Arsip untuk kategori ‘Kumpulan Kisah Hikmah (Nasruddin Hoja)’
HARGA KEBENARAN
Seperti biasanya, Nasrudin memberikan pengajaran di mimbar. “Kebenaran,” ujarnya “adalah sesuatu
yang berharga. Bukan hanya secara spiritual, tetapi juga memiliki harga material.” Baca entri selengkapnya »
UMUR NASRUDIN
“Berapa umurmu, Nasrudin ?”
“Empat puluh tahun.”
“Tapi beberapa tahun yang lalu, kau menyebut angka yang sama.” “Aku konsisten.”
MISKIN DAN SEPI
Seorang pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang tuanya. Ia langsung terkenal sebagai orang kaya,
dan banyak orang yang menjadi kawannya. Namun karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh
uangnya habis. Satu per satu kawan-kawannya pun menjauhinya. Baca entri selengkapnya »
PERUSUH RAKYAT
Kebetulan Nasrudin sedang ke kota raja. Tampaknya ada kesibukan luar biasa di istana. Karena
ingin tahu, Nasrudin mencoba mendekati pintu istana. Tapi pengawal bersikap sangat waspada dan
tidak ramah. Baca entri selengkapnya »
PERIUK BERANAK
Nasrudin meminjam periuk kepada tetangganya. Seminggu kemudian, ia mengembalikannya dengan
menyertakan juga periuk kecil di sampingnya. Tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil
KELEDAI MEMBACA
Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi
Timur Lenk berkata,
“Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat
hasilnya.” Baca entri selengkapnya »
PELAYAN RAJA
Nasrudin menjadi orang penting di istana, dan bersibuk mengatur urusan di dalam istana. Suatu
hari raja merasa lapar. Beberapa koki menyajikan hidangan yang enak sekali. Baca entri selengkapnya »
NASIB DAN ASUMSI
NASRUDIN PEMUNGUT PAJAK
Pada masa Timur Lenk, infrastruktur rusak, sehingga hasil pertanian dan pekerjaan lain sangat
menurun. Pajak yang diberikan daerah-daerah tidak memuaskan bagi Timur Lenk. Maka para pejabat
pemungut pajak dikumpulkan. Mereka datang dengan membawa buku-buku laporan. Namun Timur Lenk yang
marah merobek-robek buku-buku Baca entri selengkapnya »
JUBAH HITAM
Nasrudin berjalan di jalan raya dengan mengenakan jubah hitam tanda duka, ketika seseorang
bertanya, “Mengapa engkau berpakaian seperti ini, Nasrudin? Apa ada yang meninggal.”
“Yah,” kata sang Mullah, “Bisa saja terjadi tanpa kita diberi tahu.”
TIMUR LENK DI AKHIRAT
Timur Lenk meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal kekuasaannya.
“Nasrudin! Menurutmu, di manakah tempatku di akhirat, menurut kepercayaanmu ? Apakah aku
ditempatkan bersama orang-orang yang mulia atau yang hina ?” Baca entri selengkapnya »
TAMPAK SEPERTI WUJUDMU
Nasrudin sedang merenungi harmoni alam, dan kebesaran Penciptanya.
“Oh kasih yang agung.
Seluruh diriku terselimuti oleh-Mu.
Segala yang tampak oleh mataku.
Tampak seperti wujud-Mu.” Baca entri selengkapnya »
TIMUR LENK DI DUNIA
Timur Lenk masih meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal kekuasaannya.
“Nasrudin! Kalau setiap benda yang ada di dunia ini ada harganya, berapakah hargaku ?” Baca entri selengkapnya »
BERSEMBUNYI
Suatu malam seorang pencuri memasuki rumah Nasrudin. Kabetulan Nasrudin sedang melihatnya. Karena
ia sedang sendirian aja, Nasrudin cepat-cepat bersembunyi di dalam peti. Sementara itu pencuri
memulai aksi menggerayangi rumah. Baca entri selengkapnya »
KEADILAN DAN KELALIMAN
Tak lama setelah menduduki kawasan Anatolia, Timur Lenk mengundangi para ulama di kawasan itu.
Setiap ulama beroleh pertanyaan yang sama: Baca entri selengkapnya »
PENYELUNDUP
Ada kabar angin bahwa Mullah Nasrudin berprofesi juga sebagai penyelundup. Maka setiap melewati
batas wilayah, penjaga gerbang menggeledah jubahnya yang berlapis-lapis dengan teliti. Tetapi
tidak ada hal yang mencurigakan yang ditemukan. Untuk mengajar, Mullah Nasrudin memang sering
harus melintasi batas wilayah. Baca entri selengkapnya »
GELAR TIMUR LENK
Timur Lenk mulai mempercayai Nasrudin, dan kadang mengajaknya berbincang soal kekuasaannya.
“Nasrudin,” katanya suatu hari, “Setiap khalifah di sini selalu memiliki gelar dengan nama Allah.
Misalnya: Al-Muwaffiq Billah, Al-Mutawakkil ‘Alallah, Al-Mu’tashim Billah, Al-Watsiq Billah, dan
lain-lain. Menurutmu, apakah gelar yang pantas untukku ?” Baca entri selengkapnya »
TERBURU-BURU
Keledai Nasrudin jatuh sakit. Maka ia meminjam seekor kuda kepada tetangganya. Kuda itu besar dan
kuat serta kencang larinya. Begitu Nasrudin menaikinya, ia langsung melesat secepat kilat,
sementara Nasrudin berpegangan di atasnya, ketakutan. Baca entri selengkapnya »
ITIK BERKAKI SATU
Sekali lagi Nasrudin diundang Timur Lenk. Nasrudin ingin membawa buah tangan berupa itik
panggang. Sayang sekali, itik itu telah dimakan Nasrudin sebuah kakinya pagi itu. Setelah
berpikir-pikir, akhirnya Nasrudin membawa juga itik panggang berkaki satu itu menghadap Timur
JANGAN TERLALU DALAM
Telah berulang kali Nasrudin mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di
desanya selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu. Keadaan ini
selalu berulang sehingga Nasrudin menyimpulkan bahwa si hakim minta disogok. Tapi — kita tahu –
menyogok itu diharamkan. Maka Nasrudin memutuskan untuk melemparkan keputusan ke si hakim
sendiri. Baca entri selengkapnya »
NASRUDIN MEMANAH
Sesekali, Timur Lenk ingin juga mempermalukan Nasrudin. Karena Nasrudin cerdas dan cerdik, ia
tidak mau mengambil resiko beradu pikiran. Maka diundangnya Nasrudin ke tengah-tengah
prajuritnya. Dunia prajurit, dunia otot dan ketangkasan. Baca entri selengkapnya »
API !
Hari Jum`at itu, Nasrudin menjadi imam Shalat Jum`at. Namun belum lama ia berkhutbah, dilihatnya
para jamaah terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang
Mullah,
“Api ! Api ! Api !”
Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh kiri-kanan.
Sebagian ada yang langsung bertanya,
“Dimana apinya, Mullah ?”
Nasrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya,
“Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah.”
MANIPULASI DESKRIPSI
Nasrudin kehilangan sorban barunya yang bagus dan mahal. Tidak lama kemudian, Nasrudin tampak
menyusun maklumat yang menawarkan setengah keping uang perak bagi yang menemukan dan
mengembalikan sorbannya. Baca entri selengkapnya »
TEORI KEBUTUHAN
Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu,
sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai,
“Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, …” Baca entri selengkapnya »
MENJUAL TANGGA
Nasrudin mengambil tangganya dan menggunakannya untuk naik ke pohon tetangganya. Tetapi sang
tetangga memergokinya. Baca entri selengkapnya »




