalau motifnya sama, mengapa Fir’aun, Zeus, ataupun orang-orang lainnya yang pernah mengaku sebagai “tuhan” tidak memperoleh gelar sebagai “pembohong paling besar”? tidak adil!

Bukannya tidak adil,
Jawabannya adalah karena Dajjal memang memiliki kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang pernah mengaku menjadi tuhan. Zeus, Fir’aun ataupun lainnya tidak bisa menghidupkan orang mati, tidak pula bisa menurunkan hujan, dan tidak pula bisa memerintahkan bumi untuk menyuburkan tanaman. Namun, hal-hal seperti itu bisa dilakukan oleh Dajjal. Ia lebih mirip dengan Isa as.. Sebab itulah ia sering disebut sebagai al-Masih ad-Dajjal. Sementara Isa as. sendiri disebut dengan al-Masih bin Maryam.

Isa as. (al-Masih bin Maryam) dan Dajjal
Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Pada suatu malam aku bermimpi di dekat Kakbah, melihat seorang lelaki berkulit sawo matang, seperti warna coklat paling bagus yang pernah engkau lihat. Dia berambut gondrong, gondrong terbaik yang pernah engkau lihat. Dia menyisir rambutnya dan masih tampak menetes airnya. Dia bersandar kepada dua orang atau pundak dua orang lelaki, melakukan tawaf di Kakbah. Aku bertanya: Siapakah orang ini? Dijawab: Ini adalah Masih bin Maryam. Tiba-tiba aku melihat seorang lelaki yang sangat keriting, mata kanannya buta seakan-akan mata itu buah anggur yang mengapung (matanya melotot). Aku bertanya: Siapakah ini? dijawab: Ini adalah al-Masih ad-Dajjal.
(HR. Muslim)

Dajjal adalah pembohong paling besar
Semenjak diciptakannya Adam hingga datangnya hari kiamat tidak ada makhluk yang lebih besar (kebohongannya) daripada Dajjal. (HR. Muslim)

Dajjal memiliki sungai dan gunung roti
Hadis riwayat Mughirah bin Syu`bah ra., ia berkata:
Tak seorang pun bertanya tentang Dajjal kepada Rasulullah saw. lebih banyak dari pertanyaanku kepada beliau dalam persoalan itu. Maka beliau bersabda: Wahai anakku! Apa yang membuatmu berpayah-payah memikirkannya? Sesungguhnya ia (Dajjal) tidak bakal membahayakanmu. Aku (Mughirah) berkata: Orang-orang beranggapan, bahwa ia akan memiliki sungai-sungai air dan gunung-gunung roti. Rasulullah saw. bersabda: Yang lebih dari itu, sangat mudah bagi Allah.
(HR. Muslim)

Dajjal akan memasuki semua negeri kecuali Makkah dan Madinah
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada satu negeri yang tidak dimasuki Dajjal, kecuali Mekah dan Madinah, dan tidak ada satu jalan di Madinah, kecuali terdapat malaikat yang berbaris menjaganya. Maka Dajjal singgah di daerah rawa, kemudian Madinah bergoncang tiga kali goncangan, sehingga seluruh orang kafir dan munafik keluar dari sana menuju ke tempat Dajjal.
(HR. Muslim)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Di setiap jalan-jalan Madinah itu terdapat malaikat (yang menjaga) agar tidak dimasuki wabah penyakit dan Dajjal.
(HR. Muslim)

Ada tanda yang bertuliskan “Si Kafir” di antara kedua matanya
Hadis riwayat Anas bin Malik ra. ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tidak seorang nabi kecuali ia telah memperingatkan kaumnya terhadap sang pendusta yang buta sebelah mata. Ketahuilah bahwa Dajjal itu buta sebelah matanya sedangkan Tuhanmu tidak buta sebelah mata dan di antara kedua matanya tertulis "kaaf", "faa", "raa" (si “kafir”).
(HR. Muslim)

Akan bisa membaca (tanda tersebut) semua mukmin yang bisa menulis ataupun tidak. (HR. Muslim)

Pengikut Dajjal
Akan mengikuti Dajjal dari kaum Yahudi Ashbahan (sebuah kota di Iran) 70.000 orang, (tanda) mereka memakai thayalisah (sejenis kain yang dipakai di pundak).” (HR. Muslim)

Yahudi memang benar-benar pelopor reformasi terbalik.

Dajjal bisa mengeluarkan perbendaharaan bumi (semacam harta karun)
...Dia mendatangi reruntuhan dan berkata: ‘Keluarkanlah perbendaharaanmu.’ Maka keluarlah perbendaharaannya mengikuti Dajjal seperti sekelompok lebah. (HR. Muslim)

Dajjal bisa membunuh seseorang lalu menghidupkannya, tapi tak sepenuhnya “selalu” bisa
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:
Suatu hari Rasulullah saw. pernah bercerita kepada kami suatu cerita panjang tentang Dajjal. Di antara yang beliau ceritakan kepada kami adalah: Ia akan datang tetapi ia diharamkan memasuki jalan-jalan Madinah, kemudian ia tiba di tanah lapang tandus yang berada di dekat Madinah. Lalu pada hari itu keluarlah seorang lelaki yang terbaik di antara manusia atau termasuk manusia terbaik menemuinya dan berkata: Aku bersaksi bahwa kamu adalah Dajjal yang telah diceritakan Rasulullah saw. kepada kami. Dajjal berkata: Bagaimana pendapat kalian jika aku membunuh orang ini lalu menghidupkannya lagi, apakah kamu masih meragukan perihalku? Mereka berkata: Tidak! Maka Dajjal membunuhnya lalu menghidupkannya kembali. Ketika telah dihidupkan, lelaki itu berkata: Demi Allah, aku sekarang lebih yakin tentang dirimu dari sebelumnya. Maka Dajjal itu hendak membunuhnya kembali, namun ia tidak kuasa melakukannya.
(HR. Muslim)

Dajjal membawa gambaran surga dan neraka dengan “penampakan” yang terbalik
Maukah aku sampaikan kepada kalian tentang Dajjal yang telah disampaikan oleh seorang nabi kepada kaumnya? Dia buta sebelah, membawa sesuatu seperti surga dan neraka. Yang dia katakan surga pada hakikatnya adalah neraka, aku peringatkan kepada kalian sebagaimana Nabi Nuh ‘alaihissalam memperingatkan kaumnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

...Sesungguhnya bersama dia ada surga dan nerakanya, sungai dan air, serta gunung roti. Sesungguhnya surga (yang digambarkan/dibawa) Dajjal adalah neraka dan neraka (yang digambarkan/dibawa) Dajjal adalah surga. (HR. Ahmad)

Orang yang percaya (baca: beriman) kepada Dajjal akan hidup makmur
...Dia datang kepada satu kaum mendakwahi mereka. Merekapun beriman kepadanya, menerima dakwahnya. Maka Dajjal memerintahkan langit untuk hujan dan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman, maka turunlah hujan dan tumbuhlah tanaman…. (HR. Muslim)

Dajjal membawa air dan juga api dengan “penampakan” yang terbalik
Sungguh Dajjal akan keluar dan bersamanya ada air dan api. Apa yang dilihat manusia air sebenarnya adalah api yang membakar. Apa yang dilihat manusia api sesungguhnya adalah air minum dingin yang segar. Barangsiapa di antara kalian yang mendapatinya hendaknya memilih yang dilihatnya api, karena itu adalah air segar yang baik. (HR. Muslim)

Jangan ceroboh dalam mendekati Dajjal, karena dia adalah pembohong paling besar
Barangsiapa mendengar (keluarnya) Dajjal hendaknya menjauh darinya. Demi Allah, sungguh ada seorang yang mendatanginya merasa dirinya beriman tapi kemudian mengikuti Dajjal dikarenakan syubhat-syubhat (kejadian ajaib) yang dilontarkan (dipraktekkan) Dajjal. (HR. Ahmad)

Itulah Dajjal, kebohongannya adalah lebih besar dari kebohongan manusia manapun. Kebohongannya lebih besar dari pesulap modern, bahkan lebih besar dari para pejabat pemerintah dalam membuat janji-janji palsu terhadap rakyat!

Jelasnya adalah, Dajjal memiliki kemampuan yang mirip dengan kemampuan-kemampuan Allah dalam bertindak, sebagaimana Allah telah memberikan kemampuan-kemampuan seperti itu kepada Isa as. (al-Masih bin Maryam). Meskipun hal itu sangat…sangat… terbatas sekali.

Jadi, dengan kemampuan-kemampuan itulah Dajjal bisa melapisi kebohongan-kebohongannya, sehingga “klaim dirinya sebagai tuhan” dapat diakui. Konsekuensinya, ia bisa menjadi “tuhan” bagi mereka yang berpikiran dangkal. Dan dengan teori yang sederhana saja, (bagi mereka yang berpikiran “dangkal”)

“Siapa sih yang gak percaya atas ketuhanan Dajjal, sedangkan ia bisa melakukan –hampir seolah- segalanya (mematikan lalu menghidupkan, mendatangkan hujan, mendatangkan kesuburan, mengeluarkan perbendaharaan bumi, punya gunung roti, membawa semisal surga dan neraka, membawa air dan api, membawa sungai, dll)?”❓❗

Siapa sih yang gak percaya atas Dajjal yang mengaku “tuhan” dengan bukti-bukti seperti itu?! Sementara bani Israel (baca: Nasrani) saja percaya atas “perkataan seseorang” yang menyatakan bahwa Isa as. adalah tuhan, karena dia bisa melakukan banyak hal (menyembuhkan orang buta semenjak lahir, menghidupkan kembali bangkai/mayat, berjalan di atas air, mengubah batu menjadi emas, dll). Padahal Isa as. sendiri tak pernah berkata bahwa ia adalah tuhan!

Jadi, bisa diperkirakan bahwa pengikut Dajjal yang paling banyak adalah dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan orang-orang Islam (yang ceroboh dan berpikiran “dangkal”).

Dan, bagi Anda yang menganggap bahwa Isa as. itu tuhan, maka berhati-hatilah karena ada orang yang akan mengaku menjadi tuhan, dan ia memiliki kemampuan setara dengan Isa as., yakni Dajjal. Dan konsep “trinitas” Anda akan menjadi kacau atas kehadirannya.

Lama Dajjal tinggal di Bumi
Dajjal akan tinggal di bumi selama 40 hari satu hari pertama bagaikan satu tahun, satu hari kedua bagai satu bulan satu hari ketiga bagaikan satu pekan. Hari berikutnya bagaikan hari-hari biasanya. Dalam keadaan seperti ini setiap muslim tetap melaksanakan shalat sebagaimana hitungan satu tahun, satu bulan dan satu pekan. (HR Muslim)

Jadi Dajjal memang tidak lama tinggal di bumi, hanya saja terasa lama!

Siapakah yang akan mengakhiri “episode” kehidupan Dajjal dan tentaranya?
Pada hari terakhir dari pengembaraannya di bumi sampailah Dajjal di Palestina lalu bertemu dengan pasukan Imam Mahdi yang baru kembali dari penaklukan Konstantin, saat itu ia telah bersama Isa AS. Ketika Dajjal melihat Nabi Isa tubuhnya meleleh seperti melelehnya garam dalam air. Lalu Nabi Isa mengejarnya hingga sampailah ia disebuah tempat bernama pintu Lodd, disitulah Nabi Isa menikamya dengan sebilah tombak kemudian tombak yang berlumuran darah itu ditunjukkan kepada kaum muslimin selanjutnya 70000 kaum Yahudi pengikut Dajjal akan dibunuh semuanya sehingga mereka akan bersembunyi di batu-batu dan pohon-pohon namun semuanya memberi tahu keberadaan Yahudi yang bersembunyi dibaliknya kecuali pohon Gharqad. (Al Fitan Wal Malahim 1:128-129)

Ingin menghindari fitnah (dampak kebohongan) Dajjal?
Salah satu caranya adalah dengan menghafal 10 ayat pertama surat al-Kahfi.
Barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, akan terjaga dari fitnah Dajjal. (HR. Muslim)

Apakah Anda sudah hafal?

Saya juga belum hafal, dan masih berniat untuk menghafalnya.

Namun, selain dengan amalan di atas, tentu saja seorang muslim itu harus menjadi orang-orang Islam yang benar dengan mengamalkan rukun Islam. Karena “trik” di atas hanya dikeluarkan oleh “hadits” (yang merupakan sumber hukum ke-2), sementara sumber hukum Islam yang utama (al-Qur’an) telah memerintahkan manusia untuk beriman (menjadi Islam) kemudian beramal saleh (shalat, sedekah/zakat, puasa, haji). Itulah orang Islam yang benar, dan kemungkinan besar akan selamat dari “kebohongan” Dajjal. Ingat, Dajjal itu selalu mencari downline (baca: pengikut).

Yaa Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari sikap “ceroboh”, berpikiran “dangkal”, dan dari Dajjal saudara Bush, keluarga bani Israel. *)

(* setiap pembohong adalah saudara Bush dan setiap pembangkang (kufur) adalah bagian dari bani Israel)
 
 

 

« 10 » Kebohongan-Kebohongan Besar Lainnya

Selain membahas masalah-masalah kebohongan orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam, ada beberapa kebohongan besar lainnya yang juga perlu Anda ketahui. Kebohongan besar berikut memang terlihat sepele, namun akan mengubah wawasan (cara pandang) Anda tentang “bagaimana kondisi kehidupan dunia yang sebenarnya”.

Kebohongan Para Tokoh Jurnalis (Media Massa/Berita)

Percayakah Anda bahwa banyak berita-berita besar yang telah direkayasa?

Pihak jurnalis (penerbitan berita) sudah tidak bisa dipercaya begitu saja. Mereka telah melakukan kebohongan dengan memanipulasi berita yang ada. Atas perintah siapa? Siapa lagi kalau bukan oleh tokoh-tokoh Yahudi dan Nasrani yang terkemuka.

Contoh berita tersebut adalah masalah alasan invasi Amerika Serikat terhadap Irak beberapa tahun yang lalu. AS melakukan invasi ke irak dengan alasan “karena Irak punya senjata pembunuh massal.” Bukankah begitu?

Namun, sampai saat ini tidak ada senjata pembunuh massal yang ditemukan di irak. Mereka mengadakan kebohongan terhadap publik. Mereka telah membodohi-bodohi masyarakat luas.

Untuk apa mereka melakukan hal itu?

Untuk mendukung kebijakan si Bush[uk] dalam melakukan invasi (penyerangan) terhadap Irak. Dengan kata lain, George W. Bush[uk] hanya ingin membuat alasan yang cukup “manis” kepada publik (tindakan yang seolah-olah benar, tapi sebenarnya memang benar-benar “salah”).

Media massa benar-benar menutupi kebohongan-kebohongan si Bush[uk] dalam praktek invasi tentaranya ke Irak. Dan hal itu diperjelas dengan pertanyaan-pertanyaan berikut:

Mengapa media massa tidak banyak meliput tentang korban-korban rakyat sipil Irak yang jumlahnya ribuan orang itu?

Mengapa mereka lebih banyak meliput tentang pengiriman tentara, pengangkutan jenazah, bom, bantuan, ini itu, hal-hal sepele yang tak ada kaitannya dengan perikemanusiaan yang sebenarnya?

Mengapa mereka (pihak jurnalis) menutup-nutupi hasil investigasi intelijen internasional yang sebenarnya tentang penyelidikan mereka sehubungan dengan senjata pembunuh massal? Apakah karena senjata pembunuh massal itu tidak ada? Atau karena Bush[uk] tidak ingin disalahkan lebih jauh?

Simak perkataan para pakar Jurnalistik sehubungan dengan pemberitaan media massa Amerika.

Kebanyakan jurnalis yang muncul di media Amerika seharusnya malu jika bertatap mata dengan para pembaca, penonton, atau pendengar. Para jurnalis tulen, seperti Webb, membiarkan kita menjadi bagian kekonyolan negara, karena kita dianggap simbol kebenaran dan integritas. Kekonyolan yang memang pantas.” -David Hundter, 30 Juni 2003

“Bagaimanapun, kita belum pernah melihat kesalahan intelijen yang begitu sistematis dan sangat memanipulasi opini warga Amerika, sejak terakhir terjadi pada perang Vietnam.” -John Brady Keisling (Career US Diplomat | 27 Februari 2003)

“Dilaporkan lebih dari separuh warga Amerika percaya bahwa Saddam Hussein bertanggung Jawab atas serangan 11 September. Artinya, media Amerika Serikat amat sangat memalukan dan menyedihkan karena telah gagal menjalankan jurnalisme yang benar dan gagal membuat laporan berita yang akurat dan benar. Ini benar-benar gila! Media bertanggung jawab seratus persen karena memungkinkan semua ini (invasi ke Irak) terjadi. Mereka bersalah!” -Jerry D. Gray

Lihat: Kejanggalan tragedi 11 September (akan ditampilkan di jendela baru)

Kebohongan para Ilmuwan

NASA
Apakah Anda tahu NASA ‘kan? Itu lho, yang sering bicara seputar angkasa luas yang pernah mengatakan satelit Apollo mendaratkan dirinya di Bulan. Benarkah mereka berkata benar?

Kebohongan NASA dalam pendaratan misi Apollo telah terbongkar, meski perlu bertahun-tahun untuk secara “berani” mengungkapkannya secara resmi. NASA hanya mendaratkan astronot di pikiran (khayalan) mereka sendiri, bukan di Bulan! Untuk apa mereka melakukan kebohongan besar seperti itu? Tentu saja, untuk mencari alasan mengumpulkan dana, untuk penelitian lain yang gak jelas (yang tidak dijelaskan kepada Publik).

Lihat di sini: HOAX: manipulasi pendaratan di bulan. (akan ditampilkan di jendela baru)

AIDS
Para ilmuwan telah menyembunyikan kebenaran asal-usul AIDS selama puluhan tahun. Mereka tak pernah menjelaskannya secara detil tentang apa itu AIDS yang sebenarnya. Padahal mereka punya data yang terperinci tentangnya! Mereka menciptakan virus pembunuh itu dengan sengaja. Ya, virus itu adalah buatan (rekayasa sel kanker). Lihat di Asal-usul AIDS (akan ditampilkan di jendela baru)

Bahan kimia yang berbahaya
Anda pernah dengar Fluoride (Fluorida) yang merupakan bahan campuran dalam membuat pasta gigi. Sebagian para ahli telah menyatakan bahwa Fluorida adalah unsur yang berbahaya. Namun, sebagian besar mereka (yang sinting) malah menyatakannya baik untuk pasta gigi. Saya sebagai penulis artikel ini juga tahu tentang kebohongan tersebut beberapa waktu yang lalu. Unsur tersebut bisa menyebabkan kanker, kerusakan otak, retak panggul, dll. Jadi, lihatlah pasta gigi Anda, dan lihat komposisinya… apakah ada tulisan “contains fluoride”. Kemudian, berpikirlah seribu kali sebelum memutuskan untuk membelinya lagi.

Bahan Kimia lainnya yang sangat berbahaya, tapi ditutup-tutupi adalah Aspartame, dan FenilPropanolamin (penyebab pendarahan di otak).

Anda tertarik dengan literatur kebenaran yang menguak kebohongan media massa, dan kebohongan para ilmuwan (kimia)?

klik di sini untuk menuju ke halaman download E-Book (Dosa Media Amerika) (akan terbuka jendela baru)

Khayalan para ilmuwan

Manusia memang suka sekali mengkhayal, tak terkecuali para ilmuwan. Mengapa? Tentu saja, karena mereka juga manusia.❗ Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin tinggi pula daya khayalnya (imajinasinya).

Dan anehnya lagi, apa yang mereka khayalkan itu adalah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan.

Khayalan Ilmuwan Fisika
Mereka (NASA) mengkhayal tentang masa depan luar angkasa tentang sistem transportasi yang serba wah (canggih).

Apakah khayalan mereka tentang hal tersebut bisa diwujudkan?

TIDAK, karena mereka belum bisa mengatasi masalah-masalah sistem transportasi yang sederhana.

Misalnya, bukankah akhir-akhir ini seringkali terjadi kecelakaan pesawat udara? Mengapa mereka tak bisa menyelesaikan permasalahan itu?

Bukankah pesawat jet tempur Amerika seringkali mengalami kegagalan Uji coba? Apakah kerja mereka selama bertahun-tahun sudah maksimal? Lantas kenapa mereka membahas pesawat untuk ruang hampa udara kalau masalah pesawat dalam ruang yang berudara saja tidak beres? Aneh-aneh saja!❗

Kemudian, Bukankah di laut masih sering terjadi kecelakaan berupa tenggelamnya kapal laut oleh “angin”? Jika hambatan yang berupa “angin” saja tidak bisa diatasi oleh para ilmuwan, bagaimana bisa mereka merencanakan “kapal luar angkasa” yang harus mengatasi permasalahan “hujan meteor”?

Mereka juga mengkhayal untuk bisa tinggal di Mars. Itu adalah HOAX para ilmuwan modern. Perlu diketahui, bahwa HOAX ilmuwan modern jauh lebih cool (keren) ketimbang HOAX ilmuwan zaman dulu.

Bagaimana mungkin mereka bisa berpikir bisa tinggal di mars, sementara tinggal di padang pasir yang luas saja mereka belum mampu?!! Banyak gurun pasir kosong di muka bumi ini! Mereka juga belum berani untuk tinggal di kutub utara, meski mereka bisa menciptakan mesin pemanas buatan. Dan sekarang, mereka mengkhayal untuk tinggal di Mars?!! Sementara di Mars mengandung misteri yang lebih banyak ketimbang di Bumi. Kapan-kapan mereka mungkin akan mengkhayal untuk tinggal di Matahari.

Khayalan yang terlalu tinggi untuk bisa diwujudkan. Mereka seperti orang yang ingin terbang, sementara merangkak saja belum bisa. Selesaikan dulu yang sederhana, baru bahas yang rumit. Itu prosedurnya!

Lihat khayalan mereka untuk tinggal di Mars: mari mengungsi ke Mars.

Tentang Nanoteknologi…
Ada ilmuwan (ahli kimia) yang mengkhayal tentang penggunaan Nanoteknologi. Dengan pemanfaatan Nanoteknologi, mereka berharap bisa membersihkan pakaian tanpa air, memperbaiki kerutan wajah tanpa “lotion”. Apa mereka ingin melawan proses penuaan? Entahlah, yang jelas khayalan mereka masih terlalu tinggi.

Mengapa?

Karena mereka, para ahli kimia itu, belum sepenuhnya mampu mengaplikasikan teori sederhana tentang penguraian molekul menjadi unsur-unsur pembentuknya. Sebagai contoh sederhananya adalah, seperti yang kita ketahui, molekul air bisa diuraikan menjadi unsur-unsur pembentuknya yang berbentuk gas, yakni oksigen dan hidrogen. Dan jika para ahli kimia memang benar-benar menguasai teori penguraian molekul suatu senyawa menjadi unsur-unsur penyusunnya, mengapa mereka tidak menguraikan molekul-molekul “lumpur Lapindo” menjadi unsur-unsur penyusunnya? Bukankah dengan menguraikan molekul “Lumpur Lapindo” menjadi unsur-unsur penyusunnya (yang berbentuk gas), keadaan di Sidoarjo menjadi pulih? Apakah mereka bisa melakukan demikian?

Jika tidak bisa, mengapa mereka mengkhayal yang aneh-aneh?!! Karena masalah yang jelas saja belum bisa dipecahkan, tapi mereka berusaha memecahkan permasalahan yang gak jelas. Tampak gak jelas ‘kan permasalahannya?!❗

Klik di sini untuk melihat artikel tentang Nanoteknologi.

Tentang penerapan Bio-Teknologi
Mereka, para pakar bio-Teknologi juga tak kalah dalam mengkhayal. Kebanyakan khayalan mereka menyangkut masalah rekayasa genetis, transplantasi organ yang canggih, cloning, replika sel, sehingga bisa menghasilkan manusia super.

Khayalan mereka itu asal-asalan. Karena dalam kenyataannya, selama puluhan tahun terakhir mereka masih belum bisa mengatasi virus klasik yang bernama “HIV AIDS”. Mereka juga tak bisa dengan mudah mengatasi virus flu burung, flu babi, dll.

Lihat HOAX nya di Manusia Kloning

Sebenarnya masih banyak khayalan ilmuwan modern yang lain. Kegiatan khayal-mengkhayal telah dilakukan oleh banyak ilmuwan semenjak zaman dahulu.

Apakah Anda suka mengkhayal?
Sebenarnya, saya juga suka mengkhayal,
Tapi “Mengkhayal” tidak boleh sembarangan, bahkan ia juga ada tekniknya. Apakah ada teknik mengkhayal yang baik?

Tentu saja ada yakni, Anda harus mengkhayal “yang pasti-pasti” aja. Jangan “yang mustahil”, “gak pasti” atau yang “masih diragukan”.

Khayalan yang pasti itu, misalnya tentang kematian.

Setiap jiwa akan merasakan kematian. … (QS. Ali ‘Imran: 185)

Jadi, mengkhayal-lah tentang kematian. Saat-saat mendebarkan ketika maut menjemput, saat-saat mengharukan ketika akan di kubur, saat-saat awal berada di dalam tanah sendirian, saat semua sudah terlambat, saat tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk memperbaiki keadaan, saat tak ada lagi yang bisa diharapkan, dan saat penyesalan sudah tiada berguna.

Jadi, jangan mengkhayal yang aneh-aneh. Dan jangan percaya pada apa yang “dikhayalkan” oleh para ilmuwan. Mereka tak punya dasar yang kuat (jelas) atas apa yang mereka katakan. Mereka hanya menduga, mengira-ngira, dan kadang bermimpi. Mereka juga masih seringkali menyembunyikan fakta. Padahal, kebenaran itu harus berasal dari sumber yang benar (orang jujur). Para ilmuwan bukan sumber kebenaran mutlak (100%), karena mereka masih menutup-nutupi kebohongan (misal tentang asal-usul AIDS, dampak Fluorida, dll). Begitu juga tentang media massa, mereka juga tak bisa disebut sebagai sumber kebenaran mutlak (100%), karena mereka masih memanipulasi keadaan yang sesungguhnya di lapangan (misal, data korban akibat invasi Amerika ke Irak). Begitu juga tentang lembaga-lembaga riset dan penelitian, seperti NASA, ia juga tak bisa disebut sebagai sumber kebenaran mutlak (100%), karena NASA seringkali membuat cerita-cerita HOAX (kebohongan), seperti misi pendaratan Apollo di Bulan.

Kuncinya adalah, jika Anda mendengar suatu kebenaran, maka perhatikan sumbernya, apakah dari “si Jujur”, “Si Pendusta”, atau dari seseorang yang masih “belum jelas” modelnya (kadang benar, kadang bohong, atau kadang selalu bohong). Hal ini dimaksudkan agar Anda mampu melakukan “pertimbangan” untuk tidak ceroboh dalam mempercayai “suatu hal”. Dan sebenarnya, kebenaran tidak pernah disampaikan oleh pembohong, kecuali karena “kebetulan” semata.
 
 

 

« 11 » Kesimpulan

Kebohongan-kebohongan orang yahudi dan nasrani adalah kebohongan yang sangat parah, karena mereka telah mengubah versi al-Kitab mereka yang standar. Sehingga komposisi kebenaran “al-Kitab” mereka tidaklah mutlak “100%”. Al-Kitab mereka telah tercampur antara yang hak (benar) dan yang bathil (kebohongan). Akibatnya, banyak orang setelah generasi mereka yang tersesat, karena acuan utama agama mereka telah dirubah.

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya).
Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang hak dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?
(QS. Ali ‘Imran: 70-71)

Sedangkan, kebohongan-kebohongan yang diperbuat oleh orang-orang Islam, merupakan kebohongan yang masih bisa “dikendalikan” karena Allah telah menjamin kemenangan (kemurnian) agama Islam, meski orang-orang musyrik tidak suka.

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci. (QS. ash-Shaff: 9)

Islam juga kebal terhadap virus “hujatan” (serangan) orang-orang kafir yang ingin merancukan atau mencampur-adukkan “kebenaran dan kebohongan” dalam ajaran Islam. Misal mereka ingin mengubah al-Qur’an, membuat hadits palsu, dan memprovokasi aliran-aliran sesat yang bernuansa Islam. Usaha mereka akan sia-sia karena Islam telah dijamin kemenangannya.

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (QS. ash-Shaff: 8)

Jadi, inilah alasannya kenapa selama 14 abad Islam masih tetap bertahan dengan konsep ketuhanan yang murni dan dengan Kitab (al-Qur’an) yang tidak berubah, meskipun orang-orang ataupun negara-negara yahudi dan nasrani mempelopori banyak kesesatan dalam ajaran (peribadatan) agama Islam, misal mereka membuat “sajadah” (alas shalat) yang bermotif “anjing”, mereka juga membuat kaos yang bertuliskan kaligrafi Islam yang dilecehkan, bahkan mereka membuat beberapa kaligrafi (tulisan) bernuansa ajaran yahudi/nasrani sehingga seolah-olah tampak sebagai kaligrafi Islam. Ya, meski orang Islam sendiri tidak sedikit yang membelinya (karena ceroboh!), tapi kemurnian Islam tidak terpengaruh oleh hal itu. Islam tidak rancu, tidak buram dan tidak kacau. Sehingga jika ada orang melihat Islam sebagai suatu agama yang rancu, buram, dan kacau…, maka sebenarnya, penglihatan orang itulah yang rancu, buram dan kacau.

Mengapa demikian?

Karena kebenaran pokok dalam Islam hanya bisa dilihat dari dua sisi saja, yakni al-Qur’an dan al-Hadits.

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin (Islam), bila mereka dipanggil kepada Allah (al-Qur’an) dan rasul-Nya (al-Hadits) agar rasul menghukum (menetapkan aturan) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar dan kami patuh (amalkan).” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (baca: benar). (QS. an-Nur: 51)

Jadi, kebenaran Islam bukan ditentukan oleh keadaan umat Islam itu sendiri, melainkan ditentukan oleh “sumber” ajarannya, yakni al-Qur’an dan al-Hadits. Sehingga selama seorang muslim mengikuti al-Qur’an dan Sunnah (al-Hadits) dengan benar, maka dialah muslim (orang Islam) yang benar, jika tidak maka, dialah orang Islam yang asal-asalan.
 
 

 

« 12 » Apakah Anda Sudah Islam?

Kita telah memasuki bagian-bagian akhir artikel ini. Sebab itu, sekarang saya akan bertanya kepada Anda dengan SANGAT serius:

Pertanyaan bagi Anda sebagai orang Islam:

“Apakah alasan Anda menjadi orang Islam?”

Apakah karena orang tua Anda Islam, kakek-nenek Anda Islam, dan sanak-keluarga Anda Islam?

Jika jawaban Anda seperti itu, maka ketahuilah, Anda seperti seorang yang makan “nasi” lalu ditanya:

“Mengapa engkau makan nasi?” Lalu ia menjawab, “karena orang tua saya makan nasi, kakek-nenek saya makan nasi, dan sanak-keluarga makan nasi…, maka saya juga makan nasi.”

Sehingga, konsekuensinya adalah: jika mereka semua berhenti makan nasi dan mereka memutuskan untuk makan tanah, maka Anda pun -sepertinya- akan makan tanah, karena tindakan Anda dipengaruhi oleh tindakan mereka.

Bukan begitu alasan yang benar dalam menjawab pertanyaan tentang “nasi”! Alasan yang benar adalah, karena dalam “nasi” terkandung karbohidrat yang tinggi untuk mencukupi kebutuhan energi tubuh. Itulah jawaban yang benar, sehingga jika keluarga Anda memutuskan untuk memakan yang lain, yakni yang tak berguna (semisal, tanah), maka Anda punya cukup alasan untuk tidak mengikutinya.

Begitu juga tentang jawaban dari pertanyaan “Apakah alasan Anda menjadi orang Islam?” Jawaban yang benar adalah karena Islam memang agama yang benar. Islam telah dijelaskan secara gamblang melalui literatur yang terjamin keasliannya, yakni al-Qur’an, yang dibawa oleh orang yang jujur, Muhammad saw.. Sehingga jika Anda ditakut-takuti oleh orang lain dalam hal kekufuran (pengingkaran), maka Anda cukup punya ruang (baca: alasan) untuk menolak “kebohongan” tersebut. Karena dunia saat ini sangat rawan dengan “data-data” (informasi) yang melemahkan “Islam” sebagai agama yang benar.

Dan bagi Anda non-muslim, khususnya yang beragama Nasrani. Ada pertanyaan yang serupa bagi Anda:

“Apa alasan Anda memeluk agama Nasrani sementara Anda hidup di masa risalah kenabian Muhammad saw.?”

Setiap orang harus mengikuti risalah Nabi Muhammad saw., karena masa sekarang adalah masa kenabian Muhammad saw.. Bahkan meskipun Musa as. (pelopor agama yahudi) masih hidup sampai sekarang, maka ia harus tetap mengikuti Muhammad saw..

Rasulullah saw. bersabda:
Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup maka tidak ada pilihan baginya kecuali harus mengikutiku. (HR. Ahmad)

Jika tidak, maka orang tersebut telah tersesat.

Rasulullah saw. bersabda:
Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Musa berada di tengah-tengah kalian, lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, maka pastilah kalian telah tersesat dengan kesesatan yang jauh. (HR. Ahmad)

Apakah Anda mengingkari kenabian Muhammad saw. yang telah membawa bukti yang sangat nyata (al-Qur’an)? Atau, apakah Anda memeluk agama “Nasrani” hanya karena orang tua Anda beragama nasrani, dan sanak-keluarga Anda juga beragama nasrani?

Dan untuk Anda yang beragama Hindu, mengapa Anda beragama Hindu? Apakah karena keluarga Anda beragama Hindu?

Dan bagi Anda yang beragama Budha, mengapa Anda beragama Budha? Apakah karena keluarga Anda beragama Budha?

Dan untuk mereka yang beragama lainnya,
Mengapa Anda memeluk agama selain Islam? Apakah karena ingin menyesuaikan dengan agama keluarga?

Ketahuilah, hidup hanya satu kali. Setiap orang seringkali berpikir panjang untuk hal-hal yang sepele, semisal tentang makanan apa yang ingin dimakan. Sehingga untuk makan “jeruk” saja, orang pasti punya seribu satu alasan yang kuat akan perbuatannya itu, misal karena kaya vitamin C, untuk menghilangkan dahaga, rasanya manis, baik untuk kesehatan, pencegah sariawan, mengobati panas dalam, dll.

Nah, bagaimana halnya dengan perkara “Agama” yang merupakan perkara paling besar dalam kehidupan ini? Karena “Agama” lah yang menentukan keadaan seseorang di akhirat kelak. Ketahuilah, dunia ini bukanlah kehidupan yang sebenarnya. Sehingga, kesalahan Anda dalam memilih “agama” bisa berakibat fatal bagi kehidupan Anda di akhirat. Dan jika Anda telah sampai di akhirat, Anda tak akan pernah bisa kembali ke dunia ini, seperti halnya seseorang yang tak akan mungkin pernah bisa kembali lagi ke dalam rahim (kandungan) ibunya setelah ia dilahirkan.

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan (QS. al-Mukminun: 99-100)

Berhentilah bermain-main dengan perkara agama!

Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al Qur’an itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafa’at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu. (QS. al-An’am: 70)

Dan apabila seseorang telah memasuki neraka, maka baginya tidak ada jalan keluar daripadanya.

Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti (kekafiran): “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka. (QS. al-Baqarah: 167)

Anda akan sangat menyesal, karena melupakan sebuah kitab kebenaran (baca: al-Qur’an) yang hanya setebal ±300 halaman.

Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Qur’an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Qur’an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak (benar), maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafaat bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?” Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan. (QS. al-A’raf: 53)

Dunia adalah sebuah Game (permainan). Dan kehidupan akhirat ditentukan oleh skor (nilai ketaqwaan) yang diperoleh dari permainan (kehidupan dunia) ini.

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS. al-An’am: 32)

Kehidupan dunia jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat, adalah sesuatu yang SUAA…NGATTT… kecil!❗

Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (QS. ar-Ra’d: 26)

Perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya (itulah dunia!). (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Sebab itu bagi Anda yang non-muslim, terimalah kebenaran Islam dengan hati yang lapang, sadar, dan penuh tanggung jawab. Islam telah menguraikan kebenaran dengan sangat jelas dan terperinci, begitu juga dalam hal menguraikan kebohongan.

TAK ADA YANG BISA MEMBANTAH KEBENARAN ISLAM, TERMASUK JUGA YAHUDI, NASRANI ATAUPUN LAINNYA. KARENA TAK ADA HUJJAH (BANTAHAN) DALAM ALKITAB MEREKA TENTANG ISLAM. DAN WALAUPUN ADA, PASTI MEREKA TELAH MERUBAHNYA. SEDANGKAN QUR’AN YANG MERUPAKAN KITAB AGAMA ISLAM PUNYA KOREKSI UNTUK SEMUA AGAMA YANG ADA DI DUNIA INI, TAK TERKECUALI AGAMA ORANG-ORANG MUSYRIK (AGAMA SELAIN AGAMA SAMAWI).

Sebab itu, bagi Anda yang mau menerima kebenaran Islam, maka ketahuilah bahwa al-Qur’an telah memberikan kabar baik untuk Anda,

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik (taat), bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 25)

Dan jangan bersikap minder (berkecil hati), karena kita (mukmin) adalah EFE: Elite Force Entity (Unit Kesatuan Golongan Berkelas).

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali ‘Imran: 139)

Namun, jika Anda tetap mengingkari kebenaran Islam, maka ketahuilah bahwa artikel ini hanyalah peringatan. Anda bisa memilih di antara dua pilihan, yakni “menerima” atau “mengabaikan”. Tak ada keharusan bagi saya selain menyampaikan “kebenaran” yang memang benar-benar nyata kebenarannya, dan membantah “kebohongan” yang memang benar-benar nyata kebohongannya.

Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan (Kiamat), (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman. (QS. Maryam: 39)

Dan jangan pernah berpikir bahwa masa hidup Anda di dunia ini adalah suatu yang baik!

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan (Neraka). (QS. Ali ‘Imran: 178)

Dan sesungguhnya setiap orang kafir akan memiliki pandangan yang sangat jelas ketika kebenaran (kehidupan akhirat) itu telah tersingkap (disaksikan sendiri).

Alangkah jelasnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami. Tetapi orang-orang yang lalim (kafir) pada hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata. (QS. Maryam: 38)

Anda pun bisa mendebat kami sesuka hati Anda. Tapi itu hanya di dunia! Lantas, bagaimana Anda akan mendebat Allah untuk membela diri Anda ketika semuanya telah sangat jelas (di hari kiamat)?❓

Beginilah kamu (orang kafir), kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang jadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)? (QS. an-Nisa’: 109)

Dan jangan sungkan untuk bersenang-senang!

Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka”. (QS. Ibrahim: 30)

Begitulah sikap orang-orang kafir yang tak mau menerima kebenaran al-Qur’an semasa mereka di dunia. Mereka telah diberi keterangan yang jelas, namun tetap tidak mau berubah. Akibatnya, ketika mereka telah divonis (diputuskan) perkara “kekufuran” (pembangkangan) mereka maka, saat itulah penyesalan mereka tiada berguna, meski mereka menangis dengan air mata darah sekalipun. Ini, sebenarnya bisa dianalogikan (dipermisalkan) dengan seorang perokok yang tak “mengindahkan” peringatan seorang dokter akan “dampak buruk” dari perbuatannya itu jauh-jauh hari sebelumnya, padahal perokok itu telah nyata-nyata melihat banyak orang yang sesak napas dan mengalami gangguan paru-paru akibat rokok yang akhirnya mengalami kematian yang mengenaskan. Akibatnya adalah, pada akhirnya perokok itu sendiri menderita penyakit “radang paru-paru” yang parah, hingga ia “membenarkan” perkataan sang dokter, dan ia juga “berhenti” merokok. Namun, saat itu sudah terlambat, karena dia telah sekarat dan ajalnya ada di sela-sela nafasnya yang tertatih-tatih. Tak ada gunanya penyesalan jika semua sudah terlambat, dan tak ada gunanya iman jika “kematian” telah menjemput. Sebagaimana Fir’aun yang ditolak “keimanannya” di saat akhir-akhir hayatnya (saat ditenggelamkan di laut merah).❗
 
 

 

« 13 » Penutup

Kebenaran itu sudah sangat jelas, dan kebohongan itu juga sudah sangat jelas. Jika ada orang yang berkata bahwa kebenaran itu tidak jelas atau kebohongan itu tidak jelas maka, orang itulah yang sebenarnya gak jelas (baca: tidak belajar). Karena al-Qur’an telah menjelaskannya secara jelas, terperinci dan nyata (dengan contoh/kisah/perumpamaan).

Pentingnya mempelajari al-Qur’an

Al-Qur’an adalah algoritma kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan ini berjalan seperti perkataannya, suka atau tidak suka. Sehingga jika Anda mengikuti al-Qur’an (beriman dan beramal shaleh) maka, ketahuilah bahwa Anda telah mengikuti kebenaran dan Anda hanya tinggal menunggu waktu untuk diberikan banyak kekayaan (hikmah: kepuasan bathin).

Bukankah sebuah benih jika ditanam dan dirawat dengan baik akan semakin tumbuh subur dan semakin jelas bentuknya, semakin jelas wujudnya, dan akhirnya menjelma sebagai pohon yang sebenarnya dan berbuah?! Dan pemiliknya lah yang bisa menikmati buahnya. Begitulah perumpamaan orang yang mengikuti petunjuk, dia akan semakin tahu, semakin mengerti, dan semakin paham. Bahkan, tak seorangpun menjadi nabi, melainkan ia harus mengikuti petunjuk yang sederhana (ditempa/dibina) terlebih dahulu. Dan tak seorangpun yang menjadi profesor kecuali ia harus lulus mengeja A-Z dan hafal semua angka desimal 0-9!

Mengapa Anda tak mau mempelajari al-Qur’an?
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. al-Qamar: 17)

Mengapa Anda meremehkan al-Qur’an?
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. al-Qamar: 32)

Apakah Anda menemukan sesuatu yang lebih baik dari al-Qur’an?
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. al-Qamar: 22)

Apakah Anda benar-benar ingin mengingkari kebenaran al-Qur’an yang telah sangat fasih dalam menjelaskan kebenaran dan kebohongan?
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. al-Qamar: 40)


Al-Qur’an adalah Kitab yang berisi penjelasan, petunjuk, dan hikmah (pelajaran) bagi mereka yang taqwa (taat/benar).
(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali ‘Imran: 138)

al-Qur’an adalah ancaman bagi mereka yang ingkar (kafir) terhadapnya
Ini (Al Qur'an) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Tuhannya bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih. (QS. al-Jatsiyah: 11)

Sesungguhnya al-Qur’an adalah kebenaran yang sangat nyata
Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al Qur’an yang merupakan ayat-ayat (keterangan) yang nyata; dan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (QS. al-Hajj: 16)

Al-Qur’an adalah pelajaran bagi orang-orang yang berakal
(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (QS. Ibrahim: 52)

Tidak ada yang mendustakan al-Qur’an kecuali orang yang sakit
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak (tuli), bisu dan berada dalam gelap gulita (buta). Barang siapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus. (QS. al-An’am: 39)

Tentang artikel ini

Artikel ini bukan dibuat oleh seorang ustadz, bukan oleh seorang kiai, dan bukan juga dibuat oleh seorang santri, bukan pula oleh ahli tafsir. Artikel ini dibuat oleh seorang anak dengan latar belakang pendidikan sebagai programmer spesialis analisis dan perancangan sistem (database). Saya mengumpulkan banyak literatur dan memadukannya sebagai rangkuman kecil untuk menggempur kebohongan. Dan kebenaran itu selalu open source (terbuka untuk dipahami), manusialah yang malas untuk memahaminya. Kita tidak perlu jadi kiai untuk memahami kebenaran Islam. Kita juga tak perlu menjadi seorang ustadz untuk memahami kebenaran akhirat. Kita bahkan (jika tidak suka), tak perlu mondok untuk paham kebenaran. Kita hanya perlu membaca (baca: belajar)! Itulah wahyu yang pertama kali turun kepada Muhammad saw. (Bacalah!, pahamilah!). Kita bisa belajar dengan cara apapun, tapi dengan cara yang benar, bisa dengan cara mondok, atau bisa melalui membaca kitab-kitab terjemahan, atau bertanya kepada ustadz yang punya otoritas dalam memberikan penjelasan suatu hukum, atau mendengarkan ceramah agama dari para ustadz atau kiai.

Kita tak boleh punya pedoman yang “statis”, bahwa untuk memahami kebenaran (dalam agama) adalah harus dengan mondok. Bukan seperti itu! Berapa banyak orang ber-title “KH.” tapi tak tahu apa-apa? Mereka malah rebutan kursi di DPR/MPR. Berapa banyak santri tapi masih belum jelas pemikirannya? Berapa banyak ahli fiqih tapi masih suka memutar balikkan fakta? Berapa banyak orang ber-title “S.Ag, MSc., Lc., Dr., DR, Ir., Prof.” tapi mereka tak mampu memahami (baca: menerima) kebenaran al-Qur’an? Jelasnya, berapa banyak orang yang tampaknya benar (baca: pintar) tapi sebenarnya salah (baca: bodoh)?

Saya hanya seorang Islam yang biasa-biasa saja. Meskipun saya orang Islam, tapi saya tidak mau menjadi orang Islam hanya karena alasan “klasik”, karena keluarga saya Islam. Tidak! Setiap orang harus punya alasan yang jelas (kuat) untuk setiap hal yang dilakukannya. Dan alasan itulah yang saya cari bertahun-tahun.

Meskipun saya bukan seorang ahli tafsir al-Qur’an, tapi saya suka mendengarkan ceramah para ulama’ -yang terkadang didalamnya berisi- tentang tafsir al-Qur’an (meskipun hal itu melalui radio), atau membaca buku agama yang di dalamnya –secara kebetulan- terdapat tafsir al-Qur’an. Saya juga bukan ahli hadits, tapi saya suka baca buku-buku hadits. Meskipun saya tidak punya kemampuan menghafal yang baik, tapi paling tidak saya berusaha memahami maksud bacaan saya dengan sebaik mungkin.

Sebagai seorang Islam, saya hanya melakukan satu hal yang paling dominan dalam keislaman saya, yakni saya hanya menjalani prosedur keislaman yang standar, yaitu mengamalkan Rukun Islam. Yang di dalamnya terdapat perintah shalat, puasa, zakat, haji (bila mampu, -dan saya belum pernah haji). Selama bertahun-tahun saya lakukan hal itu, apapun keadaan saya, apakah saya lagi mood, stress, pusing, patah hati, depresi karena tidak lulus ujian, sedang kesal, lagi sibuk,… apapun, saya tetap usahakan untuk mengamalkan rukun Islam, meskipun pada dasarnya saya masih belum bisa ke masjid untuk shalat berjamaah. Dan, mungkin karena rutinitas (konsistensi) saya dalam melaksanakan “Rukun Islam” itulah, banyak kebenaran yang terbuka di depan hati saya. Saya memperoleh banyak hikmah, meski sangat sedikit tapi jika disyukuri akan bertambah dengan kelipatan bilangan yang tak terhingga.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)

Dan dengan hikmah itu jiwa saya menjadi cukup kenyang (puas) meski tanpa harus membaca buku-buku filsafat orang Yunani ataupun menghabiskan sajak-sajak karya Khalil Gibran, atau meneguk habis puisi-puisi Khairil Anwar.

Banyak jalan menuju Roma, tapi sedikit sekali orang yang mau ke sana. Banyak jalan untuk memperoleh ilmu, tapi sangat jarang sekali orang yang menginginkannya. Belajarlah, wahai saudaraku! Hanya itu satu-satunya cara untuk keluar dari kebodohan. Tak ada yang mencintai kebodohan, selain orang-orang kelas bawah.

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunah) kepada siapapun yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS. al-Baqarah: 269)

Lihatlah ayat di atas, Hikmah (pelajaran berharga) diberikan kepada siapapun, tak terkecuali orang yang tidak terpelajar (tidak sekolah, tidak mondok). Karena pada zaman nabi pun, banyak orang yang buta huruf, tapi mereka banyak paham tentang kebenaran (agama). Melalui apa? Mereka belajar dengan cara mendengarkan, atau bertanya satu sama lain (sharing). Dan mereka tidak keras kepala dalam belajar, mereka tunduk dan patuh, bahwa kebenaran itu hanya milik Allah dan Rasul-Nya. Itulah kunci memahami kebenaran, membuang egoisme jauh-jauh. Dan seperti kita tahu, “egoisme” inilah yang juga menyebabkan Iblis dikeluarkan dari kebenaran (baca: Surga).

Akhirnya, saya hanya dapat berkata: saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Dan Isa bin Maryam adalah hamba-Nya, anak hamba-Nya dan Kalimat-Nya yang telah dipilih menjadi nabi bagi bani Israel. Dan saya bersaksi bahwa al-Qur’an adalah Kitab yang tiada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang sebenarnya.

Doa

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu”, maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti (taat/patuh). (QS. Ali ‘Imran: 193)

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imran: 8 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: