Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Metodologi Kebenaran [2]: Hal-hal penting yang harus diketahui oleh pencari kebenaran

with 2 comments


Selain mengetahui kriteria dari “Kebenaran”, ada beberapa hal penting yang harus diketahui oleh pencari kebenaran agar ia tak berputus asa dalam mencari kebenaran dan mempertahankannya (baca: membuang keraguan). Konsistensi (baca: terus-menerus) dalam mengkaji dan memperbandingkan literatur-literatur kebenaran serta mengikutinya merupakan hal paling penting yang harus dilakukan oleh seseorang untuk memperjelas dan memperbesar keyakinannya terhadap suatu kebenaran.

Sebagian besar orang menganggap bahwa kebenaran yang besar (seperti keesaan Allah, surga, neraka, kiamat) itu tidak nampak atau tersembunyi, padahal merekalah yang sebenarnya tidak mau membuka matanya lebar-lebar (baca: berfikir) untuk melihatnya. Ini seperti orang yang tak percaya terhadap kebenaran “angin itu ada” hanya karena ia tidak pernah melihatnya. Padahal angin ada di mana-mana. Sesuatu yang paling dekat yang ada di hadapan mata Anda saat ini bukan monitor, melainkan “Angin”. Yang paling dekat yang berada di samping Anda pun juga “angin”, dalam rongga-rongga tubuh Anda juga mengandung angin, dan bahkan dalam aliran-aliran darah Anda mengandung “angin” (oksigen). Kita juga bernafas dengan angin. Sekarang apakah Anda tidak percaya terhadap kebenaran “angin itu ada” hanya karena alasan klasik, “karena tidak melihatnya”?

Contoh-contoh dalam artikel ini masih menggunakan analogi (perbandingan) kebenaran-kebenaran yang sederhana (kecil) agar bisa dijadikan pemahaman terhadap kebenaran-kebenaran yang besar.

Apakah kebenaran itu bersembunyi?


Tidak. Kita tidak sedang bermain “petak umpet” dengan kebenaran. Kebenaran tidak bersembunyi dari kita. Manusialah yang bersembunyi dari kebenaran. Manusia tidak mau belajar dengan baik tentang kebenaran, terutama yang bersifat sangat besar (agama). Manusia lebih suka memperturutkan hawa nafsunya. Dengan kata lain manusia lebih suka bermain-main dalam kehidupan yang SANGAT serius ini.

Contoh: Jika orang ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya dari “wilayah kutub utara”, maka yang perlu ia lakukan adalah menuju ke sana dengan peta yang mengarah pada kutub utara. Jangan menggunakan peta ke kutub selatan!

Kebenaran harus dicari dengan peta pengetahuan (baca: Ilmu).

Pentingnya kedudukan “Ilmu” dalam mendongkrak performa akal


Selayang pandang tentang akal:
Kedudukan akal bagi jiwa bisa diibaratkan seperti otot pada tubuh. Ia juga harus dididik agar memiliki kemampuan yang besar dalam mengungkap kebenaran-kebenaran yang tidak nampak oleh mata. Sebagaimana seseorang yang melatih otot tubuhnya agar ia mampu mengangkat beban-beban berat. Begitulah akal, ia juga harus dididik (baca: belajar) agar mampu menghadapi medan-medan permasalahan kehidupan yang berat, terutama dalam mengungkap kebenaran-kebenaran yang besar, yakni konsep Ketuhanan, Kiamat, Akhirat (Surga dan Neraka).

Manusia tak bisa menggunakan panca indranya untuk mendeteksi kebenaran. Telah disebutkan pada artikel sebelumnya bahwa, sensor kebenaran adalah akal. Dan akal bisa berfungsi dengan baik apabila ia punya referensi (baca: pengetahuan/ilmu) yang luas dalam menentukan suatu kebenaran. Sebenarnya, ilmu bisa diibaratkan seperti lentera yang bisa menerangi seseorang dalam kegelapan. Ia bisa digunakan sebagai penerang dan penunjuk jalan. Ia bisa digunakan untuk mengetahui suatu hal tanpa harus “meraba-raba” (baca: mengira-ngira). Begitulah akal manusia, tanpa ilmu, ia tak lebih dari seorang yang BUTA. Meskipun panca indra memiliki peranan yang sangat penting bagi manusia, tapi semua itu menjadi TAK BERGUNA JIKA TIDAK DIGUNAKAN OLEH AKAL YANG BAIK (BACA: BERILMU).

Bukti tidak bergunanya “panca indra” tanpa akal.
Bukti jelasnya adalah, seperti dalam kasus orang gila (baca: sakit jiwa). Orang gila dalam aktivitas kesehariannya cenderung memakan sesuatu yang busuk yang diambilnya dari tempat-tempat kotor, meski lidahnya tahu bahwa hal itu tidak enak. Dia juga tidak mau mandi meski hidungnya mencium bau tidak sedap dari badannya yang menjamur. Dia juga tak berganti pakaian meski matanya melihat dirinya berpakaian kotor. Dia juga tak peduli saat dipukul meski kulitnya merasakan sakit. Dia bahkan tak merespon saat telinganya menangkap gelombang suara aneh berfrekuensi tinggi yang berbunyi, “Hai, Gila…!”

Begitulah keadaan seseorang yang akalnya sudah tak berfungsi.

Kemudian tentang ilmu,
Ilmu (baca: kebenaran) hanya bisa ditemukan dengan satu cara, yakni BELAJAR. Dan definisi belajar di sini tidak hanya berupa hasil dari proses “membaca buku”. Melainkan juga, pengalaman, nasehat, dan segala hal yang menambah wawasan kita tentang hal-hal yang berharga bisa juga dimasukkan dalam kategori ilmu. Seperti halnya pedagang yang sukses. Pedagang yang sukses tak harus pernah sekolah, atau belajar ekonomi. Dengan pengalaman ikut serta pedagang lain, sebenarnya ia cukup mampu untuk memperoleh “ilmu” dalam hal tata cara berdagang. Di sinilah letak pentingnya “memperhatikan” (belajar) dari orang lain. Jadi, belajar itu tak harus dari membaca buku, tapi bisa juga dalam bentuk “memberikan” perhatian atas hal-hal yang telah dialami oleh diri sendiri ataupun terhadap hal-hal yang telah dialami oleh orang lain.

Selanjutnya, mengingat pentingnya spesialisasi ilmu dalam mencari suatu kebenaran. Maka seseorang harus memperhatikan “kebenaran” macam apakah yang ia ingin cari. Jika seseorang ingin mengetahui kebenaran sifat-sifat unsur/atom, maka orang tersebut harus mempelajari ilmu kimia. Jika seseorang ingin mengetahui kebenaran-kebenaran dalam hal politik, maka ia harus mempelajari ilmu tata negara. Jika seseorang ingin mengetahui kebenaran-kebenaran dalam bidang perbankan, maka ia harus mempelajari ilmu ekonomi. Kemudian jika seseorang ingin mengetahui kebenaran yang besar (konsep kehidupan dunia, peristiwa kiamat, akhirat), maka orang tersebut harus mempelajari ilmu Agama. Ilmu kimia, elektro, ekonomi, tata negara, dan ilmu pengetahuan umum lainnya tak mampu menganalisa hal-hal tersebut, karena hal tersebut bukan bidangnya. Ilmu-ilmu pengetahuan umum tersebut hanya berfungsi sebagai penunjang saja, bukan sebagai ilmu dasar yang harus dijadikan “acuan” utama.

Komposisi Kebenaran


Kebenaran memiliki komposisi yang jelas, yakni mengandung NOL persen kebohongan (kesalahan). Namun demikian, terkadang kebenaran masih saja mengandung kebohongan. Sebab dari itu, di sinilah pentingnya ilmu dalam menganalisa dan memilah mana yang benar dan mana yang salah.

Contoh kebenaran dengan komposisi beragam adalah sebagai berikut:

Molekul air terdiri atas atom hidrogen, oksigen, dan kalsium …(1)
Minuman jahe terbuat dari jahe, gula, air, dan belerang …(2)

Dalam contoh tersebut, analisanya adalah sebagai berikut:
1. molekul air mengandung atom Hidrogen
2. molekul air mengandung atom Oksigen
3. molekul air mengandung atom kalsium

Dengan menggunakan ilmu kimia yang sederhana, kita bisa menentukan kebenaran dari pernyataan-pernyataan tersebut. Dalam ilmu kimia telah disebutkan bahwa molekul air hanya tersusun atas atom hidrogen dan atom oksigen, tak ada unsur lainnya. Sebab itu, pernyataan no.3 tersebut salah. Oleh sebab itu, “komposisi kebenaran” pada contoh no.1 di atas hanya 66.6% (2/3 x 100%), hal ini karena 1 di antara ketiga pernyataan tersebut bernilai salah!

Pada contoh no.2 pun demikian. Analisanya adalah sebagai berikut
1. minuman jahe mengandung jahe
2. minuman jahe mengandung gula
3. minuman jahe mengandung air
4. minuman jahe mengandung belerang

Dalam keempat analisa kebenaran no.2 tersebut, ternyata ada satu yang bernilai salah, yakni no.4. Minuman jahe tidak mengandung belerang. Sehingga nilai kebenaran dari pernyataan tersebut adalah ¾ x 100% = 75%.

Kepandaian dalam menganalisa komposisi kebenaran mutlak Anda perlukan, jika Anda ingin mengetahui letak kebohongan dalam suatu kebenaran yang masih mentah.

Kemudian,
Kebenaran yang bercampur dengan kebohongan biasa disebut dengan rekayasa/konspirasi (baca: Persekongkolan). Rekayasa dikembangkan dengan teknik mencampur adukkan kebohongan dengan kebenaran. Teknik ini berhasil bagi mereka yang seringkali berpikiran dangkal, atau, bagi mereka yang seringkali menggunakan panca indranya sebagai acuan utama dalam menentukan (memahami) suatu kebenaran.

Contoh yang nyata adalah pada atraksi pertunjukan sulap. Dalam atraksi itu, pesulap selalu berusaha meyakinkan penontonnya bahwa apa-apa yang dilakukannya itu adalah suatu yang “menakjubkan” (baca: kebenaran mutlak), alias bukan suatu tipuan atau kebohongan. Padahal, dalam kenyataan yang sesungguhnya para pesulap mempersiapkan aneka ragam trik (tipuan) agar niatnya dalam rangka meyakinkan para penonton, berhasil.

Teknik tipuan dalam dunia sulap sangatlah beragam, mulai dari yang sederhana (biasa) hingga ke tipuan tingkat tinggi (mistik: menggunakan perantara jin).

Contoh tipuan yang sederhana adalah ketika pesulap mengeluarkan kelinci dari topi sulapnya. Para penonton yang berpikiran “dangkal” pasti akan merasa yakin bahwa topi sulapnya itu memang ajaib karena bisa mengeluarkan kelinci. Atau pada saat pesulap mengeluarkan burung merpati dari sapu tangannya.

Kemudian, tipuan tingkat tinggi hanya dilakukan oleh pesulap yang memiliki kemahiran yang luar biasa, dan biasanya tidak menggunakan teknik yang sederhana dalam “merekayasa” kebenaran, tapi juga menggunakan perantara lain, yakni menggunakan perantara jin (dunia mistis) dalam operasinya.

Contoh tipuan tingkat tinggi yang dilakukan oleh pesulap adalah saat ia menghilangkan sebuah pesawat penumpang di bandara, setelah terlebih dahulu ditutup oleh kain terpal yang lebar. Atau saat tubuh pesulap terbelah secara horizontal menjadi dua bagian (bagian atas dan bagian bawah).

Bagi orang-orang yang malas berpikir, apa-apa yang mereka lakukan itu terlihat sebagai suatu kebenaran. Padahal, kenyataannya, hal itu hanyalah sampah (baca: kebohongan).

Kebenaran memiliki tanda-tanda yang bertahap hingga akhirnya terbukti


Pembuktian terhadap suatu kebenaran (apalagi kebenaran yang besar), memiliki tahap-tahap tersendiri.

Contoh:
Racun ular kobra bersifat mematikan …(3)
Ahli geologi mengatakan bahwa Gunung Merapi akan meletus …(4)

Pada contoh no.3 tersebut, sebelum kebenaran itu terbukti, maka harus melalui beberapa tanda tertentu. Misalnya, kulit orang yang terkena racun ular kobra tersebut berubah warnanya menjadi lebih gelap, temperatur suhunya meningkat, dll.

Kemudian, tentang kebenaran no.4. Sebelum gunung Merapi tersebut meletus, biasanya didahului oleh tanda-tanda (gejala-gejala alam) tertentu, misalnya adanya awan, perubahan suhu, dll yang merupakan tanda meletusnya suatu gunung.

Bagaimana dengan tanda kiamat? Akan dibahas pada artikel berikutnya.

Topik ini merupakan topik yang sangat penting bagi Anda yang ingin menyelidiki kebenaran-kebenaran yang besar (di artikel yang akan datang, insya Allah).

Kriteria percaya (yakin) terhadap suatu kebenaran


Orang yang percaya terhadap suatu kebenaran, biasanya menjadi konsisten (baca: patuh) terhadap kebenaran tersebut. Hal ini diwujudkan baik dalam “pikiran” maupun tindakan.

Contoh:
Ahli kedokteran menyatakan bahwa Rokok sangat merusak kesehatan …(5)

Pada contoh no.5 tersebut adalah benar, karena yang mengatakannya adalah pihak yang punya otoritas (baca: ahli) dalam hal itu. Sehingga orang yang percaya terhadap kebenaran tersebut adalah orang yang membenarkan perkataan dokter, kemudian ia tidak merokok. Itulah orang yang percaya.

Kemudian,
Apakah Anda percaya bahwa Neraka itu ada? Dan apakah Anda telah bersikap konsisten atas kepercayaan Anda itu?

Alasan-alasan yang biasa digunakan dalam menyangkal kebenaran


Kebenaran, walaupun sudah nampak sangat nyata, masih saja diingkari oleh manusia. Ada beberapa alasan kenapa kebenaran itu diingkari, yakni:
1. Karena sudah kebiasaan, contoh: perokok
2. Kurang pemahaman karena tidak membaca (belajar), contoh: lagi-lagi perokok :mrgreen:
3. Takut dikucilkan, contoh: perokok lagi (beberapa preman -mungkin- mengkhususkan anggotanya untuk merokok, jika tidak, status keanggotaannya dibatalkan. haa…?)

Maaf sebelumnya untuk Anda yang suka merokok. Saya tidak bisa mengambil contoh yang lain, karena itu adalah contoh yang paling nyata. Saya juga dulu merokok, tapi berhenti. Mau tahu kebenaran rokok yang merusak kesehatan? Klik di sini. Sebenarnya contoh yang paling nyata tentang “dampak buruk rokok bagi kesehatan” ada di Rumah Sakit, di klinik khusus “Spesialis Organ Dalam (paru-paru)”.

Contoh besar pengingkaran terhadap suatu kebenaran adalah dalam peristiwa (baca: kisah) para nabi. Dalam kisah nabi Musa as. Fir’aun mengingkari kebenaran “status kenabian Musa” karena ia sudah terbiasa dengan keangkuhannya (baca: egois). Dalam kisah nabi Nuh as., putranya tak mau mengikutinya karena ia (putra nabi Nuh as.) kurang paham (baca: tak mau belajar/memahami) perkataan ayahnya yang sudah jelas. Dalam kisah kenabian Muhammad saw., beberapa kaumnya enggan menerima kebenaran dari “status kenabian Muhammad saw.” karena mereka yakin, jika mereka memilih menerima kebenaran tersebut mereka akan dikucilkan oleh para kafir Quraisy yang jumlahnya mayoritas di jazirah arab, jadi mereka memilih untuk “menolak” kebenaran tersebut.

Uji Coba Kemampuan Anda dalam Memahami Kebenaran


Gelas-gelas ini terisi penuh?

Bagaimana pendapat Anda tentang ketiga gelas di atas? Apakah ketiga gelas itu “tidak terisi penuh” atau “terisi penuh”?

Jika Anda berpikiran dangkal maka sepertinya Anda akan menyimpulkan secara ceroboh tentang keadaan ketiga gelas tersebut, yakni “tidak penuh”, atau “hampir penuh”. Padahal dalam kenyataan yang sesungguhnya, ketiga gelas itu terisi penuh!

Tak ada gelas kosong di dunia ini, semua gelas selalu terisi penuh!

Apakah saya mengada-ada?
Tidak, saya akan buktikan bahwa ketiga gelas itu terisi penuh.

Apakah “akal” Anda tidak melihat udara yang berada di atas ketiga cairan gelas tersebut? Udara tersebut juga mengisi gelas-gelas tersebut ‘kan? Jadi pada dasarnya, seandainya ketiga gelas tersebut hanya terisi separuh cairan, maka sebenarnya gelas-gelas tersebut SELALU terisi penuh, karena ada komponen udara di atasnya. Bahkan, sekalipun ketiga gelas tersebut tak terisi cairan sama sekali, yakni yang menurut kebanyakan orang disebut gelas kosong, maka sebenarnya, gelas tersebut tetap terisi penuh, karena ditempati oleh udara.

Jadi, jangan pernah berkata, “Tolong ambilkan gelas kosong di dapur!”
Terus, bilang apa dung? Bilang aja, “Tolong ambilkan gelas bersih di dapur!” 😀

Apakah hal tersebut bisa dibuktikan lebih jauh?
Bisa, ada cara yang mudah jika Anda ingin membuktikan kebenaran analisa ini secara lebih detil. Ambillah gelas yang tidak terisi cairan sama sekali, yakni yang dianggap oleh kebanyakan orang sebagai gelas “kosong”, kemudian celupkan gelas tersebut ke dalam bak air (misal, bak mandi) dengan posisi terbalik.

Apa yang Anda peroleh?
Anda akan menyaksikan bahwa air tak akan masuk ke dalam gelas. Mengapa? Tentu saja karena gelas masih terisi penuh :mrgreen:. Apakah Anda pikir bahwa “air” tidak tahu bahwa gelas tersebut berisi penuh?!!

Jadi sebenarnya, setiap hal yang dianggap “kosong” oleh kebanyakan manusia, ternyata memiliki isi yang penuh. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tak ada sesuatu (baca: ruang) yang kosong dalam hidup ini. Semua ruang terisi penuh.

Jadi, pepatah yang berbunyi Tong kosong nyaring bunyinya merupakan pepatah yang salah, karena setiap tong setidaknya mengandung udara. Jika tidak ada udara, mana mungkin bunyi dari “Tong” tersebut terdengar (jika dipukul), sementara gelombang suara menggunakan medium udara dalam perjalanannya (baca: perambatannya).

Mungkin ada yang bertanya:
Bagaimana dengan ruang angkasa yang hampa udara? Apakah ruang itu masih ada isinya?

Tentu saja, suatu ruang yang hampa udara sekalipun tetap memiliki isi. Biasanya isinya berupa partikel cahaya (baca: photon), karena keberadaan ruangan tersebut masih bisa dilihat oleh mata. Atau jika suasananya gelap, maka mengandung partikel kegelapan (baca: anti-photon). Dan bisa juga mengandung gelombang-gelombang elektromagnetik.

Semua partikel tersebut tidak dapat dilihat dengan mata kepala secara langsung, tapi bisa dilihat oleh “ketajaman akal”. Jadi, belajarlah terus agar Anda bisa melihat kebenaran dengan cara yang lebih teliti.

Jika Anda tidak belajar untuk teliti dalam melihat hal-hal yang sepele, maka ketahuilah bahwa hal-hal yang besar memiliki konstruksi yang lebih rumit lagi. Anda akan kesulitan dalam membuat analogi terhadap kebenaran yang besar tersebut.

Begitulah cara melihat kebenaran, Anda harus belajar melihat yang “tersembunyi” dibalik yang “nampak”. Karena biasanya, yang “tersembunyi” itulah yang SESUNGGUHNYA!

Inilah sebabnya kenapa “harta karun” itu jarang ditemukan meski ia nyata “benar adanya”. Mengapa, ya? Tentu saja, karena “harta karun” pada mulanya selalu tersembunyi dari pandangan mata, sementara manusia lebih suka memperhatikan yang “nampak oleh mata” ketimbang yang tersembunyi. :mrgreen:

Anda percaya dengan surga? Surga adalah harta karun terbesar yang pernah ada. Dan bisa dipastikan, akan sangat jarang orang menemukannya, yakni dengan rasio perbandingan 1:1000 (0.1%).

Akhirnya


Saya sudah berusaha untuk memaparkan dasar-dasar Metodologi Kebenaran secara keseluruhan dan cukup terperinci. Sebenarnya masih banyak yang ingin saya jabarkan, namun saya sadar, tak mungkin saya menjelaskan semua yang saya miliki. Einstein tidak menemukan rumus (baca: kebenaran) E=MC2 dalam waktu satu detik, satu menit, satu jam, satu hari, satu minggu, bahkan satu tahun…10 tahun, dst, dia bahkan menemukan kebenaran (baca: rumus E=MC2) selama seumur hidupnya.

Sehingga, seandainya ada anak TK yang bertanya kepada Einstein tentang kebenaran rumus E=MC2, maka tentu dia tak akan memberikan rincian secara keseluruhan tentang rumus tersebut sedetil-detilnya. Dia hanya akan berkata, tentang permen yang dikunyah dengan kecepatan lambat dan lebih cepat, atau tentang hal-hal yang bisa dipahami dengan mudah, sehingga pada akhirnya dia akan berkata kepada anak tersebut dengan perkataan, “Belajarlah hingga akhirnya engkau sendiri yang menemukan kebenarannya”.

Saya tak bermaksud menyatakan bahwa saya lebih baik dari Anda. Karena dalam kenyataannya (baca: kebenaran), saya tidak lebih pintar dari Anda dan Anda tidak lebih bodoh dari saya. Kita sama-sama punya akal yang memiliki potensi tinggi. Dan sekarang tergantung pada kesadaran masing-masing, apakah kita mau menggali potensi akal kita yang sesungguhnya, atau hanya akan membiarkan akal kita tersebut pada level paling rendah, yakni pada posisi “insting hewan”?!! Hewan tidak menggunakan “akal”, dia hanya menggunakan insting untuk menjalani hidupnya, yakni naluri alamiahnya, seperti makan, minum, tidur, kawin, bermain, dll.

Apa yang saya utarakan di sini merupakan benih kebenaran yang harus Anda kembangkan sendiri, bila suka. Para Nabi dan Rasul tak pernah memberikan penjelasan yang sangat detil tentang pemahaman mereka akan konsep kehidupan (akhirat) yang sesungguhnya. Apa-apa yang mereka sampaikan itu hanyalah “hal-hal pokok” yang harus dilakukan oleh umatnya hingga akhirnya ia menemukan kebenaran yang lebih besar melalui pengalamannya sendiri. Kita tak pernah mendengar ada nabi yang bercerita tentang berapa meter persegi luas pintu surga, berapa malaikat yang menjaga neraka, berapa Kilometer kedalaman neraka, dll. Atau pada kisah nabi Musa as., Musa as. tak pernah menjelaskan secara “detil” tentang proses tongkatnya yang berubah menjadi ular, atau bagaimana laut bisa terbelah. Mereka tak pernah berbicara secara detil tentang kebenaran-kebenaran itu.

Jadi, jika Anda ingin menemukan kebenaran lebih –jelas– maka Anda harus mengembangkannya sendiri. Para Nabi hanya memberi bibit kebenaran, kitalah yang menanamnya (baca: mempelajarinya), merawatnya (baca: melaksanakannya), hingga akhirnya kita sendiri yang akan memetik buahnya (baca: menemukan kebenarannya).

Seperti kata Nasruddin, Kebenaran itu Mahal. :mrgreen:

Sampai jumpa di artikel berikutnya, tentang analisa Kebenaran-Kebenaran yang Besar dan Kebohongan-Kebohongan yang Besar. Insya Allah

Iklan

Written by Amir

15 Maret, 2010 pada 05:49

Ditulis dalam Renungan

Tagged with , , , , , , , ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. seandainya anda membeli minuman 1 botol, tapi isinya hanya 1/4 berarti anda mau dong ? walaupun isinya 1/4 tapi menurut teori anda iyu terisi penuh…

    kidnep

    8 Desember, 2011 at 09:19

    • Mau atau tidak mau ITU ADALAH URUSAN SAYA.

      Pertanyaanya adalah: APA SAYA HARUS MINTA IZIN ANDA JIKA INGIN MEMBELINYA??

      Amir

      8 Desember, 2011 at 16:27


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: