Perasaan kacau, mungkin perlu didefrag
Ada saja hal yang –bisa dikatakan- menjengkelkan yang melanda perasaanku ini. Sehabis shalat Jumat tadi, ada peristiwa yang membuat perasaanku kesal –karena seseorang. Padahal kelihatannya sepele, tapi kenapa memakan ruang memori yang begitu besar dalam perasaanku? Aku (hati/perasaanku) seringkali merasa panas (overheat) layaknya sebuah processor yang kinerjanya dipacu mendekati 100%. Kenapa sebuah perkara kecil saja begitu merisaukan diriku? Aku selalu mencari alasan yang bisa mendinginkan perasaanku. Aku tak ingin memiliki nasib yang sama dengan processor intel Pentium 4 yang akhirnya down (rusak/out of order) karena overheat akibat runtime aplikasi yang membeludak (full) –disebabkan sistem pendinginnya yang tak memadahi.
Di sisi lain, aku juga telah mem-patch perasaanku (patching the heart) dengan patch paling sempurna, al-Qur’an dan al-Hadits. Aku telah mempelajari banyak hal dari keduanya, meskipun sebenarnya yang aku peroleh masih sangat sedikit. Tak ku sangka, apa yang ku pelajari selama bertahun-tahun telah memberikan efek yang signifikan di kehidupanku yang sekarang.
Aku partisi perasaanku, dengan cara memisahkan perasaan-perasaan yang seharusnya tak tercampur, seperti patah hati, semangat untuk kerja, kangen, dan kerisauan karena misteri yang belum terpecahkan. Bagaimana aku bisa bekerja dengan semangat jika aku mencampurkan perasaan kangenku saat aku harus bekerja, di sini lah letak pentingnya mempartisi perasaan. Dan bukan si “Robocop” saja yang bisa melakukan hal itu, setiap orang punya kemampuan yang sama untuk hal tersebut.
Aku juga sering men-scan perasaanku (scanning the heart) dengan pengetahuan agama yang telah aku kuasai, tapi kemampuanku memahami al-Qur’an dan Hadits sangatlah terbatas sehingga mempengaruhi kedalaman pengetahuanku dalam menganalisa kesalahan-kesalahanku (bugs). Agama Islam (al-Qur’an dan Hadits) adalah FAQ / manual help yang paling lengkap di antara FAQ/manual help yang ada dalam kehidupan ini, percayalah!
Tapi, sebetapapun baiknya aku me-maintenance dan meng-update perasaanku, semua tak luput dari ancaman hacker nomor 1 di dunia, iblis, si penipu. Beberapa kali dia membobol perasaanku hanya dengan patch yang sangat sederhana dan -bisa dibilang- tak masuk akal. Sepertinya dia (iblis) punya resource library yang cukup untuk mengcrack (membobol) perasaan anak adam (manusia).
Jadi, jelasnya, iblis itu adalah hacker virus perasaan manusia. Sementara itu, al-Qur’an dan Hadits menyediakan resource update yang sangat lengkap dan terbaru (latest version) bagi perasaan (hati manusia). Dan sekarang, tergantung kita, mau mengupdatenya (mempelajarinya) atau tidak.
Seni dalam kehidupan manusia adalah dalam hal kebudayaan, arsitektur bangunan, selera masakan, teknologi, programming, computing, gadget, dan sebagainya. Namun, dalam dunia iblis, seni dalam pandangan mereka hanya satu, yakni bagaimana cara menyesatkan anak adam (manusia) dengan cara yang paling cepat dan praktis, tanpa membuang banyak tenaga. Mengerikan memang, tapi itulah kenyataannya. Jadi, wajar jika hidup ini tak bisa disederhanakan hanya dengan rumus Enstein, E=MC2 saja.
Dan masalah kekesalan perasaanku sehabis shalat Jumat tadi, -bisa dianggap- telah aku selesaikan. Tak ada yang lebih membuatku senang, girang, dan sangat bahagia…, selain ketika aku dapat mengatasi setiap hal yang berusaha menghancurkan diriku.




