Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Konsep Kehidupan Akhirat

with 2 comments


Kehidupan akhirat sudah cukup sering disinggung pada artikel-artikel sebelumnya. Dan artikel ini hanyalah penegasan agar seseorang memiliki perbandingan logika yang kuat dan benar dalam memahami suatu “bentuk” atau “versi” kehidupan lain yang abadi tersebut, yakni kehidupan akhirat.

Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang nyata, seperti kehidupan kita di dunia ini, namun lebih sempurna. Ia merupakan versi kehidupan yang lebih stabil (baca: lebih baik) daripada kehidupan dunia. Namun demikian, keberadaan atau pengetahuan tentang kehidupan akhirat yang merupakan perkara yang masih “ghaib” (tersembunyi) telah menjadikan kebanyakan manusia ingkar (baca: tidak percaya) akan keberadaannya. Dengan kata lain, kebanyakan manusia tidak percaya bahwa kehidupan akhirat itu ada. Kebanyakan mereka menganggap bahwa kehidupan akhirat itu hanyalah sebuah dongeng, cerita fiksi, anekdot atau bahkan Hoax (kekonyolan).

Ragam Versi Kehidupan

Ketahuilah, bahwa manusia itu pasti mengalami beberapa macam versi kehidupan. Versi kehidupan tersebut didasarkan pada hubungan antara ruh dan jasad sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh para ulama. Versi-versi kehidupan tersebut diantaranya adalah, Kehidupan Alam Rahim, Kehidupan Alam Dunia, Kehidupan Alam Kubur, dan Kehidupan Alam Akhirat.

Kehidupan Alam Rahim

Dalam versi kehidupan ini, manusia mengalami proses hidup, tumbuh dan berkembang dalam kandungan ibu, sebuah alam kehidupan yang sangat terbatas. Dalam kehidupan alam rahim yang mendominasi adalah Jasad. Sementara itu, ruh (jiwa) “hampir” sama sekali tidak ada pengaruhnya. Sebab itulah, kita tidak pernah mendengar ada janin yang ruh-nya (baca: perasaannya) sedih atau kesal dan sebagainya meskipun dia diaborsi -digugurkan dari kandungan ibunya. Mengapa? Karena hubungan antara keduanya (yakni, jasad dan ruhnya) sangat lemah. Hampir 100% dari semua peristiwa yang menimpa seseorang dalam kehidupan alam rahim hanya dirasakan oleh “janin” (jasad), dan tidak dirasakan oleh ruhnya (jiwanya, perasaannya).

Kehidupan alam rahim sebenarnya merupakan “persiapan” bagi seseorang sebelum menjalani kehidupan dunianya. Akhir dari versi kehidupan alam rahim ditandai dengan proses “kelahiran” ke alam dunia. Dan semenjak saat itu manusia telah memasuki versi kehidupan lain yakni, kehidupan dunia.

Kehidupan Dunia

Kehidupan dunia adalah versi kehidupan lanjutan dari kehidupan alam rahim. Ia merupakan versi kehidupan yang lebih sempurna dan lebih baik dari kehidupan alam rahim. Dalam versi kehidupan dunia, yang mendominasi adalah jasad, namun masih dipengaruhi oleh ruh. Sebab itulah, keduanya memiliki hubungan cukup kuat. Buktinya? Buktinya adalah, jika jasad (baca: perut) seseorang lapar., maka ruhnya (baca: perasaannya) akan cenderung gelisah, sedih. dan tentu saja jasadnya akan berusaha mencari makanan. Atau, jika seseorang dikejar harimau, maka ruhnya (perasaannya) akan kacau, takut dan gelisah. sehingga jasadnya cenderung akan lari sekuat tenaga. Atau juga tentang seseorang yang perasaannya (ruhnya) tersiksa, misal: gagal ujian, patah hati, shock, depresi, dll… maka jasadnya cenderung akan menangis.

Jadi, dalam versi kehidupan dunia ini, yang mendominasi memang jasad, tapi masih dipengaruhi oleh ruh (jiwa, perasaan). Dengan kata lain, dalam versi kehidupan dunia ini hubungan antara jasad dan ruh disesuaikan dengan kebutuhan jasad. Misal, jika kita ingin makan “enak”, maka kita harus punya jiwa (semangat/ruh) yang pantang menyerah dalam bekerja (agar bisa menghasilkan uang banyak). Atau, jika kita tidak ingin dilanda “stress” (gila), maka kita harus punya perasaan (ruh/hati) yang kuat dan sabar (yang ditunjang dengan ibadah yang baik).

Kemudian, akhir dari versi kehidupan dunia seseorang ditandai dengan peristiwa “kematian”. Definisi kematian yang sebenarnya adalah proses “berpisahnya” antara ruh dan jasad. Dengan kata lain, saat orang mengalami kematian. sebenarnya saat itu ruh orang tersebut sedang dicabut (dipisahkan) dari jasadnya. Dan proses tercabutnya ruh (nyawa) dari jasad ini merupakan proses yang sangat menyakitkan. Buktinya? Lihatlah orang-orang yang mengalami kematian (sakaratul maut), maka ia akan cenderung berteriak atau menjerit karena saking sakitnya, kecuali bagi segelintir orang yang diberi khusnul khotimah (akhir kehidupan yang baik).

Dan ketika orang telah mati, yakni ketika ruhnya dan jasadnya telah berpisah maka, orang tersebut telah memasuki versi kehidupan lain, yakni kehidupan alam kubur (alam barzah).

Kehidupan Alam Kubur

Kehidupan alam kubur adalah kehidupan yang didominasi oleh ruh. Sementara jasad hampir tak memiliki pengaruh sama sekali. Dengan kata lain, yang “mengalami” kehidupan alam kubur adalah “Ruh”, sedangkan jasad terbaring (tidak ikut campur).

Kemudian,
Sebagaimana kehidupan alam dunia yang lebih baik daripada kehidupan alam rahim, maka begitu juga dengan alam kubur. Kehidupan alam kubur adalah versi kehidupan yang lebih seru dan lebih baik daripada kehidupan alam dunia. Mengapa demikian? Yakni, karena kebenaran telah tersingkap.

Kemudian, karena yang mendominasi kehidupan alam kubur adalah Ruh, maka jasad tidak begitu kuat pengaruhnya. Sebab itulah, tak ada orang mati yang bicara atau mengamuk, mengapa? Karena ruhnya tidak memiliki “hak akses” terhadap jasadnya. Dengan kata lain, ruh tersebut sudah tidak bisa “mengendalikan” jasadnya lagi (karena telah terpisah dari jasad).

Jika Anda ingin memahami pola kehidupan alam kubur maka, perhatikanlah keadaan orang yang sedang tidur dan bermimpi. entah itu mimpi yang menyenangkan atau mimpi yang menyedihkan. Mimpi yang menyenangkan atau mimpi yang menyedihkan itu hanya di alami oleh ruh orang yang sedang tidur tersebut, sementara jasadnya hanya terdiam (baca: tidur). Jelasnya, kesenangan atau kesedihan yang sedang dialami oleh orang yang sedang tidur tersebut hanya dialami oleh ruhnya, tidak oleh jasadnya!

Nah, begitu pula dengan orang yang sudah mati. Kita tidak bisa melihat kebahagiaan atau kesedihannya, karena yang mengalami kedua peristiwa tersebut bukan jasadnya, melainkan ruhnya. Hal ini mirip dengan pertanyaan, apakah Anda bisa melihat kesenangan atau kesedihan orang yang sedang tertidur dan tengah bermimpi tentang suatu hal? Tentu saja tidak bisa, karena kita hanya bisa melihat keadaan jasadnya, bukan keadaan ruhnya.

Okay,
Kehidupan alam kubur sebenarnya merupakan alam peralihan (penantian). Sama halnya seperti kehidupan alam rahim yang merupakan “persiapan” bagi seseorang sebelum menjalani kehidupan dunianya, maka begitu juga dengan kehidupan alam kubur. Dalam kehidupan alam kubur inilah seseorang benar-benar “menunggu” untuk menghadapi versi kehidupan lain yakni, kehidupan akhirat.

Kehidupan alam kubur diakhiri dengan ditandai oleh suatu peristiwa yang sangat besar, yang disebut dengan Kiamat. Saat itu manusia memasuki versi kehidupan yang terakhir dan stabil (abadi), yakni kehidupan akhirat. Tepatnya yakni, saat mereka dibangkitkan pada hari kiamat.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Jarak waktu antara dua tiupan sangkakala itu adalah empat puluh. Mereka bertanya: Wahai Abu Hurairah, apakah empat puluh hari? Ia menjawab: Aku tidak dapat menyebutkan. Mereka bertanya lagi: Empat puluh bulan? Ia menjawab: Aku tidak dapat menyebutkan. Mereka bertanya lagi: Empat puluh tahun? Ia menjawab: Aku tidak dapat menyebutkan. Kemudian Rasulullah saw. bersabda lagi: Lalu Allah menurunkan hujan, sehingga mayat-mayat tumbuh (bangkit) seperti tumbuhnya tanaman sayuran. Tidak ada satu bagian tubuh manusia kecuali semua telah hancur selain satu tulang, yaitu tulang ekornya dan dari tulang itulah jasad manusia akan disusun kembali pada hari kiamat.
(Shahih Muslim No.5253)

Kehidupan akhirat

Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sempurna, karena disitulah letak keabadian kehidupan manusia. Dalam kehidupan ini hubungan antara ruh dan jasad adalah sangat kuat. Sebuah kehidupan tanpa kematian, dan segala hukum di dunia tidak berlaku.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits:
Yaa Allah, tak ada kehidupan selain kehidupan akhirat. (HR. Bukhari)

Kemudian, kehidupan akhirat juga memiliki perbedaan yang signifikan dengan kehidupan dunia. Dalam hal apa? Dalam hal kebaikan dan keburukan. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang bercampur antara kebaikan (kebahagiaan) dan keburukan (kesedihan). Sedangkan akhirat adalah kehidupan yang adil dengan memisahkan antara kebaikan dan keburukan. Dalam kehidupan akhirat, setiap kebaikan (kebahagiaan) ditempatkan di tempat yang baik (yakni, surga) dan setiap keburukan (kesedihan) ditempatkan di tempat yang buruk (yakni, neraka). Sehingga, tak sedetik pun penghuni surga yang merasakan kesedihan di dalamnya. Dan penduduk neraka tak sedetik pun merasakan kebahagiaan di dalamnya.

Jadi, pada dasarnya konsep kehidupan akhirat adalah sama dengan kehidupan dunia, tapi jauh lebih baik.

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS. Al-An’am: 32)

Dan kehidupan dunia jika dibanding dengan kehidupan akhirat adalah “sedikit” (baca: tak ada artinya).

Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (QS. Ar-Ra’d: 26)

Kebahagiaan di akhirat adalah kebahagiaan yang abadi (karena tidak mengandung kematian).

Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 82)

Dan kesengsaraan di akhirat adalah kesengsaraan yang abadi (karena tidak mengandung kematian).

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-A’raf: 36)

Tentang Alam Kubur: Apakah Anda masih meragukan kehidupan alam kubur?

Pertanyaan ini sebenarnya mudah diselesaikan jika Anda mengalihkannya kepada pertanyaan mengenai “peristiwa” yang mengawali seseorang yang memasuki alam kubur, yakni kematian. Sebab itu, pertanyaannya bisa dirubah:

Apakah Anda masih meragukan kematian Anda?

Ketahuilah, tak satupun manusia di dunia ini kecuali ia pasti mati.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Ali Imran: 185)

Mungkin ada yang bertanya, Bagaimana dengan orang yang mengkonsumsi obat awet muda?

Hmm., obat awet muda itu hanya untuk mencegah penuaan, dan bukan untuk mencegah kematian! Beberapa toko apotik herbal mungkin menjual aneka obat awet muda (plus vitamin E, Ekstrak ini dan itu)., tapi mereka tidak menjual obat “anti kematian”.

Dan mungkin ada yang bertanya lagi, Bagaimana dengan orang yang kebal terhadap senjata tajam dan peluru?

Orang itu juga mirip dengan orang yang pertama. Ia hanya kebal terhadap senjata tajam dan peluru, tapi tidak kebal terhadap kematian. Kematian menghampiri seseorang dengan 100 alasan, sedangkan alasan yang klasik (umum) adalah “karena sudah tua”.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits:
Perumpamaan anak cucu adam ialah dimana di sampingnya ada 99 sebab kematian, dan kalau semua penyebab tersebut tak mengenainya, maka ia akan mati karena usia tua. (HR. Tirmidzi)

Jadi, minum awet muda itu boleh. Bahkan, punya ilmu kebal senjata tajam juga tidak masalah (sepanjang tidak syirik). Tapi mengenai obat atau ilmu “anti kematian”., itu tidak pernah ada! Gatot Koco yang sakti mandra guna itu juga mengalami kematian, Prabu Angling Darma yang tangguh itu juga mengalami kematian. Bahkan dewa-dewa yunani kuno seperti zeus, juga mengalami kematian. Dan penulis blog ini juga pasti akan mati.

Hampir setiap hal di dunia ini berpotensi untuk mendatangkan kematian. Mulai dari makanan siap saji yang berpotensi mengakibatkan kanker., hingga kecelakaan dalam dunia transportasi. Hidup dan mati hanyalah ujian untuk menguji manusia perihal perbuatannya.

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik perbuatannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk: 1-2)

Jadi, setelah seseorang mati maka, ia telah keluar dari kehidupan dunia dan memasuki kehidupan yang baru, yakni alam kubur. baik ia suka atau tidak suka. Sama halnya seperti saat-saat awal “bayi” yang terlahir ke dunia ini maka, mau atau tidak mau dia telah keluar dari kehidupan alam rahim dan memasuki alam yang baru, yakni kehidupan dunia.

Apakah Anda termasuk orang yang tidak percaya terhadap kehidupan akhirat karena belum mengalaminya?

Sebenarnya, belum ada orang yang pernah pergi ke akhirat. Bahkan dari para Nabi dan Rasul. Mengapa? Karena akhirat adalah perkara yang “akan datang”. Jika ada yang bertanya, bukankah dalam cerita sering disebutkan bahwa mereka (para Nabi dan Rasul) mengunjungi atau memasuki surga/neraka dan bercerita tentangnya? Memang benar, tapi apa yang mereka katakan hanyalah “gambaran”. Ini mirip seperti orang yang memiliki pengetahuan yang tinggi tentang wilayah kutub utara, tapi orang tersebut sama sekali belum pernah pergi ke kutub utara. Bagaimana orang tersebut memiliki pengetahuan yang luas tentang kutub utara? Tentu saja, dengan cara melihat gambar tentang kutub utara beserta informasinya sedetil-detilnya yang berhubungan dengannya.

Allah swt. adalah Dzat yang Maha Mengetahui. Dia mengetahui segala hal, termasuk yang ghaib (tersembunyi, belum terjadi). Dan Dia mengabarkan informasi tersebut kepada manusia-manusia pilihannya, yakni dari kalangan para Nabi dan Rasul, dan bahkan para wali atau mungkin juga orang biasa (yang tekun ibadahnya). Dan informasi-informasi tentang kehidupan akhirat (yang murni dan benar) ada dalam al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih.

Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:
"Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah (al-Qur'an) dan Sunnahku (Hadits). Dan tidak akan terpisah keduanya sampai keduanya mendatangiku di haudh (Sebuah telaga di surga, Pen.)."
(HR. Imam Malik secara mursal (Tidak menyebutkan perawi sahabat dalam sanad), dan Al-Hakim secara musnad (Sanadnya bersambung dan sampai kepada Rasulullah ) – dan ia menshahihkannya) Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (no. 1594), dan Al Hakim dalam al-Mustadrak (I/172). http://muslim.or.id/?p=5

Akhirat adalah kehidupan yang nyata, seperti kehidupan kita di dunia ini. Dan Mustahil seseorang bisa mengetahui tentang kehidupan akhirat secara 100% (pengalaman langsung), sementara kiamat (yang mengawali kehidupan akhriat) belum terjadi! Ini mirip dengan “bayi” yang masih dalam kandungan ibunya yang ingin “mengetahui” kehidupan dunia, sementara ia sendiri belum terlahir ke dunia, tentu saja ia tidak akan bisa tahu!

Jika Anda ingin mengetahui informasi-informasi yang detil tentang akhirat, bacalah al-Qur’an dan al-Hadits. Dan sebenarnya, kita semua akan mengetahui kebenaran berita yang terkandung dalam al-Qur’an beberapa saat lagi (yakni, saat mati dan dibangkitkan).

Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Qur'an setelah beberapa saat lagi. (QS. Shaad: 8).

Dan jika Anda tetap tidak mempercayai kehidupan akhirat, atau. Anda menempuh jalan yang salah dalam kehidupan ini, maka sebenarnya Anda telah membuat kesalahan yang besar. Mengapa? Karena kehidupan hanya berputar ke depan, tidak pernah ke belakang! Jika kita semua telah memasuki kehidupan akhirat, maka tak satupun di antara kita yang bisa kembali ke dalam kehidupan dunia lagi. sebagaimana kita (yang mengalami kehidupan dunia saat ini) tidak akan pernah bisa kembali ke dalam perut ibunya (alam rahim). Dan penyesalan orang yang tidak percaya terhadap kehidupan akhirat adalah penyesalan yang tiada tara, karena mereka “berharap” dengan harapan yang k o s o n g.

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin". (QS. As-Sajadah: 12)

Akhirnya, semoga Allah swt. memberikan kita kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat.

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". (QS. Al-Baqarah: 201)

Written by Amir

6 Juni, 2010 at 21:08

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. lengkap dan menarik..
    referensinya dari mana ni? atau tulisan sendiri? sipp

    guss

    7 Juni, 2010 at 23:10

    • Ada yang nanya referensi?

      Saya mengambil referensi mengenai tingkatan hubungan antara ruh dan jasad berdasarkan perkataan ulama’. Dan perkataan ulama tersebut ada di sebuah artikel (file) yang pernah saya download.

      “HaditsWeb3″ (cari di google), atau misalnya alamat downloadnya di: (www.filestube.com/9e180a7ab01c3bc603ea,g/HaditsWeb3.html) ukuran file: ± 4MB

      ›› Bab: Ringkasan Syarah Arba’in An-Nawawi ›››› Sub Bab : Nasib Manusia Telah Ditetapkan

      Dan dari referensi tersebut, saya usahakan untuk menjabarkannya berdasarkan pengalaman saya dalam membaca artikel-artikel yang lain.

      Dan jika penjabaran di atas ada yang rancu, kurang jelas, atau salah silahkan diutarakan dalam comment ini.

      Saya menghargai kebaikan dalam bentuk apapun :D

      Amir

      8 Juni, 2010 at 17:01


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: