Tulisan ditandai ‘hiburan’
ORANG-ORANG YANG SAMPAI
Imam Al-Ghazali mengisahkan suatu cerita dalam kehidupan Isa bin Maryam.
Pada suatu hari Isa melihat orang-orang duduk bersedih di sebuah tembok, dipinggir jalan.
Tanyanya, “Apa gerangan yang merundungmu semua?”
Jawab mereka, “Kami menjadi seperti ini lantaran ketakutan kami menghadapi neraka.”
Isapun meneruskan perjalanannya, dan melihat sejumlah orang berkelompok berduka dalam berbagai gaya dipinggir jalan. Katanya, “Apa gerangan yang merundung kalian?” Mereka menjawab, “Keinginan akan sorga telah membuat kami semua begini.”
Isa pun melanjutkan perjalanannya, sampai ia bertemu dengan kelompok ketiga. Tampaknya orang-orang itu telah menderita amat sangat, tetapi wajah mereka bersinar bahagia.
Isa bertanya, “Apa gerangan yang telah membuatmu begitu?”
Mereka menjawab, “Semangat Kebenaran. Kami telah melihat Kenyataan, dan hal itu telah menyebabkan kami melupakan tujuan-tujuan lain yang sepele.”
Isa berkata, “Orang-orang itu telah sampai. Pada Hari Perhitungan nanti, merekalah yang akan berada di Sisi Tuhan.”
Catatan
Kisah Sufi tentang Yesus ini sering mengejutkan mereka yang percaya bahwa kemajuan rohaniah hanya tergantung pada pengolahan masalah ganjaran dan siksa.
Para Sufi mengatakan bahwa hanya orang-orang tertentu bisa mengambil keuntungan dari pelibatan diri pada masalah untung atau rugi; dan bahwa hal ini mungkin hanya merupakan sebagian saja dari pengalaman orang-seorang. Mereka yang telah mempelajari pelbagai cara dan akibat keadaan dan pencekokan (conditioning and indoctrination) mungkin merasa sepakat dengan pandangan tersebut.
Tentu saja, kaum agamawan formal, dalam pelbagai keyakinannya tidak mengakui bahwa pilihan sederhana atas baik-buruk, ketegangan-kelonggaran, ganjaran-siksa hanyalah sekedar bagian-bagian suatu sistem lebih besar dari kesadaran diri.
SUMPAH
Pada suatu hari, seorang yang kalut pikirannya bersumpah, jika semua kesulitannya terpecahkan ia akan menjual rumahnya dan semua hasil penjualan itu akan diberikannya kepada kaum miskin.
Akhirnya sampai juga saatnya, ia harus menunaikan sumpahnya. Tetapi ia tidak ingin memberikan uang yang didapatnya. Iapun mencari akal.
Ia menjual rumahnya seharga seperak saja. Namun penjualan itu harus sekalian dengan kucingnya. Harga kucing itu sepuluh ribu uang perak.
Rumah itu pun terjual. Dan bekas pemilik rumah itupun memberikan uangnya yang seperak kepada kaum miskin, yang sepuluh ribu dimasukkan ke kantong sendiri.
Banyak orang berpikiran demikian itu. Mereka berketetapan menuruti pelajaran; namun, mereka menafsirkan sedemikian rupa agar menguntungkan dirinya Sampai mereka mampu mengalahkan kecenderungan itu dengan latihan khusus, mereka sebenarnya tidak bisa menarik pelajaran apa-apa.
Catatan
Akal-akalan yang digambarkan dalam kisah ini, menurut pengisahnya (Syeh Nasir Al-Din Syah) mungkin memang disengaja –atau mungkin menggambarkan pikiran tertutup yang secara tak sadar menampilkan akal-akalan semacam itu.
Sang Syeh, yang juga dikenal sebagai “Pelita Delhi,” meninggal tahun 1846. Makamnya di Delhi, India. Versi ini, yang dianggap ciptaannya, berasal dari tradisi lisan kaum Chishti. Kisah ini dipergunakan untuk memperkenalkan teknik kejiwaan yang dimaksudkan untuk menenangkan jiwa, agar tidak bisa melaksanakan tindak akal-akalan yang menipu diri sendiri.
PENYUSUNAN SEJARAH
Konon, ada sebuah kota yang terdiri dari dua jalan yang sejajar. Seorang darwis berjalan lewat salah satu jalan itu, dan ketika ia mencapai jalan yang satu lagi, orang-orang melihat matanya berlinang air mata. “Ada yang meninggal di jalan sebelah itu!” teriak seseorang. Anak-anak yang di sekitar itupun segera mendengar teriakan tersebut.
Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa darwis itu telah mengupas bawang.
Dalam sekejap teriakan itu telah mencapai jalan pertama; dan orang-orang dewasa di kedua jalan itu begitu sedih dan khawatir (sebab masyarakat di kedua jalan itu masih saling berebut) sehingga mereka takut mengusut sebab-musabah kehebohan itu sampai tuntas.
Seorang bijaksana berusaha bernalar dengan orang-orang di kedua jalan tersebut, menanyakan mengapa mereka tidak mengusut sebab-musababnya. Dalam keadaan begitu bingung untuk memahami yang dikatakannya sendiri, beberapa orang berucap, “Yang kami tahu, ada wabah di jalan sana.”
Kabar burung ini pun menyebar bagai kobaran api sehingga orang-orang di jalan ini beranggapan orang-orang di jalan yang lain tertimpa bencana; demikian pula sebaliknya.
Ketika ketenangan kembali terasa, masing-masing masyarakat memutuskan untuk pindah saja demi keselamatan. Demikianlah, akhirnya kedua jalan di kota itu sama sekali ditinggalkan penghuninya.
Kini, beberapa abad kemudian, kota itu masih ditinggalkan; tidak berapa jauh darinya terdapat dua buah desa. Masing-masing desa mempunyai kisahnya sendiri tentang bagaimana mula-mula rakyatnya mengadakan perpindahan dari sebuah kota yang tertimpa bencana, beruntung bisa melarikan diri dari malapetaka tak dikenal, pada masa yang jauh lampau.
Catatan
Dalam ajaran kejiwaannya, para Sufi menyatakan bahwa penyampaian pengetahuan secara biasa mudah menyebabkan kekeliruan karena adanya penambahan atau pengurangan dan ingatan yang salah; karenanya pengetahuan semacam itu tidak bisa dipergunakan sebagai pengganti persepsi langsung atas kenyataan.
Kisah yang menggambarkan subyektivitas otak manusia ini dikutip dari buku pelajaran Asrar-i-Khilwatia ‘Rahasia Para Pertapa,’ karangan Syeh Qalandar Syah, anggota Kaum Suhrawardi, yang meninggal tahun 1832. Makamnya di Lahore, Pakistan.
SIFAT MURID
Diceritakan bahwa Ibrahim Khawas, ketika ia masih muda, ingin mengikuti seorang guru. Iapun mencari seorang bijak, dan mohon agar diperbolehkan menjadi pengikutnya.
Sang Bijak berkata. “Kau belum lagi siap.”
Karena anak muda itu bersikeras juga, guru itu berkata, “Baiklah, aku akan mengajarimu sesuatu. Aku akan berziarah ke Mekkah. Kau ikut.”
Murid itu teramat gembira.
“Karena kita mengadakan perjalanan berdua, salah seorang harus menjadi pemimpin,” kata Sang Guru “Kau pilih jadi apa?”
“Saya ikut saja, Bapak yang memimpin,” kata Ibrahim.
“Tentu aku akan memimpin, asal kau tahu bagaimana menjadi pengikut,” kata Sang Guru.
Perjalananpun dimulai. Sementara mereka beristirahat pada suatu malam di padang pasir Hejaz, hujan pun turun. Sang guru bangkit dan memegangi kain penutup, melindungi muridnya dari kebasahan.
“Tetapi seharusnya sayalah yang melakukan itu bagi Bapak,” kata Ibrahim.
“Aku perintahkan agar kau memperbolehkan aku melindungimu,” kata Sang Bijak.
Siang harinya, anak muda itu berkata, “Nah ini hari baru. Sekarang perkenankan saya menjadi pemimpin, dan Bapak mengikut saya.” Sang gurupun setuju.
“Saya akan mengumpulkan kayu, untuk membuat api,” kata pemuda itu.
“Kau tak boleh melakukan itu; aku yang akan melakukannya,” kata Sang Bijak.
“Saya memerintahkan agar Bapak duduk Saja sementara saya mengumpulkan kayu!” kata pemuda itu.
“Kau tak boleh melakukan hal itu,” kata orang bijaksana itu; “sebab hal itu tidak sesuai dengan syarat menjadi murid; pengikut tidak boleh membiarkan dirinya dilayani oleh pemimpinnya.”
Demikianlah, setiap kali Sang Guru menunjukkan kepada murid apa yang sebenarnya makna menjadi murid dengan contoh-contoh.
Mereka berpisah di gerbang Kota Suci. Waktu kemudian bertemu dengan orang bijaksana itu, Si pemuda tidak berani menatap matanya.
“Yang kaupelajari itu,” kata Sang Bijak, “adalah sesuatu yang berkaitan dengan sedikit menjadi murid.”
Catatan
Ibrahim Khawas (‘Si Penganyam Palem’) memberi batasan jalan Sufi sebagai, “Biarkan saja apa yang dilakukan untukmu dikerjakan orang untukmu. Kerjakan sendiri apa yang harus kau kerjakan bagi dirimu sendiri.”
Kisah ini menggaris-bawahi dengan cara dramatik, perbedaan antara apa yang dipikirkan calon pengikut tentang bagaimana seharusnya hubunganya dengan gurunya, dan bagaimana hubungan tersebut dalam kenyataannya.
Khawas adalah salah seorang di antara guru-guru agung zaman awal, dan perjalanan ini dikutip oleh Hujwiri dalam Pengungkapan Yang Terselubung, ikhtisar tertua yang masih ada tentang Sufisme dalam Bahasa Persia.
SI TOLOL, SI BIJAK, DAN KENDI
Seorang tolol merupakan panggilan bagi orang biasa, yang senantiasa salah menafsirkan apa yang terjadi atasnya, apa yang dikerjakannya, atau apa yang dilakukan orang lain.Ia melakukan semuanya itu begitu meyakinkan sehingga bagi dirinya dan orang-orang semacamnya segi kehidupan dan pemikiran yang luas tampak masuk akal dan benar.
Seorang tolol semacam itu pada suatu hari disuruh membawa kendi menemui seorang bijaksana untuk meminta anggur. Di tengah jalan, karena kecerobohannya Si Tolol itu membenturkan kendinya ke batu, dan pecah.
Ketika ia sampai dirumah orang bijaksana itu, ia memberikan pegangan kendinya, katanya, “Tuan Anu menyuruh saya memberikan kendi ini kepada Tuan, tetapi di tengah jalan ia dicuri batu.”
Karena terhibur dan ingin mendengar seluruh ceritanya, orang bijaksana itu bertanya.
“Karena kendi itu telah di curi, kenapa kau berikan kepadaku pegangannya?”
“Saya tidak setolol yang disangka orang,” kata Si Tolol itu, “oleh karena saya membawa pegangan kendi ini untuk membuktikan kebenaran ceritaku.”
Catatan
Suatu pokok pembicaraan yang banyak beredar di kalangan guru darwis adalah bahwa kemanusiaan umumnya tidak bisa membedakan suatu kecenderungan tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa, yang mestinya memungkinkannya memanfaatkannya sepenuh-penuhnya. Mereka yang mampu melihat kecenderungan itu disebut Sang Bijaksana, sementara orang kebanyakan disebut “tidur,” atau di panggil Si Tolol.
Kisah ini, yang dalam Bahasa Inggris dikutip oleh Kolonel Wilberforce Clarke (Diwan-i-Hafiz) merupakan salah satu contoh khas. Dengan menyerap ajaran itu lewat tokoh dan kisah yang dilebih-lebihkan, orang-orang tertentu mampu benar-benar “memekakan” diri untuk menangkap kecenderungan tersembunyi itu.
Kutipan ini berasal dari kumpulan kisah Sufi yang dikerjakan oleh Pir-i-do-Sara, “Yang mengenakan Jubah Bertambal” yang meninggal tahun 1790 dan dimakamkan di Mazar-i-Sharif, Turkestan.
DI JALAN TEMPAT PEDAGANG WANGI-WANGIAN
Seorang pengais sampah, yang sedang berjalan-jalan di tempat orang berjualan wangi-wangian, tiba-tiba terjatuh seakan-akan mati. Baca entri selengkapnya »
SULTAN YANG MENJADI ORANG BUANGAN
Seorang Sultan Mesir konon mengumpulkan orang orang terpelajar, dan-seperti biasanya–timbullah pertengkaran. Pokok masalahnya adalah Mikraj Nabi Muhammad. Baca entri selengkapnya »
MEMBAWA SEPATU
Dua orang saleh dan terhormat pergi ke masjid bersama-sama. Yang pertama melepas sepatunya, lalu meletakkannya rapi-rapi di luar pintu. Yang kedua melepaskan sepatunya, menangkupkan di kedua solnya, lalu membawanya masuk masjid. Baca entri selengkapnya »
ANJING, TONGKAT DAN SUFI
Pada suatu hari seorang yang berpakaian sebagai Sufi berjalan-jalan; ia melihat seekor anjing di jalan; ia pun memukulnya dengan tongkat. Si Anjing, sambil melolong kesakitan, berlari menuju Abu Said, Sang Ulama. Anjing itupun menjatuhkan dirinya dekat kaki Sang Ulama sambil memegang moncongnya yang terluka; ia mohon keadilan karena telah diperlakukan secara kejam oleh sufi itu. Baca entri selengkapnya »
SANTAPAN DARI SORGA
Yunus, putra Adam, pada suatu saat memutuskan untuk tidak sekedar menyerahkan hidupnya pada nasib, tetapi mencari cara dan alasan penyediaan kebutuhan manusia. Baca entri selengkapnya »
SEMUT DAN CAPUNG
Seekor semut yang pikirannya tersusun dalam rencana teratur, sedang mencari-cari madu ketika seekor capung hinggap menghisap madu dari bunga itu. Capung itu melesat pergi untuk kemudian datang Baca entri selengkapnya »
ANJING DAN KELEDAI
Seorang yang baru saja menemukan cara memahami arti suara-suara yang dikeluarkan binatang, pada suatu berjalan sepanjang lorong di desa. Baca entri selengkapnya »
ULAR DAN MERAK
Pada suatu hari, seorang muda bernama Adi, Si Mesin Hitung -karena ia belajar matematika- memutuskan untuk meninggalkan Bhokara guna mencari ilmu yang lebih tinggi. Baca entri selengkapnya »
SI TOLOL DAN UNTA YANG SEDANG MAKAN RUMPUT
Seorang Tolol memperhatikan seekor unta yang sedang makan rumput. Katanya kepada binatang itu, “Tampangmu mencong. Kenapa begitu?” Baca entri selengkapnya »
TOKO LAMPU
Pada suatu malam gelap, dua orang bertemu di sebuah jalan yang sunyi.
“Saya mencari sebuah toko dekat-dekat sini, namanya Toko Lampu,” kata yang pertama. Baca entri selengkapnya »
TIGA ORANG DARWIS
Konon, ada tiga orang darwis. Mereka bernama Yak, Do, dan Se. Mereka masing-masing berasal dari Utara, Barat, dan Selatan. Mereka memiliki suatu hal yang sama: Baca entri selengkapnya »
TIGA NASEHAT
Pada suatu hari ada seseorang menangkap burung. Burung itu berkata kepadanya, “Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja aku, nanti kuberi kau tiga nasehat.” Baca entri selengkapnya »
TIGA EKOR IKAN
Konon, di sebuah kolam tinggal tiga ekor ikan: Si Pandai, Si Agak Pandai, dan Si Bodoh. Kehidupan mereka berlangsung biasa saja seperti ikan-ikan lain, sampai pada suatu hari ketika kolam itu kedatangan-seorang manusia Baca entri selengkapnya »
TIGA CINCIN BERLIAN
Pada zaman dahulu, ada seorang bijaksana dan sangat kaya yang mepunyai seorang anak laki-laki. Katanya kepada anaknya, “Ini cincin permata. Simpanlah sebagai bukti bahwa kau ahli warisku, Baca entri selengkapnya »
DARWIS DAN PUTRI RAJA
Konon, ada seorang putri raja yang keelokannya bagaikan rembulan; semua orang mengaguminya.
Pada suatu hari, seorang darwis yang sedang akan memasukkan makanan ke mulutnya, Baca entri selengkapnya »
CARA MENANGKAP KERA
Konon, ada seekor kera yang sangat suka makan buah ceri. Pada suatu hari ia melihat ceri yang menerbitkan liur. Iapun turun dari pohon untuk memetiknya. Tetapi ternyata buah itu berada dalam sebuah botol gelas yang sangat bening. Baca entri selengkapnya »
TIGA KEBENARAN
Para Sufi dikenal sebagai Pencari Kebenaran, yang berupa kenyataan obyektif. Konon, seorang tiran yang bodoh dan dengki memutuskan untuk memiliki kebenaran ini. Baca entri selengkapnya »
ORANG-ORANG BUTA DAN GAJAH
Di seberang Ghor ada sebuah kota. Semua penduduknya buta. Seorang raja dengan pengikutnya lewat dekat kota itu; ia membawa tentara dan memasang tenda di gurun. Ia mempunyai seekor gajah perkasa, yang dipergunakannya untuk berperang dan menimbulkan ketakjuban rakyat. Baca entri selengkapnya »
SANG RAJA DAN ANAK MISKIN
Sendirian saja, orang tidak akan bisa menempuh jalan dalam perjalanan batinnya. Kau tidak usah mencoba menempuhnya sendirian, sebab harus ada pembimbingmu. Yang kita sebut raja adalah pembimbing, dan anak miskin itu Si Pencari. Baca entri selengkapnya »
KERETA
Ada tiga macam ilmu dalam telaah kemanusiaan. Yang pertama adalah Ilmu tentang pengetahuan biasa; yang kedua adalah Ilmu tentang keadaan batin yang luar biasa, yang biasanya disebut puncak kenikmatan. Yang ketiga, yang penting, Baca entri selengkapnya »




