Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Tulisan ditandai ‘Ibadah

Hati yang Berkarat

tinggalkan komentar »

Sumber rangkuman: Zikir Cahaya Kehidupan (Ibnul Qayyim al-Jauziyah), Gema Insani [hal. 41]


Tidak diragukan lagi bahwa hati itu berkarat sebagaimana tembaga, perak, dan lainnya. Untuk menghindarinya adalah dengan berdzikir. Karena dzikir dapat membersihkan karat tersebut hingga seperti cermin yang bersih dan putih (cemerlang). Jika dibiarkan begitu saja, hati akan berkarat. Namun, jika diajak berdzikir, ia akan selamat dari keadaan tersebut.

Berkaratnya hati karena dua sebab, yakni karena lalai dan dosa. Selamatnya hati karena dua perkara juga, yakni dengan istighfar dan dzikir.
Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Amir

22 April, 2010 pada 11:07

Ditulis dalam Ibadah

Dikaitkatakan dengan , , , , , , ,

Rahasia Di Balik Cahaya Wajah

tinggalkan komentar »

Sumber rangkuman: Zikir Cahaya Kehidupan (Ibnul Qayyim al-Jauziyah), Gema Insani [hal. 67]


Zikir adalah cahaya di dunia dan di alam kubur bagi yang melakukannya. Juga cahaya di hari kiamat bagi yang melakukannya. Ia akan berjalan bersamanya ketika menyebrang ash-Shirat (Jembatan di atas Neraka). Tiada yang menyinari hati dan alam kubur seterang cahaya zikir.

Allah berfirman:

Apakah orang-orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ia dapat berjalan di tengah-tengah kumpulan manusia, adalah serupa dengan orang-orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? (QS. Al-An’am: 122)

Profil pertama (dalam ayat di atas) adalah seorang mukmin yang hatinya disinari cahaya iman kepada Allah, mahabbah (kecintaan), ma’rifat (pengetahuan), dan dzikir. Sedang yang lain adalah orang yang lalai dari mengingat Allah dan berpaling dari-Nya dan cinta-Nya. Kebahagiaan di atas kebahagiaan adalah jika seseorang meraih an-Nuur (cahaya Allah) dan sungguh sangat rugi bagi yang tidak dapat meraihnya. Oleh karena itu, Rasulullah saw. sangat berharap sekali kepada Allah ketika beliau memohon agar Allah berkenan menjadikan di dagingnya, tulangnya, otot-otot tubuhnya, rambutnya, kulitnya, pendengarannya, penglihatannya, di sebelah atasnya, di sebelah bawahnya, di sebelah kanannya, di sebelah kirinya, di depannya, dan di belakangnya sebongkah cahaya yang terus menyinarinya. Sampai beliau mengatakan,

Dan jadikanlah diriku ini cahaya (Nuur).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Amir

22 April, 2010 pada 11:06

Ditulis dalam Ibadah

Dikaitkatakan dengan , , ,

Metodologi Kebenaran [4-habis]: Analisa Kebohongan-Kebohongan Besar dalam Hidup

tinggalkan komentar »

Telah dekat kepada manusia hari perhitungan segala amal perbuatan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). (Qur’an Surat Al-Anbiyaa’: 1)

Artikel ini merupakan penyempurna dari artikel “Metodologi Kebenaran”. Sehingga pada akhirnya nanti, kita akan menjadi SEMAKIN tahu dan SEMAKIN yakin mana yang memang benar-benar “benar”, mana yang memang benar-benar “salah”, dan mana yang ada di antara keduanya, yakni yang seolah-olah benar tapi sebenarnya salah (baca: meragukan/rancu/konslet/error/invalid).

Dalam membahas kebohongan-kebohongan besar ini, saya mengutip sebagian isi al-Qur’an, karena ia merupakan literatur (baca: referensi) kebenaran yang “stabil” sepanjang masa (karena Qur’an hanya punya satu versi dan tak pernah berubah selama 14 abad). Kemudian, saya juga akan mengutip dari beberapa hadits, dan literatur sejarah untuk topik bahasan tertentu. Dan tak luput juga, akan saya sertakan beberapa analogi sederhana untuk mempermudah dalam pemahaman artikel ini.

Al-Qur’an memiliki kapabilitas (kemampuan) yang besar dalam menganalisa suatu kebenaran dan kebohongan. Mengapa? Karena ia tak hanya mampu menganalisa kebohongan-kebohongan yang berada di luar Islam, seperti yahudi, nasrani, dan penyembah berhala. Bahkan ia juga bisa menganalisa kebohongan yang dilakukan oleh orang-orang Islam itu sendiri. Karena meskipun Islam adalah agama yang benar, tapi al-Qur’an tidak pernah menyatakan bahwa semua orang Islam itu benar. Dan sebab itulah, kebohongan-kebohongan orang Islam juga perlu dianalisa.

Apakah sebagai orang Islam, saya kurang adil dalam menganalisa kebohongan-kebohongan besar? :?:
Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Amir

7 April, 2010 pada 13:09

Metodologi Kebenaran [3]: Analisa Kebenaran-Kebenaran Besar dalam Hidup

tinggalkan komentar »

Artikel ini merupakan INTI dari artikel Metodologi Kebenaran. Sebab itu, jika Anda tidak memahami kedua artikel sebelumnya (Metodologi Kebenaran [1] dan Metodologi Kebenaran [2]), maka –sepertinya- tak akan banyak gunanya Anda membaca artikel ini.

Ada beberapa kebenaran yang besar dalam hidup ini yang seringkali diragukan oleh kebanyakan manusia, yakni:

  1. Apakah Islam itu memang agama yang benar? Apakah landasan kebenarannya?
  2. Apakah Qur’an itu memang benar-benar Wahyu?
  3. Bagaimana tentang peristiwa Isra’ Mi’raj? Apa bisa dijelaskan lebih jauh?
  4. Apakah Kiamat itu benar-benar akan terjadi?
  5. Apakah Surga dan Neraka itu ada?

Bagaimanakah analisa kebenarannya?
Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Amir

22 Maret, 2010 pada 10:33

[Artikel Spesial]: Bagi Mereka yang Hobi Mencaci Muhammad dan Risalahnya

dengan 20 komentar


ARTIKEL INI KHUSUS BAGI MEREKA YANG HOBI MENCACI MUHAMMAD DAN RISALAHNYA

Beberapa waktu lalu, saya menjumpai berbagai macam tuduhan dan cemoohan terhadap Muhammad dan juga terhadap ajaran yang dibawanya, Islam. Hal tersebut terutama di beberapa situs web anti Islam yang mengkhususkan diri dalam kegiatan seperti itu.

Namun demikian, kualitas cacian mereka yang amatiran itu membuat saya ragu apakah mereka itu memang benar-benar mencaci atau cuman membual saja.

Hal ini terlihat dari kosa kata kotor mereka yang terbatas, pas-pasan, dan hanya muter-muter di topik yang itu-itu saja, basi.

Inilah mungkin juga yang menyebabkan mereka tidak masuk rekor MURI untuk kategori kreativitas dalam memberikan cacian. Cacian mereka tak bermutu, dan aktivitas mereka itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan katak yang bernyanyi dalam tempurung.

Artikel ini akan mengusut setuntas mungkin perihal tuduhan kosong yang paling sering mereka lontarkan selama ini.
Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Amir

26 Februari, 2010 pada 13:46

Cara Berputus Asa yang Baik

dengan 2 komentar

Problematika kehidupan yang semakin kompleks dan menantang telah menuntut setiap orang untuk selalu memperbaharui semangatnya untuk tetap terus hidup dan mengenyampingkan sifat “putus asa”nya sejauh mungkin. Dalam ilmu Biologi disebutkan bahwa, salah satu ciri makhluk hidup adalah beradaptasi. Dan sebagaimana juga telah disebutkan dalam teori evolusi, bahwa salah satu penyebab kepunahan suatu spesies adalah karena ia tak mampu beradaptasi. Adaptasi dalam kehidupan manusia tidak sebatas gerakan atau perubahan fisik, tapi lebih dari itu, juga menyangkut manajemen (kontrol) perasaan yang baik.

Jika seseorang mengalami putus asa dalam kehidupan ini, maka itu berarti orang tersebut tak mampu beradaptasi dengan baik, dan kemungkinan terbesar yang akan dialami oleh orang tersebut adalah KEPUNAHAN (mati).
Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Amir

21 Februari, 2010 pada 16:44

Perasaan kacau, mungkin perlu didefrag

tinggalkan komentar »

Ada saja hal yang –bisa dikatakan- menjengkelkan yang melanda perasaanku ini. Sehabis shalat Jumat tadi, ada peristiwa yang membuat perasaanku kesal –karena seseorang. Padahal kelihatannya sepele, tapi kenapa memakan ruang memori yang begitu besar dalam perasaanku? Aku (hati/perasaanku) seringkali merasa panas (overheat) layaknya sebuah processor yang kinerjanya dipacu mendekati 100%. Kenapa sebuah perkara kecil saja begitu merisaukan diriku? Aku selalu mencari alasan yang bisa mendinginkan perasaanku. Aku tak ingin memiliki nasib yang sama dengan processor intel Pentium 4 yang akhirnya down (rusak/out of order) karena overheat akibat runtime aplikasi yang membeludak (full) –disebabkan sistem pendinginnya yang tak memadahi.
Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Amir

8 Januari, 2010 pada 13:25

Ditulis dalam Catatan Hidupku

Dikaitkatakan dengan , , , , , , , , , , , ,

Efek Samping Dosa

dengan 6 komentar

Pagi ini, agak repot mau tulis artikel apaan. Tapi, setelah aku pikir mending tulis suatu yang bisa nambah wawasan orang lain, biar wawasanku juga bertambah. Artikel topik kali ini adalah efek samping dosa. Mengingat telah berkali-kali aku terjatuh, terjatuh, dan terjatuh, ….dan akhirnya aku bangkit, bangkit berkali-kali –walau masih diselingi dengan tersandung dan terjatuh – berusaha memasuki lembaran baru melalui pintu taubat yang masih pantas untuk aku masuki. Dan aku telah memiliki keinginan untuk tidak keluar dari padanya. Aku tak punya alasan untuk menghancurkan diriku. Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Amir

8 Januari, 2010 pada 06:56

ORANG-ORANG YANG SAMPAI

dengan 3 komentar

Imam Al-Ghazali mengisahkan suatu cerita dalam kehidupan Isa bin Maryam.

Pada suatu hari Isa melihat orang-orang duduk bersedih di sebuah tembok, dipinggir jalan.

Tanyanya, “Apa gerangan yang merundungmu semua?”

Jawab mereka, “Kami menjadi seperti ini lantaran ketakutan kami menghadapi neraka.”

Isapun meneruskan perjalanannya, dan melihat sejumlah orang berkelompok berduka dalam berbagai gaya dipinggir jalan. Katanya, “Apa gerangan yang merundung kalian?” Mereka menjawab, “Keinginan akan sorga telah membuat kami semua begini.”

Isa pun melanjutkan perjalanannya, sampai ia bertemu dengan kelompok ketiga. Tampaknya orang-orang itu telah menderita amat sangat, tetapi wajah mereka bersinar bahagia.

Isa bertanya, “Apa gerangan yang telah membuatmu begitu?”

Mereka menjawab, “Semangat Kebenaran. Kami telah melihat Kenyataan, dan hal itu telah menyebabkan kami melupakan tujuan-tujuan lain yang sepele.”

Isa berkata, “Orang-orang itu telah sampai. Pada Hari Perhitungan nanti, merekalah yang akan berada di Sisi Tuhan.”

Catatan

Kisah Sufi tentang Yesus ini sering mengejutkan mereka yang percaya bahwa kemajuan rohaniah hanya tergantung pada pengolahan masalah ganjaran dan siksa.

Para Sufi mengatakan bahwa hanya orang-orang tertentu bisa mengambil keuntungan dari pelibatan diri pada masalah untung atau rugi; dan bahwa hal ini mungkin hanya merupakan sebagian saja dari pengalaman orang-seorang. Mereka yang telah mempelajari pelbagai cara dan akibat keadaan dan pencekokan (conditioning and indoctrination) mungkin merasa sepakat dengan pandangan tersebut.

Tentu saja, kaum agamawan formal, dalam pelbagai keyakinannya tidak mengakui bahwa pilihan sederhana atas baik-buruk, ketegangan-kelonggaran, ganjaran-siksa hanyalah sekedar bagian-bagian suatu sistem lebih besar dari kesadaran diri.

SUMPAH

tinggalkan komentar »

Pada suatu hari, seorang yang kalut pikirannya bersumpah, jika semua kesulitannya terpecahkan ia akan menjual rumahnya dan semua hasil penjualan itu akan diberikannya kepada kaum miskin.

Akhirnya sampai juga saatnya, ia harus menunaikan sumpahnya. Tetapi ia tidak ingin memberikan uang yang didapatnya. Iapun mencari akal.

Ia menjual rumahnya seharga seperak saja. Namun penjualan itu harus sekalian dengan kucingnya. Harga kucing itu sepuluh ribu uang perak.

Rumah itu pun terjual. Dan bekas pemilik rumah itupun memberikan uangnya yang seperak kepada kaum miskin, yang sepuluh ribu dimasukkan ke kantong sendiri.

Banyak orang berpikiran demikian itu. Mereka berketetapan menuruti pelajaran; namun, mereka menafsirkan sedemikian rupa agar menguntungkan dirinya Sampai mereka mampu mengalahkan kecenderungan itu dengan latihan khusus, mereka sebenarnya tidak bisa menarik pelajaran apa-apa.

Catatan

Akal-akalan yang digambarkan dalam kisah ini, menurut pengisahnya (Syeh Nasir Al-Din Syah) mungkin memang disengaja –atau mungkin menggambarkan pikiran tertutup yang secara tak sadar menampilkan akal-akalan semacam itu.

Sang Syeh, yang juga dikenal sebagai “Pelita Delhi,” meninggal tahun 1846. Makamnya di Delhi, India. Versi ini, yang dianggap ciptaannya, berasal dari tradisi lisan kaum Chishti. Kisah ini dipergunakan untuk memperkenalkan teknik kejiwaan yang dimaksudkan untuk menenangkan jiwa, agar tidak bisa melaksanakan tindak akal-akalan yang menipu diri sendiri.

PENYUSUNAN SEJARAH

tinggalkan komentar »

Konon, ada sebuah kota yang terdiri dari dua jalan yang sejajar. Seorang darwis berjalan lewat salah satu jalan itu, dan ketika ia mencapai jalan yang satu lagi, orang-orang melihat matanya berlinang air mata. “Ada yang meninggal di jalan sebelah itu!” teriak seseorang. Anak-anak yang di sekitar itupun segera mendengar teriakan tersebut.

Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa darwis itu telah mengupas bawang.

Dalam sekejap teriakan itu telah mencapai jalan pertama; dan orang-orang dewasa di kedua jalan itu begitu sedih dan khawatir (sebab masyarakat di kedua jalan itu masih saling berebut) sehingga mereka takut mengusut sebab-musabah kehebohan itu sampai tuntas.

Seorang bijaksana berusaha bernalar dengan orang-orang di kedua jalan tersebut, menanyakan mengapa mereka tidak mengusut sebab-musababnya. Dalam keadaan begitu bingung untuk memahami yang dikatakannya sendiri, beberapa orang berucap, “Yang kami tahu, ada wabah di jalan sana.”

Kabar burung ini pun menyebar bagai kobaran api sehingga orang-orang di jalan ini beranggapan orang-orang di jalan yang lain tertimpa bencana; demikian pula sebaliknya.

Ketika ketenangan kembali terasa, masing-masing masyarakat memutuskan untuk pindah saja demi keselamatan. Demikianlah, akhirnya kedua jalan di kota itu sama sekali ditinggalkan penghuninya.

Kini, beberapa abad kemudian, kota itu masih ditinggalkan; tidak berapa jauh darinya terdapat dua buah desa. Masing-masing desa mempunyai kisahnya sendiri tentang bagaimana mula-mula rakyatnya mengadakan perpindahan dari sebuah kota yang tertimpa bencana, beruntung bisa melarikan diri dari malapetaka tak dikenal, pada masa yang jauh lampau.

Catatan

Dalam ajaran kejiwaannya, para Sufi menyatakan bahwa penyampaian pengetahuan secara biasa mudah menyebabkan kekeliruan karena adanya penambahan atau pengurangan dan ingatan yang salah; karenanya pengetahuan semacam itu tidak bisa dipergunakan sebagai pengganti persepsi langsung atas kenyataan.

Kisah yang menggambarkan subyektivitas otak manusia ini dikutip dari buku pelajaran Asrar-i-Khilwatia ‘Rahasia Para Pertapa,’ karangan Syeh Qalandar Syah, anggota Kaum Suhrawardi, yang meninggal tahun 1832. Makamnya di Lahore, Pakistan.

SIFAT MURID

tinggalkan komentar »

Diceritakan bahwa Ibrahim Khawas, ketika ia masih muda, ingin mengikuti seorang guru. Iapun mencari seorang bijak, dan mohon agar diperbolehkan menjadi pengikutnya.

Sang Bijak berkata. “Kau belum lagi siap.”

Karena anak muda itu bersikeras juga, guru itu berkata, “Baiklah, aku akan mengajarimu sesuatu. Aku akan berziarah ke Mekkah. Kau ikut.”

Murid itu teramat gembira.

“Karena kita mengadakan perjalanan berdua, salah seorang harus menjadi pemimpin,” kata Sang Guru “Kau pilih jadi apa?”

“Saya ikut saja, Bapak yang memimpin,” kata Ibrahim.

“Tentu aku akan memimpin, asal kau tahu bagaimana menjadi pengikut,” kata Sang Guru.

Perjalananpun dimulai. Sementara mereka beristirahat pada suatu malam di padang pasir Hejaz, hujan pun turun. Sang guru bangkit dan memegangi kain penutup, melindungi muridnya dari kebasahan.

“Tetapi seharusnya sayalah yang melakukan itu bagi Bapak,” kata Ibrahim.

“Aku perintahkan agar kau memperbolehkan aku melindungimu,” kata Sang Bijak.

Siang harinya, anak muda itu berkata, “Nah ini hari baru. Sekarang perkenankan saya menjadi pemimpin, dan Bapak mengikut saya.” Sang gurupun setuju.

“Saya akan mengumpulkan kayu, untuk membuat api,” kata pemuda itu.

“Kau tak boleh melakukan itu; aku yang akan melakukannya,” kata Sang Bijak.

“Saya memerintahkan agar Bapak duduk Saja sementara saya mengumpulkan kayu!” kata pemuda itu.

“Kau tak boleh melakukan hal itu,” kata orang bijaksana itu; “sebab hal itu tidak sesuai dengan syarat menjadi murid; pengikut tidak boleh membiarkan dirinya dilayani oleh pemimpinnya.”

Demikianlah, setiap kali Sang Guru menunjukkan kepada murid apa yang sebenarnya makna menjadi murid dengan contoh-contoh.

Mereka berpisah di gerbang Kota Suci. Waktu kemudian bertemu dengan orang bijaksana itu, Si pemuda tidak berani menatap matanya.

“Yang kaupelajari itu,” kata Sang Bijak, “adalah sesuatu yang berkaitan dengan sedikit menjadi murid.”

Catatan

Ibrahim Khawas (‘Si Penganyam Palem’) memberi batasan jalan Sufi sebagai, “Biarkan saja apa yang dilakukan untukmu dikerjakan orang untukmu. Kerjakan sendiri apa yang harus kau kerjakan bagi dirimu sendiri.”

Kisah ini menggaris-bawahi dengan cara dramatik, perbedaan antara apa yang dipikirkan calon pengikut tentang bagaimana seharusnya hubunganya dengan gurunya, dan bagaimana hubungan tersebut dalam kenyataannya.

Khawas adalah salah seorang di antara guru-guru agung zaman awal, dan perjalanan ini dikutip oleh Hujwiri dalam Pengungkapan Yang Terselubung, ikhtisar tertua yang masih ada tentang Sufisme dalam Bahasa Persia.

SI TOLOL, SI BIJAK, DAN KENDI

tinggalkan komentar »

Seorang tolol merupakan panggilan bagi orang biasa, yang senantiasa salah menafsirkan apa yang terjadi atasnya, apa yang dikerjakannya, atau apa yang dilakukan orang lain.Ia melakukan semuanya itu begitu meyakinkan sehingga bagi dirinya dan orang-orang semacamnya segi kehidupan dan pemikiran yang luas tampak masuk akal dan benar.

Seorang tolol semacam itu pada suatu hari disuruh membawa kendi menemui seorang bijaksana untuk meminta anggur. Di tengah jalan, karena kecerobohannya Si Tolol itu membenturkan kendinya ke batu, dan pecah.

Ketika ia sampai dirumah orang bijaksana itu, ia memberikan pegangan kendinya, katanya, “Tuan Anu menyuruh saya memberikan kendi ini kepada Tuan, tetapi di tengah jalan ia dicuri batu.”

Karena terhibur dan ingin mendengar seluruh ceritanya, orang bijaksana itu bertanya.

“Karena kendi itu telah di curi, kenapa kau berikan kepadaku pegangannya?”

“Saya tidak setolol yang disangka orang,” kata Si Tolol itu, “oleh karena saya membawa pegangan kendi ini untuk membuktikan kebenaran ceritaku.”

Catatan

Suatu pokok pembicaraan yang banyak beredar di kalangan guru darwis adalah bahwa kemanusiaan umumnya tidak bisa membedakan suatu kecenderungan tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa, yang mestinya memungkinkannya memanfaatkannya sepenuh-penuhnya. Mereka yang mampu melihat kecenderungan itu disebut Sang Bijaksana, sementara orang kebanyakan disebut “tidur,” atau di panggil Si Tolol.

Kisah ini, yang dalam Bahasa Inggris dikutip oleh Kolonel Wilberforce Clarke (Diwan-i-Hafiz) merupakan salah satu contoh khas. Dengan menyerap ajaran itu lewat tokoh dan kisah yang dilebih-lebihkan, orang-orang tertentu mampu benar-benar “memekakan” diri untuk menangkap kecenderungan tersembunyi itu.

Kutipan ini berasal dari kumpulan kisah Sufi yang dikerjakan oleh Pir-i-do-Sara, “Yang mengenakan Jubah Bertambal” yang meninggal tahun 1790 dan dimakamkan di Mazar-i-Sharif, Turkestan.

DI JALAN TEMPAT PEDAGANG WANGI-WANGIAN

tinggalkan komentar »

Seorang pengais sampah, yang sedang berjalan-jalan di tempat orang berjualan wangi-wangian, tiba-tiba terjatuh seakan-akan mati. Baca entri selengkapnya »

SULTAN YANG MENJADI ORANG BUANGAN

tinggalkan komentar »

Seorang Sultan Mesir konon mengumpulkan orang orang terpelajar, dan-seperti biasanya–timbullah pertengkaran. Pokok masalahnya adalah Mikraj Nabi Muhammad. Baca entri selengkapnya »

MEMBAWA SEPATU

tinggalkan komentar »

Dua orang saleh dan terhormat pergi ke masjid bersama-sama. Yang pertama melepas sepatunya, lalu meletakkannya rapi-rapi di luar pintu. Yang kedua melepaskan sepatunya, menangkupkan di kedua solnya, lalu membawanya masuk masjid. Baca entri selengkapnya »

ANJING, TONGKAT DAN SUFI

dengan satu komentar

Pada suatu hari seorang yang berpakaian sebagai Sufi berjalan-jalan; ia melihat seekor anjing di jalan; ia pun memukulnya dengan tongkat. Si Anjing, sambil melolong kesakitan, berlari menuju Abu Said, Sang Ulama. Anjing itupun menjatuhkan dirinya dekat kaki Sang Ulama sambil memegang moncongnya yang terluka; ia mohon keadilan karena telah diperlakukan secara kejam oleh sufi itu. Baca entri selengkapnya »

SANTAPAN DARI SORGA

dengan 2 komentar

Yunus, putra Adam, pada suatu saat memutuskan untuk tidak sekedar menyerahkan hidupnya pada nasib, tetapi mencari cara dan alasan penyediaan kebutuhan manusia. Baca entri selengkapnya »

SEMUT DAN CAPUNG

tinggalkan komentar »

Seekor semut yang pikirannya tersusun dalam rencana teratur, sedang mencari-cari madu ketika seekor capung hinggap menghisap madu dari bunga itu. Capung itu melesat pergi untuk kemudian datang Baca entri selengkapnya »

ANJING DAN KELEDAI

tinggalkan komentar »

Seorang yang baru saja menemukan cara memahami arti suara-suara yang dikeluarkan binatang, pada suatu berjalan sepanjang lorong di desa. Baca entri selengkapnya »

ULAR DAN MERAK

tinggalkan komentar »

Pada suatu hari, seorang muda bernama Adi, Si Mesin Hitung -karena ia belajar matematika- memutuskan untuk meninggalkan Bhokara guna mencari ilmu yang lebih tinggi. Baca entri selengkapnya »

SI TOLOL DAN UNTA YANG SEDANG MAKAN RUMPUT

tinggalkan komentar »

Seorang Tolol memperhatikan seekor unta yang sedang makan rumput. Katanya kepada binatang itu, “Tampangmu mencong. Kenapa begitu?” Baca entri selengkapnya »

TOKO LAMPU

tinggalkan komentar »

Pada suatu malam gelap, dua orang bertemu di sebuah jalan yang sunyi.

“Saya mencari sebuah toko dekat-dekat sini, namanya Toko Lampu,” kata yang pertama. Baca entri selengkapnya »

TIGA ORANG DARWIS

tinggalkan komentar »

Konon, ada tiga orang darwis. Mereka bernama Yak, Do, dan Se. Mereka masing-masing berasal dari Utara, Barat, dan Selatan. Mereka memiliki suatu hal yang sama: Baca entri selengkapnya »

TIGA NASEHAT

tinggalkan komentar »

Pada suatu hari ada seseorang menangkap burung. Burung itu berkata kepadanya, “Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja aku, nanti kuberi kau tiga nasehat.” Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.