Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Efek Samping Dosa

with 6 comments


Pagi ini, agak repot mau tulis artikel apaan. Tapi, setelah aku pikir mending tulis suatu yang bisa nambah wawasan orang lain, biar wawasanku juga bertambah. Artikel topik kali ini adalah efek samping dosa. Mengingat telah berkali-kali aku terjatuh, terjatuh, dan terjatuh, ….dan akhirnya aku bangkit, bangkit berkali-kali –walau masih diselingi dengan tersandung dan terjatuh – berusaha memasuki lembaran baru melalui pintu taubat yang masih pantas untuk aku masuki. Dan aku telah memiliki keinginan untuk tidak keluar dari padanya. Aku tak punya alasan untuk menghancurkan diriku. Dan di antara orang-orang yang menyayangiku, aku lah orang yang paling menyayangi diriku. Pengalaman berharga ini adalah milikku yang “NOT FOR SALE”, tapi akan aku akan bagi dengan siapapun yang menginginkannya.

Benarkah dosa punya efek samping, padahal secara klinis, atau mungkin dari sisi kedokteran, ia tak punya kandungan unsur yang berbahaya bagi tubuh, katakanlah seperti zat-zat karsinogen atau semacam zat-zat polutan lainnya yang memicu mutasi gen, termasuk MSG (monosodium glutamat) dan natrium benzoat, bahkan ia (dosa) merupakan hal yang dianggap blank (kosong/tidak ada). Hal ini karena bidang kedokteran tidak punya kemampuan dalam menganalisa hal tersebut. Tapi bidang ilmu filsafat telah mengkajinya sedemikian dalam. Dan dalam agama Islam, hal itu telak dikaji sangat sangat jelas dan terperinci, termasuk efek sampingnya yang paling mengerikan dan abadi, Neraka.

“DOSA” adalah masalah tersendiri yang tak terkait secara langsung dengan “Jasad”. Ini adalah permasalahan “Jiwa”. Telah diketahui banyak orang bahwa antara jasad dan jiwa memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda. Makanan jasad adalah sesuatu yang bisa dikatakan bersifat organik, seperti protein, karbohidrat, vitamin dalam bentuk molekul, dan sebagainya. Dan kita tak memakan sesuatu yang anorganik, seperti, ban, kertas, kursi ataupun meja atau ponsel. 🙂

Sedangkan makanan “Jiwa” adalah dalam bentuk Rahmat (kasih sayang Allah), Karunia (nikmat), dan juga Ampunan (pembersihan jiwa dari kotoran/dosa). Sehingga orang yang paling banyak memperoleh Rahmat akan menjadi orang yang paling kuat jiwanya (sabar, berwibawa, penuh tanggung jawab). Dan orang yang memperoleh banyak ampunan, maka ia akan menjadi orang yang fresh, bebas dari kegelisahan, dan memperoleh perasaan damai yang tak bisa dibeli di supermarket manapun.

Perlu Anda tahu, bahwa jasad sebenarnya hanyalah kendaraan bagi Jiwa. Sebab itu jika jiwa (ruh) seseorang telah dicabut, maka dia bisa dikatakan 100% punah (mati, expired: habis masa aktifnya).

Dosa bisa diibaratkan dengan kotoran yang melekat atau masuk ke dalam tubuh, sehingga pada akhirnya tubuh akan mengalami gangguan fungsional atau gangguan keseimbangan sel-sel penyusunnya. Misal, seseorang yang makan makanan basi (mengandung kotoran/kuman)., maka akan mengalami gangguan pencernaan seperti mual, diare, dll.

Begitu juga dengan dosa, ia adalah kotoran yang merasuk ke dalam jiwa. Sehingga hanya jiwalah yang merasakan dampaknya, seperti perasaan gelisah, tak punya malu, depresi, frustasi, stress, termasuk patah hati yang berkepanjangan dan akhirnya menyebabkan kematian (karena bunuh diri)…lengkapnya, ia tak bisa menjalani hidup dengan dengan pikiran optimis (berpikiran benar). Sebab itu tingkah lakunya terkadang kacau, suka menyakiti orang lain, hobi berbohong…., dan mungkin yang marak belakangan ini adalah pornografi. Tapi seperti kata pepatah, “resiko ditanggung penumpang”.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa efek samping dosa itu tidak menular seperti influenza. Tapi ia (efek samping dosa) hanya dikhususkan bagi pelakunya saja. Dan di antara efek samping dosa yang bisa saya tulis adalah:

  1. Terhalangnya karunia Allah (rizeki)
  2. Tidak tenang (stress, frustasi, depresi, gelisah, pikiran kacau, suka cemberut, emosional)
  3. Terancam akan bala’ (marabahaya/musibah) kapanpun dan dimanapun selama 24 jam, seperti kecelakaan, terserang penyakit, dll.
  4. Mata hati yang buta (tak bisa membedakan mana baik dan mana yang buruk)
  5. Malas beribadah
  6. Menurunnya keimanan kepada Allah
  7. Benci akan kematian, padahal kematian hanyalah pintu ke alam berikutnya (akhirat), sebagaimana peristiwa “kelahiran” yang merupakan pintu ke alam dunia bagi jabang bayi dalam kandungan. Sehingga orang yang benci akan kematian seperti jabang bayi yang malas (enggan) untuk keluar dari perut ibunya, padahal mau-tidak mau, tentu si jabang bayi itu pasti akan keluar juga ke alam dunia ini.
  8. Rentan terhadap serangan ghaib, seperti santet, sihir dan guna-guna.

So, untuk saudara-saudaraku yang membaca tulisan ini dan selalu dilanda rundung duka dengan alasan yang tidak jelas, tanpa tahu sebabnya, mungkin “dosa” lah yang merupakan kambing hitam (penyebab) dari semua ini.

Sementara aku menulis artikel ini, ibuku menyuruhku memberi makan angsa (4 ekor) di halaman belakang. Mematuhi orang tua dan segala perbuatan baik lainnya dapat menjadikan sebab turunnya Rahmat Allah terhadap seseorang, dan juga ampunan-Nya, sebab itu aku ingin mematuhinya sehingga dosa-dosa yang pernah aku perbuat bisa luntur, sedikit ataupun banyak.

Di lain kesempatan, Insya Allah, saya akan memposting tentang mekanisme dosa, perbedaan cobaan dan musibah (azab, hukuman), juga bagaimana cara bertaubat, … dan mungkin artikel bagaimana caranya menjadi orang baik, karena hanya orang baik yang pantas menerima kebaikan.

Iklan

Written by Amir

8 Januari, 2010 pada 06:56

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. banyak dosa hati menjadi beku.. hati membeku..- tak ber-nurani..

    elfaridi

    11 Januari, 2010 at 02:03

  2. Smoga Bapa disorga mengasihani dan menghantar kita ke hidup yg kekal Amin…..

    johan168

    15 Januari, 2010 at 23:08

    • Sesungguhnya Allah adalah Esa, Eternal. Isa bin Maryam hanyalah Hamba dan Rasul-Nya. Beberapa orang mengkultuskan beliau (Isa as.) sebagai anak Allah, padahal ia hanyala manusia yang diciptakan tanpa perantara seorang laki-laki (ayah). Ada 2 orang manusia yang penciptaannya lebih menakjubkan daripada beliau karena ketidaksempurnaan orang tuanya.

      Manusia yang pertama adalah Adam as., yang sama sekali tak punya orang tua. Beliau diciptakan langsung oleh Allah dengan Tangan-Nya sendiri. Sehingga dari segi nasab (silsilah keturunan), beliau adalah manusia tanpa ayah dan tanpa ibu.

      Dan manusia yang kedua adalah Siti Hawa, isteri Nabi Adam as., beliau diciptakan melalui pengambilan sampel tulang rusuk Nabi Adam as.. Jadi, dari segi nasab (silsilah keturunan), Siti Hawa adalah manusia yang hanya memiliki ayah, dan tanpa ibu.

      Amir

      21 Januari, 2010 at 16:54

  3. organ hati berfungsi menawar semua racun yang masuk ke dalah tubuh manusia. nah kalau yang menawar dosa yang ada dalam jiwa apa yah…..???? apa hati juga…..???
    JAGALAH HATI JANGAN KAU KOTORI

    iwan

    22 Januari, 2010 at 18:41

    • konteks hati di sini adalah sebagai sesuatu yang ghaib. Misal orang yang berkata tentang istilah “Mata Hati”, maksudnya bukan mata dalam bentuk fisik, seperti mata pada kepala, melainkan pemandangan (penglihatan) perasaan (jiwa) itu sendiri.

      Amir

      2 Februari, 2010 at 13:34

  4. hmm.. terima kasih banyak atas pencerahannya…

    bukutama

    17 Desember, 2010 at 15:09


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: