Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

Rahasia Di Balik Cahaya Wajah

leave a comment »


Sumber rangkuman: Zikir Cahaya Kehidupan (Ibnul Qayyim al-Jauziyah), Gema Insani [hal. 67]


Zikir adalah cahaya di dunia dan di alam kubur bagi yang melakukannya. Juga cahaya di hari kiamat bagi yang melakukannya. Ia akan berjalan bersamanya ketika menyebrang ash-Shirat (Jembatan di atas Neraka). Tiada yang menyinari hati dan alam kubur seterang cahaya zikir.

Allah berfirman:

Apakah orang-orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ia dapat berjalan di tengah-tengah kumpulan manusia, adalah serupa dengan orang-orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? (QS. Al-An’am: 122)

Profil pertama (dalam ayat di atas) adalah seorang mukmin yang hatinya disinari cahaya iman kepada Allah, mahabbah (kecintaan), ma’rifat (pengetahuan), dan dzikir. Sedang yang lain adalah orang yang lalai dari mengingat Allah dan berpaling dari-Nya dan cinta-Nya. Kebahagiaan di atas kebahagiaan adalah jika seseorang meraih an-Nuur (cahaya Allah) dan sungguh sangat rugi bagi yang tidak dapat meraihnya. Oleh karena itu, Rasulullah saw. sangat berharap sekali kepada Allah ketika beliau memohon agar Allah berkenan menjadikan di dagingnya, tulangnya, otot-otot tubuhnya, rambutnya, kulitnya, pendengarannya, penglihatannya, di sebelah atasnya, di sebelah bawahnya, di sebelah kanannya, di sebelah kirinya, di depannya, dan di belakangnya sebongkah cahaya yang terus menyinarinya. Sampai beliau mengatakan,

Dan jadikanlah diriku ini cahaya (Nuur).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di sini Rasulullah saw. meminta kepada Allah agar berkenan menjadikan cahaya di seluruh sel-sel tubuhnya yang terkecil, baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Beliau memohon agar Allah menjadikan cahaya itu mengelilingi seluruh anggota badannya dari semua sudut. Bahkan, beliau memohon agar Allah menjadikan semua badannya sebagai cahaya.

Agama Allah adalah cahaya (petunjuk). Kitab-Nya adalah cahaya (petunjuk). Rasul-Nya adalah cahaya (pembawa petunjuk). Dan rumah (di surga) yang telah Dia sediakan kelak bagi para wali-Nya adalah cahaya yang berkilauan. Dia-lah Allah, “Cahaya langit dan bumi.” Di antara sekian nama-Nya (dalam Asma’ul Husna) adalah an-Nuur (Cahaya). Kegelapan pun menjadi terang benderang dengan cahaya wajah-Nya.

Di antara doa Nabi saw. saat beliau berdakwah di Thaif adalah:

Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu, yang membuat terang benderang kegelapan, dan membuat teratur segala urusan dunia dan akhirat, agar kemarahan-Mu tidak dijatuhkan kepadaku, atau kebencian-Mu tidak dijatuhkan kepadaku. Kepada-Mu lah aku beribadah, hingga Engkau ridha (senang). Tiada daya upaya kecuali dengan(pertolongan)-Mu. (al-Hadits)

Allah berfirman:

Terang benderanglah bumi (Padang Mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhan-Nya. (QS. Az-Zumar: 69)

Jika Allah datang pada hari kiamat untuk memberikan keadilan bagi hamba-hamba-Nya, maka bercahayalah Bumi dengan cahaya-Nya. Cahaya bumi saat itu bukan karena pancaran cahaya matahari dan bulan. Karena saat itu cahaya matahari telah redup dan bulan pun sudah lenyap, sehingga cahaya keduanya lenyap. Sedangkan Allah, hijab-Nya adalah an-Nuur (cahaya).

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa:

Abu Musa ra. Berkata, “Rasulullah menyampaikan lima perkara kepada kami, beliau saw. bersabda, ‘Allah tidaklah tidur, dan tidak selayaknya Dia tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya. Kepada-Nya diangkat perbuatan manusia di malam hari sebelum datang siang hari, dan perbuatan siang hari sebelum malam hari. Hijab-Nya adalah cahaya, yang jika hijab-Nya itu dibuka, niscaya cahaya wajah-Nya akan membakar semua makhluk yang dipandang-Nya.’ Kemudian beliau saw. membaca ayat:

Telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. (QS. An-Naml: 8).

Maka, bercahayalah hijab itu dengan cahaya wajah-Nya. Seandainya tidak ada hijab itu, niscaya cahaya wajah-Nya akan membakar segala apa yang dipandang-Nya.”

Ketika Allah menampakkan wujud-Nya di gunung Tursina (pada kisah Musa as.) dan membuka sedikit tabir-Nya, seketika itu gunung itu tenggelam ke dalam bumi dan rata dengan tanah. Ia tidak dapat berdiri karena Allah berada di sisinya. Inilah tafsiran yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas ra. ketika memahami ayat:

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu. Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-An’am: 103)

Ibnu Abbas ra. berkata, “Objek (kata ‘Dia’) yang disebut dalam ayat tersebut adalah Allah. Jika dia menampakkan Zat-Nya dengan nuur-Nya, maka tidak ada sesuatu pun yang dapat berdiri.” Pendapat ini merupakan salah satu bukti Keunikan sudut pandangnya dan metode penafsirannya yang diungkapkan secara jeli dan teliti. Bagaimana tidak demikian, sedangkan Rasulullah saw. sendiri telah mendoakannya (Ibnu Abbas) agar Allah mengajarkan kepadanya takwil?!!

Di hari kiamat Allah akan dapat dilihat oleh manusia dengan mata telanjang. Tetapi, mustahil kalau kita akan dapat melihat Zat Allah yang sesungguhnya, meskipun dapat dicapai dengan cara lain. Keberhasilan dalam mencapai dengan cara seperti itu adalah sesuatu yang berbeda jika dibandingkan melihat dengan mata telanjang. Sebagai contohnya adalah matahari, dan Allah Maha Mempunyai Perumpamaan. Kita dapat memang dapat melihat matahari, tapi kita tidak dapat menggapai wujudnya yang sesungguhnya (artinya, kita hanya dapat mengetahuinya sepintas saja, dan tidak dapat mengetahuinya secara detil dan terperinci).

Karena itu, Ibnu Abbas ketika ditanya seseorang tentang ar-Ru’yah (kemungkinan melihat Allah), ia mengatakan, “Laa tudrikuhul abshaar.” Kemudian ia bertanya kepada orang itu, “Bukankah engkau melihat langit?” orang tersebut menjawab, “Iya, aku melihatnya.” Ibnu Abbas berkata kepadanya, “Apakah engkau dapat menggapainya (yakni, bisa mengetahui secara jelas dan terperinci secara keseluruhan)?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Kemudian Ibnu Abbas berkata, “Allah lebih agung dan lebih besar dari itu (yakni, kebesaran dan keagungan Allah melebihi langit).”

Allah telah memberikan sebuah perumpamaan nuur (cahaya) sebagai suatu hakikat yang Dia titipkan dalam kalbu (hati) hamba-Nya. Perumpamaan ini tidak dapat dipahami kecuali oleh orang-orang yang berilmu. Allah berfirman:

Allah Pemberi cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah baratnya. Minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nur: 35)

Ubay bi Ka’ab ra. berkata, “Perumpamaan cahaya-Nya ada dalam kalbu (hati) seorang muslim.”[29] Inilah cahaya yang Allah titipkan dalam kalbu (hati) hamba-Nya berupa ma’rifat (pengetahuan), mahabbah (kecintaan), iman (keyakinan), dan zikir (sanjungan kepada Allah). Ia adalah cahaya yang Allah anugerahkan kepada mereka. Sehingga, cahaya itu mampu membuat jiwa mereka hidup dan berjalan dengannya di tengah manusia. Ia adalah landasan yang ada dalam kalbu seorang hamba, yang memperkuat unsur materi (fisik, panca indra, dll). Begitulah ia terus bertambah sehingga biasanya akan tampak di sela-sela wajah, panca indra, dan badan mereka –bahkan pada pakaian dan tempat tinggal mereka.

29. Hadits ini shahih, disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya dari Abu Ja’far ar-Razi, dari ar-Rabi’ Ibnu Anas, dari Abul ‘Aliah, dari Ubai Ibnu Ka’ab ra. mengenai firman Allah, “Allah Pemberi cahaya kepada langit dan bumi.” Ia berkata, “Ia adalah seorang mukmin yang Allah jadikan dalam kalbunya Iman dan al-Qur’an. Maka, Allah jadikan ia sebuah perumpamaan dengan berfirman, ‘ Allah Pemberi cahaya kepada langit dan bumi.’ Dimulai dengan cahaya Zat-Nya kemudian menyebutkan cahaya yang dimiliki oleh orang mukmin dengan firman-Nya, ‘Dan perumpamaan orang-orang yang beriman kepada-Nya.’ …”

Written by Amir

22 April, 2010 pada 11:06

Ditulis dalam Ibadah

Dikaitkatakan dengan , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: