Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Metodologi Kebenaran [1]: Konsep Umum dalam Memahami Kebenaran

with 2 comments


Artikel ini akan memaparkan Konsep Umum dalam memahami suatu kebenaran, yakni melalui analisa ilmiah yang mengacu pada bukti konkrit agar bisa diterima dan dipercaya. Metode yang dipakai dalam artikel ini dimulai dengan pendekatan contoh-contoh sederhana yang relevan (sesuai kenyataan yang ada) dan tak diragukan lagi kebenarannya (baca: “tak terbantahkan”). Dan kemudian diterapkan kepada model kebenaran yang besar pada akhirnya nanti. Sehingga bisa diperoleh pemahaman lebih baik tentang kebenaran yang besar tersebut.

Sebenarnya, dalam kehidupan manusia yang sangat nyata ini ada banyak sekali kebenaran, mulai dari yang terkecil –semisal kebenaran sebuah operasi matematika sederhana- hingga kebenaran yang terbesar (konsep ketuhanan, Kiamat, Akhirat). Namun anehnya, sebagian besar manusia lebih mempercayai kebenaran yang kecil ketimbang kebenaran yang besar. “Rabun Jauh” tidak hanya bisa diderita oleh mata kepala, tapi juga bisa dialami oleh Mata Hati. Sebab itulah, diperlukan kacamata agama untuk memahami masa depan (baca: akhirat).

Manusia selalu dituntut untuk menemukan kebenaran dengan memanfaatkan potensi akalnya yang besar, kemudian mengikuti kebenaran tersebut untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik, yakni kebahagiaan yang abadi. Hal ini harus ia lakukan selama ia masih memiliki sisa waktu (baca: umur) dalam hidupnya. Inilah tujuan utama dalam kehidupan manusia. Jika tidak demikian adanya, maka ketahuilah bahwa sebenarnya, algoritma kehidupan manusia hanya berujung pada dua hal, yakni Kebahagiaan Abadi (Surga) atau Kesengsaraan Abadi (Neraka). Dengan kata lain, kehidupan manusia adalah kehidupan yang memiliki awal, namun TIDAK memiliki ujung. Kematian bukanlah akhir dari kehidupan manusia, melainkan sebuah awal dari versi kehidupan yang lain, sebagaimana proses “kelahiran bayi” yang merupakan awal dari “kehidupan dunia” setelah ia menjalani “kehidupan alam kandungan (baca: rahim)”.

Sementara itu, dalam menganalisa dan memahami kebenaran, Sebagian besar manusia cenderung lebih suka menggunakan pemikiran yang dangkal dan tak menggunakan metode-metode yang benar. Dan hal tersebut bisa berakibat sangat fatal, seperti halnya seorang siswa yang tak mau belajar dan memahami dengan sungguh-sungguh apa-apa yang telah diterangkan oleh gurunya. Siswa tersebut akhirnya gagal, dan tentu saja, ia tak pantas menyandang predikat siswa berprestasi yang patut dihargai atau diberi penghargaan.

Nah,
Begitu juga perihal kebenaran. Ketika seseorang tak mampu menganalisa (baca: mempercayai) kebenaran-kebenaran yang primer dalam hidup ini (seperti keesaan Tuhan, Surga, Neraka, Kiamat, dll), dan ia mati dalam keadaan tersebut, yakni kafir (ingkar/membangkang), maka sebenarnya ia telah menjadi manusia yang gagal dan tak ada penghargaan (baca: Surga) yang pantas diberikan kepadanya. Dia hanya pantas untuk memperoleh penderitaan yang Abadi.

 

Sekarang, kita mulai dengan yang pertama, yakni tentang Kriteria Kebenaran. Dan, santai saja :mrgreen:, artikel ini tak bermaksud untuk menakut-nakuti Anda. Artikel ini hanya ingin mengajak Anda untuk melihat kenyataan (baca: kebenaran) dengan cara yang lebih manusiawi (baca: relevan).

Kriteria Kebenaran


Ada beberapa hal yang harus diketahui oleh seseorang dalam rangka mencari, menganalisa dan memahami suatu kebenaran sehingga pada akhirnya dapat diterima (dipercaya) atau ditolak (baca: dibantah!). Hal tersebut adalah:
  • Sifat Dasar Kebenaran adalah MUTLAK
  • Akal Sebagai Alat Ukur Kebenaran
  • Kebenaran Berasal dari Sumber yang Benar
  • Kebenaran Tidak Harus Selalu Dirasakan (Dialami)
  • Kebenaran Selalu Terbukti


 

Sifat Dasar Kebenaran adalah MUTLAK


Maksudnya adalah kebenaran SELALU memiliki nilai yang statis (tak bisa dirubah), kecuali ada faktor lain yang punya otoritas (kuasa) dalam hal perubahan nilainya.

Contoh kebenaran adalah sebagai berikut:

  • 1 + 1 = 2 …(1)
  • US$ 1 = Rp. 10.000,- …(2)
  • Pembuat blog ini masih hidup …(3)

Contoh kebenaran no. 1 di atas adalah MUTLAK, alias statis dan tak dapat berubah. Dari zaman dahulu hingga sekarang 1 + 1 = 2 adalah benar! Tak ada orang yang dapat mengubahnya. Sehingga meskipun, PBB mengadakan konferensi khusus untuk mengubah atau mengingkari kebenaran 1 + 1 = 2, maka hal itu akan sia-sia saja.

Adapun tentang contoh kebenaran no.2, yakni US$ 1 = Rp. 10.000 tidak bersifat mutlak karena bisa saja berubah dari waktu ke waktu. Dengan kata lain kebenaran US$ 1 = Rp. 10.000 dipengaruhi oleh waktu . Begitu juga dengan contoh kebenaran no.3, yakni “Pembuat blog ini masih hidup”, merupakan kebenaran yang tidak bersifat mutlak, karena kematian bisa saja menghampirinya setiap saat :(. Kebenaran yang nilainya dipengaruhi oleh waktu, biasanya tidak disebut dengan kebenaran, tapi disebut dengan KEFANAAN, yang merupakan lawan dari keabadian (kebenaran). Jadi, setiap kita sebenarnya hanyalah sesuatu yang fana, karena mesti keluar dari kehidupan dunia, cepat atau segera, mau atau harus mau.

Kemudian,
Bagaimana anggapan Anda terhadap kebenaran “Kiamat”, “Surga”, “Neraka”?

Masih terlalu dini untuk menjawab pertanyaan ini. Namun, berhati-hatilah terhadap pernyataan yang satu ini, karena jika hal tersebut merupakan kebenaran yang mutlak, lalu Anda tidak mempercayainya, maka sebenarnya Anda telah membuat kesalahan SANGAT BESAR, jauh lebih besar dibanding kesalahan Anda jika Anda mengingkari kebenaran 1 + 1 = 2!


 

Akal sebagai alat ukur kebenaran


Nilai suatu kebenaran bisa diukur (baca: dinalar) dengan akal (logika). Namun, tidak setiap orang mampu melakukannya. Hal ini karena akal harus dididik terlebih dahulu untuk menggali potensinya yang sesungguhnya dalam menganalisa suatu kebenaran. Proses penggalian potensi akal disebut dengan istilah belajar. Dan orang yang telah belajar dan bisa memahami suatu kebenaran disebut dengan orang yang berilmu atau orang yang berakal. Di sinilah letak pentingnya ilmu dalam menganalisa suatu kebenaran.

Kemudian tentang panca indra manusia,
Panca indra manusia meliputi:


  1. Mata: sensor untuk mengenali objek visual
  2. Hidung: sensor untuk mengenali aroma khas suatu zat
  3. Telinga: sensor untuk mengenali gelombang suara dengan frekuensi tertentu
  4. Kulit: sensor untuk mengenali perubahan tekanan dan suhu sekitar
  5. Lidah: sensor untuk mengenali sifat/rasa suatu zat

Seperti pelajaran biologi aja.

Maaf, demi kebenaran saya harus menyebutkan semua untuk memperjelas penjabaran metodologi kebenaran.

Akal merupakan indra ke-6 manusia, ia merupakan Sensor Kebenaran. Inilah yang membedakan manusia dari hewan. Karena hewan tak bisa membedakan mana yang benar (baik) atau mana yang salah (buruk). Dalam kesehariannya, konteks “Akal” identik dengan istilah Mata Hati. Sebab itulah para pelaku keburukan (baca: dosa) seringkali disebut dengan orang yang buta mata hatinya, atau disebut juga rusak akalnya karena tak bisa menimbang baik dan buruk.

Fungsi utama akal adalah menalar suatu kebenaran melalui proses kalkulasi yang sangat rumit berdasarkan ilmu (baca: pengetahuan akan suatu hal), kemudian menentukan hasil akhir dari penalaran tersebut. Penalaran terhadap suatu kebenaran terkadang mutlak diperlukan untuk menjadikan kebenaran tersebut sebagai sesuatu yang tak terbantahkan, atau untuk memperkuat keyakinan akan kebenaran tersebut. Hal ini karena banyaknya manusia yang seringkali ragu akan kebenaran itu sendiri. Sebab itu, ilmu yang berisi pengetahuan terhadap suatu hal sangat diperlukan untuk menganalisa suatu model (baca: detil/rincian) kebenaran.

Sehingga, jika seseorang ingin menyelidiki kebenaran suatu hal, maka pelajari dulu ilmunya. Dan di sinilah, letak pentingnya kedisiplinan dalam penggunaan suatu ilmu. Misal, kita bisa menyelidiki kebenaran suatu “sifat-sifat logam” dengan menggunakan ilmu kimia. Kita tidak boleh menyelidikinya dengan ilmu yang tak ada hubungannya dengan objek penelitian tersebut, misal, ilmu “Tata Boga” :mrgreen:. Begitu juga jika kita ingin menganalisa kebenaran negeri akhirat, maka harus menggunakan acuan utama ilmu agama, sedangkan ilmu pengetahuan yang lain hanya sebagai pelengkap saja (baca: analogi/perbandingan), bukan sebagai dasar utama. Hal ini karena ilmu pengetahuan selalu menganalisa objek berdasarkan data-data ilmiah yang konkrit (dapat “dianalisa” oleh panca indra) seperti gelombang radiasi alfa-beta-gamma, perubahan struktur partikel organik, dll…, namun ia tak mampu menganalisa sesuatu yang ghaib (seperti gelombang santet dari alam jin), korelasi antara mimpi dan kenyataan, dampak ibadah dalam memberi motivasi hidup, pengaruh dosa dalam kehidupan sehari-hari, dll. Semua hal tersebut tak bisa diselidiki oleh ilmu-ilmu pengetahuan yang umum.

Hal-hal lebih mendalam tentang pentingnya ilmu untuk mendongkrak performa kinerja akal, akan dicantumkan dalam artikel berikutnya.

Kemudian, berikut saya berikan contoh sederhana tentang analisa kebenaran yang kecil dengan menggunakan ilmu yang sesuai dengannya.

Pada contoh kebenaran no.1 di atas yakni 1 + 1 = 2 adalah benar. Sehingga jika ada seseorang yang tulalit bertanya demikian,
Apakah “1 + 1 = 2” itu memang benar? Mengapa tidak menghasilkan hasil yang lain, misal 11? Apakah bisa dibuktikan kebenarannya?

Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa dinalar dengan ilmu matematika dasar yang sangat sederhana, yakni:

Tentu saja “1 + 1 = 2” adalah benar, karena posisi satu (1) tingkat di atas angka 1, ditempati oleh bilangan dengan nilai 2.

Begitu juga jika ada operasi matematika lainnya, semisal 2 + 3 = 5 maka, model alasan kebenarannya sama seperti di atas, yakni karena posisi tiga (3) tingkat di atas angka 2, ditempati oleh bilangan dengan nilai 5.

Begitulah analisa kebenarannya. Tapi, meskipun ini merupakan contoh penalaran kebenaran yang sangat sederhana, tak semua orang mampu melakukannya, yakni bagi mereka yang tak cukup menguasai ilmu logika matematika dasar. Sebab itu, apabila alasan dari kebenaran 1 + 1 = 2 tersebut ditanyakan kepada orang yang tidak tepat, yakni kepada mereka yang tidak menguasai ilmu matematika dasar maka, sepertinya hal itu hanya akan menimbulkan gangguan (keraguan) dalam hati orang yang bersangkutan.

Misalnya saja kita menanyakan alasan kebenaran 1 + 1 = 2 kepada anak TK yang tidak diajari ilmu matematika dasar (aljabar, kalkulus, dll), dan di sekolah kegiatannya cuman makan bersama atau main bersama :D. Tentu saja, pertanyaan tersebut tak bisa dijawab dengan baik, dan hal tersebut hanya akan membebani pikirannya, bahkan bisa mengganggu selera makannya dalam kegiatan makan bersama. :mrgreen: Kasihan sekali anak TK tersebut, sebab itu jangan tanyakan yang aneh-aneh kepada anak TK! Tanyakan hal yang mudah kepadanya, misalnya, alasan dari kebenaran “mengapa Ibu Guru seringkali berteriak-teriak kalau menyanyi?” Oo… ya?

Kemudian, berikut adalah contoh penggunaan ilmu yang lebih tinggi dalam menganalisa kebenaran yang lebih besar:

  • Bulan tidak jatuh ke Bumi …(4)
  • Matahari bersinar …(5)

Mengapa Bulan tidak jatuh ke Bumi?
Mengapa Matahari bersinar?

Jika pertanyaan tersebut ditujukan kepada saya,
Maka ketahuilah, hal tersebut hanya akan menjadi sesuatu yang mumet (mudeng/runyam) bagi saya untuk menjelaskan kebenaran tersebut, karena saya hanya punya pengetahuan (ilmu) yang pas-pasan (baca: sedikit) dalam menganalisa bidang astronomi.

Mungkin di antara Anda bisa menjelaskannya dengan baik tentang kebenaran tersebut berdasarkan hukum-hukum (rumus) gaya sentripetal inti planet. Juga tentang reaksi partikel inti matahari yang akhirnya menghasilkan partikel yang bercahaya.

Sementara saya lebih suka dengan memberikan jawaban klasik, yakni “Karena begitulah kenyataan yang disaksikan oleh saya dan semua orang” :). Saya tidak mengingkari akan kebenaran tersebut, karena sudah terbukti kebenarannya, yakni dialami langsung, walaupun dalam kenyataannya saya tak tahu alasan yang sebenarnya dari kebenaran tersebut. Penjelasan yang terperinci tentang dua kebenaran tersebut hanya dapat Anda peroleh dari pakarnya, yakni pakar astronomi dan sejenisnya (fisika). Dan bukan dari pakar yang lain, seperti pakar motor balap GP atau pakar nge-Blog dan SEO. Mereka tak ada hubungannya dengan hal itu. Percayalah! :mrgreen:

Jadi sebenarnya, akal adalah alat ukur dalam menyimpulkan suatu kebenaran, yang terlebih dahulu dibantu oleh panca indra.

Satu lagi,
Kita sebenarnya juga sudah sangat sering menggunakan akal kita dalam menganalisa (menalar) suatu kebenaran yang lebih kompleks dalam lingkungan di sekitar kita. Misal, kita bisa menganalisa sikap seseorang yang acuh terhadap kita. Dengan sedikit pengetahuan tentang “analisa tindakan dan pengalaman bergaul”, kita bisa menyimpulkan bahwa orang itu sedang cuek kepada kita, meskipun pada bajunya tidak tertulis tulisan “Maaf ya, Gue lagi cuek!” :mrgreen:

Bacalah! Berpikirlah! Dan pahamilah! Agar Anda punya alasan yang kuat untuk menerima atau menyangkal suatu hal.
 

Kebenaran berasal dari sumber yang benar


Begitulah, kebenaran harus berasal dari sumber yang terpercaya. Misal dari media massa, elektronik, literatur ilmiah, literatur sejarah , atau seseorang yang benar-benar diakui ilmunya (jujur, terpercaya).

Perhatikan contoh berikut:

  • Dokter menyatakan bahwa ingatan disimpan di otak …(6)
  • Pakar analisis bio-kimia mengatakan bahwa “Baygon” beracun bagi tubuh manusia …(7)
  • Siaran TV menyatakan bahwa banyak pejabat yang korupsi …(8)
  • Harian Jawa Pos menyatakan bahwa episode lumpur Lapindo masih berlanjut …(9)

Contoh kebenaran no.6 dan no.7 diatas dikemukakan oleh dua ahli yang berbeda, yang tidak diragukan lagi keilmuannya. Mereka memiliki kemampuan dalam menganalisa suatu objek kebenaran berdasarkan bidang spesialisasinya masing-masing, dan mereka juga punya pengalaman akan kebenaran tersebut. Sebab itulah, kita harus mempercayai apa yang mereka katakan. Hal ini karena mereka telah bertahun-tahun menempuh jenjang pendidikan untuk menyelidiki suatu bidang tertentu, dan mereka telah punya gelar (title) yang diakui atas pengetahuan (ilmu) yang mereka peroleh. Inilah yang kita jadikan pedoman untuk mempercayai mereka, meskipun pada dasarnya, mereka juga tak luput dari kesalahan -kecil- dalam mengkaji suatu kebenaran.

Adapun tentang contoh kebenaran no.8 dan no.9, merupakan kebenaran berdasarkan sumber “media” (literatur). Memang sih, tidak semua yang dikatakan oleh media tersebut adalah benar, di sinilah kita harus menggunakan logika (akal) kita dengan cermat untuk memilah mana bagian yang benar dan mana yang tidak benar. Ketika TV menyiarkan melodrama atau acara humor, maka ketahuilah bahwa akal kita akan mengatakan bahwa itu bukan kenyataan (kebenaran) yang sesungguhnya, melainkan hanya sandiwara pura-pura yang dikarang oleh seorang produsen/sutradara untuk hiburan penonton. Hal yang sama juga berlaku pada media jawa Pos. Tak semua yang dikatakan Jawa Pos itu benar, terutama di bagian iklannya (advertising) dan masalah berita politik serta janji-janji pemerintah.

Kemudian, satu hal lagi yang sangat penting kedudukannya dalam penentuan suatu kebenaran, yakni tentang Literatur Sejarah. Literatur sejarah sangat penting kedudukannya dalam penentuan kebenaran di masa lampau. Manusia tahu tentang sejarah peradaban bangsa terdahulu melalui literatur sejarah. Beberapa tokoh sejarawan dunia –dari masa ke masa- telah menulis sejarah peradaban bangsa mereka, dan hal itu sangat berguna bagi manusia modern untuk menganalisa kebenaran dari keadaan, kebudayaan (peninggalan), pengetahuan, seni, dan peradaban manusia di masa lampau. Meski tidak semua “sejarah” itu benar, dengan logika yang sederhana kita juga mampu membedakan mana sejarah yang salah, dan mana sejarah yang benar. Sebagaimana kita bisa membedakan mana berita yang salah dan mana berita yang benar dari televisi atau media massa.

 

Kebenaran tidak harus selalu dirasakan (dialami)


Ini juga merupakan hal yang sangat penting untuk diketahui.

Kebanyakan orang seringkali mempercayai kebenaran setelah kebenaran tersebut dialami langsung oleh mereka. Ini benar-benar kebiasaan yang sangat “primitif” seperti yang dilakukan oleh kebanyakan manusia-manusia zaman prasejarah. Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa, alat untuk mengukur kebenaran adalah AKAL (logika) yang didukung oleh pengetahuan (baca: ilmu). Mereka yang mempercayai kebenaran berdasarkan pengalaman (kesaksian) langsung, tanpa “dikaji” dengan baik oleh akalnya, sebenarnya telah ceroboh dalam menentukan nilai suatu kebenaran. Panca indra bukan alat ukur kebenaran, melainkan hanya sarana umum yang digunakan oleh akal dalam mengenali, menganalisa dan memahami (mempercayai) suatu kebenaran sehingga dapat dipercayai atau diingkarinya. Dan ini bukan berarti panca indra yang menentukan sesuatu itu benar atau tidak. Ketentuan “benar” atau “tidak” ditentukan oleh “hasil akhir” dari proses pertimbangan yang dikalkulasi oleh akal.

Data kebenaran yang ditangkap oleh panca indra sebenarnya memiliki status yang masih “mentah”. Sebab itulah ia harus diolah (baca: dipertimbangkan) lebih lanjut oleh akal.

Imam al-Ghazali pernah menyinggung manusia yang mengutamakan “penglihatan mata” dalam mempercayai suatu kebenaran. Dia mengatakan:
Sudah menjadi sesuatu yang lumrah bagi manusia, bahwa ia cenderung tidak percaya terhadap sesuatu yang belum pernah dilihatnya. Seandainya manusia belum pernah melihat ular, niscaya ia tak akan percaya bahwa ADA makhluk yang berjalan dengan perutnya.

Benar apa yang dikatakan oleh beliau. Sehingga, juga, seandainya seorang belum pernah melihat kejadian “air hujan yang berwarna merah, hijau atau hitam”, maka pasti ia akan mengingkari kebenaran dari peristiwa tersebut. Anda juga pasti tidak percaya. Betul ‘kan? Apakah ada air hujan yang berwarna seperti itu? Tentu saja ada, yakni di wilayah India propinsi Kerala. Saya dapat info dari “sumber” berita unik.

Dengan menalar (memikirkan) sumber kebenarannya saja, sebenarnya orang sudah bisa dengan mudah mempercayai kebenaran tersebut. Ia tak perlu mengalami sendiri akan kebenaran yang disampaikan tersebut.

Semisal pada contoh no.6 dan no.7 di atas, kita tak perlu repot-repot untuk membuktikan sendiri kebenaran “ingatan yang disimpan di otak” dengan cara membelah kepala kita lalu menyuruh orang mencari ingatan kita yang hilang di otak kita. Dan kita juga tak perlu repot-repot membuktikan sendiri kebenaran “Baygon sangat beracun bagi tubuh manusia” dengan cara meminum Baygon secara langsung. Karena itu adalah perbuatan yang konyol sekali. Kita hanya harus menggunakan akal kita dalam memahami penjelasan dari pakar yang menyatakan kebenaran tersebut (dokter, pakar analisis bio-kimia, dan ilmuwan lainnya yang punya otoritas dalam bidang itu) atau membaca literatur yang terpercaya, misal buku ilmu pengetahuan, atau dengan cara mendengar berita, dll.

Kesimpulannya adalah, kita tak harus mengalami (menyaksikan) sendiri suatu kebenaran hanya untuk bisa mempercayainya. Kita bisa mempercayai kebenaran tersebut dari sumber yang terpecaya, misal media massa, TV, blog ini :mrgreen:, literatur sejarah, atau teman kita –yang jujur– yang telah mengalaminya sendiri.

Contoh lain tentang kebenaran mutlak yang tak terbantahkan tanpa harus menyelidiknya secara langsung adalah sebagai berikut:

Di planet Mars tak ada penjual Dodol Garut …(12)

Contoh kebenaran no.12 tersebut adalah kebenaran yang sangat mutlak. Dan kita tak perlu pergi ke Mars langsung hanya untuk membuktikan kebenaran tersebut. Kita hanya perlu memakai logika kita yang bersandarkan pada hukum-hukum fisika yang sangat umum, ekonomi pasar, dan sistematika pemasaran produk. Sayang sekali kalau kita ke Mars hanya untuk mengecek ada tidaknya penjual Dodol Garut disana! hahhaa… :mrgreen:

Sekarang pertanyaan yang sangat serius untuk Anda:
Apakah Anda percaya bahwa “alam kubur” itu ada?

Apapun jawaban yang ada dalam pikiran Anda, simpan dulu! Karena artikel ini belum sepenuhnya rampung diterbitkan. Dan Anda tak perlu “mengakhiri hidup” hanya untuk membuktikan kebenaran “adanya alam kubur”. :mrgreen: Gak usah, ya!

 

Kebenaran selalu terbukti


Aaa.., ini dia lagi yang merupakan salah satu ciri khas kebenaran yang menjadikan ia sangat berbeda dengan kebohongan. Kebenaran selalu terbukti, dan kebohongan tidaklah demikian.

Kebenaran pasti akan terbukti, cepat atau sangat cepat, baik kita setuju atau tidak. Contohnya adalah seperti berikut:

  • Reaksi 4 atom Hidrogen dan 2 atom Oksigen akan menghasilkan 2 molekul air …(11)
  • Karena sekarang tahun 2010, maka tahun depan adalah tahun 2011 …(12)

Contoh kebenaran no.11 tersebut SELALU terbukti, baik melalui percobaan di laboratorium kimia atau reaksi di alam bebas.

Kemudian,
Contoh kebenaran no.12 di atas adalah juga mutlak benar. Karena saat ini (baca: tahun terbit artikel ini) adalah tahun 2010, maka tentu saja tahun depan PASTI tahun 2011. Kebenaran yang saya nyatakan ini tak akan pernah bisa dibantah oleh siapapun, Anda setuju atau tidak, tetap akan terbukti kebenarannya. :mrgreen: Jika tidak percaya, tunggu saja tahun depan.

Ya iya lah, secara gettho!





 

Nah, sekarang Anda telah tahu konsep umum dalam menerima suatu kebenaran. Contoh-contoh kebenaran di atas adalah contoh model pemahaman terhadap kebenaran yang kecil. Dan itu bisa Anda jadikan modal untuk memahami model-model kebenaran yang lain. Dan Saya harap, dengan membaca artikel ini, pemikiran Anda menjadi semakin encer dalam memahami kebenaran yang masih belum tersingkap (baca: misteri).

Sekarang tes seberapa besar respon akal Anda dengan pertanyaan berikut:
Apakah Anda tidak beriman kepada Allah Yang Maha Esa hanya karena belum pernah menjumpai-Nya?
Apakah Anda tidak percaya akan kebenaran surga dan neraka hanya karena belum pernah memasukinya?
Apakah anda tidak percaya tentang kebenaran hari kiamat hanya karena belum pernah mengalaminya?

Sementara kita seringkali percaya terhadap ucapan “kekasih” kita, padahal kita belum pernah melihat isi hatinya! Ucapan seorang kekasih tidak selalu benar. Mengapa demikian? Tentu saja, karena hanya “hati nurani”lah yang selalu berkata jujur, dan lidah tidaklah demikian! Salah satu kebenaran dari sifat lidah yang tak bisa disangkal sampai saat ini adalah bahwa, lidah seringkali terpeleset.

Okay,
Posting berikutnya insya Allah akan mengupas masalah hal-hal penting lainnya yang perlu diketahui sehubungan dengan kebenaran. Sehingga pada akhirnya bisa dijelaskan kebenaran-kebenaran yang BESARRRR… dalam hidup ini, dan juga tentang kebohongan-kebohongan yang BESAR…. Karena manusia pada dasarnya adalah makhluk yang BESARRR… kepala (baca: sombong/egois). :mrgreen:


Pamekasan, 11 Maret 2010
Ttd,

Pembela Kebenaran :mrgreen:

 

Iklan

Written by Amir

11 Maret, 2010 pada 19:33

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. resep kehidupan ???

    hahaha,,,,kayak makanan aja

    Tp,,tulisannya keren..

    bisa jadi inspirasi…

    Rudini Silaban

    14 Maret, 2010 at 21:26

  2. like this,,
    🙂

    dewi

    5 Februari, 2012 at 22:39


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: