Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Mekanisme Terbentuknya Dosa

with 3 comments


Mari bicara lagi tentang dosa. Mengingat saya sebagai orang yang penuh dosa… dan tentu saja, saya bukan satu-satunya orang berdosa yang masih menghirup udara bebas di planet kelahiran kakek saya ini (???). Dan karena orang tua saya sudah bersusah payah menyekolahkan saya, tentu saja saya -sedikit ataupun banyak- telah memiliki nalar dalam mencari penyebab suatu perbuatan yang menyebalkan, semisal dosa (kesalahan). Jadi, sangat disayangkan jika seseorang malah bertambah bodoh setelah orang tuanya menyekolahkannya.

Dalam dunia kedokteran, penyakit/kuman/virus/bakteri merupakan sesuatu yang paling menarik untuk dibicarakan karena sifatnya yang merugikan kesehatan tubuh. Sedangkan dalam bidang kejiwaan, dosa merupakan topik tersendiri yang selalu perlu untuk dibicarakan karena sifatnya yang membinasakan (mendatangkan penyesalan yang tiada tara). Sementara itu, dalam dunia filsafat sendiri telah banyak dilakukan penyelidikan mengapa seseorang cenderung berbuat salah (dosa). Dan apa yang ingin saya paparkan di sini adalah penjabaran atas pemahaman saya pribadi terhadap perkataan Imam Al-Ghazali, tentang bagaimana rekonstruksi (langkah-langkah) dan latar belakang nafsu mempengaruhi jiwa dalam kaitannya dengan perbuatan dosa.

Imam al-Ghazali berkata:
… Jasad bisa digambarkan sebagai suatu kerajaan, jiwa (ruh) sebagai rajanya serta berbagai indera dan fakultas (organ-organ) lain sebagai tentaranya. Nalar bisa disebut sebagai wazir (penasihat raja) atau perdana menteri, nafsu sebagai pemungut pajak dan amarah (emosi) sebagai petugas polisi. Dengan berpura-pura mengumpulkan pajak, nafsu terus-menerus cenderung untuk merampas demi kepentingannya sendiri, sementara amarah selalu cenderung kepada kekasaran dan kekerasan. Pemungut pajak dan petugas polisi keduanya harus selalu ditempatkan di bawah raja, tetapi tidak dibunuh atau diungguli, mengingat mereka memiliki fungsi-fungsi tersendiri yang harus dipenuhinya. Tapi jika nafsu dan amarah menguasai nalar (penasihat raja), maka -tak bisa tidak- keruntuhan jiwa pasti terjadi. Jiwa yang membiarkan fakultas-fakultas yang lebih rendah untuk menguasai yang lebih tinggi ibarat seseorang yang menyerahkan seorang bidadari kepada kekuasaan seekor anjing,…

Jadi pada dasarnya, hakikat seorang manusia bisa diperumpamakan sebagai sebuah kerajaan. Dan dalam kerajaan tersebut ada tiga bagian yang penting dan memiliki prioritas (jabatan) tersendiri. Keempat bagian kerajaan tersebut diurutkan berdasarkan jabatannya mulai dari tertinggi hingga yang terendah adalah sebagai berikut:
1. Ruh (jiwa) sebagai Raja

2. Nalar (akal) sebagai penasihat raja

3. Nafsu (hasrat) sebagai pemungut pajak dan amarah (emosi) sebagai petugas keamanan

Jabatan tertinggi adalah raja (ruh/jiwa). Dengan demikian, kerajaan bisa berlangsung dengan langgeng (damai, aman, sentosa, jaya, adil, makmur, dan keadaan-keadaan positif lainnya) apabila raja bisa bertindak dengan bijaksana.

Jabatan tingkat dua dimiliki oleh wazir (akal). Ia punya pengaruh langsung terhadap sebagian besar tindakan raja (ruh/jiwa) dalam penggunaan fasilitas kerajaan lainnya (nafsu, amarah, indera, pengembangan akal). Kemudian, agar seorang raja bisa bertindak dengan bijaksana (benar), maka ia harus punya penasihat (wazir) yang berkualitas (berilmu tinggi, wawasannya luas, pandai berlogika dalam memahami kebenaran).

Sementara itu, agar wazir (akal) memiliki kualitas yang baik, maka ia (wazir) harus memiliki keinginan untuk belajar, belajar, dan belajar tentang kebenaran. Di sinilah letak pentingnya ilmu kebenaran, bukan ilmu pengetahuan yang lainnya (matematika, sosial, budaya, seni, tata boga, dan ilmu teknologi lainnya). Ilmu tentang kebenaran merupakan ilmu yang digunakan untuk memanajemen kerajaan dari jiwa (perasaan) itu sendiri. Karena wazir (akal) adalah seorang penasihat raja (ruh/jiwa), maka ia secara langsung memberikan pengaruh kepada raja untuk bertindak benar atau salah. Jika pengetahuan si wazir itu tinggi, maka pasti ia akan memberikan ragam nasihat yang benar (bijaksana) kepada raja (jiwa/ruh), di sinilah terdapat peluang besar terhadap kemungkinan seorang raja bertindak benar. Namun, ketika si wazir memiliki wawasan yang sempit dan tidak memadahi, maka tak banyak -atau mungkin tak ada- gagasan cemerlang (benar/bijaksana) yang bisa dinasihatkan kepada sang raja (jiwa/ruh), di sinilah letak peluang besar terhadap kemungkinan seorang raja (ruh/jiwa) berbuat salah (dosa/keburukan).

Jabatan ketiga ditempati oleh nafsu (hasrat duniawi) dan amarah (emosi). Imam Ghazali berkata bahwa keduanya harus ditempatkan di bawah raja, tidak dibunuh ataupun diungguli (diremehkan) karena mereka punya fungsi tersendiri (yang bermanfaat) dalam kerajaan. Jadi, dengan nafsu yang merupakan pemungut pajak, kerajaan bisa berlangsung dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan kerajaan (bidang keuangan/ekonomi). Dan dengan amarah yang merupakan petugas keamanan kerajaan (prajurit/tentara/angkatan perang), kerajaan bisa berlangsung dengan aman dan damai dari serangan dari luar, seperti perampokan, bandit.

Akan tetapi, karena sifat mereka berdua -nafsu dan amarah- yang buta (tak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk), maka segala pertimbangan dalam bertindak (menjalankan kerajaan) tak boleh diserahkan kepada mereka berdua. Artinya, segala yang dilakukan oleh nafsu dan amarah maka harus selalu dipantau oleh raja (ruh/jiwa) dibantu oleh akal sebagai penasihat raja (ruh/jiwa) yang bisa menimbang baik dan buruk suatu tindakan.

Setiap orang punya nafsu untuk makan. Tapi, pertimbangan/pengetahuan tentang makanan yang baik dan buruk ada pada akal, dan bukan pada nafsu itu sendiri. Akal tahu tentang makanan yang kaya energi (karbohidrat), rendah lemak (kolestrol), kaya vitamin, berserat tinggi, mengandung pemanis buatan, pengawet, dll. Ia pun juga mengetahui tentang mana yang halal dan mana juga yang haram. Dan ia pun juga tahu, kenapa harus memilih makanan yang berserat, kenapa harus memilih makanan yang halal dan bukannya yang haram, dan aneka pengetahuan lainnya yang bisa mempengaruhi raja (ruh/jiwa) untuk bertindak (memerintahkan tangan untuk mengambil makanan yang dimaksud dan diteruskan ke dalam mulut untuk dikunyah yang akhirnya ditelan lewat kerongkongan… dst).

Disamping itu, setiap orang juga punya amarah (emosi). Tapi, pertimbangan/pengetahuan tentang bagaimana melampiaskan amarah (emosi) dengan benar (bijaksana) ada pada akal. Ketika orang dikritik atas kesalahannya, saat itu raja (ruh/jiwa) seringkali menggunakan amarah sebagai bentuk mempertahankan nama baik kerajaannya (karena gengsi atau merasa dilecehkan). Namun, ketika sang wazir (penasihat kerajaan) memberikan gagasan cemerlangnya terhadap raja (ruh/jiwa) dengan berkata, “wahai baginda, kenyataan tak bisa dipungkiri, nama baik baginda hanya akan pulih jika baginda memeriksa ulang dan memperbaiki tindakan-tindakan baginda yang salah, untuk masa-masa yang akan datang”, maka orang tersebut (jiwanya/ruhnya) cenderung untuk merenung, dan membenarkan kritikan yang ditujukan kepadanya, dan ia melakukan introspeksi (perbaikan) diri.

Namun, dari pada itu semua, keputusan mutlak ada ditangan raja (ruh/jiwa). Raja (ruh/jiwa) bisa menerima gagasan cemerlang yang diutarakan oleh wazir (akal), dan bisa saja menolaknya, hal ini tergantung kecenderungan raja (ruh/jiwa) itu sendiri, dengan kata lain, raja (ruh/jiwa) bebas untuk memutuskan tindakannya. Dan tentu saja, keuntungan, ataupun kerugian dari tindakan (terhadap keputusan yang diambil), ditanggung sepenuhnya oleh raja (ruh/jiwa) itu sendiri.

Dalam al-Qur’an disebutkan:

Barangsiapa yang ber'amal shalih, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya pula. Dan Tuhanmu tiada aniaya terhadap hamba-hambanya. (QS. As-Sajdah:46)

Ketahuilah, tindakan pemberontakan terhadap jiwa itu berasal dari nafsu dan amarah. Ketika jiwa (raja) telah dikuasai oleh nafsu (pemungut pajak) ataupun oleh amarah (tentara kerajaan), maka ia cenderung mengesampingkan (meninggalkan) akalnya yang agung itu. Tidakkah kita sepakat bahwa perbedaan manusia dan hewan, hanya dalam hal “akal” saja? Setiap hewan punya nafsu untuk makan, tapi tidak tahu mana makanan yang mengandung racun atau tidak, atau bagaimana menghemat makanan untuk musim paceklik. Hewan juga punya nafsu untuk kawin, tapi tak punya kemampuan untuk menyeleksi silsilah keturunan dari pasangannya yang secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi nilai (keunggulan) dari keturunannya yang akan datang. Hewan, katakanlah seperti singa, punya amarah yang ganas dan membabi buta, dan sering ia terapkan dalam bertarung dengan musuhnya, ia tak bisa memprediksi kemungkinan keseimbangan ekosistem alam yang akan terganggu atas tindakannya itu.

Ketiga hal tersebut sangat berbeda dengan yang ada dalam diri manusia. Manusia punya nafsu untuk makan, kemudian ia pun tahu mana makanan yang beracun atau tidak, apakah halal atau tidak, dan juga tahu bagaimana menghemat makanan untuk musim paceklik. Manusia juga punya nafsu untuk kawin, dan ia tahu bagaimana cara kawin yang benar, yakni melalui pernikahan, dan ia juga tahu bagaimana menyeleksi (memilih) silsilah keturunan dari pasangannya (isterinya) hingga ia bisa menghasilkan keturunan yang jauh lebih terhormat dan bisa mengangkat harkatnya (harga diri/kehormatan) di masa yang akan datang. Manusia juga punya amarah, yang dengannya ia bisa mempertahankan komunitas sukunya bila diganggu oleh serangan luar, jelasnya ia tahu bagaimana menggunakan amarahnya hingga bermanfaat bagi lainnya.

Bagaimana menurut Anda jika ada seseorang yang tidak menggunakan akalnya dalam bertindak, ia makan tanpa berpikir panjang tentang komposisinya, juga tentang status halal dan haramnya, ia pun juga kawin tanpa menggunakan tata cara yang pantas (melalui proses pernikahan), dan ia juga menggunakan amarahnya secara membabi buta dan keterlaluan tanpa berperikemanusiaan? Tentu, orang itu seperti hewan, bahkan lebih rendah dari hewan! Wujudnya saja yang seperti manusia, tindakannya seperti hewan. Lalu apa namanya? Mungkin, manusia hewan (Petman) atau manusia yang kehewan-hewanan.

Jadi, kesimpulannya adalah, seseorang yang berbuat dosa (kesalahan) itu karena dua hal. Pertama, karena bodoh, yakni karena ia tak mau menggali potensi akalnya (kepandaiannya), dengan kata lain ia tak mau belajar bertindak benar. Kedua, karena sikap masa bodoh, yakni karena ia tak mau menggunakan akalnya dalam bertindak atau melakukan suatu hal, dengan kata lain ia tahu tentang hal yang benar (melalui akalnya) tapi malah berbuat hal yang bertentangan dengan pemahaman akalnya.

Pertama, karena Bodoh, ia memiliki akal (pemikiran) yang sempit. Hal ini karena ia tak mau belajar tentang kebenaran. Ia tak suka membuang-buang waktu hanya untuk mempelajari kebenaran karena keasikannya memperturutkan hawa nafsunya. Ia beranggapan bahwa jika ia mempelajari kebenaran, maka waktu yang ia miliki untuk bersenang-senang akan terpotong. Dengan kata lain, ia lebih suka bersenang-senang daripada belajar, atau, bisa juga dikatakan, ia lebih suka menjadi orang bodoh daripada menjadi orang pandai. Contoh kecilnya adalah tentang seseorang yang suka mengikuti balapan motor. Setiap hari ia menghabiskan hari-harinya untuk balap motor. Ibunya yang merupakan orang paling sayang terhadapnya, berusaha untuk menasihatinya bahwa hal tersebut bisa mengancam keselamatan jiwanya. Namun, anak tersebut tidak mau tahu dan malah membangkang sambil mengomeli ibunya agar jangan sok tahu. Selang beberapa hari kemudian, anak tersebut mengalami kecelakaan fatal yang menyebabkan tulang lehernya patah, dan gegar otak. Sang dokter memperkirakan sisa hidupnya hanya beberapa detik saja. Ya, apa boleh buat, kesalahan bukan pada dokter, dan juga bukan pada ibunya, apalagi pada motor balapnya. Kesalahan terletak pada anak itu sendiri yang tak mau tahu tentang resiko perbuatannya. Anak itu mungkin cukup pandai dalam balap motor, tapi tidak cukup pandai dalam memanajemen (merawat) jiwanya (nyawa/hidupnya).

Kedua, karena Sikap Masa Bodoh, ia lebih suka (condong) memperturutkan hawa nafsu atau amarahnya meskipun ia tahu bahwa hal tersebut pada dasarnya salah dan tak boleh dilakukan. Orang tersebut telah tahu mana yang baik dengan jelas, dan mana yang buruk dengan jelas pula, namun tetap saja ia lebih suka memilih yang buruk karena kesenangan sesaat tanpa memperhatikan resikonya dikemudian hari. Contoh kecilnya, seperti seorang perokok. Ia tahu bahwa merokok itu merugikan kesehatan, menyebabkan kanker, gangguan kehamilan dan janin -seperti yang telah diperingatkan pemerintah pada bungkus rokok. Dan ia juga tahu bahwa orang yang tidak merokok memiliki kesehatan yang jauh lebih terjaga. Namun, karena orang itu lebih suka menuruti hawa nafsunya (kenikmatan dalam merokok, pamer, dan gengsi, lebih jantan, dsb), maka ia pun tidak suka berpikir panjang tentang resikonya dikemudian hari. Bahkan, dengan merokok, sesungguhnya seseorang telah menanamkan bibit-bibit penyakit dalam tubuhnya. Kimia kedokteran sendiri telah membahas secara terperinci tentang zat-zat hasil oksidasi rokok yang masuk ke dalam paru-paru. Menurut mereka, zat-zat tersebut lebih mengerikan dari asap kompor di dapur. Lalu, siapa yang salah jika akhirnya si perokok itu menderita gangguan pernapasan, mengidap kanker, keadaan ekonomi yang parah, dsb? Yang salah adalah si perokok itu sendiri, bukan rokoknya, bukan pula kimia kedokteran, dan bukan pula zat-zat hasil oksidasi rokok tersebut. Hal ini karena ia telah tahu dampak buruk dari rokok, tapi malah cuek terhadap dampak tersebut.

Jadi, untuk terhindar dari perbuatan dosa, maka seseorang harus punya keinginan untuk belajar tentang kebenaran. Juga, ia harus berpikir panjang atas tindakan yang telah/sedang/akan ia lakukan dengan cara mempertimbangkan keuntungan atau kerugian dari tindakannya itu. Ia juga harus jujur terhadap dirinya sendiri, mau mengakui kesalahannya, dan sering melakukan introspeksi (pengecekan dan perbaikan) diri.

Ingat, konslet itu terjadi karena arus pendek, bukan karena arus panjang. Dengan kata lain, kesalahan itu terjadi karena pemikiran yang kurang matang, tergesa-gesa, dan ceroboh, alias sembrono. Apakah kita ingin membiarkan akal kita menganggur dalam kerajaan (kehidupan) kita? Dan apakah kita sebagai seorang raja lebih suka tunduk kepada aparat kerajaan kita yang paling biadab (nafsu dan amarah)? Ingatlah, bahwa setiap raja bertanggung jawab atas kerajaannya, setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Sebagai penulis artikel ini, saya juga bukan seorang yang baik. Namun demikian, sebagai seorang raja (individu) yang menginginkan kejayaan kerajaannya (kehidupannya), saya mengakui keburukan saya dengan cara mengoreksi perbuatan buruk saya dan berusaha memperbaikinya agar tak terulang dimasa-masa yang akan datang. Saya juga bukan orang pandai dalam hal kebenaran, sebab itu saya mengakui kebodohan saya dengan cara mempelajari “Kebenaran” secara keseluruhan dan lebih mendalam, yakni dengan cara membaca aneka ragam literatur dan membandingkannya. Tak ada alasan bagi seseorang untuk berdiam diri lebih lama dalam kebodohannya, kecuali jika ia ingin tersesat, lalu binasa pada akhirnya.

Bagaimana tanggapan Anda terhadap seorang raja yang menghancurkan kerajaannya sendiri? Tentu saja raja itu sinting.

Bagaimana menurut Anda tentang orang yang menghancurkan kehidupannya sendiri, misal dengan cara bunuh diri? Sepertinya orang itu hebat, mengingat tak ada yang dapat menghancurkannya (membunuhnya) selain orang itu sendiri.

Ketahuilah! Hidup ini memang gratis, tapi bukan berarti tanpa aturan. Keberuntungan yang diperoleh seseorang bukanlah karena diundi, melainkan sebagai buah dari perbuatan baiknya sendiri. Begitu juga dengan kesusahan, ia tidak menimpa seseorang dengan cara acak (asal-asalan), melainkan dengan sebab perbuatannya sendiri pula.

Written by Amir

31 Januari, 2010 pada 10:29

Ditulis dalam Renungan

Tagged with , , , , , , , ,

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. nice posting..
    keep posting, keep istiqomah,
    maju terus blogger muslim Indonesia

    Rama

    2 Februari, 2010 at 15:33

  2. Yup, terima kasih atas kunjungannya.

    Semoga Allah menunjuki mereka yang suka menerima kebenaran.

    Amir

    2 Februari, 2010 at 17:44

  3. dosa adalh kesalahan. dicatat oleh malaikat dengan poin berat dan ringan seperti pelanggaran siswa di sekolah.

    wahyu nurudin

    3 Februari, 2010 at 08:18


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: