Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Kronologi Terbentuknya Takdir

with 8 comments


Akhirnya, saya ditakdirkan untuk menulis artikel tentang takdir.

Jika Anda berfikir bahwa artikel ini menyangkut masalah kriminalitas, maka ketahuilah, sepertinya Anda benar!

Artikel ini akan membahas, terutama, tentang tindak kejahatan tingkat 1 yang dilakukan seseorang terhadap dirinya sendiri. Yakni, melalui prosedur hukum kehidupan yang jelas, tidak bertele-tele, dan tidak diragukan lagi keadilannya, yakni T A K D I R .

pembatasan
Pembicaraan masalah takdir di sini, hanya dalam konteks dan latar belakang dari suatu keadaan yang dialami manusia. Dan bukan dalam hal konteks keadaan kehidupan alam semesta secara umum atau konteks kehidupan yang lebih luas.

D A F T A R I S I

Pengertian Takdir yang Sesungguhnya

Takdir adalah konsekuensi tindakan berdasarkan hukum kehidupan.


Konsekuensi disebut juga hasil, atau akibat.
Tindakan bisa berupa niat (keinginan), perbuatan, atau sikap.
Hukum kehidupan yang sesungguhnya hanya ada dua, yakni al-Qur’an dan al-Hadits.

Pengecualian…

Sebab dari itu, jika Anda tidak percaya tentang al-Qur’an sebagai mukjizat (tanda kebesaran Allah) dan al-Hadits (sabda/perbuatan Nabi saw.) sebagai sesuatu yang mesti diutamakan, maka tak akan banyak gunanya Anda berusaha bersusah payah dalam memahami artikel ini. Anda perlu mencari hukum kehidupan lain yang lebih benar daripada al-Qur’an dan al-Hadits. Dan tak perlu membaca artikel ini.

Namun, jika Anda ingin membaca literatur ini untuk dijadikan sebagai perbandingan dengan kenyataan hidup yang ada, maka tak ada salahnya Anda membacanya sampai tuntas.


Kesimpulannya adalah, takdir ditentukan oleh dua hal
1. Tindakan (kehendak/keinginan)
2. Hukum kehidupan (al-Qur’an dan al-Hadits)

Hukum kehidupan, yakni al-Qur’an dan al-Hadits merupakan hukum kehidupan yang tidak berubah, dengan kata lain, kedua hukum tersebut bersifat stabil dan adil. Meskipun beredar banyak hadits palsu, dan al-Qur’an palsu, tapi terkadang hal tersebut hanya pada daerah-daerah tertentu saja, seperti Kuwait. Masyarakat Islam global telah mampu membedakan mana hadits shahih (benar) dan mana yang palsu. Begitu juga dengan al-Qur’an, mana al-Qur’an yang asli dan mana yang buatan manusia.

Perbedaan sifat kedua hal tersebut, baik al-Qur’an yang asli ataupun yang palsu, atau Hadits yang asli atau yang palsu, sangatlah jelas, seperti berbedanya langit dengan bumi.

Kemudian…,
Dan karena takdir juga dipengaruhi oleh tindakan, dan tindakan manusia bisa saja berubah-ubah, dan perubahan tindakan ini dipengaruhi oleh “kehendak” manusia itu sendiri, maka tentu saja takdir seseorang ditentukan oleh “kehendak” (keinginan) orang itu sendiri yang akhirnya diwujudkan melalui tindakannya .

Dengan kata lain, takdir bukanlah sesuatu yang harus selalu “Mutlak Terjadi” tanpa alibi (alasan/sebab) yang jelas yang bisa diterima.


Sebab itu, jika Anda tak menginginkan suatu takdir menimpa Anda, maka janganlah melakukan tindakan yang dapat mendatangkan takdir tersebut.

Contoh, jika Anda tak ingin memperoleh takdir “mati mengenaskan karena minum baygon”, maka jangan coba-coba minum baygon, apapun rasanya.

Jadi, sebenarnya, kita sebagai manusia telah diberi kebebasan dalam “berkehendak” –meskipun terbatas, karena bisa memilih berbagai keadaan takdir (ketentuan). Sehingga dengan kebebasan “kehendak” yang kita miliki, kita bisa memilih tindakan yang diinginkan. Namun, pilihan yang kita ambil tersebut, yang diwujudkan dalam tindakan (perbuatan), maka mau atau tidak, secara pasti akan diproses sesuai dengan kedua sumber hukum di atas, yakni al-Qur’an dan al-Hadits.

oleh sebab itu…
Kualitas pemahaman (pengetahuan) Anda terhadap kedua sumber hukum tersebut, yakni al-Qur’an dan Hadits, akan mempengaruhi kemampuan (kapabilitas) Anda dalam memilih tindakan, yakni mana yang baik dan mana yang tidak, yang akhirnya akan menentukan takdir Anda sendiri.

Mengapa demikian?
Hal ini, karena di dalam dua sumber hukum tersebut, yakni al-Qur’an dan al-Hadits, telah disebutkan berbagai macam informasi (hukum), juga bermacam-macam jenis tindakan, baik berupa nasihat ataupun larangan, kemudian disebutkan pula konsekuensi (akibat) dari tindakan tersebut.

Jadi, setiap tindakan seseorang, sadar atau tidak, mau atau tidak, pada akhirnya akan tunduk pada kedua hukum kehidupan tersebut dalam hal konsekuensinya (akibatnya).

Tentang hukum alam,
Adapun hukum alam, sebenarnya merupakan sebagian hukum (aturan) yang telah dicantumkan dalam al-Qur’an. Dalam al-Qur’an disebutkan:

Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ukuran.(QS Al-Ra’d [13]: 8 )
(Segala sesuatu di alam raya ini memiliki ciri dan hukum-hukumnya). Lihat kitab-kitab tafsir jika ingin mengetahui tafsirnya.

Dan tentu saja, hukum alam, yang merupakan penjabaran (perluasan) dari hukum-hukum yang dijelaskan dalam al-Qur’an, bersifat adil (stabil), yakni berlaku bagi siapapun, dan tak bisa dimanipulasi kecuali oleh Allah sendiri.

Contoh-contoh hukum alam, dan ketentuan standar lainnya tersebut adalah sebagai berikut:
1. Api bersifat panas dan membakar.
2. Gravitasi bumi selalu mengarah ke arah bumi (bawah). 😀

Contoh, penerapan hukum alam dalam pembentukan takdir seseorang.
Jika seseorang melompat dari sebuah ketinggian tertentu maka dapat dipastikan takdirnya adalah, dia akan jatuh ke bawah. Takdir seperti ini berlaku bagi siapapun yang melakukan tindakan serupa, baik itu anak pejabat, artis, orang penting, orang ‘gak penting, orang bodoh, orang pintar, ataupun orang sok pintar, dll.

Dengan demikian hukum alam bersifat stabil (adil), yakni tidak pilih-pilih.

NB:
Hanya Superman yang bisa melompat dan melambung ke atas, karena dia punya kemampuan untuk membebaskan dirinya dari gravitasi bumi :).

Rumus Umum Dalam Penentuan Takdir

Gue baru denger, tuh “Takdir” ada rumusnya!

Selama kaidah bahasa manusia masih mengoleksi kata “Mungkin” (may be), maka tak ada yang tak “mungkin”. Kemungkinan adalah sesuatu yang bisa saja terjadi. Namun, tentu saja, harus diusahakan! Karena jika tidak diusahakan, maka, statusnya adalah, mungkin saja TIDAK terjadi.

Rumus umum “Penentuan Takdir” berikut, bisa digunakan untuk memperbaiki keadaan (takdir) Anda, coba aja, pasti seru!

Takdir seseorang berbanding lurus dengan tindakan orang itu sendiri. Dan seringkali, takdir yang sama diperoleh dari tindakan yang berbeda.

Artinya, semakin baik tindakan seseorang, maka semakin baik konsekuensi (hasil) dari tindakannya tersebut, yang berarti takdirnya menjadi semakin baik pula.

Begitu juga sebaliknya, semakin buruk tindakan seseorang, maka semakin buruk konsekuensi (hasil) dari tindakannya itu, yang berarti takdirnya menjadi semakin buruk pula.

Ini sebenarnya juga telah sesuai dengan kaidah peribahasa lama, yakni

Barang siapa menanam, maka dia akan menuai.
Atau dengan kata lain, “Kita hanya akan menuai apa yang kita tanam.”

Kalau kita menanam benih jagung, maka jagunglah yang akan kita panen, dan bukan duren atau lainnya.

Dan kalau kita ingin memanen duren, tanamlah biji duren, bukan biji jagung atau lainnya.

Kedua biji tersebut punya perbedaan yang sangat jelas di mata anak TK. Apatah lagi dalam pandangan orang dewasa!

Begitu juga tentang kebaikan dan keburukan,
Kalau kita menanam benih kebaikan, maka kebaikanlah yang akan kita rasakan.

Dan kalau kita menanam benih keburukan, maka jangan pernah bermimpi untuk memetik kebaikan. Karena kita hidup di alam nyata, dan bukan di alam mimpi.

Kedua benih tersebut, yakni benih kebaikan dan benih keburukan, punya perbedaan yang sangat besar dalam hal struktur dan komposisinya. Perbedaan tersebut meliputi rasa, sifat, kualitas, dan harganya di pasaran. Jelasnya, kebaikan memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dari keburukan, itu maksud saya.

Dan mengenai pernyataan bahwa “seringkali, takdir yang sama diperoleh dari tindakan yang berbeda” akan dijelaskan sebagai berikut.

Setiap tindakan selalu mengarah pada konsekuensi tertentu, misal mengakibatkan seseorang memperoleh takdir “mati mengenaskan”.

Nah, takdir “mati mengenaskan” inilah yang bisa dihasilkan dari berbagai macam tindakan.

Misal, orang tidak harus mengalami “mati mengenaskan” hanya karena minum baygon cair. Ada banyak tindakan yang bisa membuat seseorang memperoleh takdir “mati mengenaskan”, misalnya saja dengan minum air aki, minum pestisida (dosis tepat), dll.

Untuk lebih jelasnya,
Lihat nanti di topik “Apakah Takdir Itu Adil?”.

Hubungan Antara Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan

Sebenarnya, hubungan antar ketiganya baik-baik saja…

Tapi, biar lebih jelasnya…

Ketahuilah, segala sesuatu yang terjadi itu tergantung pada apa yang menyebabkannya. Dan BUKANNYA terjadi begitu saja tanpa alasan yang jelas, ataupun karena dogma (pemikiran primitif).


Ada sebab maka ada pula akibatnya. Atau jika Anda menginginkan suatu “Akibat” maka lakukan dulu “Sebab”nya. Itulah prosedur umum yang dilalui oleh takdir.

Dengan kata lain, ada faktor kronologi (analisa waktu) tindakan di dalamnya. Yakni tindakan yang telah dilakukan di masa lalu mempengaruhi keadaan masa kini (sedang dialami, saat ini), atau tindakan yang sedang dilakukan saat ini akan mempengaruhi keadaan di masa depan.

Atau boleh juga dibolak-balik –kalau tidak pusing, yakni keadaan saat ini dipengaruhi oleh masa lalu, dan keadaan masa depan dipengaruhi oleh keadaan (tindakan) saat ini.

Dengan catatan penting, bahwa yang dimaksud dengan masa lalu adalah setiap masa yang telah dilalui. Jadi, masa lalu bukan hanya berupa masa saat anak-anak, atau beberapa tahun yang lalu. Keadaan saat satu bulan yang lalu saja sudah sangat cukup untuk dianggap sebagai masa lalu.

Bahkan, satu minggu yang lalu, satu hari yang lalu, satu jam yang lalu, satu menit yang lalu atau satu detik yang lalu pun sudah cukup bisa dikatakan sebagai masa lalu. 🙂

Dan, yang disebut dengan masa kini (saat ini) adalah masa yang sedang dialami sekarang (right now!). Yakni bisa berupa masa hidup di dunia, tahun ini, bulan ini, minggu ini, hari ini, satu jam ini, satu menit ini, atau satu detik yang sedang dialami saat ini.

Begitu pula dengan pengertian masa depan, masa depan adalah setiap masa yang akan segera dialami. Masa depan bisa berupa kehidupan di akhirat, masa setelah kematian, beberapa tahun kedepan, bulan depan, minggu depan, beberapa hari kedepan, besok, satu jam yang akan datang, satu menit yang akan datang, atau bahkan satu detik yang akan datang sudah bisa dianggap sebagai masa depan.

Jadi jangan terlalu jauh-jauh dong, kalau mau bicara tentang kapan sebenarnya masa depan itu.

Seperti jika ada orang berkata,
“semoga kau punya masa depan yang baik”, artinya, bisa saja, seperti ini:

“semoga satu menit kedepan, kau jadi orang sukses” 🙂 wow, cepat amat.

Apakah Takdir Itu Adil?

Tentu saja! Namun perlu Anda tahu, bahwa konsep keadilan bukanlah sama rata, tapi sama rasa!

Lihat contoh matematika berikut ini:

1 + 1 = 2
Sin 90 + cos 0 = 2
Log 100 = 2

Anda tentu paham dengan ketiga operasi matematika di atas. Perhatikan angka 2 yang merupakan hasil masing-masing ketiga operasi tersebut.

Mengapa setiap operasi di atas bernilai 2, padahal modus operandinya (penyebabnya) beda?

Jawabannya, cukup logis, yakni karena semua proses kalkulasi (perhitungan) masing-masing operasi di atas mengarah kepada nilai 2. Jadi, algoritma (alur) yang berbeda terkadang menghasilkan konsekuensi (hasil akhir) yang sama.

Dengan kata lain, suatu keadaan yang memiliki nilai 2 tidak harus selalu disebabkan oleh perhitungan 1+1, tapi juga bisa disebabkan oleh perhitungan lainnya, yakni sin 90 + cos 0, atau Log 100, atau operasi matematika lainnya, tak peduli serumit apapun operasi matematika tersebut, yang penting hasilnya mengarah kepada nilai 2.

Contoh keadilan takdir dalam kehidupan nyata…
1. Minum Baygon menyebabkan takdir “mati mengenaskan”
2. Minum air aki menyebabkan takdir “mati mengenaskan”
3. Minum jus buah menyebabkan takdir “sehat bugar”

Ketiga takdir di atas adil. Orang bisa saja mati mengenaskan dengan meminum air aki (tentu saja dengan dosis tepat), atau dengan meminum baygon (dengan dosis tepat juga).

Mungkin ada yang bertanya,
“Sepertinya tidak adil deh!”

Apanya yang gak adil, Jeng?

“Itu lho, harga baygon ‘kan lebih mahal dari harga air aki. Kenapa orang yang minum baygon juga harus memperoleh takdir mati secara mengenaskan, mengapa bukannya memperoleh takdir mati secara mempesona?”

haaahhaaaa…, 🙂 Bukan begitu cara menganalisa keadilan yang benar.

Kasus dua peminum sinting di atas, yakni peminum baygon dan peminum air aki, dapat dianalisa sebagai berikut.

Keadilan atas suatu tindakan (alamiah) tidak menggunakan patokan harga barang di pasaran yang selalu dipengaruhi kurs dollar itu! Tindakan kedua peminum tersebut (minum baygon dan air aki) berpatokan pada hukum alam, yakni dalam hal sifat racun (dari kedua cairan itu sendiri), yang berpotensi mematikan.

Racun, sebenarnya, tidak hanya berupa racun ular, ataupun kalajengking, laba-laba, dll. Segala hal yang memiliki komposisi beracun (bersifat racun) juga berpotensi menimbulkan kematian, dan disebut racun juga. Seperti halnya cat, oli mesin, dan zat-zat kimia beracun lainnya yang sangat akrab dengan masyarakat kita.

Jadi, baik minum baygon ataupun air aki kemudian menyebabkan orang yang meminumnya memperoleh takdir “mati secara mengenaskan”, adalah sesuatu yang adil. Karena dua hal tersebut sama-sama berpotensi mendatangkan kematian secara mengenaskan. Seperti halnya ketiga operasi matematika di atas yang berpotensi menghasilkan angka 2 tanpa memperhatikan latar belakangnya.

Yang menjadikan tidak adil, adalah jika orang minum baygon malah bertambah sehat bugar, dan orang yang minum jus buah malah mati mengenaskan. Tapi, dalam kenyataan, kita tak pernah menemukan hal seperti itu, bukan? 🙂

Apakah Anda masih berpikir bahwa saya kurang adil dalam memberikan penjelasan?

OK, sepertinya saya memang kurang adil kalau tidak menyertakan topik berikutnya.

Konsep Keadilan yang Sesungguhnya

Hukum alam adalah salah satu hukum yang bersifat stabil (konstan) dalam kehidupan ini, karena telah dijamin dalam al-Qur’an (sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, QS Al-Ra’d [13]: 8).

Sebab dari itu, hukum alam bersifat adil (berlaku bagi siapa saja), dan tak bisa dimanipulasi (diubah) kecuali oleh Allah sendiri.

Pertanyaannya adalah, apakah ada tipe hukum lainnya yang tidak adil dalam kehidupan ini?

Bukan saja ada, tapi banyak sekali tipe hukum yang tidak adil. Hukum-hukum tersebut pada dasarnya merupakan hukum sintesis (buatan manusia). Hukum-hukum tersebut meliputi, hukum pidana, perdata, ekonomi, sosial, politik, dan hukum sintesis lainnya.

Contoh kepincangan dalam hukum sintesis

Dalam aturan “hukum pidana” disebutkan, bahwa tindak kejahatan seperti, “pembunuhan” harus diadili sesuai dengan tingkat pembunuhannya.

“Ya betul.”

Mengapa seorang yang melakukan pembunuhan terhadap dirinya sendiri (baca: bunuh diri) cenderung tidak dibawa ke pengadilan dan diadili? Bukankah dia telah melakukan pembunuhan tingkat 1, yakni terencana dan bener-bener disengaja, dan kadang saksi matanya sudah lebih dari cukup? Apa masih mau naik banding?

“Ada kompensasi untuk kasus yang mudeng (mumet) seperti itu.” 🙂

Jika keadilan mengenal istilah “kompensasi”, maka itu bukan lagi keadilan, tapi kelaliman (ketidak-adilan).

Jadi, sebenarnya pembunuhan itu harus selalu diadili. Tapi, ketika tersangka pembunuhan dan korban pembunuhan adalah orang yang sama, maka di sinilah letak kelemahan hukum pidana tersebut, karena tak bisa menjangkau (mengadili) si pelaku. Dan tentu saja si pelaku tersebut lolos. Ke mana? Ya ke alam lain lah, yang lebih mudeng (mumet) lagi baginya.

Begitu juga jika si korban bukan orang penting, atau korbannya binatang. Misal kasus pembunuhan terhadap kucing tetangga yang mencuri ikan di dapur. Tentu saja, pelaku pembunuhan tersebut tak dapat dijangkau oleh hukum (pidana) atau dituntut oleh keluarga si kucing.

Okay,…

Kehidupan dunia merupakan kehidupan yang bercampur (bereaksi) antara kebaikan dan keburukan. Tak ada pemisah (sket) yang jelas di antara keduanya.

Contoh kepincangan dalam hukum sosial/publik (interaksi masyarakat),
Ada orang baik-baik, tapi malah memperoleh perlakuan yang tidak baik. Ada pula, orang yang jujur tapi malah dihindari dan dilecehkan. Ada orang yang korupsi miliaran rupiah, tapi sangat, sangat disegani, dimuliakan dan dihormati.

Tidak adil ‘kan kalau seperti itu?

Begitu juga, tentang orang yang beribadah dengan baik, dan berusaha bekerja dengan sejujur mungkin tapi hidupnya cenderung miskin?

“kenapa ya?”

Jawabannya, karena adanya ketidak-adilan dalam penerapan hukum publik/masyarakat. Sebagian manusia lebih menghargai tradisi “suap-menyuap” atau tradisi “seenaknya sendiri” daripada tradisi “kejujuran” atau “ketulusan/kebaikan”. Sebagian dari mereka juga tak peduli apakah seseorang itu taat beribadah atau tidak. Karena bagi mereka, ibadah hanyalah formalitas dalam agama yang memiliki prioritas TIDAK begitu penting dalam penentuan hasil kerja seseorang.

Ya, salah besar tuh orang kalau anggapannya kayak gitu. Karena, secara teori sederhana saja, kualitas (kepercayaan/loyalitas) seseorang bisa dianalisa dengan cara berikut:

Jika seseorang sudah berani mengingkari perintah Penciptanya (Tuhannya), maka apatah lagi tentang perintah atasannya yang punya mata yang sering ngantuk itu?!! Tentu saja, tuh orang bisa saja, menjadi “sangat, sangat, sangat berani menantang atasannya”. Cuman kesempatannya aja yang belum ada :).

Maka dari itu…
Secara konteks yang sesungguhnya, tak ada keadilan yang 100% dalam hidup ini.

Dan hanya ada satu tempat yang paling adil dalam perjalanan hidup manusia, yakni di kehidupan yang akan datang (akhirat).

Hari akhirat disebut juga hari keadilan, yang hanya akan menghitung besarnya kebaikan dan keburukan perbuatan seseorang dalam masa hidupnya. Ga’ percaya? Tenang aja, masing-masing kita akan mengikuti prosedur standar menuju kesana, yakni melalui pintu kematian. Karena dalam al-Qur’an telah disebutkan bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan (mengalami) kematian.

Bagaimana proses klaim keadilan di akhirat

Ketahuilah, bahwa Yang Bertindak Sebagai Hakim di hari kiamat adalah Allah sendiri, Pencipta kehidupan ini. Setiap orang tak punya pembela, selain amalannya (perbuatannya) sendiri semasa hidup di dunia.

Proses klaim keadilan di akhirat juga sangat mudah, dan tidak bertele-tele seperti proses peradilan hukum-hukum buatan manusia. Pengadilan dunia masih mengenal istilah “naik banding”, “pengajuan kembali”, “sidang ditunda 100 tahun lagi” :), dll. Bertele-tele kan?

Kemudian, tentang dasar hukum yang berbeda…
Jika dasar “hukum buatan” manusia di dunia ini adalah “sesuka hati” (karena minimnya bukti atau pilih kasih), maka ketahuilah bahwa dasar hukum di akhirat adalah “Apa adanya” (sesuai kenyataan hidup di dunia). Tak ada faktor pilih kasih di sana, apalagi pilih-pilih.

Biar lebih jelas tentang “Dasar” hukum…

Lihat contoh keadilan tentang “Berat Benda” berikut ini yang menggunakan beberapa dasar hukum yang berbeda.

Berikut adalah rumus fisika untuk mengukur berat benda.
W = m * g
W = berat benda; m = massa benda; g = gravitasi yang berlaku

Jika sebuah benda bermassa 100kg, maka berapa nilai berat benda tersebut, di Bumi, dan di Yupiter.

Jawabannya:

Di Bumi…
Karena di bumi hukum gravitas bernilai 10 m/s2, maka berat benda tersebut di Bumi adalah:
W = m * g (Bumi) = 100 * 10 = 1000 Newton

Di Yupiter
Dan karena hukum gravitasi di Yupiter adalah 24,79 m/s2, maka berat benda tersebut di Yupiter adalah:
W = m * g (Yupiter) = 100 * 24,79 = 2479 Newton

Lihatlah contoh keadilan di atas. Nilai W yang berbeda di dua tempat, karena dasar hukum (gravitasi) yang berlaku beda.

Kedudukan W dalam rumus di atas bisa diibaratkan sebagai nilai keadilan, m sebagai permasalahan (kenyataan yang ada), kemudian g sebagai “Dasar Hukum” itu sendiri.

Nah,…
Karena akhirat memiliki dasar hukum yang berbeda dengan dasar hukum di dunia ini, maka disana, nilai perbuatan seseorang (semasa hidupnya) tentu saja beda dengan nilai yang diberikan (atas perbuatan tersebut) saat di dunia.

Dan tak menutup kemungkinan,…
Perbuatan baik (termasuk juga ibadah) seseorang mungkin dianggap remeh dan tak bernilai di dalam kehidupan dunia ini. Tapi, di akhirat kelak pasti perbuatannya itu akan mendatangkan keuntungan yang “sangat” besar baginya. Karena di sana, standar nilai suatu perbuatan bukanlah dihitung dengan emas atau kurs dollar (seperti halnya gaji karyawan saat ini), tapi standar ukurannya adalah kebaikan (pahala) atau keburukan (dosa) yang telah dilakukan semasa hidup di dunia. Dan tentu saja, konsekuensi (hasil) akhirnya pun bisa berbeda, yakni surga atau neraka.

Jadi, kesimpulannya adalah:
Perbuatan seseorang, baik itu berupa kebaikan ataupun keburukan, akan memiliki perbedaan nilai yang “sangat jauh” dengan nilai yang diberikan –atas perbuatan tersebut– semasa di dunia ini. Seperti halnya berbedanya nilai “berat benda” di kedua tempat di atas.

Yang perlu Anda ingat juga…
Anda, tak akan dapat melihat bentuk keadilan yang sesungguhnya atas perbuatan seseorang di dunia ini, jika berpedoman pada hukum sintesis.

Mengapa?

Karena yang bertindak sebagai hakim dalam hukum tersebut, adalah manusia itu sendiri. Dan tentu saja, sifat-sifat negatif manusia seperti serakah, egois, sok benar, sok pintar, sok tahu dan sok-sok yang lainnya akan turut serta dalam mewarnai proses peradilan hukum sintesis tersebut. Sebab itu, sangat jarang bisa ditemui keadilan. Sehingga, wujud keadilan yang sesungguhnya masih ditunda hingga hari akhirat kelak.

Takdir Itu Bisa Dipilih

Kita kembali lagi ke masalah takdir…

Telah disebutkan bahwa takdir seseorang ditentukan oleh tindakan orang itu sendiri. Maka dari itu, seseorang bisa saja menghindari takdir yang tidak diinginkannya dengan cara T I D A K melakukan tindakan yang dapat mendatangkan takdir tersebut.

Ada sebuah kisah bersejarah tentang seseorang yang menghindari takdir buruk.
Demikian kisah singkatnya:


Pada suatu hari, Khalifah Umar ra. melakukan perjalanan dan sampailah mereka di suatu perkampungan yang masyarakatnya dilanda oleh wabah (penyakit). Mengetahui hal tersebut, Umar ra. menghentikan keinginannya menuju perkampungan tersebut dan melewati jalur lain.

Salah seorang dari pengikut beliau berkata kepadanya,
“Apakah engkau ingin lari dari takdir yang telah ditentukan Allah atas dirimu?”

Umar ra. menjawab, “Ya, aku lari dari takdir (ketentuan) Allah yang buruk menuju takdir (ketentuan) Allah yang baik.”

Jawaban Umar ra. tersebut mengindikasikan bahwa ia menghindar dari takdir “Tertular wabah” dan memilih takdir “Selamat dari wabah”.

Sebab itulah beliau selamat dari takdir buruk (terkena wabah) yang tidak diinginkan tersebut.

Jadi, takdir itu sebenarnya hanyalah akibat dari suatu tindakan. Tak ada sebab, maka tak ada pula akibatnya.

Contoh,
“Tak ada pembuat dodol, maka tak ada kue dodol di pasaran.” 🙂
Tapi, masalahnya, siapa yang bisa melarang orang untuk buat kue dodol?!!
Sebab itu, karena pembuat kue dodol mash tetap ada, maka, takdirnya ya kue dodol itu tetap ada di pasaran.

Masa Tenggang dan Masa Aktif

Ne pasti masalah pulsa, ya kan?

Bukan, ini bukan masalah pulsa. Ini tetap masalah takdir.
Takdir, sebenarnya juga punya masa tenggang dan masa aktif.

A n e h.
Tapi begitulah kenyataan di lapangan.

Bedanya dengan pulsa, adalah, kalau pulsa ‘kan masa aktif dulu baru masa tenggang.

Nah, pada takdir, masa tenggang dulu, baru masa aktif (terealisasi/terjadi).

Biar lebih jelasnya, lihat contoh berikut ini.


Ketika seseorang melakukan tindakan “menanam benih padi”, dan memberikan perawatan yang baik, maka ia akan memperoleh takdir “memanen padi” saat padi berusia 110 hari lebih.

Dengan demikian, “Masa Tenggang” takdir tersebut adalah 110 hari.

“Lah, masa aktifnya?”

Ya, saat panen padi dong! 🙂
Tergantung apa mau dipanen 1 hari sekaligus, 2 hari, atau lainnya, suka-suka si petani itu sendiri.

Begitu pula, dalam takdir yang lain.
Misal, ketika seseorang digigit oleh ular kobra, maka dia akan ditakdirkan untuk mengalami kematian karena sengatan ular, misal dalam 3 jam kedepan.
Maka, masa tenggang takdir “mati karena sengatan ular” orang tersebut adalah 3 jam kemudian.
Masa aktifnya? Ya saat ia menemui ajalnya (sakaratul maut).

Takdir Bisa Mengalami Perubahan

Dengan mengamati pola takdir yang penuh toleransi itu, yakni masa aktif (kejadian) yang didahului oleh masa tenggang (rentan waktu kejadian), maka sebenarnya takdir bisa saja mengalami perubahan, karena suatu tindakan tertentu. Dengan catatan, yakni asalkan takdir tersebut masih berada dalam masa tenggang, dan bukan dalam masa aktif (sedang terjadi).

Dan takdir yang bisa berubah, tidak hanya pada takdir buruk saja. Bahkan, takdir baik juga bisa saja mengalami perubahan (gagal terjadi).

Contoh takdir baik yang berubah menjadi takdir buruk,

Dalam contoh kasus di atas, yakni menanam padi dan baru bisa dipanen pada usia 110 hari lebih. Maka, jika petani bertindak ceroboh dalam masa tenggang takdir “memanen padi”, yang memiliki rentan waktu selama 110 hari tersebut, maka bisa saja takdirnya BUKAN “memanen padi”, tapi takdir yang lain.

Misal, pada usia padi 80 hari, petani tersebut bertindak ceroboh dengan menambahkan pupuk kimia secara berlebihan, yang menyebabkan kematian pada tanaman padi tersebut.
Dan tentu saja tindakannya tersebut menyebabkan ia memperoleh takdir “gagal panen”, dan BUKAN takdir “memanen padi”!

Contoh lain dalam kehidupan nyata, tentang perubahan takdir baik menjadi takdir buruk.

Seseorang bersedekah kepada seorang fakir miskin. Namun, 3 tahun kemudian, si fakir miskin tersebut menjadi lebih kaya dari pemberi sedekah tadi.
Karena iri hati, si pemberi sedekah itu sombong, dan seringkali mengungkit-ngungkit pemberian sedekahnya itu. Tentu saja kesombongannya itu menyebabkan ia harus kehilangan takdir “memperoleh pahala sedekah”, dan ia memperoleh takdir “mendapat dosa karena sombong”.

Okay, satu lagi…,
Tentang contoh takdir buruk yang menjadi takdir baik.

Begitu juga dengan contoh kasus orang yang digigit ular kobra di atas.
jika dalam rentan waktu 3 jam dilakukan upaya pengobatan, maka mungkin ia TIDAK akan memperoleh takdir “mati karena sengatan ular”.
Misal, 2 jam kemudian, ia diberikan penawar racun kobra.

Maka tentu saja ia TIDAK akan memperoleh takdir “mati karena sengatan ular”, melainkan yang ia peroleh ialah takdir “sembuh dari sengatan ular”.

Namun, jika masa tenggang takdir “mati karena sengatan ular”, yang 3 jam tersebut, sudah habis, yakni takdir tersebut telah berada dalam masa aktif, dengan kata lain, si korban sedang dalam keadaan sakaratul maut, maka tentu saja hal tersebut telah terlambat. Sebagaimana terlambatnya Fir’aun yang hendak bertaubat ketika telah hampir ditenggelamkan di laut.

Cerita lainnya tentang masa tenggang takdir.

cerita ini disingkat demi efisiensi artikel…
Ada sebuah kisah terkenal dari negeri Padang, yakni tentang kisah si Malin Kundang anak durhaka.
Sebenarnya, Malin Kundang adalah anak yang baik.
Pada awalnya, ia berangkat pamit kepada ibunya untuk merantau.
Selama di perantauan yang bertahun-tahun itu, ia bisa dibilang sukses. Namun, anehnya, ia tak mau menjenguk ibunya yang tak tentu nasib kehidupannya.
Saat di perantauan, ia menikah dengan seorang putri keturunan raja.

Pada suatu hari, saat berbulan madu dengan isterinya tersebut, ia berlabuh di sebuah pulau yang ternyata itu adalah tanah kelahirannya sendiri.
Di pulau itu, tentu saja ia bertemu dengan ibunya. Namun, ia tak mau mengakui ibunya tersebut sebagai orang tuanya karena gengsi kepada isterinya yang keturunan bangsawan itu, seraya berkata,
“Mana mungkin aku punya ibu yang miskin seperti kau?”
Sebenarnya, ibunya telah menunjukkan beberapa bukti bahwa dia (Malin Kundang) adalah anaknya, yakni dengan cara memperhatikan beberapa tanda pada badannya, dan juga kalung di lehernya.
Namun, sepertinya, tuh anak emang lebih suka pilih takdir “jadi anak durhaka” daripada takdir “jadi anak berbakti”.
Singkat cerita, pada akhirnya, Malin Kundang tetap tidak mengakui ibunya yang sudah tua renta itu sebagai orang tuanya.
Dan, akhirnya ia pun berlayar lagi.
Hati ibunya dibiarkan teriris sedih dan duka yang berkepanjangan. Namun, apa boleh buat. Mungkin ibu itu murka sekali terhadapnya, sangat kecewa dan tak bisa memaafkannya karena sangat dilecehkan oleh buah hatinya yang telah dibesarkan dengan kasih sayang yang tiada tara itu.
Hingga pada suatu waktu, kapal Malin Kundang tersebut oleng dan rusak parah, tenggelam (terdampar) dan para awak kapalnya sebagian besar hilang. Dan Malin Kundang sendiri terdampar di pesisir dan menjadi batu.

Sebenarnya kesalahan Malin Kundang tersebut bukan hanya karena tidak mau mengakui ibunya tersebut sebagai orang tuanya. Namun, ada kesalahan lain yang ia perbuat, yakni ia tidak menjenguk orang tuanya setelah bertahun-tahun merantau. Padahal waktu itu, ia bilang sukses (kaya) dalam perantauannya tersebut.

Dalam kisah tersebut, ada hal penting yang tidak dimanfaatkan oleh si Malin Kundang tersebut.
Hal penting tersebut adalah masa tenggang dari takdirnya “menjadi anak durhaka” yang kemudian menyebabkan ia memperoleh takdir “menjadi manusia batu”.
Masa tenggang takdir tersebut adalah masa ketika ia berlabuh di pulau kelahirannya itu sampai ia meninggalkan pulau itu.
Sehingga, seandainya saja Si Malin itu mau bertaubat dan mau meminta maaf kepada ibunya, maka tentunya, ia tidak akan mengalami takdir “menjadi manusia batu”.

Jadi, sebenarnya masa tenggangnya cukup lama. Namun, ia tak mau memanfaatkannya. Hingga akhirnya dia divonis menjadi manusia batu.

Masih tidak mau berubah?

Jika seekor ulat (baca: makhluk jelek) bisa berubah menjadi kupu-kupu (baca: makhluk mempesona), maka apatah lagi manusia yang merupakan makhluk sempurna.

Dan yang lebih menakjubkan lagi, adalah, bahwa manusia bukan hanya bisa melakukan perubahan ke satu arah, melainkan ia bisa melakukan perubahan ke dua arah, yakni bisa menjadi lebih baik atau bisa juga menjadi lebih buruk.

Pilih mana?

Tentu saja, bagi orang yang akalnya masih OEM, alias masih normal (standar) , maka ia akan cenderung memilih perubahan ke yang lebih baik.

Kesimpulannya,
Takdir itu butuh waktu untuk terjadi (terealisasi).
Setiap takdir punya masa tenggang yang berbeda-beda, ada yang lambat, ada pula yang sangat lambat. Namun, ada juga yang cepat, dan ada pula yang sangat cepat.

Dalam masa tenggang tersebut, takdir buruk bisa saja menjadi lebih buruk atau bisa menjadi takdir baik. Begitu juga dengan takdir baik, ia bisa saja menjadi takdir yang lebih baik, atau menjadi takdir buruk. Semua tergantung tindakan yang kita lakukan dalam masa tenggang takdir tersebut.

Sebab itu, jika ada orang dalam kehidupan ini yang melakukan kesalahan (dosa) yang sangat besar, dan ia tidak bertaubat atas kesalahannya itu, dan ia tidak celaka-celaka (memperoleh takdir “buruk”) juga, maka sebenarnya masa tenggang dari takdir buruknya itu, yakni takdir “akibat perbuatan dosanya tersebut” sangatlah panjang. Dan, tentu saja, dampak (takdir buruk) yang sesungguhnya akan dia peroleh di akhirat kelak.

Begitu juga, jika ada orang yang sudah beribadah secara rutin, juga berbuat baik dalam banyak hal, namun, belum juga sukses-sukses. Ya, masa tenggang takdir baiknya memang panjang. Dan ia akan memperoleh takdir baiknya tersebut secara penuh, di akhirat kelak.


Dunia bukan tempat keadilan, tapi tempat kelaliman (ketidak-adilan). Dan setiap hal itu ada prosedurnya!

Faktor Penentu Takdir

Telah disebutkan sebelumnya,
Bahwa takdir adalah konsekuensi tindakan berdasarkan hukum kehidupan yang sesungguhnya.

Dan saya tegaskan kembali bahwa hukum kehidupan yang sesungguhnya hanyalah al-Qur’an dan al-Hadits, tidak ada yang lain!

Dengan kata lain, dua sumber hukum inilah yang memproses konsekuensi apa yang harus diterima oleh seseorang berdasarkan tindakan yang telah ia dilakukan.


Dalam al-Qur’an dan al-Hadits, sebenarnya telah disebutkan berbagai macam perintah yang dapat mendatangkan konsekuensi (takdir) yang baik apabila dilaksanakan.

Begitu juga dalam hal larangan. Dalam al-Qur’an dan al-Hadits terdapat banyak larangan, yang jika dilanggar, dapat menyebabkan pelakunya memperoleh konsekuensi (takdir) yang buruk.

Sebagai contohnya…
Salah satu ayat, dan juga beberapa hadits berikut ini, sudah cukup bisa dijadikan contoh pedoman untuk menentukan takdir macam apa yang bisa diperoleh oleh seseorang berdasarkan tindakan yang dilakukannya.


Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)
(QS. asy-Syura: 30)

Menurut Hasan Bashri, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim, ketika ayat ini turun, Rasulullah saw. bersabda:


Demi Zat Yang Diri Muhammad berada dalam kekuasaan-Nya, tak ada kayu yang merobekkan (kain), tak ada akar pohon yang mematikan, tak ada batu yang menimbulkan bencana, dan tak ada kaki yang terpeleset melainkan karena suatu kesalahan. Dan Allah memaafkan sebagian besar kesalahan itu.

Kemudian diperkuat lagi oleh hadits lain,


Dan nabi saw. bersabda, “Seorang hamba tidak akan tertimpa bencana besar atau kecil, kecuali karena suatu kesalahan. Dan Allah memaafkan sebagian besar kesalahan itu.” Nabi saw. kemudian membaca ayat, “Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”
(HR. Tirmidzi)

So, saudaraku yang manis, 🙂

Kronologi terbentuknya takdir, sepertinya sudah sangat jelas.
Ternyata, tersangka utama dalam kasus terbentuknya takdir buruk yang menimpa seseorang…, yakni, seperti yang disebutkan di atas, adalah

K E S A L A H A N orang itu sendiri.

Kesalahan tertimbun di hati, dalam bentuk saham (ASET) yang disebut dengan

D O S A

Aset “dosa” inilah yang cenderung mengakibatkan kerugian yang besar dalam kehidupan seseorang, karena berpotensi dalam pembentukan takdir buruk (kecelakaan, penyakit, stress, depresi, dan keadaan buruk lainnya).

Dan, tentu saja, untuk menghindari kerugian yang besar (takdir buruk) akibat keberadaan aset “dosa” tersebut, adalah dengan cara membuang aset “dosa” tersebut dalam TEMPO SESINGKAT-SINGKATNYA, sebelum terlambat, yakni dengan cara bertaubat secepatnya.

Okay…,
Sekarang Anda sudah tahu tentang faktor penentu “TAKDIR BURUK”
Nah, bagaimana dengan faktor penentu “TAKDIR BAIK”?
Ya, tentu saja kebalikan dari faktor penentu “TAKDIR BURUK”.
Faktor penentu “TAKDIR BAIK”, yakni, dalam bentuk:

K E B A I K A N yang dilakukan oleh orang itu sendiri

Yang tertimbun dalam bentuk ASET (saham):

P A H A L A

Asset tersebut, yakni kebaikan (pahala/rahmat/karunia/ampunan), berpotensi membentuk ragam takdir baik, terutama masa depan yang baik (surga). Selain itu, akan menjadikan kehidupan orang tersebut di dunia penuh dengan keberuntungan (kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, bebas stress, dan keadaan positif lainnya).

Contoh dalam kehidupan sehari-hari,

Apakah Anda sering mendengar tentang berbagai macam tragedi kecelakaan dalam kehidupan sehari-hari?

“ya, sering banget.”

Beberapa korban yang selamat, yang cedera parah, yang mengalami kematian langsung?

“Jumlahnya bervariasi sekali”.

Apakah Anda tidak penasaran, kenapa orang-orang tersebut memperoleh takdir yang berbeda dalam satu kecelakaan yang sama?

“penasaran sih, tapi itu ‘kan sudah merupakan takdir.”

Jawaban Anda benar, tapi ada yang lebih benar, yakni, hal tersebut disebabkan oleh kesalahan-kesalahan (dosa-dosa) mereka yang bervariasi, jadi takdir buruknya pun bervariasi. 🙂

Mereka yang mengalami kematian mengenaskan dalam kecelakaan tersebut, biasanya orang-orang yang sudah sangat besar sekali kesalahannya (dosanya). Kemudian korban cedera parah dialami oleh mereka yang tidak begitu besar kesalahannya(dosanya). Dan terakhir, korban yang cedera ringan, disebabkan oleh kesalahan (dosa) orang tersebut yang kecil.

Karena sebagaimana telah disebutkan di atas tentang “rumus umum takdir”, takdir seseorang berbanding lurus dengan tindakannya.

Dengan kata lain, semakin besar kesalahan seseorang, maka takdir buruknya pun semakin besar (parah). Sebaliknya, semakin besar kebaikan seseorang, maka takdir baiknya pun semakin besar (bagus).

Contoh lain, dalam hal analisa kecelakaan.

Jika ada sebuah pesawat terbang dengan total penumpang 100 orang. Kemudian pesawat tersebut mengalami kecelakaan, dan 99 orang selamat, cuman 1 orang saja yang meninggal. Maka, curigailah yang 1 orang itu. Kesalahan (dosa) apa sebenarnya yang menyebabkan orang itu memperoleh takdir buruk separah itu?!!

Namun,
Jika dalam pesawat terbang yang berpenumpang 100 orang tersebut, ternyata, yang meninggal adalah 99 orang, dan cuman 1 orang saja yang selamat. Maka, curigailah pula yang 1 orang itu. Kebaikan apakah yang telah ia lakukan sehingga ia memperoleh takdir baik yang sangat istimewa itu?

So,
Sekarang, apakah Anda masih mau berdalih untuk tidak menghapus dosa-dosa Anda, , yang tercipta karena kesalahan-kesalahan Anda di masa lalu, dan secara langsung berpotensi mendatangkan ragam takdir buruk bagi Anda?

Jadi, kesimpulannya.
Ada dua hal penentu takdir pada diri seseorang:


  1. Kesalahan (Dosa), semakin besar kesalahan, semakin buruk takdirnya. Dan sebaliknya, semakin kecil dosa seseorang, semakin kecil pula takdir buruknya.
  2. Kebaikan yang telah dilakukan. Semakin banyak kebaikan yang telah dilakukan, semakin besar pula takdir baiknya. Dan sebaliknya, semakin sedikit kebaikan seseorang, semakin kecil pula takdir baiknya.

Doa Sebagai Pemicu dalam Perubahan Takdir Seseorang

Ada teka-teki yang besar dalam kehidupan manusia modern saat ini.
Teka-teki tersebut adalah,

Kenapa, penyakit orang kaya, rata-rata jauh lebih keren (baca: ganas/kompleks) daripada penyakit orang-orang miskin yang kebanyakan taat beribadah itu?
Padahal, dari segi makanan, makanan orang kaya adalah jauh lebih terjaga –lebih bervitamin dan bergizi– daripada makanan rakyat jelata?

“Kenapa ya?”

Jawabannya sederhana, karena mereka –orang kaya itu– mungkin atau mungkin saja tak berdo’a sebelum makan dan minum, dan tak berdo’a (bersyukur) setelahnya.

“Apa hubungannya Doa dengan kegiatan makan?”

Doa sebenarnya berfungsi menetralisir racun kehidupan, yakni mengoreksi kemungkinan terjadinya takdir yang buruk, lalu menghapusnya, sehingga takdir yang buruk tersebut tidak menimpa orang yang bersangkutan.

Dan, sebenarnya, aplikasi doa bukan hanya dalam hal kegiatan makan saja. Namun, juga dalam hal tindakan yang positif (baik) lainnya, seperti naik kendaraan, belajar, tidur, masuk kamar mandi, dan sebagainya.

Pada hakikatnya, doa itu juga merupakan tindakan. Namun, tindakan tersebut berupa permohonan kepada Dia Yang Menciptakan segala sesuatu di permukaan bumi ini, yang tahu tentang dampak sesuatu tersebut secara sangat detail.

Dari sebuah literatur yang saya ketahui, doa menghasilkan konsekuensi sebagai berikut:
1. Dikabulkan langsung di dunia ini, atau
2. Dijadikan penebus dosa-dosanya, atau
3. Dijadikan penebus takdir-takdir buruknya, atau
4. Dikabulkan di akhirat nanti.

Jadi, jangan suka ngeluh kalau doa Anda gak dikabulkan. Mungkin saja itu dijadikan penebus dosa ataupun takdir buruk yang seharusnya menimpa Anda.

Contoh doa yang gak langsung dikabulkan, misal, seseorang berdoa minta surga. Mana mungkin surga bisa diberikan di dunia ini. Surga hanya bagi mereka yang telah meninggalkan dunia fana ini. Jadi, konsekuensi doa orang tersebut ditunda sampai di hari akhirat nanti. Tapi, perlu diketahui sebelumnya, bahwa untuk menuju surga itu ada prosedur tersendiri yang harus dilewati, yakni beriman dan beramal saleh (berbuat kebajikan).

Dalam konteks nyata…
Tentang berdo’a sebelum makan dan berdo’a (bersyukur) sesudahnya…,
Kita juga tahu bahwa segala hal di dunia ini, termasuk juga makanan, tidak menutup kemungkinan mengandung hal-hal yang negatif (seperti MSG, pengawet, pemanis buatan, pewarna makanan) yang semuanya berpotensi untuk mendatangkan penyakit-penyakit yang unik seperti kanker, infeksi syaraf, gangguan pencernaan, dll. Sebab itu, untuk menghindari implikasi (dampak) dari pengaruh-pengaruh buruk tersebut, ya, sepertinya tidak ada cara lain kecuali dengan cara menetralisir segala macam potensi takdir buruk “akibat makan makanan tersebut”, yakni dengan cara berdoa sebelum makan, kemudian bersyukur setelah makan.

Hal serupa juga harus diterapkan ketika melakukan kegiatan lain. Misal, dalam hal belajar kita pun dianjurkan untuk berdoa, misal dengan membaca basmalah sebelum membaca sebuah buku atau literatur suatu ilmu pengetahuan.

Mengapa?

Hal ini dimaksudkan untuk menghindari dampak buruk pengetahuan tersebut, dan menjadikan kita memang benar-benar bertambah pintar, bukan sebaliknya.

Karena dewasa ini, ada trend kenyataan yang unik di masyarakat, yakni beberapa orang yang belajar ilmu pengetahuan, bukannya malah bertambah pintar tapi malah bertambah bodoh! Aneh sekali kan, hal ini karena mereka sombong dengan pengetahuan yang mereka miliki dan mengklaim mereka sebagai orang pintar.

Ada sebuah perkataan yang bijak dari orang yang sangat bijak,

“Jika ada orang mengatakan bahwa dirinya itu pintar, maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya orang itu bodoh.”

Begitu juga dalam hal naik kendaraan. Kita juga dianjurkan untuk berdoa sebelum menaiki kendaraan tersebut, sehingga konsekuensi takdir buruk yang mungkin terjadi karena dosa-dosa kita tidak akan terjadi. Atau dengan kata lain, kita akan menjadi lebih beruntung, yakni selamat sampai tujuan.

Anda ingin tahu, kasus nyata dalam hidup ini tentang orang yang belajar, namun menjadi semakin bodoh?

Contohnya, ya tengok aja kematian-kematian orang terpelajar (intelektual) karena kecerobohannya sendiri, ada yang dibunuh oleh mesin ciptaannya (robotnya) sendiri, ada yang terjun bebas dari menara Eiffel, dan kisah kecelakaan-kecelakaan konyol lainnya yang hanya bisa dipahami oleh orang stress.

Okay,
Sekarang Anda sudah tahu kan, bahwa doa itu penting sekali. Bahkan di dalam hadits disebutkan bahwa doa itu adalah inti (maksud) ibadah.

Dan, melalui doa pula, kadang taubat itu dilakukan. Coba tengok tentang kisah nabi Adam as. yang berdoa memohon ampunan (taubat) selama puluhan tahun. Beliau menyesali 1 kesalahan saja, yakni karena melanggar larangan “mendekati pohon khuldi di surga”.

Lalu, bagaimana pula dengan jutaan kesalahan yang dilakukan oleh si penulis artikel ini dalam kehidupan dunianya?!!

Taubat, taubat, dan taubat. Tiada hari tanpa bertaubat.

Doa juga bisa berfungsi untuk memperbesar potensi takdir baik kita, atau mempercepat proses terwujudnya takdir baik kita. Karena sebagaimana kita ketahui, bahwa takdir baik juga punya masa tenggang yang memakan waktu agak lama untuk terwujud.

Ia (doa), juga bisa diibaratkan seperti katalis dalam sebuah reaksi kimia. Katalis berfungsi untuk mempercepat reaksi (terwujudnya hasil akhir).

Contoh, aplikasi doa dalam memperbesar atau mempercepat potensi takdir baik.
Seorang mahasiswa sedang mengerjakan tugas akhir perkuliahannya. Ia berdoa agar dapat nilai tinggi sehingga mudah dalam mencari kerja.
Namun, alangkah ajaibnya. Karena doanya itu, ia malah dapat tawaran kerja yang bonafit sebelum lulus ujian “Tugas Akhirnya”.

Selain daripada itu…
Berdoa tidak boleh dilakukan untuk melakukan tindakan-tindakan negatif (buruk/jahat), karena hal tersebut kemungkinan hanya akan memperparah takdir buruk yang akan diperolehnya.

Kenapa?

Karena ia bisa saja dianggap melecehkan konteks (peranan) doa itu sendiri. Dan bentuk pelecehan ini, sebenarnya, merupakan tindakan yang buruk juga. Jadi, ketika seseorang berdoa dengan maksud bertindak jahat/buruk, maka dapat dikatakan bahwa tindakan jahatnya itu berlapis-lapis, sebab itulah takdir buruknya juga akan berlapis-lapis.

So, berdoa untuk bertindak baik aja, ya! Jangan untuk tindakan yang aneh-aneh.

Takdir yang Terungkap

Ada fenomena yang unik dalam kehidupan masyarakat. Yakni, beberapa orang suka atau ingin tahu tentang suratan nasibnya (baca: takdirnya).

Pertanyaannya adalah,

“Apakah takdir bisa terungkap (diketahui)?”

Bisa saja, tapi bisa dibilang sangat jarang terjadi. Dan walaupun terungkap, biasanya dalam bentuk simbol-simbol tertentu yang mesti dikaji ulang (dipecahkan). Misalnya, dalam bentuk mimpi, firasat, kedutan (bergetarnya bagian anggota tubuh tertentu), dll.

Misalnya, tentang orang yang bermimpi menikah. Artinya, mungkin saja ia akan mati, atau dipecat dari jabatannya, atau mungkin yang lainnya. Dan tentu saja orang yang mimpi itu harus bersiap-siap menghadapi kenyataan dari mimpinya itu :).

Saya bukan ahli tafsir mimpi, jadi tak bisa menafsirkan dengan tepat. Tapi saya pernah baca buku tafsir mimpi (karangan Syaikh Muhammad bin Sirin). Buku tafsir mimpi tersebut berpedoman pada al-Qur’an dan al-Hadits.

Tentang paranormal, orang pintar, pakar supranatural…
Sebagian di antara mereka sebenarnya bukan orang layak pakai dalam bidang pengetahuan takdir. Mereka mengklaim bisa mengetahui masa depan seseorang. Namun, mereka melakukannya dengan cara “tebak-tebakan”, dan tentu saja hanya untuk tujuan komersial agar memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya, seperti yang dianjurkan dalam teori ekonomi (yang asal-asalan itu).

Mengapa saya katakan demikian?

Karena, seandainya mereka itu benar-benar tahu tentang masa depan, kenapa mereka tidak memanfaatkan pengetahuannya itu untuk berdagang saham di BEJ (bursa efek jakarta)? Bukankah mereka tahu tentang masa depan, yakni tentang perubahan harga indeks saham gabungan, tingkat penurunan suku bunga, dan perubahan poin-poin dalam transaksi ekonomi makro di masa-masa yang akan datang, dll?!!

Dalam kenyataannya, mereka masih membuka praktek layanan sms, dengan menyuruh orang mengetik “REG…”, ini itu, dll…, dan tentu saja mereka menganjurkan demikian untuk menambah penghasilan mereka sendiri.

Mereka tak tahu apa-apa, bahkan mereka tak tahu kapan kematian kucing mereka sendiri! Mereka bukan paranormal, tapi para-abnormal.

Jadi, jangan asal percaya terhadap mereka.

Namun, demikian, ada pakar supranatural yang benar-benar tahu tentang masa depan. Mereka memiliki hak akses untuk mengetahui masa depan, meski sangat terbatas.

Ciri-ciri mereka (pakar supranatural yang sesungguhnya) itu adalah, bahwa mereka itu taat dalam beribadah, dan kepribadian (akhlak) mereka itu mulia (baik), serta tidak menolong seseorang dengan orientasi materi (harta). Dan juga, mereka tidak asal-asalan dalam memberi informasi tentang masa depan yang sangat penting.

Dengan kata lain, tidak semua hal yang mereka ketahui tentang masa depan itu dibeberkan kepada halayak ramai, hal ini dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan takdir-takdir yang lain. Seperti peristiwa tsunami, mungkin di antara mereka, yakni di antar pakar supranatural yang sesungguhnya tersebut tahu tentang detail terwujudnya takdir “peristiwa tsunami” jauh-jauh hari sebelum peristiwa tsunami itu terjadi. Namun, mereka tidak menginformasikan hal tersebut kepada halayak ramai agar tidak mengacaukan takdir lainnya, seperti takdir “mengalami peristiwa tsunami” yang telah ditetapkan atas beberapa kelompok orang tertentu, dll. Sementara orang-orang tersebut telah divonis menerima takdir seperti itu karena kesalahan-kesalahan (dosa-dosa) yang telah mereka perbuat.

Mereka, orang-orang supranatural yang sesungguhnya mengetahui hal yang sangat rahasia, dan mereka tetap merahasiakannya. Karena mereka sadar, bukan mereka yang mengatur alur kehidupan yang rumit dan kompleks ini, tapi Dia, Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana.

Sehingga, dalam kenyataan…
Jarang sekali kita temui tokoh supranatural yang sesungguhnya seperti itu. Mereka, pada umumnya tidak menyenangi bergaul terlalu membaur dalam kehidupan masyarakat umum.

Kenapa begitu ya?

Ya jelas, karena mereka sudah mengetahui keadaan masa depan, mereka bosan dengan infotaiment (ragam berita), berita gadget, ini dan itu, karena bagi mereka berita-berita kayak gitu sudah basi, dan mereka juga punya cara tersendiri untuk menikmati hidup ini. Yakni, dengan cara menjaga konsentrasi dalam beribadah untuk menghadapi masa depan mereka sendiri (baca: kematian).

Dan perlu Anda tahu juga…,
Di dunia ini, hal-hal palsu memiliki jumlah yang lebih banyak daripada yang asli, dan tak terkecuali dalam hal pakar supranatural. Dan tentu saja, yang palsu jauh lebih mudah ditemukan daripada yang ASLI.

Orang yang meramal (memprediksi) takdirnya dengan “ramalan bintang” ataupun sejenisnya kemudian mempercayainya, sebenarnya mereka telah mempersulit/mempersempit peluang mereka dalam memperoleh takdir yang jauh lebih baik.

Jelasnya, ramalan itu meleset jauh…,

Gak percaya?

Tengok saja, “bintang” orang-orang yang mengalami peristiwa-peristiwa tragis “bencana alam”. Mereka adalah orang-orang yang memiliki “bintang” berbeda, seperti Libra, Sagitarius, Pisces, dan lain-lain yang gak penting untuk saya ketik di sini. Semua bernasib sama, yakni tertimpa musibah. Padahal, ramalan keberuntungannya berbeda-beda.

Kalau masih belum percaya, lihat daftar orang yang sakit di rumah sakit. Lihat, tanggal lahirnya yang menandakan bahwa ia memiliki bintang ini dan itu. Kemudian lihat, ramalan bintangnya dalam hal kesehatan orang yang bersangkutan. Kemudian cocokkan dengan kenyataan di lapangan. Apakah hasilnya akurat?

Dan…,
Masalahnya sekarang adalah, Apakah Anda ingin membiarkan orang lain menentukan takdir Anda dengan ramalan “konyol” itu?

Atau Anda ingin menentukan takdir Anda sendiri yang jauh lebih baik dan jauh lebih menakjubkan, dengan cara bertindak lebih baik dan bertaubat atas kesalahan (dosa) yang telah dilakukan?

Karena seperti yang sudah saya sebutkan di atas, takdir seseorang itu berbanding lurus dengan tindakannya, dan BUKAN berbanding lurus dengan perkataan (ramalan) orang, apalagi dengan posisi bintang-bintang.

Bayangkan…,
Seandainya peramal yang menulis “ramalan bintang” itu mengalami stress (gangguan kejiwaan), lalu dia menulis hal yang aneh-aneh (kabar buruk) yang cenderung membuat frustasi pikiran orang, maka besar kemungkinan dia akan menghancurkan kehidupan banyak orang. Aneh sekali, kan? Tapi, itu bisa saja terjadi. Jadi, waspadalah! 🙂

Bukan mereka (baca: “tukang ramal”) yang menciptakan kehidupan ini, tapi kenapa mereka malah sok tahu dengan algoritma (alur) kehidupan yang sempurna ini. Benar-benar orang yang memiliki pola pikir primitif!

Contoh Kisah-Kisah Menakjubkan Tentang Takdir

Ada beberapa takdir yang menakjubkan dalam hidup ini yang tak bisa dinalar dengan analogi akal yang biasa. Dan ini bukan tipuan seperti yang ada dalam dunia sulap.

Contoh tentang takdir yang terungkap…
Nabi Yusuf as. adalah contoh orang yang mengetahui takdir masa depannya.

Padahal, kita tahu kan, dalam sejarah kehidupan beliau, beliau tak pernah melamar kerja ke mesir untuk posisi jabatan sebagai bendaharawan Mesir.

Pada suatu malam, beliau bermimpi sebelas bintang, matahari, dan bulan sujud kepada beliau.

Kemudian, mimpi tersebut diceritakan kepada ayahanda beliau, Ya’qub. Ayahnya berkata, bahwa firasatnya selama ini benar, tentang dirinya (Yusuf) itu. Yakni, bahwa dia (Yusuf) akan dikaruniakan oleh Allah, kemuliaan, ilmu, dan kenikmatan hidup yang mewah. Dia juga mengatakan kepada Yusuf bahwa mimpinya itu merupakan suatu berita gembira dari Allah kepada Yusuf bahwa masa depannya adalah masa depan yang cerah dan penuh kebahagiaan.

Singkat cerita,…
Akhirnya Yusuf menjadi Penasihat Raja Mesir, yang memiliki kekuasaan dalam hal keuangan dan penyaluran bahan pangan.

Jadi, kesimpulannya adalah, bahwa Yusuf as. jauh-jauh hari sebelumnya telah tahu takdir masa depannya melalui mimpi yang telah ia alami di masa lalunya.

Contoh tentang takdir yang menakjubkan…
Takdir yang menakjubkan adalah suatu keadaan takdir yang tak bisa diterima dengan nalar akal biasa, karena terkadang, di dalamnya ada kombinasi keadaan (ketentuan)yang saling bertentangan (di luar kebiasaan pada umumnya).

Contoh takdir yang menakjubkan ada dalam kisah nabi Ibrahim as.
Dalam kisah tersebut, nabi Ibrahim as. dilemparkan ke dalam kobaran api yang sangat besar. Namun, apa yang terjadi adalah diluar perkiraan akal pada umumnya, yakni api tersebut tak berpengaruh sedikitpun kepada tubuh nabi Ibrahim as.

Hal ini, karena Allah telah memerintahkan kepada api tersebut, seraya berfirman:
“Hai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim”

Dan tentu saja, setiap ciptaan, konsekuensinya harus taat kepada Allah swt., tak terkecuali dengan api tersebut. Dan api itu patuh dan taat atas perintah-Nya. Sebab dari itu, Ibrahim as. selamat dari kobaran api tersebut, meski ia telah masuk ke dalamnya.

Dalam kisah tersebut, kita perhatikan, bahwa nabi Ibrahim as. ditakdirkan untuk
“memasuki kobaran Api yang sangat besar”, namun ia juga ditakdirkan “Tidak terbakar oleh kobaran api yang sangat besar tersebut.”

Kedua kombinasi takdir tersebut adalah kombinasi yang sangat aneh, alias sangat menakjubkan. Kombinasi takdir yang sangat menakjubkan tersebut layaknya disebut dengan mukjizat.

Ada juga kombinasi takdir yang lebih menakjubkan dari takdir yang dimiliki nabi Ibrahim as. tersebut, yakni kombinasi takdir yang dimiliki Muhammad saw.

Beliau terlahir di dalam peradaban yang terbelakang, dimana kebodohan sangat diagungkan. Beliau juga tak pernah belajar apapun, dan tak pernah punya pengalaman yang berarti sebagai penambah pengetahuan beliau. Jelasnya, beliau adalah orang yang ditakdirkan buta huruf dan lahir di tengah-tengah peradaban yang sangat terbelakang dan tak pernah mengenyam pendidikan apapun dari lingkungannya.

Namun dari itu, beliau menjadi orang yang sangat sukses dalam banyak hal. Beliau mempunyai akhlak yang mulia, jujur, dan selalu dihormati kaumnya. Beliau ahli dalam perundingan, dan dalam hal menyelesaikan suatu polemik pertengkaran antar suku arab. Selain itu, beliau juga mahir dalam bidang tata negara, militer, kedokteran, dan lainnya. Sungguh, apa yang telah dicapai beliau tersebut, sangatlah aneh dan menakjubkan, jika dibandingkan dengan keadaan beliau yang buta huruf itu.

Beliau saw. memiliki takdir “sebagai manusia yang buta huruf” namun, beliau juga memiliki takdir “sebagai manusia yang sukses dalam segala hal (politik, pemerintahan, militer, ekonomi, kesehatan, sosial/budaya, pengetahuan masa depan, dll)”

Sehingga, kombinasi takdir yang beliau miliki sangat unik, aneh, dan sangat mengagumkan. Itulah salah satu mukjizat beliau.

Sebab itu, kalau ada yang mencela beliau saw., ya, sia-sia saja, karena memang begitulah kenyataan beliau, tak terbantahkan.

Kesimpulan Akhir

Takdir adalah suatu keadaan yang bisa kita pilih sesuka hati kita, dan diwujudkan melalui tindakan kita.

Kita juga bisa mengubah takdir buruk yang belum terlambat untuk dirubah, atau mungkin yang akan segera kita alami, dengan cara bertaubat atas kesalahan-kesalahan kita dan memperbaiki tindakan kita (berbuat kebaikan).

Kita sangat bisa untuk memperbaiki masa depan kita melalui perbaikan tindakan kita.
Kita juga harus banyak-banyak merenung tentang apa hidup itu sebenarnya?

Dan untuk melakukan hal itu Anda harus memahami agama.
Dalam hadits disebutkan:

Apabila Allah menghendaki kebaikan pada diri seseorang, maka ia diberikan pemahaman dalam hal agama.

Sumber kebenaran yang sesungguhnya dalam agama Islam, hanya ada dua, yakni al-Qur’an dan al-Hadits. Pelajarilah keduanya dengan baik agar Anda punya kapabilitas (kemampuan) yang luas tentang aneka ragam konsekuensi (akibat) dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh seseorang.

Dan tentu saja, untuk memperoleh takdir “diberi pemahaman agama oleh Allah” seperti yang disebutkan dalam hadits tersebut, adalah, kita sebelumnya harus punya KEINGINAN untuk mempelajari agama (sumber hukumnya, yakni al-Qur’an dan al-Hadits), kemudian melakukan tindakan “belajar agama dengan baik dan benar”. Anda bisa melakukannya dengan membaca literatur umum seperti “kumpulan hadits shahih”, atau buku-buku karangan ulama’ terkenal tempo dulu, seperti Ibnu Qayyim, Imam al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, dll. Banyak jalan menuju pemahaman.

Sementara itu…,
Dunia modern yang kita rasakan saat ini, adalah salah satu perwujudan perubahan takdir yang menakjubkan. Karena manusia dari waktu ke waktu telah memperbaiki tindakan mereka dalam hal menganalisa dan memperdalam pemahamannya terhadap ilmu pengetahuan. Dan dampak tersebut adalah dalam hal peradaban.

Peradaban manusia berkembang dari zaman primitif ke zaman modern, melalui pengembangan (perbaikan) tindakannya.

Namun, betapa anehnya, sebagian besar manusia modern, masih berpikiran primitif tentang konsep takdir yang sesungguhnya, dengan menganggap bahwa takdir hanyalah sesuatu yang statis, tak dapat dipilih, dan tak dapat diubah.

Jika benar, takdir itu memang statis. Maka, ketahuilah bahwa tak ada gunanya kita punya “akal” yang memiliki fungsi utama untuk menganalisa tindakan apa yang seharusnya kita lakukan.

Memang ada beberapa takdir yang tak dapat diubah, tapi hal itu sangat terbatas jumlahnya. Takdir tersebut meliputi kematian, hari kiamat, masuk surga atau neraka, atau takdir standar lainnya yang memang tak dapat diubah.

Tentang kematian. Kita akan mati juga pada akhirnya. Baik sakit atau pun sehat, mau ataupun tidak, cepat ataupun lambat. Bahkan meskipun kita minum obat awet muda atau pun anti kematian sekalipun, maka kita pasti mati juga. Takdir “kita pasti akan mengalami kematian” adalah salah satu takdir yang tak dapat diubah.

Tentang kiamat. Kita semua akan mengalami hari kiamat. Semua di antara kita ditakdirkan untuk mengalaminya. Dan tak ada yang dapat mengubahnya. Kita adalah milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

Tentang surga dan neraka. Kita ditakdirkan untuk memasuki salah satu di antara keduanya, sebagai tempat tinggal terakhir. Kita ditakdirkan harus memilih satu di antara kedua tempat tersebut. Dan tindakan (perbuatan) kita semasa hidup di dunia inilah yang menentukan pilihan kita atas salah satu dari kedua tempat tersebut.

Dalam hadits disebutkan:
Setelah kematian tidak ada permintaan maaf. Dan setelah kematian tidak ada tempat selain surga dan neraka. (al-hadits)

Tentang Artikel Ini

Artikel ini adalah salah satu inspirasi saya berdasarkan pengalaman hidup saya, dalam mengutak-atik takdir kehidupan saya sendiri. Dan saya ingin berbagi pengalaman dengan Anda, agar saya bisa menemukan pengalaman berharga lainnya. Dengan membagi pengalaman yang saya miliki, tak berarti menunjukkan bahwa pengalaman saya berkurang, meski pengalaman Anda juga ikut bertambah. Kebaikan itu selalu bisa dibagi tanpa harus mengurangi. 🙂 Oh, so sweet.

Artikel ini saya tulis untuk Anda, yang mungkin penasaran tentang konsep takdir yang sesungguhnya. Karena saya juga pernah mengalami kebuntuan dalam memahami konsep takdir. Dengan kata lain, sebenarnya saya juga pernah memiliki pola pikir primitif. Huh…, memalukan…! 🙂 Tapi, itu dulu…, ketika saya belum bisa menggunakan akal saya dengan baik (baca: sangat terbelakang).

Dengan pemahaman yang mendalam tentang konsep takdir yang sesungguhnya. Maka, Anda akan selalu punya alasan untuk mengubah ragam kesedihan yang Anda miliki. Dan Anda, juga, akan selalu punya alasan untuk selalu mengusahakan kebahagiaan Anda di masa depan.

Hidup itu perlu dinikmati, bukan dikhianati!

Jangan perhatikan kata orang, perhatikanlah tindakan Anda! Itulah inti proses perubahan takdir.

Namun…,
Jika Anda masih merasa kurang jelas tentang artikel ini, atau kurang puas, atau menganggap saya salah dalam pemaparan tentang konsep takdir, maka boleh naik banding dengan mengisi comment di artikel ini.

Saya adalah manusia yang memiliki nilai tak lebih dari nilai yang Anda miliki. Karena sama-sama dari tanah, dan tentu saja harus kembali ke tanah pada akhirnya nanti. Saya memang ditakdirkan terlahir dalam keadaan bodoh dan buta huruf. Namun…, tentu saja saya tidak ingin berlama-lama dalam kebodohan saya dengan bersikap masa bodoh atas perbuatan-perbuatan bodoh saya yang memang sudah nyata-nyata bodoh itu! Wow…, banyak amat “bodoh”nya! 🙂 Saya mempelajari banyak hal demi memperbaiki kelemahan-kelemahan saya sebagai manusia. Dan tak ada cara lain untuk melakukan hal itu selain dengan cara belajar, belajar dan belajar. Sampai kapan kita harus belajar? Sampai kita tiba di pintu masa depan yang sesungguhnya (akhirat), yakni melalui kematian.


Dan ketahuilah, anda adalah salah seorang yang beruntung, yang ditakdirkan membaca artikel ini. Dan itu terjadi karena faktor kebaikan yang pernah Anda lakukan. Dan seperti kita tahu bersama, bahwa faktor “tindakan baik” berpengaruh besar dalam pemerolehan takdir “baik”.

Anda –mungkin saja– memperoleh takdir “membaca artikel Kronologi Terbentuknya Takdir” karena Anda melakukan tindakan baik “mengklik url https://codenamezero.wordpress.com dan mengklik link artikel berjudul Kronologi Terbentuknya Takdir. 🙂

Anyway…,
KEBENARAN ITU SELALU PUNYA ALASAN UNTUK BISA DITERIMA, KECUALI BAGI MEREKA YANG TIDAK MENYUKAINYA.


Pamekasan, 12 Februari 2010

Ttd,

Interpol, Agen Sangat Rahasia
Divisi “Mod dan Tindakan”

Iklan

8 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. panjang banget artikelnya….

    takdir, semua yang ada memang kehendaknya tapi Yuni percaya bahwa Allah it Maha Adil.
    apapun yang kita peroleh didunia ini anggaplah itu yang terbaik.

    yuni

    14 Februari, 2010 at 13:20

    • Selama ini manusia menganggap bahwa takdir itu selalu statis, alias tak
      bisa diubah. Padahal, dalam kenyataannya, takdir itu BISA berubah-ubah
      sesuai dengan tindakan yang kita pilih.

      Sebab itulah manusia diberi beban “HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEGALA
      TINDAKAN YANG TELAH DIA LAKUKAN”.

      Dan kita tak bisa pasrah begitu saja menerima kenyataan buruk yang ada dan
      tak mau memperbaikinya, dengan mengatakan “ah, itu kan takdir.”

      Amir

      14 Februari, 2010 at 16:29

  2. terimakasih buat pencerahannya, walaupun saya tdk mengerti islam, tapi penjelasan anda mampu mengaitkan banyak hal yg kebetulan sdh sy mengerti sebelumnya.
    semoga anda terberkati.
    semoga semua mahluk berbahagia.

    tunggal

    16 Mei, 2010 at 19:28

    • Terimakasih atas motivasinya. Sesungguhnya Allah memberikan petunjuk (pemahaman) kepada siapapun yang Dia kehendaki.

      Amir

      17 Mei, 2010 at 10:19

  3. boss saya punya anak laki-laki satu dan 2 wanita, boss saya orang baik dan taat beribadah, beliau memiliki sifat sabar yang membuat semua karyawan segan terhadap beliau. salah satu pegawai beliau seorang sopir yg memiliki kesenangan berjudi dan minum minuman keras.
    uang gaji tgl 5 sudah habis buat kesenangannya dan sering hutang sana-sini, untuk menghidupi keluarganya istrinya bekerja dipasar.

    bisa anda bayangkan perbedaan hidup anak boss dan anak sopir tersebut. sudah tentu hidup anak boss tersebut bahagia (bukan senang), kehidupan lebih dari cukup (SMP kelas 3 sudah dibelikan bmw Z3), kemana-mana selalu dihormati dan disenangi orang. sedangkan anak sopir itu dari kecil sudah terbiasa kena bogem mentah bapaknya, harus ikut banting tulang buat makan hari esok dan jarang merasa senang apalagi BAHAGIA, kemana-mana selalu disindir dan terhina karena perbuatan bapaknya. APA INI DISEBUT TAKDIR YANG ADIL????

    Takdir itu bisa dibilang adil kalau hidup seseorang selalu bergulir umur 0 s/d 30 senang dan bahagia, 31 s/d mati susah dan melarat, nah itu baru TAKDIR yg ADIL.

    tapi kalau seseorang lahir hidup bahagia dan senang, berbakti, rajin sholat dan beraklak karena didikan orang tua dan lingkungan, tentu semua orang mau seperti itu.
    tapi kalau baru lahir hidup cacat, dikeluarga yang melarat dan berantakan lalu apa salahnya seseorang mempertanyakan mengenai takdir itu.

    TIDAK ADA ORANG YANG HIDUP MELARAT BERKATA TAKDIR ITU ADIL.

    ayoplong

    10 September, 2010 at 15:01

    • Anda tidak memahami artikel saya secara keseluruhan. Jika Anda paham artikel saya, Anda tidak akan bertanya seperti itu.

      Salah satu hal yang dapat disimpulkan dari artikel di atas bahwa, “keadilan yang sesungguhnya” itu TIDAK PERNAH ADA DI DUNIA INI, MELAINKAN HANYA ADA DI HARI AKHIRAT!

      Sehingga untuk contoh kasus yang Anda ceritakan yakni seorang anak sopir yang seringkali dihina, dipukul, harus kerja keras… maka perhitungannya tidaklah semudah yang Anda bayangkan.

      Sekarang tanyakan kepada diri Anda sendiri, yang dimaksud dengan “kehidupan” itu sebenarnya apa? Apakah keadaan hidup di dunia ini saja, atau juga mencakup kehidupan akhirat?

      Kalau menurut Anda kehidupan itu hanya di dunia saja maka, tentu saja tidak ada yang adil.

      Para nabi dan rasul tidak ada yang memperoleh dana pensiun, sementara para pejabat koruptor malah memperoleh dana pensiun dan premi asuransi. Tidak adil memang, sebab itulah mereka akan diadili (di hari kiamat).

      Dan dalam kisah yang Anda ceritakan, yakni seorang anak sopir dan anak boss yang keadaannya sangat berlawanan… maka memang tidak adil, sehingga masih perlu diadili lagi (yakni, di hari kiamat).

      Itu pun kalau Anda percaya kepada hari kiamat. Kalau Anda tidak percaya hari kiamat, maka anggaplah takdir itu tidak pernah adil. Artikel di atas tidak pernah memaksa para pembaca untuk mengatakan bahwa “Takdir itu adil”. Artikel di atas hanya bertujuan untuk mengingatkan para pembaca bahwa “setiap tindakan” itu selalu ada konsekuensinya. Dimana ada proses, di situ pasti ada hasil.

      HUKUM (BACA: TAKDIR) ADALAH KETENTUAN YANG DIPROSES BERDASARKAN SUATU KEADAAN, BUKAN BERDASARKAN PERSEPSI (OPINI/PENDAPAT).

      Amir

      11 September, 2010 at 13:45

      • Satu lagi yang terlupa, anda berkata:

        "TIDAK ADA ORANG YANG HIDUP MELARAT BERKATA TAKDIR ITU ADIL."

        Tahu alasannya kenapa orang tersebut berkata seperti itu?

        Yakni, karena orang itu bodoh!

        Kalau tidak bodoh, kenapa hidupnya melarat?!!

        Dan, apakah ada orang yang mau mendengarkan perkataan orang bodoh?

        Jawab: ada, yakni orang yang juga sama sama bodohnya.

        amir

        11 September, 2010 at 13:57

  4. Mantap abis Kupas tuntas HATURNUHUN kang Amir Semoga kita bisa memilih taqdir yang di Ridhoi oleh Allah SWT. Semoga Balasan atas anda pencerahan ini

    datsu

    6 November, 2013 at 15:28


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: