Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Metodologi Kebenaran [3]: Analisa Kebenaran-Kebenaran Besar dalam Hidup

leave a comment »


Artikel ini merupakan INTI dari artikel Metodologi Kebenaran. Sebab itu, jika Anda tidak memahami kedua artikel sebelumnya (Metodologi Kebenaran [1] dan Metodologi Kebenaran [2]), maka –sepertinya– tak akan banyak gunanya Anda membaca artikel ini.

Ada beberapa kebenaran yang besar dalam hidup ini yang seringkali diragukan oleh kebanyakan manusia, yakni:


  1. Apakah Islam itu memang agama yang benar? Apakah landasan kebenarannya?
  2. Apakah Qur’an itu memang benar-benar Wahyu?
  3. Bagaimana tentang peristiwa Isra’ Mi’raj? Apa bisa dijelaskan lebih jauh?
  4. Apakah Kiamat itu benar-benar akan terjadi?
  5. Apakah Surga dan Neraka itu ada?

Bagaimanakah analisa kebenarannya?

Dalam membaca artikel ini, posisi akal Anda harus berada dalam keadaan relaksasi (baca: santai) penuh, namun tetap serius (baca: berfikir & merenung). Jangan biarkan sikap “fanatisme” Anda yang tak memiliki alasan yang jelas itu (terhadap suatu hal) menghalangi Anda untuk memahami suatu literatur kebenaran.

Jika Anda tidak dapat melakukan demikian maka ketahuilah, sebaiknya Anda menghentikan membaca artikel ini sekarang juga, karena tak ada gunanya jika Anda meneruskannya. Kebenaran hanya bagi mereka yang menginginkannya.

Bacalah artikel ini mulai dari awal sampai akhir secara berurutan, agar Anda paham secara keseluruhan tentang maksud dan isi artikel ini. Artikel ini juga mengandung banyak link yang mengarah ke situs lain. Jadi, agar kegiatan membaca Anda lebih fokus maka, sebaiknya Anda membaca artikel ini secara keseluruhan terlebih dahulu, lalu pilih dan klik salah satu link yang ingin Anda pahami lebih jauh. Anda pun sebaiknya menge-print (mencetak) artikel yang panjang agar lebih mudah dibaca secara offline (tanpa menggunakan komputer).
 
 

Kita akan menganalisa kebenaran ini step by step (langkah demi langkah). Dan akan disimpulkan di bagian akhir artikel

Salah satu kriteria kebenaran adalah ia berasal dari sumber yang benar. Sehingga untuk melihat kebenaran –yang berawal- dari masa lampau, maka kita harus membaca sejarah. Bukankah begitu? ya, begitulah prosedurnya. Mengapa demikian? Karena sejarah tidak bicara secara asal-asalan, melainkan selalu bicara dengan bukti yang konkrit (nyata).

Daftar isi
Sejarah Singkat Muhammad saw.
Muhammad sebagai Rasul yang Terakhir
Tentang al-Qur’an
Tentang Hadits
Tentang Peristiwa Isra’ Mi’raj
Tentang Hari Kiamat
Tentang Kehidupan Akhirat (Surga dan Neraka)
Kesimpulan
Akhirnya
 

Sejarah Singkat Muhammad saw.


Agama Islam yang terlahir 14 abad yang lalu dipelopori oleh seorang kelahiran Makkah yang bernama Muhammad. Dalam sejarah silsilah keturunannya, beliau adalah suku Quraisy, cucu Abdul Muthallib, berasal dari Bani Hasyim. Dan Bani Hasyim merupakan keturunan tingkat ke-26 dari Nabi Ismail as.. Dan Ismail as. adalah keturunan langsung Nabi Ibrahim as dengan isterinya yang bernama Hajar.

Jadi, dari segi keturunan saja, sudah sangat jelas, bahwa beliau memang bukan orang sembarangan. Ini telah diselidiki oleh para sejarawan, baik sejarawan arab maupun sejarawan di luar bangsa arab.

Namun, analisa ini masih harus berlanjut. Karena bukan silsilah Muhammad yang menentukan kebenaran Islam sebagai Agama Tauhid yang murni (benar). Dan sekarang akan kita lihat, bagaimana sosok Muhammad yang sebenarnya beserta sifat-sifatnya. Melalui apa? Tentu saja, masih melalui sejarah. Bukan melalui komik kartunnya!

Muhammad terlahir sebagai yatim (karena ayahnya meninggal saat ia dalam kandungan). Saat Muhammad berumur 6 tahun, ibunya pun meninggal karena sakit. Kemudian, semenjak saat itu beliau dibesarkan oleh kakeknya, yakni Abdul Muthallib. Setelah kakeknya meninggal, beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Nah, saat beliau diasuh oleh pamannya inilah, beliau diminta untuk menggembalakan domba-domba pamannya di sekitar Makkah. Beliau juga seringkali menemani urusan dagang pamannya ke negeri Syam (Suriah, Lebanon, Palestina). Beliau memperoleh kepercayaan dari pamannya dalam urusan perdagangan.

Kemudian setelah beliau memasuki masa-masa remaja, keterampilan dagang beliau semakin meningkat. Dan tentu saja, kejujuran Muhammad dan sifat-sifatnya yang mulia turut serta tersebar di kalangan masyarakat jazirah Arab.

Waktu itu sistem informasi belum begitu maju alias masih primitif (dari mulut ke mulut), tapi keharuman sosok Muhammad yang memiliki sifat-sifat terpuji menjadi begitu semerbak dan terkenal kemana-mana. Salah satu orang yang mendengar keharuman nama beliau adalah Hadijah. Hadijah adalah seorang janda kaya raya yang memiliki status yang tinggi dalam suku Arab. Dia adalah saudagar (pedagang) dan sering mengirimkan barang dagangan ke berbagai pelosok di tanah Arab.

Pada suatu hari, Muhammad diberi kepercayaan untuk mengawal ekspedisi barang dagangan Hadijah bersama budak Hadijah yang bernama Maisara. Dia dijanjikan upah sebanyak dua kali lipat atas permintaan pamannya (Abu Thalib) kepada Hadijah. Hadijah menjadi sangat terkesan kepada Muhammad, karena keuntungan yang diperoleh dari sekembalinya ia berdagang ternyata melebihi biasanya, tidak seperti saat ia menyuruh orang lain.

Akhirnya, dengan semakin terbuktinya semua sifat-sifat beliau yang istimewa tersebut, beliau memperoleh gelar al-Amin, yang artinya Si Jujur. Dari siapa? Dari kaumnya, yakni dari masyarakat bangsa arab itu sendiri yang telah mengenal keadaan dan sifat-sifat baik beliau sepanjang hidup mereka.

Kemudian,
Aktivitas kehidupan beliau sehari-harinya juga sangat berbeda dengan apa-apa yang dilakukan oleh masyarakat bangsa arab kebanyakan. Beliau tidak menyembah berhala, tidak berjudi, tidak meminum minuman keras dan tidak melakukan tindakan-tindakan kasar lainnya. Beliau sangat sopan, lemah-lembut dalam tutur kata, mengasihi fakir miskin dan para janda (terutama yang berekonomi lemah), dan suka menyambung silaturahmi antar sesama. Solidaritas beliau sangat tinggi, tanpa memandang status keturunan atau membeda-bedakan status sosial.
 
 

Muhammad Sebagai Rasul yang Terakhir


Tanda-tanda kenabian beliau sebenarnya telah nampak semenjak beliau masih kecil. Salah satu tanda kenabian beliau yang paling nampak adalah sikap beliau yang sangat berbeda dari masyarakat-masyarakat arab lainnya, yang seringkali melakukan aktivitas-aktivitas jahiliyah (menyembah berhala, membunuh, minum minuman keras, mengubur anak perempuan hidup-hidup, dll). Tanda-tanda kelahiran beliau di muka bumi ini sebenarnya juga sudah diketahui oleh orang-orang yahudi dan nasrani, sebagaimana telah disebutkan dalam Kitab mereka, tapi mereka menyembunyikannya. Kenapa ya? Karena mereka iri, dengki, dan kecewa karena nabi akhir zaman bukan dari golongan mereka sendiri (Yahudi/bani Israel), melainkan dari kalangan bangsa arab (keturunan Ismail). Sementara mereka selalu bermusuhan dengan bangsa Arab. Mereka mengetahui banyak hal tentang tanda-tanda Muhammad sebagai Nabi akhir zaman, tapi sebagian besar dari mereka (Yahudi & Nasrani) menyembunyikan kebenaran-kebenaran itu. Mereka mungkin berbakat dalam menyembunyikan kebenaran, tapi mereka tak berbakat dalam menyembunyikan kebohongan. Apa bedanya?

Muhammad tidak langsung menjadi Rasul semenjak lahir, beliau terlebih dahulu ditempa (dipersiapkan) sebaik mungkin agar bisa mengemban tugas kenabian dengan segala konsekuensinya. Beliau diangkat menjadi Rasul dalam usianya menjelang 40 tahun setelah wahyu pertama yang beliau terima di Gua Hira.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu-lah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (menulis & membaca). (QS. Al-Alaq: 1-4)

Lihatlah, ayat di atas memerintahkan manusia untuk belajar (dengan cara membaca/mendengar) atau memperbandingkan berbagai macam “literatur kebenaran” agar bisa menemukan kebenaran yang sesungguhnya, lebih-lebih tentang konsep ketuhanan dan masalah hari akhir.

Ketika memasuki tahun keempat kenabian, Muhammad saw. diperintahkan untuk menyampaikan dakwahnya secara terang-terangan. Dan hal ini tentu saja menyebabkan perlawanan yang sangat besar dari suku-suku Quraisy. Beliau dimusuhi, diancam, dan disakiti.

Apa yang dilakukan oleh Muhammad saw. itu sebenarnya mirip dengan seorang dokter spesialis paru-paru yang diharuskan memasuki wilayah preman yang notabene suka merokok, dan dia harus menjelaskan serta memberikan penyuluhan kepada para preman tersebut tentang dampak buruk rokok.

Sang dokter berkata kepada mereka dengan lantang saat mereka sedang asyik merokok, “mengapa kalian berbuat bodoh seperti itu dengan cara memasukkan racun mematikan ke dalam tubuh kalian sendiri? Apa kalian tidak sabar menunggu kematian dengan cara yang normal saja?”

Pemimpin preman menjawab, “Celaka sekali engkau, hai manusia berbaju putih! Untuk itukah kau datang kemari? Sesungguhnya apa yang kami lakukan ini tak lain merupakan lambang kebanggaan, penghilang stress, agar pikiran lebih encer, dan gaul!”

Sang dokter berkata, “Sesungguhnya aku peringatkan kalian semua, bahwa betapa banyak manusia sebelum kalian yang sakit-sakitan dan akhirnya binasa (mati mengenaskan) akibat rokok.”

Walaupun sang dokter menyertakan bukti-bukti tentang beberapa foto rontgen pasien berpenyakit paru-paru akut akibat rokok, para preman tersebut tak ada yang menggubrisnya, kecuali segelintir saja. Bahkan sebagian besar mereka masih saja menolak ketika dokter tersebut membawa bukti sangat nyata berupa seorang perokok yang sedang menderita penyakit paru-paru akut dan sekarat.

Begitulah keadaan awal-awal dakwah Muhammad saw.
Ketika mayoritas bangsa arab menyembah berhala dan sibuk dengan tradisi jahiliyah mereka, Muhammad tampil sangat berlawanan dan terdengar sangat aneh di telinga mereka, yakni dengan membawa konsep ketuhanan yang sesungguhnya, yang murni, yakni beribadah kepada Allah semata, Tuhan Semesta Alam.

Anda bisa membayangkan betapa menderitanya Muhammad saw. pada awal-awal memperjuangkan agama yang murni ini. Beliau pada dasarnya adalah manusia biasa seperti kita semua. Beliau punya emosi, dan bisa mengalami kesedihan karena kecewa atau frustasi, kesepian yang mendalam, dengan perasaan terluka yang begitu menyayat hati. Beliau dicaci, diancam, dimusuhi, dijauhi, dihina, diejek, disepelekan, dipermainkan, dicemooh, didiskriminasi, dll. Dan parahnya lagi, beliau mengalami hal tersebut seorang diri, tanpa orang tua, tanpa kakek, tanpa saudara, tanpa teman, bahkan paman beliau (baca: abu jahal) merupakan orang yang paling aktif dalam memusuhi dan menyerukan permusuhan terhadap beliau. Namun, beliau tetap menghadapi semua itu dengan hati yang lapang, semata-mata karena tanggung jawab beliau sebagai seorang Nabi dan Rasul. Karena setiap nabi telah dididik untuk menanggung segala konsekuensi kenabiannya. Beliau bahkan berdoa atas sikap buruk umatnya tersebut:

Yaa Allah, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu.

Itulah segelintir kisah yang ditulis sejarawan tentang sosok Muhammad saw.. Jika Anda berminat tentang sejarah (baca: kebenaran) yang lebih jauh tentang sosok Muhammad baiknya Anda membaca artikel berikut:


  1. Sejarah Muhammad: Kelahiran – Perkawinan
  2. Sejarah Muhammad: Perkawinan – Masa Kerasulan

Jadi, seandainya ada orang yang menganggap bahwa Muhammad itu adalah orang gila, maka ketahuilah bahwa hal itu tidak mungkin. Bagaimana mungkin seorang gila mempunyai akhlak yang sangat mulia, jujur dan terpercaya dan begitu fasih perkataannya? Sementara definisi orang gila adalah orang yang perkataan dan tindakannya ngawur (tidak jelas) dan asal-asalan dan cenderung membuat kekacauan (merugikan).

Begitu juga jika ada orang yang mengatakan bahwa Muhammad adalah orang bodoh, hal ini juga tidak mungkin. Karena bagaimana mungkin seorang bodoh mengetahui banyak hal dan mampu berbuat sesuatu yang sangat menakjubkan, dengan membuat kemajuan besar-besaran serta memporak-porandakan peradaban romawi, yunani, persi yang mayoritas telah dibangun oleh kaum intelektual yang tak mengenal Tuhan? Sementara definisi “orang bodoh” adalah orang yang tak mengerti apa-apa dan pikirannya cenderung tulalit dan ceroboh.

Dan jika ada orang yang mengatakan bahwa Muhammad saw. adalah manusia yang kejam (karena peperangan yang dilakukannya), hal ini juga tidak mungkin, karena penaklukan kota Makkah tidak terjadi melalui pertumpahan darah sedikitpun. Makkah diserahkan secara damai setelah satu tahun sebelumnya Muhammad saw. datang, tapi para kafir Quraisy tidak menyerahkan Makkah, melainkan menyuruh Muhammad saw. untuk datang pada tahun berikutnya dan Makkah akan diserahkan. Mengapa perjanjian seperti itu diterima oleh beliau saw. sementara pada waktu itu ia bisa saja secara langsung menaklukkan Makkah dengan pasukannya yang lebih dari cukup (10.000 orang)? Beliau saw. tidak ceroboh dan tak berpikiran dangkal, beliau lebih suka memilih jalan damai, jika masih memungkinkan. Sebab itu, pada satu tahun berikutnya, saat beliau kembali, Makkah ditaklukkan. Peperangan hanyalah rencana “B”, jika rencana “A” (penyelesaian dengan jalan damai) tidak berhasil. Lihat di Wikipedia: Muhammad saw. (Penaklukan Makkah)

Muhammad adalah seorang Nabi dan Rasul yang terakhir. Beliau adalah nabi yang buta huruf. Tak ada nabi lagi setelah beliau. Jejak Muhammad saw. sebagai manusia dengan IQ tertinggi ada di mana-mana. Beliau juga memiliki bukti yang sangat besar atas status kenabian beliau, yakni al-Qur’an, dan Makkah yang tetap makmur sampai saat ini hingga akhir zaman. Ketika semua orang jenius di dunia memperoleh IQ tinggi (karena keterampilan-keterampilannya) dengan pengetahuan yang ia peroleh dengan cara membaca “Buku”, beliau saw. malah menjadi manusia dengan IQ tertinggi tanpa harus membaca “Buku”. Dari manakah beliau memperoleh IQ seperti itu, kalau bukan melalui wahyu. Dan wahyu adalah indikasi dari bukti kenabian. Bukti yang sangat jelas adalah peradaban Makkah yang Anda lihat sekarang. Ia merupakan perkembangan dari benih perubahan besar-besaran yang dilakukan oleh Muhammad saw. 14 abad yang lalu. Dan beliau saw. melakukan hal itu dalam waktu kurang dari 1 abad. Itulah yang paling menakjubkan. Apakah beliau hanya melakukannya terhadap Makkah? Tidak, semua ahli sejarah tahu akan hal itu. Perubahan terhadap negara-negara tetangga, yakni terhadap jazirah arab lainnya juga diberi dampak akan dakwah beliau saw. yang sangat besar. Dan perjuangan beliau saw. dilanjutkan oleh para sahabat-sahabatnya, terutama khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali).

Lihat sejarah lengkapnya di:
Pembebasan Makkah
Orientalis dan Kebudayaan Islam
 
 

Tentang Al-Qur’an


Al-Qur’an merupakan mukjizat Muhammad yang paling besar. al-Qur’an merupakan salah satu di antara 4 kitab yang ada (Taurat, Zabur, Injil, Al-Qur’an). Di dalamnya memuat kabar berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah lampau dan juga peristiwa-peristiwa yang akan datang. Kebanyakan di antara pengikut Muhammad saw. (baca: sahabat) menghafal al-Qur’an untuk dijadikan referensi dalam menganalisa suatu kebenaran.

Inilah ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Luqman: 2-3)

Karena banyaknya para sahabat yang hafal al-Qur’an maka, metode penulisan (pembukuan) al-Qur’an menjadi sangat mudah, sederhana (tidak berbelit-belit), dan sangat jelas (tanpa keraguan). Al-Qur’an dibukukan (dicetak) oleh satu orang saja, yakni oleh sahabat Nabi saw. yang bernama Utsman. Ia adalah khalifah ketiga (setelah Abu Bakar, dan Umar). Beliau membukukan al-Qur’an dengan alasan, karena banyaknya para hafiz (penghafal al-Qur’an) yang gugur dalam medan perang. Lihat sejarah pembukuan al-Qur’an di Sejarah Pembentukan Mushaf al-Qur’an.

Al-Qur’an merupakan wahyu yang diwahyukan kepada Muhammad saw.

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (QS. an-Nisaa’: 163)

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: “Datangkanlah Al Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia”. Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)”. (QS. Yunus: 15)

Isi kandungan al-Qur’an banyak yang terbukti dalam dunia ilmu pengetahuan.
Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan”. (QS. An-Naml: 93)

Al-Qur’an juga merupakan penyembuh berbagai penyakit yang ada di dalam dada (seperti dengki, hasud, iri hati, stress, buta hati, tersesat, bingung, keraguan, kegelisahan, dll). Yakni, dengan cara membacanya, mendengarkannya, serta mengamalkan apa yang diperintahkan oleh al-Qur’an dan menjauhi apa yang telah dilarang olehnya.

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)

Ia berisi persyaratan bagi orang-orang yang mengharap sesuatu yang besar (baca: surga). Ia juga berisi ancaman terhadap mereka yang cuek terhadapnya. Ia juga berisi jawaban tentang segala permasalahan-permasalahan besar dalam hidup (seperti Trinitas, sifat yahudi, peristiwa kiamat, dll).

Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS. An-Nisaa’: 13-14)

Kemudian, salah satu sifat (baca: keutamaan) al-Qur’an yang sangat istimewa dibandingkan dengan ketiga kitab sebelumnya adalah bahwa, ia terpelihara dari perubahan karena pengaruh waktu.

sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lohmahfuz) (QS. Al-Waaqi’ah: 77-78)

Jadi, jika ada anggapan yang menyatakan bahwa al-Qur’an bisa saja berubah, atau dirubah, maka hal itu hanyalah anggapan kosong dan nihil, karena Allah sendiri telah menjamin keasliannya. Sebagian orang menganggap al-Qur’an seperti buku-buku best-seller yang bisa saja berubah. Al-Qur’an tidak dapat diubah. Al-Qur’an terlahir di kota Makkah. Di situlah tanah kelahirannya (baca: sumber aslinya). Umat Islam menjadikan kota Makkah sebagai kota acuan utama dalam peribadatan (Haji). Sebab itu, versi al-Qur’an yang asli akan selalu ditemukan di sana dan selalu dijadikan rujukan (perbandingan) tak terkecuali dalam hal tafsirnya (makna yang sesungguhnya). Jadi, mana mungkin al-Qur’an bisa dirubah sementara referensi (baca: sumber) utamanya yang merupakan cetakan Mushaf Utsmani yang ada di Makkah (Arab Saudi) tidak pernah berubah?!!!

Beberapa versi al-Qur’an yang palsu memang bisa beredar, tapi selalu menjadi basi sebelum diedarkan. Mereka yang ingin mengubah atau menghapus al-Qur’an sama halnya seperti orang yang ingin meredupkan atau memadamkan cahaya matahari, khayalan yang terlalu konyol untuk bisa ditanggapi.

Al-Qur’an yang kita baca saat ini sudah berumur sekitar 14 abad. Dan Teks aslinya tidak pernah berubah. Walaupun Raja Arab Saudi berubah-ubah, tapi tidak pada konteks al-Qur’an.

Bagaimana jika ada orang yang menyepelekan, meremehkan, mencemooh, mengejek, dan mencaci isi kandungan al-Qur’an? Atau bagaimana jika ada orang yang meragukan kebenaran al-Qur’an sebagai Wahyu dari Allah swt.?

Tidak masalah, karena al-Qur’an juga sudah membahasnya:

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini sebagai suatu yang tidak penting”. (QS. Al-Furqaan: 30)

Mereka sebenarnya adalah orang yang digambarkan oleh ayat berikut ini:

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan) mu, padahal Kami telah meletakkan tutup di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”. (QS. Al-An’aam: 25)

Ya, mereka menganggap al-Qur’an sebagai sesuatu yang basi atau sebuah cerita hoax (dongeng/omong kosong). Mereka terkadang membaca al-Qur’an bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk mencari kelemahan Islam. Jadi, bagaimana mungkin mereka akan memperoleh petunjuk, sedangkan niat mereka membaca/mempelajari al-Qur’an adalah bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk membantah Islam?!!! Dan tentu saja, segala hal selalu ada konsekuensinya.

Jangan berbuat seperti itu, kelak kamu akan tahu akibatnya. Sekali lagi, jangan berbuat seperti itu, kelak kamu akan tahu juga akibatnya. (QS. At-Takaatsur:3-4)

Isi kandungan al-Qur’an memang belum terbukti sepenuhnya, karena di dalamnya ada berita tentang peristiwa yang akan datang, seperti kiamat, hari perhitungan amal dan dosa, dan masalah surga dan neraka. Oleh sebab itu, bukti kebenarannya adalah menyusul (nanti: beberapa saat lagi).

Al Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Qur’an setelah beberapa saat lagi. (QS. Shaad: 87-88)
 
 

Tentang Hadits


Hadits juga memegang peranan penting dalam menentukan Islam sebagai agama yang benar.

Hadits merupakan perkataan atau sikap Nabi saw.. Kedudukan hadits sangat penting, dan menjadi sumber hukum kedua setelah al-Qur’an. Hadits sendiri sebenarnya merupakan penjabaran dari al-Qur’an, karena orang yang paling mengamalkan al-Qur’an adalah nabi saw. sendiri. Sebab itu, perbuatan nabi saw. bisa dijadikan referensi bagi umat Islam jika ingin mengamalkan al-Qur’an.

Mengingat pentingnya hadits sebagai sumber hukum, maka para ulama’ tidak sembarangan dalam mengkaji hadits. Karena banyak di antara pembohong yang seringkali mencampur-adukkan kebohongan dengan kebenaran, maka dibentuklah ilmu hadits yang mempelajari alur-alur (riwayat) hadits yang disebut dengan “sanad”, dan juga mempelajari isi kandungan hadits yang disebut dengan “matan”.

Sanad (jalur periwayatan) harus mengandung periwayat-periwayat yang jujur (terpercaya).

Matan (isi kandungan hadits) tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an.

Sebab itu, jika orang-orang yang meriwayatkan hadits itu adalah orang-orang yang “jujur” dan isi haditsnya tidak bertentangan dengan al-Qur’an sedikitpun, maka hadits tersebut bisa diterima. Inilah yang disebut dengan hadits yang benar, atau hadits yang Shahih. Dan jika tidak demikian, misal dalam suatu hadits ada periwayat yang terkenal pembohong atau isi haditsnya bertentangan dengan al-Qur’an, maka kualitas hadits tersebut adalah diragukan atau palsu, dan tak layak disebut sebagai hadits.

Hadits yang sangat shahih (tak diragukan lagi kebenarannya) berasal dari dua imam besar, yakni Imam Bukhari dan Imam Muslim. Sejarah telah menulis, bahwa kedua Imam tersebut adalah sosok muslim yang jujur dan terpercaya, zuhud, taat, dan sangat kuat hafalannya. Disamping itu ada juga perawi lainnya yang juga terpercaya seperti, Tirmidzi, Ahmad, Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.

Oleh sebab itulah apa yang dikatakan dalam hadits shahih ini adalah benar adanya. Misalnya, dalam hadits disebutkan

Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah: Bila kamu tidak tahu malu, maka berbuatlah sesukamu. (HR Bukhari)

Atau hadits tentang orang yang cerdik:

Orang yang cerdik ialah orang yang dapat menaklukkan nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan muluk terhadap Allah. (HR. Abu Dawud)
 
 

Tentang Peristiwa Isra’ Mi’raj


Banyak orang yang tak percaya dengan peristiwa isra’ mi’raj. Mengapa demikian? Tentu saja, karena bukan mereka sendiri yang mengalaminya. Sebenarnya, ilmuwan modern, tokoh fisika, Einstein, secara tidak sengaja telah menguraikan teori ini secara ilmiah. Meski hanya menyangkut sebagian dasarnya saja.

Apakah Anda sering mendengar tentang teori “Relativitas Kecepatan” atau tentang “Relativitas Waktu”?

Benar, itulah dasar analisa kebenarannya. Saya bukan seorang ahli dalam penjelasan ini, karena sangat banyak rumusnya (metodologinya). Namun, saya akan sampaikan kesimpulannya saja.

Ketika seorang menuju dimensi lain, atau bergerak tanpa melalui ruang dan perhitungan waktu yang baku (umum/normal), sebenarnya bisa saja dikatakan bahwa dia telah bergerak dengan cara lain, jelasnya dengan model kecepatan yang lain…, yakni dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, sama dengan kecepatan cahaya, atau bahkan dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya. Kecepatan-kecepatan seperti itu tak bisa dianalisa oleh pandangan mata biasa. Siapa yang bisa mendeteksi orang yang bergerak dengan kecepatan cahaya (300.000.000 m/s atau setara 1.080.000.000 Km/jam)?

Dengan kecepatan seperti itu apakah orang itu goyah (baca: bergetar)?

Bagi pengamatan yang dangkal (sederhana), tentu saja gerakan itu adalah gerakan yang kacau (semrawut), karena saking cepatnya. Namun, bagi orang yang mengalami langsung, itu tidak ubahnya seperti orang yang seolah “diam” saja.

Bingung?

Okay, coba lihat penumpang yang menaiki mobil BMW dengan kecepatan 300 km/jam. Bukankah menurut Anda orang itu sedang bergerak dengan sangat kencang?

Benar.
Tapi coba tanyakan hal itu kepada penumpang BMW tersebut (telpon kalau perlu!). Tanyakan kepadanya, “Apakah Anda sedang bergerak sangat cepat?”. Maka pasti penumpang mobil BMW tersebut akan menjawab, “Tidak, saya cuman duduk saja di jok mobil ini, tak banyak bergerak, bahkan tak bergerak sama sekali.”

Yang bergerak adalah mobilnya (kendaraannya). Dan tentu saja, penumpangnya juga harus ikut bergerak, meski pada dasarnya ia “diam tak bergerak”.

Begitulah model definisi peristiwa Isra’ mi’raj. Sebenarnya, ini adalah penjelasan yang dangkal, karena bukan saya yang mengalami langsung, melainkan Nabi saw. sendiri. Namun, hal ini bisa dijadikan dasar untuk menalar lebih jauh. Dan hal ini bukan berarti nabi saw. itu berbohong. Karena definisi kebohongan itu sebenarnya berasal dari “pembohong”, sementara nabi saw. adalah “al-Amin” (si Jujur).

Peristiwa isra’ mi’raj menggunakan kendaraan yang bernama “Buraq”. Kendaraan inilah yang berperan penting dalam peristiwa tersebut. Yakni, meski Nabi saw. bersikap biasa saja, yakni seolah lambat atau tak banyak bergerak, tapi kendaraan inilah yang melesat dengan kecepatan super (melebihi cahaya).

Dengan kecepatan cahaya (atau yang melebihinya), aturan-aturan “ruang & waktu” yang formal, menjadi tidak berlaku lagi. Sebab itulah, orang bisa saja pergi ke mana saja, termasuk ke masa lalu, masa depan, tanpa terdeteksi. Itulah sebabnya, para wali, bisa menempuh jarak ribuan Kilometer hanya dalam beberapa detik. Karena dia menggunakan cara yang berbeda dalam bergerak, yakni dengan kecepatan yang tidak umum (mirip dengan kecepatan cahaya).

Sebenarnya, teori relativitas kecepatan partikel sehubungannya dengan lorong waktu, yang dikemukakan oleh Einstein, bukanlah teori yang sempurna. Itu hanya sebagian dari teori dasarnya (pengantar) saja. Rumus aslinya pastinya jauh lebih rumit dan tidak sembarangan. Karena waktu adalah salah satu ciptaan-Nya. Dan tak ada orang yang tahu rahasia waktu yang sesungguhnya, kecuali orang yang telah diberi tahu (Para Nabi dan mungkin juga para Wali).

Demi Waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-Ashr: 1-3)

Einstein sendiri tak pernah berhasil membuat mesin waktu. Apa yang dikemukakan oleh Einstein tentang teori “Relativitas Kecepatan” adalah hasil analisa logikanya yang berdasar pada pengetahuan yang sangat terbatas, dan bukan dari pengalaman langsung. Sementara apa yang dialami oleh Nabi saw. adalah pengalaman langsung. Kita percaya atau tidak, tak ada pengaruhnya terhadap kebenaran peristiwa (baca: Isra’ Mi’raj) tersebut.

Lorong waktu yang mengarah pada masa lalu dan masa depan, atau pada peristiwa-peristiwa lainnya, tidak terbuka secara sembarangan. Lorong waktu tersebut bisa saja terbuka tanpa sengaja (proses alamiah), atau disengaja (oleh Allah sendiri, yang telah menciptakan waktu).

Ada banyak kejadian tentang lorong waktu yang terbuka secara sendirinya, tapi biasanya hanya mengarah kepada hal-hal yang sepele atau kepada hal-hal yang tidak penting. Beberapa contoh berikut adalah contoh terbukanya lorong waktu ke masa lalu:
Lorong Waktu yang Menggemparkan
3 Jam terjebak di Masa Lalu

Sekarang apakah Anda ingin membantah, tentang Kramat (keutamaan) para wali yang bisa menghilang lalu berada pada jarak yang sangat jauh dalam waktu sekejap mata?! Contoh yang serupa tentang masalah “manipulasi waktu demi efisiensi” sebenarnya juga ada pada kisah Nabi Sulaiman as. ketika seorang ahli kitab memindahkan istana ratu Balqis dalam sekejap mata. Itu terjadi dengan gerakan menggunakan model (metode) kecepatan yang berbeda, yakni dengan memperperpendek waktu pemindahan istana tersebut, dengan kata lain, ahli kitab tersebut menggunakan lorong waktu (menggunakan dimensi lain). Wallahu a’lam .

Kemudian, jika Anda ingin mengetahui misteri kendaraan “Buraq” maka klik artikel berikut:

Kendaraan Buraq

Dan artikel yang berisi peristiwa Isra’ Mi’raj ada di link berikut:
Peristiwa Isra’ Mi’raj

Namun, jika Anda ingin memahami konsep peristiwa Isra’ Mi’raj berdasarkan penjelasan ulama’ zaman dahulu, klik artikel berikut:
Sultan yang Menjadi Orang Buangan

Ingat, apa-apa yang diutarakan oleh saya dan oleh mereka tentang analisa peristiwa “Isra’ Mi’raj” adalah argumen (pendapat) semata. Nabi saw. yang mengalaminya, dan dia sendirilah yang lebih tahu rincian jelasnya. Islam tidak pernah menyuruh pemeluknya untuk paham kejadian peristiwa Isra’ Mi’raj. Umat Islam hanya diperintahkan mengamalkan apa yang diperoleh nabi saw. dalam peristiwa Isra’ Mi’raj nya, yakni Shalat 5 waktu dalam sehari. Okay?!! OK deh.
 
 

Tentang Hari Kiamat


Apakah Anda meragukan kebenaran Kiamat?

Kiamat adalah suatu kejadian yang benar-benar nyata (pasti) dan terencana, dan Allah sendiri yang merencanakannya. Mirip suatu prosedur? Benar, Kiamat adalah salah satu prosedur (baca: takdir) standar yang harus dijalani oleh alam semesta ini (langit dan bumi). Jelasnya, ia adalah peristiwa kehancuran alam semesta yang diikuti oleh Hari Kebangkitan dan Hari Perhitungan Amal manusia. Hal ini telah disebutkan berkali-kali dalam al-Qur’an dan hadits.

Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan kami memandangnya dekat (pasti terjadi). Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak. Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang beterbangan), Dan tidak ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya, Sedang mereka saling melihat. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya. Dan istrinya dan saudaranya, Dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala, Yang memanggil orang yang membelakangi dan yang berpaling (dari agama). (QS. al-Ma’aarij: 6-17)

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah. (QS. An-Nisaa’: 87)

Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS. Al-Baqarah: 212)

Apakah sekarang sudah mulai kiamat?

Belum sepenuhnya, tapi kita sedang memasuki kejadian kiamat, seperti halnya sebuah “petasan” (mercon/bom) yang belum meledak tapi sumbunya telah disulut (terbakar) .

Hadis riwayat Sahal bin Saad ra., ia berkata:
Aku mendengar Nabi saw. bersabda sambil memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah (berdekatan/rapat): Waktu aku diutus (menjadi rasul) dan waktu hari kiamat adalah seperti ini (mengisyaratkan dekatnya waktu kiamat).
(Shahih Muslim No.5244)

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Apabila orang-orang Arab badui datang menghadap Nabi saw. mereka bertanya: Kapankah kiamat akan tiba? Lalu beliau memandang kepada orang yang paling muda di antara mereka dan bersabda: Seandainya dia hidup, sebelum dia menjadi tua renta, maka kiamat akan terjadi (sudah mulai). (Shahih Muslim No.5248)

Perkataan beliau saw. di atas menandakan tanda-tanda awal (permulaan) kejadian kiamat yang semakin “nyata” (terbukti)… yang akhirnya akan menyebabkan peristiwa kiamat itu sendiri.

Kapankah waktu “yang pasti” tentang kejadiannya? Yang pasti, tak ada orang yang tahu!

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu di sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Al-A’raaf: 187)

Adapun masalah tanda-tandanya sangat banyak sekali. Dan sebagian besar dari tanda-tanda itu sudah terbukti (terjadi). Artikel-artikel berikut mengulas tentang kiamat:

Alam semesta ini memiliki permulaan, dan ditakdirkan memiliki akhir, yakni melalui proses kejadian kiamat. Kiamat sendiri hanyalah peristiwa yang bisa dibilang sesaat. Dan hanya ada dua tempat setelah kiamat, yakni Surga dan Neraka. Jadi setelah peristiwa Kiamat, manusia mengalami salah satu dari dua keadaan, yakni Menjadi Penghuni Surga atau Menjadi Penghuni Neraka.
 
 

Tentang Kehidupan Akhirat (Surga dan Neraka)


Masalah surga dan neraka telah seringkali di singgung dalam al-Qur’an dan hadits. Namun, seperti biasa, sebagian besar orang menaruh “keraguan” atasnya. Mereka seringkali mengukur kebenaran berita al-Qur’an dengan kenyataan sehari-hari.

Sebagai contohnya, ketika al-Qur’an bercerita tentang surga yang di dalamnya terdapat sungai madu, sungai susu, sungai khamr (sejenis minuman anggur), bisa dibayangkan betapa banyak orang yang tidak mau mempercayainya.

… sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring … (QS. Muhammad: 15)

Mengapa mereka cenderung tidak mempercayainya?

Karena kebanyakan manusia mengukur kebenaran dengan pengalamannya. Mereka pikir sungai hanya mengalirkan “komponen” yang berupa air saja. Di dunia ini saja, kalau Anda mau berpikir cermat, bukan hanya ada sungai air, melainkan ada juga sungai lain, misal sungai sampah dan juga sungai limbah. Gak percaya? Tengok saja di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Anda akan dapatkan sungai limbah dan sungai sampah.

Bahkan juga tentang danau, selama berabad-abad lamanya manusia mengenal bahwa danau adalah daerah cekung yang berisi genangan air. Dan teori itu tumbang dengan sendirinya, ketika lumpur Sidoarjo meluap dan membentuk kawah besar berisi lumpur alami. Itulah danau lumpur. Dan itu menambah daftar istilah ilmu geologi.

Dan, dalam masalah “Sungai madu” di atas,
Orang pasti akan selalu mengaitkannya dengan lebah, karena madu dihasilkan oleh lebah. Nah, kalau ada sungai madu, maka –mungkin- mereka akan bertanya “jadi lebahnya kayak apa tuh?”. Itulah pemikiran dangkal rata-rata manusia. Mereka seringkali TIDAK mengaitkan suatu perkara terhadap Eternal (Pusat)-nya. Dengan kata lain, ketika seseorang dihadapkan dengan perkara “Madu”, dia akan langsung mengaitkannya dengan “lebah”, bukan dengan “Pencipta Lebah” itu sendiri. Mereka berpikir bahwa lebah yang menciptakan madu, atau madu hanya bisa diperoleh kalau ada lebah. Tidak demikian keadaan yang sesungguhnya, Allah berkuasa mutlak dalam menciptakan segala hal. Allah bisa menciptakan madu meski tanpa perantara lebah.

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia. (QS. Al-Baqarah: 117)

Lalu, bagaimana dengan keadaan surga yang dipenuhi oleh bidadari yang selalu “muda” tanpa pengawet, selalu perawan (what…?), jumlahnya ribuan, dan tidak saling cemburu satu sama lain?

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya. (QS. Al-Waaqi’ah: 35-37)

Maaf ya, saya tak bisa menganalisa semuanya, karena kenikmatan surga adalah kenikmatan yang SUAAA…NGAT BESSAAAAR… dan tak seorangpun yang mampu membayangkannya. Dalam hadits Qudsi disebutkan:

Untuk hamba-hamba-Ku yang shaleh, Aku sediakan kesenangan-kesenangan yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tak pernah terlintas dalam hati manusia (tak pernah terbayangkan sebelumnya). (Hadits Qudsi riwayat Syaikhani, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Jadi, satu-satunya orang yang tahu persis tentang kenikmatan-kenikmatan surga, adalah orang yang masuk surga itu sendiri (semoga saya termasuk golongannya). Sedang untuk orang-orang yang belum masuk ke surga, maka tak ada yang diketahuinya kecuali sedikit saja.

Bagaimana Dengan Neraka?

Neraka adalah api yang bergejolak. Ketika berbicara tentang “Api”, janganlah Anda berpikiran dangkal dengan mengaitkannya dengan “Minyak Tanah”, LPG, kompor, lahar gunung berapi atau apapun yang pernah Anda ketahui tentang “Api”. Neraka adalah sesuatu yang sangat berbeda.

Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Ahli neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat, adalah seseorang yang pada telapak kakinya diberi dua bara api (terompah/sandal) yang menyebabkan otaknya mendidih (karena saking panasnya). (Shahih Muslim No.313)

Neraka adalah kebalikan dari Surga. Jika kenikmatan surga adalah “Kebahagiaan” yang belum pernah dibayangkan sebelumnya, maka neraka adalah “Penderitaan” yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Mengapa demikian? Hal ini karena pada hari kiamat “kematian” telah dihapus (ditiadakan).

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Allah memasukkan ahli surga ke dalam surga dan ahli neraka ke dalam neraka, kemudian seorang penyeru berdiri di antara mereka dan berseru: Wahai ahli surga, tidak ada kematian. Wahai ahli neraka, tidak ada kematian. Masing-masing kalian kekal abadi di tempatnya.
(Shahih Muslim No.5088)

Jadi, satu-satunya orang yang tahu persis tentang penderitaan-penderitaan di dalam neraka, adalah orang yang masuk neraka itu sendiri (dan semoga saya bukan termasuk golongannya). Sedang untuk orang-orang yang belum masuk ke neraka, maka tak ada yang diketahuinya kecuali sedikit saja.


Jadi, Surga itu ada. Dan Neraka itu juga ada. Kebenaran ini tidak bisa dibantah dengan hipotesa (pernyataan) konyol, “karena kedua tempat tersebut tidak terlihat”, atau “karena belum pernah mengunjunginya”.

Jika surga dan neraka itu nampak dalam pandangan mata manusia ketika hidup di dunia, apa jadinya kehidupan ini?

Tentu saja, setiap orang akan taat beribadah, karena mereka telah melihat surga. Begitu juga, tak akan ada orang berbuat maksiat, karena neraka telah kelihatan. Jadi, mereka akan tobat dari perbuatan maksiat meski mereka tidak berbuat maksiat, atau bisa juga dikatakan mereka akan taat beribadah sebelum perintah beribadah itu diturunkan (karena sangat ingin ke surga atau takut ke neraka). Dan akhirnya, tentu saja dunia ini menjadi damai dan tentram, tak ada kejahatan sedikitpun, tak ada yang berbuat maksiat karena takut masuk neraka. Begitu juga jalan raya sepi, mall sepi, pasar sepi, dan semua tempat hiburan sepi, bahkan tak akan ada yang membangun tempat hiburan (karena takut dosa dan masuk neraka). Mengapa? Karena orang-orang PASTI pada sibuk beribadah semua. Konsekuensinya adalah tak ada manusia yang masuk neraka, semuanya masuk surga. Lalu apa gunanya Allah mengutus para nabi dan rasul? Apa gunanya Allah menciptakan Iblis sebagai musuh manusia? Lebih parahnya lagi adalah, apa gunanya Allah menetapkan hari kiamat dan hari hisab (perhitungan) padahal semua manusia sudah jelas masuk surga, atau apa gunanya Allah menciptakan neraka dan dibiarkan nganggur (kosong)?

Ketahuilah, hidup ini adalah permainan belaka. Allah telah menciptakan Game (permainan/perlombaan) yang sangat menakjubkan, dengan menganut sistem keadilan. Dia adalah Dzat Yang Maha Adil. Setiap manusia akan diperhitungkan amal perbuatannya dan diberi balasan. Balasan kebaikan adalah Surga, dan balasan keburukan adalah Neraka.

Apa Anda berpikir bahwa Allah itu bodoh dan cenderung membeberkan “kunci jawaban” dari semua “teka-teki kehidupan” secara serampangan/ceroboh (dengan menampakkan surga dan neraka)?

Apakah Anda berpikir bahwa “kunci jawaban” soal UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) ditaruh di atas meja peserta ujiannya? Tidak, kunci jawaban itu bahkan ada dalam lembaran-lembaran soal ujiannya, tapi “tak terlihat”. Maksud lo? Hmmm.., jawabannya ya… itu ada diantara A-B-C-D-E! Pilih saja sendiri, masak gak kelihatan. Kalau tetap gak kelihatan, berarti itu karena gak belajar! Begitulah perumpamaan orang yang tidak belajar agama dengan baik, ia tak akan menemukan jawaban dari teka-teki kehidupan yang sudah jelas jawabannya ada di depan hidungnya.

Allah adalah Dzat Yang Maha Tinggi Ilmunya. Dia telah memberikan kepada manusia suatu ujian yang besar, yang berupa teka-teki yang harus ia temukan sendiri jawabannya, dengan MENGGUNAKAN POTENSI AKALNYA SECARA MAKSIMAL! Sebab itulah, di sinilah pentingnya belajar ilmu agama agar menjadi orang yang berakal (berilmu), kemudian beriman dengan benar dan beramal shalih sebanyak mungkin sebagai bekal kehidupan akhirat nanti. Kita bisa menemukan kebenaran, dengan cara memperbandingkan semua literatur kebenaran yang ada lalu menyimpulkannya, … literatur yang paling “janggal” itulah yang paling bohong, dan literatur yang paling “masuk akal” (logis) itulah yang paling benar.

Dia telah menurunkan al-Qur’an, dan disitulah letak kunci jawaban semua teka-teki kehidupan. Allah hendak menguji manusia, siapakah yang lebih dia percayai, apakah Kitab yang disampaikan oleh Nabi-Nya (yang dipelajari dan dipahami) atau ia lebih percaya terhadap pengalamannya langsung (analisa panca indranya)?

Ketika seseorang lebih percaya terhadap sistem analisa panca indranya, maka ia cenderung akan berkata, “surga dan neraka TIDAK ada!”. Mengapa? Jawabannya jelas, “karena tidak melihatnya” atau “karena belum pernah memasukinya”.

Namun, ketika seseorang lebih percaya kepada Nabi-Nya (dengan nalar akal dan pemahaman/ilmu), maka ia cenderung akan berkata, “Surga dan neraka itu ada”. Mengapa? Alasannya juga cukup jelas, “Nabi saw. telah berkata dengan kejujuran, dia juga memiliki mukjizat (al-Qur’an) dan bukti-bukti yang autentik (asli, bukan tipuan seperti pesulap atau penyihir) dan kami beriman sepenuhnya terhadap apa yang disampaikan olehnya, meskipun kami belum pernah melihat kedua hal tersebut (Surga dan Neraka)”.

Bagaimana jika ada orang yang tetap tidak percaya terhadap kehidupan akhirat (Surga dan Neraka)?

Tak masalah, karena nilai kebenaran tidak ditentukan oleh persepsi (pendapat/pandangan), melainkan ditentukan oleh kenyataan yang sesungguhnya. Dan Muhammad saw. adalah orang yang selalu jujur, tak ada alasan bagi orang yang sehat akalnya untuk tidak mempercayai beliau. Muhammad saw. diragukan oleh orang-orang kafir Quraisy bukan karena ia berdusta, melainkan karena ia mengganggu kebiasaan bodoh mereka dalam hal menyembah berhala yang telah berakar selama ratusan tahun! Hal ini persis dengan seorang perokok berat yang membantah dokter spesialis paru-paru atas pernyataannya mengenai rokok sebagai racun paling mengerikan dan mematikan di dunia. Perokok tersebut TIDAK menyanggah (menganggap “salah”) penjelasan dokter tersebut KARENA pernyataannya yang sudah sangat jelas dan disertai oleh berbagai bukti itu, bukan demikian! Ia menyanggah pernyataan dokter tersebut karena perokok itu sendiri tidak ingin berhenti merokok. Gitu! Masak ‘gak ngerti.

Jadi, orang kafir Quraisy tidak ingin kebiasaannya yang turun-temurun (yang menurut mereka terhormat dan agung), yang berasal dari nenek-nenek moyang mereka selama berabad-abad, yakni dalam hal penyembahan berhala menjadi terhapus oleh ulah Muhammad. Padahal Muhammad saw. hanya ingin menyadarkan mereka, dan itu adalah tugas kenabiannya. Apa orang-orang kafir Quraisy itu ketagihan dalam menyembah berhala sehingga tak mau berhenti berbuat seperti itu? Ah…, para perokok pasti tahu itu jawabannya.

Sebenarnya, kesesatan manusia itu adalah ulah propaganda Iblis, dan manusia mengikutinya, sehingga jadilah ia (manusia) yang sesat, dan menyesatkan (melalui Iblis). Sebenarnya Iblis adalah senior kita, karena dia lebih dulu diciptakan daripada Adam as.. Namun, apa boleh buat, dia lah sebenarnya musuh kita! Dia iri (sombong) terhadap kita (manusia) karena Allah telah memuliakan kita di antara segala Makhluk-Nya.

Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu.
Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?”
Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”.
Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”.
Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan”.
Allah berfirman: “sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari yang telah ditentukan”
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (taat dan ikhlas) di antara mereka”.
(QS. al-Hijr: 27-40)

Dan tiadalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanya agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (QS. As-Saba’: 21)

Beliau saw. juga telah bersabda:
”Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali mereka yang enggan.” Maka dikatakan: “Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan itu?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang taat kepadaku maka dia pasti masuk Surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh dialah yang enggan.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari)
 
 

Kesimpulan


Dengan melihat bukti-bukti sejarah tentang siapa yang membawa Islam, maka kita akan segera sadar bagaimana Islam itu sebenarnya? Dia tidak dibawa oleh orang sembarangan. Dia dibawa oleh orang yang jujur, terpercaya, dan memiliki budi pekerti yang luhur. Dia bukan orang gila, bukan orang bodoh, bukan orang kejam. Bahkan dia adalah seorang Nabi dan Rasul, yang buta huruf. Dia adalah nabi akhir zaman.

Sejarah tidak berbicara tanpa bukti. Ada banyak bukti-bukti yang konkrit tentang sejarah peradaban Islam sebagai agama yang luhur dan benar serta tidak diragukan lagi kebenarannya. Dan sejarah tak ada yang berselisih tentangnya. Juga tentang kemajuan Islam dalam mengubah tradisi jahiliyah (kebodohan) bangsa arab menuju peradaban yang maju melebihi apa yang pernah dicapai oleh empirium Romawi. Semua dilalakukan selama kurang dari satu abad.

Keadaan jazirah Arab pra Islam memiliki peradaban yang sangat kacau dan sangat terbelakang. Sebab itulah masyarakat dunia memandang mereka dengan pandangan sebelah mata dan tak penting. Namun, semenjak Islam terlahir, suasananya menjadi bertolak belakang. Makkah menjadi kota yang makmur dan menjadi acuan utama dalam modernisasi (penemu aljabar adalah seorang muslim, referensi utama bidang kedokteran, yakni al-Kanun, dikarang oleh seorang muslim (ibnu Sina), dan masih banyak lagi kemajuan peradaban diwarnai oleh Islam). Makkah juga menjadi kota yang haram dari kebodohan (baca: penyembahan berhala) dan menjadi kota yang menjunjung tinggi keadilan (dengan pemberlakuan hukum Islam).

Jika Anda ingin mengetahui sejarah bangsa arab sebelum Islam, baiknya membaca artikel berikut ini: Keadaan bangsa Arab Sebelum Islam

    Jadi, Islam adalah agama yang benar, landasannya adalah:
  1. Islam dibawa oleh orang yang jujur, yakni Muhammad saw. dan dibuktikan oleh sejarah.
  2. Adanya bukti mukjizat yang tak pernah berubah sepanjang zaman, yakni al-Qur’an.
  3. Isi kandungan al-Qur’an tidak saling bertentangan dan benar adanya (sebagian terbukti, dan sebagian lagi masih menyusul, seperti hari kiamat).
  4. Didukung pula oleh Hadits yang isinya relevan seiring berjalannya waktu.
  5. Tak ada pertentangan dalam dunia sejarah tentang kemajuan peradaban Islam yang meninggalkan jejak dimana-mana (Arab, Afrika, Eropa, Asia, dll).

Jadi, agama Islam adalah kebenaran yang besar. Namun, jika ada orang Islam tapi tidak mengikuti aturan-aturan Islam, seperti rukun Islam, yang di dalamnya ada perintah untuk shalat, tapi dia sendiri tidak mengerjakan shalat, puasa, atau rukun Islam lainnya, maka secara definisi keislaman, dia bukanlah orang Islam yang sesungguhnya, melainkan orang munafik. Dan jika orang tersebut ingin menjadi orang Islam yang sesungguhnya, maka ia harus meninggalkan sifat munafiknya dan mengamalkan rukun Islam, apapun resikonya. Karena Islam sendiri sebenarnya adalah agama yang sederhana, yakni terdiri atas 5 hal: Syahadat (pengakuan atas keesaan Allah dan Muhammad saw. sebagai Rasul), Shalat 5 waktu, Zakat, Puasa Ramadhan, Haji (bila mampu).

Sekarang, bagaimana jika ada orang yang masih meragukan kebenaran Islam, padahal Islam itu sudah nyata-nyata sangat jelas rincian kebenarannya?

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. … (QS. Al-Baqarah: 256)

…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridlai Islam itu jadi agama bagimu. … (QS. Al-Maidah: 3)
 
 

Akhirnya


Kebenaran tentang Islam sudah saya utarakan dengan literatur-literatur ilmiah yang terpercaya (sejarah dan bukti sejarah). Artikel “Metodologi Kebenaran” hanya mengajak Anda untuk melihat kebenaran secara lebih benar, relevan (sesuai kenyataan), dan logis (masuk akal). Dan saya sudah menyertakan banyak analogi (perbandingan logika) yang sederhana di dalamnya agar bisa memahami “Kebenaran-Kebenaran yang Besar” dengan mudah. Sebab itu, Anda percaya atau tidak, itu adalah urusan Anda sendiri. Nabi Musa as. tak akan pernah bertanggung jawab atas pilihan Fir’aun untuk tetap atas kekufurannya karena “keterangan yang jelas” telah disampaikan. Nabi Nuh as. tak akan pernah bertanggung jawab atas kekufuran (pengingkaran) umatnya karena “keterangan yang jelas” telah disampaikan. Dan Nabi Muhammad saw. juga TIDAK akan pernah bertanggung jawab atas keselamatan umatnya, bahkan keluarganya sendiri sekalipun (seperti pamannya, Abu Jahal) karena “keterangan yang jelas” (al-Qur’an) sudah disampaikan. Dan sekarang, apakah saya harus bertanggung jawab terhadap “keputusan Anda” (apapun itu) sementara “keterangan yang cukup jelas” sudah saya sampaikan? Tidak, Andalah yang bertanggung jawab penuh atas keputusan yang Anda ambil.

Anda boleh mengatakan isi artikel ini sebagai anekdot (hoax: omong kosong), atau apapun yang Anda inginkan. Tak ada paksaan untuk menerima kebenaran, sebagaimana tak ada paksaan bagi Anda untuk membuka blog ini. Masing-masing dari kita adalah independent (sendiri-sendiri), terutama jika kiamat telah benar-benar terjadi. Kebenaran itu sudah sangat jelas, dan masih akan LEBIH diperjelas lagi (yakni, di hari kiamat).

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisaa’: 136)

Yaa… Allah, Sesungguhnya kami berlindung kepada Engkau dari kebodohan yang nyata dan dari kebodohan yang tersembunyi. Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Petunjuk. Dan jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang beruntung. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Benar, Maha Terpuji dan Maha Mengabulkan. Amin…
 
 
 




Artikel berikutnya tentang analisa “Kebohongan-Kebohongan yang Besar dalam Hidup”. Insya Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: