Aneka Resep Kehidupan

Nutrisi Kaya Hikmah untuk Kebutuhan Jiwa Anda

[PENJABARAN] Rumus Umum: “Bagaimana Mematahkan Tuduhan Palsu Terhadap Islam” [2-Habis]

leave a comment »


Ini adalah lanjutan dari artikel [PENJABARAN] Rumus Umum: “Bagaimana Mematahkan Tuduhan Palsu Terhadap Islam” [1].
Dan hanya akan memfokuskan tentang penjabaran dengan sub pertanyaan yang pertama, yakni:




1. Apakah dia (si pemberi tuduhan) buta huruf (tak mengenyam pendidikan formal sedikitpun) seperti Muhammad saw. yang ummi (buta huruf)?


Ketahuilah, bahwa inilah yang menjadi kunci utama dari rumus yang saya utarakan. Sebab itu, jika Si Pemberi Tuduhan tersebut telah terkualifikasi dengan pertanyaan no. 2 s/d no. 5, maka sepertinya ia tak akan lolos dari pertanyaan no. 1 ini. Pertanyaan ini terdengar seperti aib (kekurangan/kelemahan/cacat) yang terlalu dibesar-besarkan. Namun, mungkin Anda akan sangat terkejut dengan makna dibalik pertanyaan ini, yang merupakan penyempurna mukjizat beliau, Muhammad saw.


Lantas, apa maksud pertanyaan no. 1 ini?



Saya pribadi, dan bahkan setiap manusia sepakat bahwa hal yang bersifat biasa itu dilakukan dengan cara yang biasa atau umum. Sebaliknya, hal yang luar biasa itu dilakukan dengan cara yang tidak umum (aneh/luar biasa/menakjubkan), atau seseorang yang melakukan perbuatan dimana ia seharusnya tak bisa melakukan hal itu.

Jika seekor kucing berbunyi meong maka ketahuilah bahwa hal itu biasa, dan memang seharusnya. Tak ada keanehan dengan kucing itu dan tentu saja kucing itu dinilai normal alias tidak bisu. Sebab itu, tak akan ada wartawan yang akan menyelidikinya atau meminta izin kepada pemilik kucing untuk memotret kucing tersebut.


Namun, suasana media massa akan sangat terusik jika ada kabar bahwa ada kucing yang bisa bersuara gajah –disamping bunyi meongnya itu. Karena tak seharusnya kucing berbunyi seperti itu. Hal tersebut menyebabkan beberapa orang penasaran ingin membuktikan, apakah ia memang kucing biasa atau kucing yang kegajah-gajahan. Dampak dari keadaan tersebut adalah, banyaknya pengajuan penyelidikan, baik dari tim media massa ataupun media elektronik, bahkan dari bidang kehewanan Dunia. Mereka ingin menyelidiki, bagaimana mungkin seekor kucing bisa bersuara gajah. Dan setelah si kucing tersebut dibawa ke hutan yang penuh dengan gajah, suara kucing itu ternyata mendapat respon dari gajah-gajah hutan yang mendengarnya. Betapa fasihnya si kucing dalam menirukan suara gajah padahal ia tak pernah kursus bahasa gajah. Lalu akhirnya, si kucing tersebut naik daun sambil mendominasi sampul berbagai media massa, tak terkecuali JawaPost, karena si pemilik kucing membandrol harga kucing tersebut sebesar 1M (sudah termasuk ongkos kirim untuk seluruh Indonesia).



Sekarang kita beralih kepada hal yang lebih serius.

Lantas, bagaimanakah ukuran manusia yang bisa memperoleh julukan “Luar Biasa”? Berikut adalah dua contoh orang yang sering dianggap luar biasa oleh kebanyakan orang.

Kita semua –mungkin- tahu tentang Napoleon Bonaparte, bagaimana pendapat Anda tentangnya? Atau juga, si pembuat kapal terbang, BJ. Habibie, bagaimana pendapat Anda tentang dia? Apakah mereka (Napoleon, Habibie) itu termasuk orang biasa, luar biasa, atau menakjubkan (amazing)?



Percayakah Anda, jika saya katakan bahwa mereka itu –Napoleon dan Habibie- sebenarnya hanya manusia yang biasa. Tak ada keunikan yang patut dibanggakan dari mereka selain metode pengembangan (apresiasi) pengetahuan yang telah mereka peroleh dari pendidikan formal bertahun-tahun yang digabung dengan pengalaman hidup mereka. Napoleon adalah pemuda yang bergelut di bidang militer. Dan tentu saja ia mempelajari teknik pertempuran, bela diri, tipu daya perang. Ia pun punya pengalaman dalam bidang pemerintahan, politik, dan sebagainya. Karir Napoleon meningkat di masa-masa pertengahan hidupnya, walaupun akhirnya ia harus meninggal di tanah pengasingannya, Santa Helena. Pengetahuan dan kesuksesan yang ia peroleh adalah sesuatu yang biasa, seperti yang dialami oleh tokoh-tokoh sejenis (dalam bidang militer dan pemerintahan, semisal Adolf Hitler, Jengis Khan, Julius Caesar, dll).


Adapun si Habibie, ia pun juga biasa-biasa saja. Ia mengalami pendidikan formal, hingga pendidikan spesialis (kejuruan) aneka ragam teknik, seperti mekanika, computing, elektro, dsb. Beliau mengadopsi puluhan, ratusan, bahkan ribuan rumus, baik dari kalangan ahli matematika, seperti phytagoras; dari kalangan ahli fisika, seperti rumus Einstein, E=MC2; dan sebagainya –yang tidak saya ketahui. Jadi, tak ada keistimewaan dalam diri Habibie selain kemampuannya memadukan ragam pengetahuan yang telah diperolehnya dalam masa pendidikan formalnya. Dia mengapresiasikannya dalam bentuk penciptaan sebuah produk yang bisa dibilang langka (karena jarang sekali orang bisa menguasainya), yakni kapal terbang. Kesuksesan dan pengetahuan yang ada dalam diri Habibie adalah hal yang biasa, karena ia memperoleh hal tersebut melalui cara belajar dan juga pengalaman berbaur dengan orang selevel (berpengetahuan sejenis), disamping itu juga masih banyak orang yang setara Habibie dalam hal pembuatan kapal terbang.



Kembali ke topik utama (pertanyaan no. 1 di atas).

Nah, sekarang Anda mungkin telah mendapat sedikit gambaran, tentang keadaan Muhammad saw. yang buta huruf. Bagaimana pendapat Anda –secara pribadi- tentang “aneka ragam pengetahuan yang sangat sempurna” yang dimiliki Muhammad yang notabene buta huruf itu? Apa anda tidak terkesan atau pura-pura tidak terkesan atau tidak mau terkesan? Beliau adalah seorang buta huruf yang berpengetahuan sangat sempurna. Kenyataan seperti ini adalah suatu keadaan yang sangat bertentangan, apalagi di zaman serba klak klik ini. Bagaimana seseorang yang buta huruf memiliki pengetahuan yang lebih sempurna daripada orang-orang yang tidak buta huruf?!!! Orang-orang akalnya masih berfungsi, tentu akan bertanya dengan penuh tanda tanya, dari manakah beliau memperoleh aneka ragam pengetahuan yang sangat sempurna itu, yakni dalam bidang adab sopan santun (akhlak), politik, pemerintahan, militer, sejarah, kedokteran, tata bahasa, dan bidang lainnya? Atau dengan pertanyaan, Bagaimana beliau bisa memperoleh aneka ragam pengetahuan yang sangat sempurna itu? Apa yang dialami oleh beliau adalah suatu hal yang sangat menakjubkan, mengherankan, dan sangat ajaib. Seseorang yang buta huruf memperoleh aneka ragam ilmu (pengetahuan) yang sangat sempurna tanpa cacat dengan cara yang tak pernah dilakukan oleh manusia biasa. Kasus ini, sebenarnya sama dengan kasus Nabi Musa as. yang terpaksa harus melumpuhkan tipu daya tukang sihir Firaun –si tuhan gadungan itu. Nabi Musa as. bukan seorang tukang sihir, dan bukan juga pawang ular, tapi kenapa ia bisa menaklukkan ular-ular hasil penjelmaan dari tipu daya tukang sihir Firaun, bahkan beliau melumpuhkannya dengan ular yang lebih besar dan lebih kuat. Tentu hal tersebut sangat menakjubkan, karena hal tersebut adalah mukjizat beliau, Musa as., disamping mukjizat Kitab Taurat yang beliau terima.

Kita tengok Habibie dan Napoleon…,

Seandainya Habibie itu bukan dari golongan terpelajar, lalu ia tiba-tiba membuat ¼ bagian saja dari kapal terbang, maka perbuatannya tersebut adalah suatu hal yang bisa dinilai “menakjubkan”. Hal yang sama juga berlaku pada Napoleon. Seandainya Napoleon tidak pernah mengalami masa-masa pendidikan militer dan sama sekali tak punya pengalaman di bidang tersebut, lalu ketika ia memimpin pasukan Prancis –walaupun satu kali- ternyata memperoleh kemenangan, maka apa yang dilakukannya itu adalah sesuatu yang “menakjubkan”.


Adapun pada diri Muhammad,

Segala hal yang diperoleh oleh beliau adalah kebenaran yang teramat sangat nyata, dan bukan kebetulan semata. Tak ada yang mengajari beliau dalam hal satu bidang ilmu pun. Dan beliau tak pernah duduk dalam bangku pendidikan formal, walau sedetik pun, ditambah lagi, beliau tidak pernah punya pengalaman di bidang pengetahuan apapun sebelumnya. Beliau hidup di zaman, dimana kebodohan sangat dijunjung dan dihargai, dan bahkan dituhankan.



Seandainya beliau itu bisa membaca, maka para tokoh sejarawan akan curiga atas pengetahuan sempurna yang beliau miliki. Mereka akan berprasangka bahwa pengetahuan yang beliau peroleh berasal dari kitab / buku yang ada pada zaman itu, atau beliau mempelajari tafsir kitab suci yang telah ada sebelumnya (Taurat, Zabur, Injil), dan juga prasangka lainnya yang akan melemahkan tentang kualitas pemerolehan pengetahuan yang dimiliki oleh Muhammad, sehingga akhirnya status kenabian beliau akan lemah di mata manusia.


Keadaan beliau yang buta huruf itu menjadi salah satu penopang mukjizat yang beliau miliki (al-Qur’an). Beliau diberi anugerah untuk mengetahui suatu hal tanpa harus belajar terlebih dahulu. Beliau tidak pernah sekolah militer dan tak punya pengalaman di bidang militer sebelumnya, tapi beliau begitu cakap dalam kepemimpinan di bidang militer (meski dengan prasarana yang tak layak pakai dan personil yang tak seimbang). Beliau juga tidak belajar ilmu pemerintahan dan tak punya pengalaman di bidang pemerintahan, tapi beliau begitu pandai dalam bidang pemerintahan dan ekspansi (perluasan) kekuasaan. Beliau juga tak pernah belajar sejarah dan tak berpengalaman di bidang sejarah, tapi beliau sangat mampu menjelaskan secara detil tentang sejarah masa lampau, dan bisa memprediksi keadaan zaman di masa mendatang (saat ini dan sesudahnya). Beliau juga tidak pernah belajar ilmu kesehatan (kedokteran) dan tak punya pengalaman di bidang kedokteran/penyembuhan penyakit, tapi beliau mengeluarkan banyak metode bagaimana menciptakan kesehatan tubuh. Beliau tak pernah belajar filsafat dan juga tak punya pengalaman di bidang filsafat, tapi beliau begitu pandai menyebutkan secara detil tentang masalah-masalah kejiwaan seseorang, lebih detil daripada yang diutarakan psikolog masa sekarang.


Jadi, keadaan beliau yang ummi (buta huruf) itu, bukanlah suatu aib (cacat), melainkan sebagai bukti yang tak terbantahkan bahwa beliau bukan manusia biasa (jika kita membandingkannya atas kesempurnaan pengetahuan yang beliau miliki). Dan seandainya beliau dapat membaca, maka sepertinya hal itu akan membuang-buang waktu hidup beliau, kenapa masih harus bisa membaca kalau beliau telah memiliki kemampuan untuk mengetahui sesuatu tanpa harus membaca (buku / kitab)?!!! ?



Sistem pengetahuan beliau miliki bukan berdasar sistem baca-tulis atau sistem pembelajaran yang umum, seperti pendidikan formal ataupun pengalaman hidup akan suatu bidang ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang beliau peroleh murni menggunakan sistem wahyu, sebuah sistem yang hanya dianugerahkan kepada para Nabi dan Rasul.



Hal ini berbeda sekali dengan pengetahuan yang kita miliki, yang berdasar pada sistem baca-tulis, seperti informasi melalui sms, email, media massa, berita tv, ataupun melalui pengalaman akan suatu pengetahuan pada waktu sebelumnya.


Jadi, dari segi pengetahuan yang dimiliki oleh Muhammad, maka sudah sepantasnya bila Muhammad menyandang predikat “Manusia Paling Menakjubkan” (The Most Amazing Man), “Manusia Serba Bisa” (The Perfect Pretender), dan “Manusia Paling Berpengaruh” (The Perfect Entrepreneur). Dan kalaupun ada orang yang mencari-cari titik lemah Muhammad atau tentang Risalah Kebenaran yang dibawanya (Islam), lalu ia menemukannya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya orang tersebut tidak menemukan apa-apa selain kelemahan dirinya sendiri yang tak mampu menggunakan akalnya dengan posisi yang benar (tidak sadar, atau… tak mau menyadari kenyataan!!!). Dan mungkin kita harus memberikan ucapan “selamat” terhadapnya.




Kendala terbesar yang dialami orang yang tahu, ialah ketika ia harus memberitahu orang yang tak mau tahu.

Written by Amir

20 Januari, 2010 pada 12:29

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: